
Mirza berjalan gontai memasuki lorong gedung yang nampak gelap. Tidak ada pancaran cahaya di sana membuat ruangan itu gelap dan mencekam serta menakutkan. Ia memasuki sebuah ruangan, di mana seluruh pengawalnya sudah berada di sana. Juga seorang perempuan yang terikat dengan mulut tertutup lakban.
"Buka mulut dan bajunya!" titah Mirza membalikkan tubuhnya. Sedikitpun tak ingin menatap wanita yang kini tak berdaya. Begitu menjijikkan mengingat apa yang dilakukan Lunara padanya.
Seluruh pengawal bersorak melihat tubuh seksi tanpa busana itu. Mereka seakan mendapatkan hadiah terbesar dari Tuannya. Jarang-jarang Mirza mendapat tawanan seorang wanita.
Mirza menunjukkan wajah bengisnya yang jarang diketahui keluarga. Pria itu tak segan-segan menyakiti musuh layaknya psikopat saat menelan mangsanya.
"Lepaskan aku!" Lunara mencoba memberontak dan terus berteriak saat mereka semua menyentuh kulit putihnya secara bergantian. Memohon pada Mirza untuk melepaskannya, namun tidak bagi pria itu yang sudah bulat pada keputusannya.
"Aku melakukan itu karena mencintaimu, Za. Tolong lepaskan aku!" Suara itu berulang kali terdengar di telinga Mirza, namun tak membuatnya goyah dan ingin tetap menyiksa Lunara yang kini sudah tak berdaya.
"Sampai kau menangis darah pun aku tidak akan melepaskanmu. Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan padaku. Bukankah ini yang kau mau, telanjang di depan pria dan memintanya untuk menyentuhmu."
Ucapan itu adalah tamparan keras bagi Lunara yang dengan sengaja ingin disentuh oleh Mirza. Laki-laki yang pernah bersemayam dalam hatinya dan pernah menemani hidupnya selama beberapa tahun, tapi karena keegoisan Lucinta, mereka harus berpisah dan kini tidak bisa bersatu lagi karena Mirza sudah memiliki keluarga. Akan tetapi, rasa obsesi dan cinta itu masih ada hingga membuat Lunara gelap mata dan ingin memiliki Mirza dengan cara yang kotor.
Mirza menghampiri Erkan lalu berbisik. Setelah itu ia pergi meninggalkan tempat itu.
"Jangan sentuh Lunara! Tunggu Tuan Mirza memberi perintah selanjut nya," titah Erkan pada pengawal lainnya. Mereka segera memakaikan menutup tubuh Lunara dan meninggalkannya.
Mirza membisu mengikuti ke mana Erkan membawanya. Kini ia tidak punya tujuan untuk bersandar. Satu-satunya orang yang membangkitkan semangat hidupnya pergi meninggalkannya.
"Apa kau tidak punya cara supaya Haira mau menemuiku?" tanya Mirza pada Erkan. ia sudah putus asa untuk terus berpikir. Sedangkan nomor haira tidak bisa dihubungi.
"Cara bagaimana yang Tuan mau?"
"Cara apapun, yang penting Haira dan Kemal kembali padaku."
Mirza sudah menyebar anak buahnya untuk mencari Haira, namun ia tak bisa diam berpangku tangan. Otaknya sudah ingin meledak menghadapi masalah ini.
__ADS_1
"Aku punya cara yang jitu!"
Erkan menjentikkan jarinya.
Mirza yang dari tadi duduk di jok belakang beralih duduk di samping Erkan. Mereka berdua berbicara dengan serius lalu Mirza menyetujuinya. Entah berhasil atau tidak, yang pasti Mirza sudah berusaha dan berjuang.
Hampir seharian penuh Mirza tak mendapat kabar apapun, ia semakin frustasi dan jenuh. Sesekali menghantam tembok hingga menciptakan luka yang beberapa waktu lalu belum sembuh.
"Sialan, apa yang harus aku lakukan?" Menjambak rambutnya frustasi.
Kakak-kakaknya itu benar-benar membungkam rapat keberadaan Haira dan Kemal. Mereka seakan berpihak pada Haira yang sampai saat ini masih menyimpan kesalahpahaman.
"Seharusnya dia mendengar penjelasan ku dulu," gerutunya menatap ke arah luar jendela.
Ponsel Mirza berdering. Nama salah satu pengawal berkedip di layar. Entah kabar apa yang akan dilaporkan, Mirza langsung mengangkat sambungannya.
"Jangan menghubungiku kalau kau tidak membawa kabar baik," pekik Mirza membentak.
"Mansion utama?" Mirza memekik lalu menutup teleponnya.
Mansion itu adalah milik kedua orang tua Mirza yang sudah lama tak ditempati. Tempat mewah dan penuh banyak kenangan itu hanya akan didatangi saat mereka berziarah ke makam kedua orang tua Mirza yang ada di samping rumah. Tidak ada yang bisa masuk kecuali keluarga.
Sedikitpun tak pernah berpikir bahwa Haira dan Kemal akan ke sana. Karena masih banyak tempat milik keluarga Mirza yang menyebar di berbagai kota.
Setelah mendapat kabar itu, Mirza menghentikan pencarian. Ia langsung melajukan mobilnya ke sana tanpa bantuan Erkan.
"Kamu boleh menghukumku, tapi jangan pernah pergi dariku," ucap Mirza. Menyiapkan diri untuk menerima hukuman dari Haira karena tanpa sengaja sudah menyakiti hatinya.
Satu jam berlalu, kini Mirza sudah berada di depan mansion utama. Bangunan yang megah dan tinggi itu adalah saksi bisu perjalanan hidup Mirza hingga dirinya dewasa. Ia tak lupa saat Deniz dan Nita merawatnya. Memberikan kasih sayang untuknya dan selalu ada disaat dirinya terpuruk.
__ADS_1
Ia turun dari mobil lalu masuk, di pintu utama ia langsung disambut oleh beberapa pelayan wanita dan pengawal yang berjaga.
"Apa Nona Haira ada di dalam?" tanya Mirza. Matanya menyusuri ruang tamu yang nampak sepi.
"Beliau ada di makam nyonya dan Tuan besar, Tuan."
Mirza berlari ke arah samping. Matanya terus tertuju pada dua makam yang ada di tengah taman. Nampak Kemal berlarian dan juga Haira yang sedang duduk di sampingnya.
"Kemal jangan lari-lari! Nanti jatuh," teriak Haira. Ia tak sadar jika di belakangnya Mirza sudah berdiri dan juga mengawasi putranya yang asik mengejar kelinci.
Kemal tersenyum ke arah Haira.
"Daddy…" panggil Kemal yang sontak membuat Haira membulatkan matanya. Ingin menoleh ke belakang, namun ia urungkan. Jika mengingat kejadian di kantor waktu itu, hati Haira masih terasa sakit. Ia belum sanggup untuk memaafkan sepenuhnya kesalahan Mirza meskipun sudah tahu penyebab suaminya sampai melakukan hal seburuk itu.
Mirza melambaikan tangannya ke arah Kemal.
Bocah itu menatap mommy nya lalu pergi mendekati Mirza yang berdiri tak jauh dari mommy nya.
Mirza memberikan satu lembar kertas putih pada Kemal.
"Berikan ini pada Mommy," bisiknya, namun masih bisa didengar oleh Haira.
Seperti perintah Daddy nya, Kemal langsung meletakkan di pangkuan Haira. Sebenarnya ia enggan untuk membaca, namun juga penasaran apa yang tertulis di sana.
Maafkan aku sayang, berikan aku sedikit waktu untuk menjelaskan semuanya.
Haira melipatnya lagi, tak ingin menanggapi atau memberikan jawaban apapun pada Mirza.
"Kemal sudah hampir malam, kita masuk!" ucapnya pada sang putra yang hampir menghampiri Mirza.
__ADS_1
Kenapa saat dia marah semakin menggoda ku, ucap Mirza dalam hati menatap punggung Haira yang masuk dari pintu samping.
"Mom, Dad, dia adalah istriku, aku belum mengenalkan dia pada kalian, tapi dia sudah datang ke sini. Dia sangat cantik dan lugu, itulah kenapa aku jatuh cinta padanya. Dia juga bisa menghadapi ku yang arogan dan berkepala batu. "