
Mesum di mobil akan membuatnya lebih aman dan bebas dari gangguan, begitulah menurut Mirza. Kejadian tadi memberinya banyak peluang untuk berduaan dengan Haira. Setelah membayar semua barang belanjaan, Mirza meminta Nada menemani nenek sekalian, lalu ia menunggu mereka di mobil.
"Jangan marah gitu dong." Mirza mengangkat dagu Haira dengan satu jari. Bibirnya yang merah merona memang sangat menggoda iman hingga Mirza selalu tak tahan untuk mengabaikan.
"Bukan aku yang godain mereka," jelas nya kemudian. Kali ini Mirza tak mau di salah kan, karena bukan salahnya memiliki wajah yang tampan rupawan dan menjadi idaman setiap wanita.
"Tapi aku kesel," keluh Haira masih tak terima dengan tatapan wanita-wanita yang nampak menginginkan suaminya.
"Itulah kenapa aku pakai masker, karena aku memang gak suka menjadi pusat perhatian."
Mirza memeriksa nota belanjaan lalu meletakkannya di bawah kaki. Kembali fokus pada Haira yang masih nampak cemberut.
"Apa setiap kali keluar memang seperti itu? Apa semua perempuan itu terpesona dengan wajahmu? Apa mereka tidak tahu kalau kamu sudah ada yang punya?"
Haira mengeluarkan uneg-unegnya yang dari tadi menyesakkan dada.
Mirza tak tahu lagi harus bicara apa. Dimanapun tempatnya ia serba salah. Mengalah pun salah, apalagi membantah, bumil akan tetap mempunyai celah untuk menyudutkannya. Seolah-olah kesalahan selalu ada pada dirinya.
"Apa aku harus mengumumkan di depan semua orang, kalau kamu istriku?"
Kedua mata Haira membulat sempurna. "Bukan begitu juga maksudku, aku hanya ingin mereka itu menjaga pandangannya untuk tidak sembarang melirik orang. Suara Haira terdengar mengecil yang membuat Mirza terkekeh.
Mirza merangkul tubuh Haira dan meletakkan kepala wanita itu di pundaknya."Biarkan saja orang lain seperti itu. Yang terpenting, sampai kapanpun hatiku hanya untukmu." Menuntun tangan Haira dan menempelkan di dadanya.
Lega rasanya, seringkali Mirza mengungkapkan rasa cinta, entah lewat perbuatan atau kata-kata, Haira sudah yakin dengan ketulusan pria itu.
"Kapan kita pulang?" tanya Haira tiba-tiba. Sudah puas rindunya dengan nenek, kini ia ingin kembali ke mansion utama.
"Setelah ini kita langsung pulang, banyak pekerjaan yang harus aku urus."
Seringnya mendapat kabar tentang perusahaan membuat Mirza ingin segera kembali.
"Apa kamu yakin akan tinggal di mansion?" Seperti ucapan Mirza waktu itu, Haira kembali memastikan.
"Iya, aku sudah membicarakan ini dengan kak Nita dan kak Deniz. Mereka menyetujuinya."
Dari jauh nampak nenek, Nada dan Kemal keluar dari mall. Sama seperti Haira, kedua tangan Nada pun membawa beberapa paper bag. Mereka juga nampak kerepotan membawa barang belanjaan, belum lagi orang suruhan dari belakang yang membantunya.
"Sudah puas mainnya, Nak?" tanya Mirza pada Kemal yang baru saja masuk.
"Puas daddy, nanti aku mau cerita sama Kak Fajar dan kak Hasan," celotehnya.
__ADS_1
"Nenek bagaimana? Apa yang nenek beli?" tanya Haira sembari melihat nenek yang sibuk meletakkan tas ke bagasi.
"Nenek beli banyak banget, mumpung dapat traktiran dari cucu menantu," ungkapnya.
Mirza hanya mengawasi mereka dari dalam. Ikut bahagia melihat orang terdekat nya bahagia.
Seperti saat berangkat, nenek duduk di samping Kemal. Menatap Mirza dari arah belakang. "Kamu gak anggap kita matre kan, Za?" tanya nenek serius.
Mirza tersenyum simpul, lalu menoleh ke arah nenek.
"Gak ada yang matre, Nek. Nenek boleh membeli apapun yang nenek suka."
"Ini kak, kartu nya." Nada menyodorkan kartu pemberian Mirza.
"Ambil saja, itu untuk kamu dan Nenek. Kalian bisa memakai untuk kebutuhan sehari. Karena setelah ini aku pulang, Kalian jaga diri baik-baik."
Dengan berat hati Mirza pamit. Sebab, Nenek pun menolak ajakannya untuk pindah dengan berbagai alasan. Haira pun tak bisa membujuk mereka yang tetap ingin tinggal di kampung halamannya, sedangkan ia sudah mempunyai kehidupan sendiri bersama Mirza dan Kemal.
"Kakak, aku lapar," ucap Haira mengelus perutnya yang mulai keroncongan.
"Bentar, aku cari restoran dulu." Mirza memelankan laju mobilnya. Ia melihat-lihat sisi kiri kanan jalan.
"Wah, kakak gak lupa tempat itu?" sanggah Nada sambil tepuk tangan. Sama seperti Haira, ia pun selalu tergiur dengan makanan di warung lesehan itu.
"Aku gak pernah lupa, apalagi seblaknya yang level sepuluh itu, hot banget," ucap Haira mendesah. Justru itu memancing gairah Mirza yang dari tadi ditahan.
"Di sini?" tanya Mirza memastikan. Menghentikan mobilnya di depan warung yang di tunjuk Haira.
"Iya, Kak. Kamu harus mencoba makanan di sini, pasti ketagihan."
Mirza menyunggingkan bibir. Melihat tempatnya saja sudah tak selera, apalagi makanannya, namun daripada salah. Ia tetap ikut turun mengikuti Haira, nenek dan Nada dengan menggendong Kemal.
Layaknya pengunjung yang lain, Mirza duduk di samping Haira. Ia menatap beberapa orang yang sedang menikmati hidangannya.
"Kamu mau pesan apa, Kak?" Haira menyodorkan kertas di depan Mirza.
Mirza bingung mau makan apa. Ia tak mengenal satupun nama makanan yang tertera di kertas itu.
"Ikut kamu aja," jawab Mirza menyerah. Ia tak peduli doyan maupun tidak, yang penting bayar.
"Nyonya, Saya pesan seblak tiga sama soto dua," ucap Haira pada pemilik warung.
__ADS_1
Wanita tua yang menerima pesanan Haira itu mengangguk. Lantas, melihat Mirza sekilas sebelum kembali ke belakang.
"Lihat saja, sampai orang tua pun mengidolakan kamu," bisik Haira di telinga Mirza.
Mirza membius bibirnya, takut salah bicara yang berujung kemarahan.
Lima belas menit kemudian
Pesanan Haira datang. Ia sudah tak sabar memakan olahan di depannya itu, dari aromanya sudah menggugah selera semakin membuat perutnya berteriak.
"Sayang, yakin kamu mau makan itu?" Menyungutkan kepalanya ke arah satu porsi seblak yang ada depan Haira.
"Iya, Memangnya kenapa?" Haira mengambil sendok dan mengelapanya.
Ini gak bisa dibiarin.
"Biar aku coba dulu." Mirza mengambil semangkuk seblak lalu mencobanya.
Baru sekali telan, lidah dan tenggorokan Mirza terasa panas. Ia langsung mengambil segelas air putih dan meminumnya.
Makanan macam apa ini? keluhnya dalam hati. Ia tak mau menyinggung sang pemilik.
"Sayang, kamu gak boleh makan ini." Menjauhkan makanan itu dari hadapan Haira. "Ini pedes banget, kasihan anak-anak kita," imbuhnya.
Seperti biasa, Haira memanyunkan bibirnya saat tak bisa mendapatkan apa yang diinginkan.
"Benar kata Mirza, Ra. Kamu gak boleh makan sembarangan, kasihan bayimu," timpal nenek yang juga mendukung pendapat Mirza.
"Aku bisa membelikan makanan apapun yang kamu inginkan, Sayang. Asalkan jangan ini."Bibir Mirza terlalu sulit untuk mengucap kata 'seblak'.
Haira melipat kedua tangannya. Memutar bola mata ke kanan dan ke kiri.
Kalau sudah seperti ini, pasti aku yang kena getahnya.
Mirza menelan saliva. Dalam hati terus memohon supaya dijauhkan dari mara bahaya.
Haira menarik lagi satu mangkuk lalu meletakkannya di depan Mirza.
"Kalau begitu kamu yang makan, pliiiissss," pinta Haira memohon. "Demi anak kita," imbuhnya.
Tidak ada pilihan lain. Mirza terpaksa memakan seblak yang sudah dipesan demi menuruti keinginan istri dan anaknya.
__ADS_1