
Meyzin menyuruh pelayan membongkar semua isi gudang demi memenuhi permintaan Nada. Meskipun sangat kecil kemungkinan akan menemukan barang peninggalan Veronika, setidaknya berusaha untuk menyenangkan hati putrinya.
"Daddy gak usah ikut masuk, nanti kena debu."
Meyzin tersenyum. Mengusap rambut Nada yang terurai panjang. Cukup ringan suara itu meluncur namun mampu menyejukkan jiwa hingga terdalam sekalipun.
"Gak papa, Sayang. Biar cepat ketemu."
"Kalau gak ada juga gak papa, Dad."
Nada tak mau memaksa.
Dari jauh Tuan Bahadir melihat keakraban antara ayah dan anak itu. Di masa tuanya bisa bernapas lega tanpa belenggu dari orang jahat.
Sudah hampir separuh barang-barang bekas itu keluar dari ruangan. Meyzin belum menemukan satupun yang bersangkutan dengan Veronika. Hatinya menciut kala melihat wajah Nada yang penuh harap.
Jika aku tidak menemukan kenangan tentang vonika, pasti Nada kecewa.
Meyzin bekerja lebih keras. Meneliti setiap barang hingga yang paling kecil sekalipun. Merogoh benda yang ada di tempat tersulit.
Akhirnya, nampak sebuah foto usang yang berukuran 8r itu berada di balik kardus besar. Tangan Meyzin bergetar hebat saat menyentuh gambar itu. Seperti menemukan sesuatu yang mampu membangkitkan hatinya yang beberapa hari ini terpuruk.
"Sini, Nak!" Melambaikan tangannya ke arah Nada yang dari tadi berdiri di ambang pintu.
Nada mendekat, membantu Meyzin membersihkan debu yang menyelimuti bingkai. Gambar seorang wanita cantik dengan senyum indah itu seperti menatap mereka berdua.
"Ini foto mommy?" Nada memastikan.
Meyzin hanya mampu mengangguk kecil tanpa ingin bersuara. Belum sanggup mengungkap apapun, karena hatinya saat ini sedang menjerit. Tercabik-cabik oleh masa lalu hitam.
"Dia cantik sekali," puji Nada mengusap bagian pipi wanita itu.
Iya, dia memang cantik dan daddy yang bodoh dan tak mau mendengar penjelasannya, aku lebih percaya pada orang-orang yang mempermainkan ku.
Mungkin kata menyesal percuma saja, tapi itulah yang dialami Meyzin.
"Dad, gimana kalau foto ini aku pajang di kamarku?"
"Jangan!" sergah Meyzin seketika, yang mana mampu membuat kedua alis Nada berkerut.
"Kenapa? Mommy sudah meninggal, apa rumah daddy masih tidak boleh ditempati kenangan tentang dia. Walaupun ini hanya sebuah foto."
__ADS_1
Nada tertunduk lesu, kecewa dengan sikap Meyzin.
"Bukan begitu, Nak. Daddy akan memasang foto ini di kamar daddy, tapi kalau kamu mau, nanti kita cetak lagi yang di liontin itu. Setidaknya Daddy bisa melihat mommy mu setiap hari."
Hati seorang putri ikut teriris melihat ayahnya yang dipenuhi rasa sesal. Hanya bisa berandai-andai mengulang waktu dan tak mungkin bisa menjadi nyata.
Nada merangkul pundak lebar Meyzin. Matanya terpana melihat foto wanita yang sudah melahirkannya.
Pintu depan terbuka mengalihkan pandangan Meyzin dan Nada. Ternyata Erkan yang datang. Pria yang masih memakai baju formal itu menghampiri Tuan Bahadir. Mereka terlihat berbincang dengan serius.
"Kak, sini!" teriak Nada melambaikan tangannya.
Erkan mengangguk. Hanya dengan melihat wajah gadis itu, semua beban yang membelenggu lenyap begitu saja. Apalagi hidupnya hari ini penuh drama. Selain menerima kemarahan Mirza, Erkan juga harus menghukum Ayla yang sudah berani merendahkan Haira. Belum lagi pekerjaan kantor yang menumpuk.
"Kau boleh seharian di sini, tapi jangan tidur di kamar cucuku," pesan Tuan Bahadir sebelum Erkan menghampiri sang calon istri.
"Tumben jam segini sudah sampai sini, udah gak ada kerjaan?" cetus Nada menatap Erkan dengan tatapan selidik.
"Bukan gak ada kerjaan, aku memang sengaja ke sini mau memberikan ini." Mengambil sesuatu dari saku jas dan memberikannya pada Nada.
"Apa ini?" Menerimanya dengan ragu. Terdapat tulisan logo rumah sakit yang akhirnya membuat Nada menepuk jidatnya sendiri.
"Aku sampai lupa."
Sekarang tak perlu diragukan lagi, setelah membaca tulisan positif pada lembaran kertas yang ada di tangannya, semburat senyum langsung tersirat dari sudut bibir gadis itu. Pancaran kebahagiaan kembali muncul di balik wajah ayu nya.
"Apa daddy juga mau baca?" Memberikannya pada Meyzin yang masih bingung.
"Memangnya apa ini?" Mulai membaca kalimat yang tertera dengan jelas sehingga ia paham keseluruhan isinya.
Pelukan hangat diterima Nada. Tangan kekar sang daddy menyalurkan kasih sayang yang amat besar. Simbol bahwa mereka saling menggenggam erat dalam satu ikatan.
"Dad, malam ini aku mau mengajak Nada makan malam." Suara Erkan membuyarkan otak Meyzin yang sedang berkelana membayangkan Veronika.
"Sebentar lagi Kalian menikah, jangan sering bertemu, daddy takut kamu gak bisa nahan napsu."
Cukup masuk akal, terkadang setan memang lebih memikat dan bisa menjerumuskan ke lubang dosa. Dan itulah yang paling ditakutkan oleh Meyzin.
Nada terkekeh. Menepuk lengan daddy nya. Wajahnya merona saat Erkan terus menatap intens.
"Aku masih punya akal sehat, Dad. Gak mungkin menghancurkan hidup seseorang yang aku cintai," jelas nya terus terang.
__ADS_1
"Baiklah, daddy izinkan, tapi pulangnya jangan terlalu malam. Lalu, bagaimana dengan Mirza? Kapan kamu keluar dari perusahaannya?"
Teringat kejadian tadi membuat nyali Erkan menciut. Tidak tahu bagaimana menjelaskan pada Myizin tentang Mirza yang ngotot memintanya untuk tetap bekerja.
"Sepertinya untuk saat ini aku belum bisa keluar, tapi daddy tenang saja. Aku akan mengurus kantor dengan baik. Mulai besok aku akan datang sebelum ke kantor Tuan Mirza."
"Jangan!" teriak Tuan Bahadir dari arah ruang tamu. "Sebentar lagi kamu menikah, jangan banyak beban pikiran, fokus dengan pernikahan saja. Cepat buat cucu untuk opa."
Nada tersipu dan menggeser tubuhnya bersembunyi di belakang Meyzin.
Waktu terus bergulir. Jika biasanya Erkan memakai jas, kali ini pria itu terlihat tampan dengan kaos putih dengan celana jeans hitam. Rambutnya tertata rapi sehingga membuat lalat terpeleset.
Begitu juga dengan Nada yang berpenampilan berbeda. Menghipnotis mata Erkan.
"Kita pergi sekarang?"
Nada mengangguk mengikuti Erkan menuju mobil.
"Malam ini kamu cantik sekali."
Nada hanya tersenyum kecil. Bibirnya kelu dan tak bisa berbicara selain menerima pujian yang mendarat untuknya.
Dering ponsel menghentikan percakapan sang calon pengantin. Nada yang mengambil ponsel milik Erkan.
"Kak Mirza." Ternyata Mirza yang menelpon.
"Angkat saja!" titah Erkan.
Nada menggeser lencana hijau tanda menerima.
"Malam ini kamu kumpulkan data-data pegawai yang ada di pabrik garmen. Sepertinya kita harus menyeleksi ulang karena ada sedikit kejanggalan."
Erkan lemas ketika, namun tak bisa menolak perintah tersebut.
"Baik, Tuan," jawab Erkan berat.
"Kita gak jadi makan malam?"
"Jadi, tapi aku sambil kerja, ya."
Nada mengangguk walaupun sebenarnya merasa terganggu, tapi harus memahami posisi Erkan yang tak pernah berhenti dari kata super sibuk.
__ADS_1
Makan malam tetap romantis. Di tengah dinginnya malam dan kegelapan Erkan mampu membuat Nada merasa nyaman meskipun diselingi dengan bekerja.