Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Terbongkar


__ADS_3

Setelah dibukakan pintu oleh sang daddy, Kemal berlari memeluk Haira yang masih berbaring. Mencium kedua pipi mommy nya bergantian lalu mengusap dada yang masih dipenuhi tanda merah. 


"Mommy jangan dekat-dekat daddy."


"Kenapa?" sergah Mirza yang kembali naik ke atas ranjang. Tak terima dengan permintaan putranya. Mungkin Mirza akan menerima perintah yang lainnya, tapi bukan disuruh menjauh dari Haira, ia benar-benar tak bisa. 


"Kata om Fuad, Daddy  bisa membuat luka mommy semakin parah, mendingan tidur dengan aku saja."


Kemal memunggungi Mirza, sedikitpun tak memberi celah pada pria itu untuk bisa menyentuh mommy nya yang saat ini di sampingnya. 


"PR untuk kamu, Sayang." Haira mengusap kening Mirza. Untuk kali ini ia ingin suaminya yang bertanggung jawab menjelaskan pada Kemal. 


Ini kali pertama Mirza harus membujuk anak kecil untuk tetap bisa tidur seranjang dengan istrinya. 


"Kemal mau beli mainan lagi, nggak?" tanya Mirza antusias. 


Kemal menggeleng, jika dulu ia langsung tergiur dengan semua jenis mainan, kini sedikitpun tak tertarik dengan ucapan Mirza. Sebab, ia sudah mempunyai semua mainan bagus dan mahal. 


"Ini lebih bagus, Nak. Bisa terbang seperti pesawat. Ada lampunya yang menyala juga, pasti kamu suka."


Kemal memutar bola matanya. Lalu  memiringkan tubuh mungilnya ke arah Mirza. Bukan untuk menanyakan mainan yang ditawarkan. Namun, untuk memastikan seperti yang diucapkan Fuad. 


"Apa gigi Daddy bertaring?"


Haira menahan tawa melihat ekspresi Mirza yang nampak kaget. Ia memilih menatap langit-langit kamarnya, membiarkan sang suami berjuang untuk menaklukan malaikat kecilnya.


Mirza membuka mulutnya. Menunjukkan gigi putihnya yang berjejer rapi. 


"Daddy bukan vampire jadi gak punya taring."


Kemal manggut-manggut mengerti. "Berarti om Fuad bohong," gumamnya lirih, namun masih bisa didengar Haira dan Mirza. 


"Memangnya om Fuad bilang apa?" tanya Mirza memancing, pasti Kemal tidak akan berbohong padanya. Sepanjang sejarah hidupnya pasti hanya pria itu yang sering membuat ulah padanya. 


"Om Fuad bilang kalau Daddy punya  taring dan bisa menggigit mommy kapan saja. Dia menyuruhku untuk menjaga mommy." Kemal mengucapkan apa yang diucapkan Fuad. 


Bener, kan. Apa aku bilang, kalau ada biang kerok di sini pasti semua rencanaku bakal kacau. 

__ADS_1


"Tapi Kemal sudah melihat sendiri, kan? Kalau daddy gak punya taring." Haira angkat bicara. Kasihan melihat suaminya yang bersusah payah menaklukan seorang Kemal. 


"Iya, Mommy, " jawab Kemal. Meskipun paham dengan apa yang diucapkan Haira, ia tetap tak mau pindah dan berbaring di tengah-tengah kedua orang tuanya. 


Akibat kelelahan main semalaman, akhirnya Kemal memejamkan matanya dalam hitungan menit.


"Sayang, aku keluar dulu sebentar, jangan tidur dulu," pinta Mirza mengecup kening sang istri. 


Haira pun menjawab dengan anggukan kepala. 


Mirza turun dan ranjang. Memakai bajunya lagi lalu keluar. Menemui keluarganya yang  masih ada di ruang keluarga. 


"Kak, dari kemarin Arini gak pulang." Mirza duduk disamping Deniz yang sibuk dengan iPad di depannya. 


Deniz mengernyitkan dahi, saking sibuknya dengan acara penyambutan Haira sampai melupakan sepupunya itu. 


"Mungkin tinggal di apartemen atau hotel," terka Nita yang datang membawa beberapa cangkir kopi. 


Fuad ikut berhamburan datang, melirik Mirza yang duduk di samping kakak iparnya. 


"Mana jagoanku?" selak Fuad menanyakan keberadaan Kemal. 


"Siapa tau kamu beneran punya."


"Kalau Aku punya taring, orang yang aku gigit pertama kali itu kakak. Biar mati lebih dulu."


Semua orang bergelak tawa mendengar gurauan Mirza. 


"Kamu sudah mencarinya?" tanya Deniz kembali ke pokok masalah. 


"Aku sudah menyuruh Erkan, tapi dia belum memberi kabar."


Deniz mengambil ponselnya. Sama seperti Mirza, ia pun menyuruh beberapa anak buahnya untuk mencari gadis itu. Sebagai pengganti orang tua Arini. Mereka merasa mempunyai tanggung jawab besar. 


Beberapa menit kemudian, ponsel Mirza berdering. Ia segera mengangkatnya setelah melihat nama Erkan yang berkelip di layar. 


"Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan Arini?" tanya Mirza. 

__ADS_1


"Sudah, Tuan." Nona Arini tinggal di apartemen, tapi beberapa hari ini ia sering ke club. Terkadang juga gak pulang."


"Baiklah, kalau begitu biar aku yang menjemputnya."


Terdengar suara kendaraan di seberang sana, diperkirakan sekretarisnya itu berada di tempat umum. 


"Dan saya juga sudah menemukan orang yang sudah menghamili nona Lunara." Suara Erkan terdengar berat. 


"Siapa?" tanya Mirza cepat. Jantungnya berdegup kencang menanti bibir Erkan mengucap. 


"Halil, Tuan. Mereka bertengkar karena Nona Lunara ingin menggugurkan kandungannya, tapi Halil melarangnya dan ingin bertanggung jawab. Nona Lunara memaksa untuk bunuh diri daripada harus kehilangan Tuan.''


Mirza menjatuhkan ponselnya. Bagai ditikam sebilah pisau, ulu hati Mirza terasa tersayat. Kejadian itu sudah sangat lama bahkan hampir terlupakan, namun sakit yang Mirza rasakan benar-benar masih terasa yang membuat dada nya sesak. 


"Kamu kenapa?" tanya Aynur yang baru saja datang. Seluruh keluarga memang belum tahu tentang semua itu sehingga mereka saling tanya dengan perubahan sikap Mirza. 


Mirza mengepal kedua tangannya, mungkin ini saatnya ia bercerita pada seluruh keluarganya tentang kebusukan Lunara yang sedikit demi sedikit mulai terbongkar.


"Ternyata Lunara menghianati ku, Kak. Dia hamil dengan laki-laki lain. Aku gak nyangka dia se tega itu sama aku."


Mirza mendaratkan kepalanya di pundak Nita. Rasa bersalahnya pada Haira kian mendalam. Seandainya tahu apa yang terjadi pada Lunara, pasti tidak akan menyiksa Haira, dan pasti dirinya akan berterima kasih pada gadis itu karena sudah melepaskannya dari belenggu cinta Lunara. 


Nita merangkul Mirza. "Semua sudah berlalu, sekarang kamu harus memberikan yang terbaik untuk Haira dan Kemal. Semua orang pernah melakukan kesalahan, tapi alangkah baiknya jika mau memperbaiki diri. Apalagi kamu dan Haira dipertemukan dengan keadaan yang rumit."


Buliran bening lolos membasahi pipi Mirza mengingat perlakuannya pada sang istri yang sangat kejam. 


"Sekarang kamu di rumah saja, biar aku dan Fuad yang menjemput Arini."


Fuad beranjak dan siap menjalankan tugasnya mengingat tak ada Kemal yang bisa dikompori.


Setelah kedua kakaknya menghilang di balik pintu depan, Mirza kembali ke kamar meninggalkan Aynur dan Nita. Membuka dan menutup pintu dengan pelan saat melihat Haira dan Kemal terlelap.


Senyum Mirza mengembang, sesulit apapun masalah yang datang, akhirnya kini bisa mendapatkan kebahagiaan. Menemukan wanita yang benar-benar pantas menyandang marga Glora.


Berjalan mengendap-endap mendekati ranjang. Mencium pipi Haira dengan lembut.


"Seandainya waktu bisa terulang kembali, satu kalimat yang ingin aku ucap disaat pertama kita bertemu."

__ADS_1


"Apa?" sahut Haira dengan mata yang masih terpejam. Ternyata ia hanya pura-pura tidur dan mendengar apa yang diucapkan Mirza.


"Apa kamu mau menjadi nyonya ku?" Haira hanya tersenyum simpul saat Mirza menatap wajahnya dengan lekat.


__ADS_2