Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Rencana Mirza untuk Meyzin


__ADS_3

"Kapan hasilnya akan keluar?" tanya Erkan, menatap Nada yang duduk di samping nya.


"Minggu depan, nanti saya akan menghubungi, Anda," jawab sang dokter menyimpan simple sembari mencatatnya. 


Dokter Hasad yang juga ada di ruangan itu memberitahu pada Erkan untuk bersabar menunggu. 


"Baik, terima kasih. Saya tidak mau ada kekeliruan, nanti kamu hubungi aku," pinta Erkan pada dokter Hasad, salah satu orang yang bisa dipercaya dalam menjalankan tugas. 


Erkan dan Nada keluar dari ruangan dokter. Mereka berjalan bersejajar menyusuri lorong untuk tiba di bawah. 


"Kita akan ke mana lagi?" tanya Nada saat mobil melaju ke arah yang berlawanan. 


"Nona Haira ingin bertemu denganmu, dia mengajak kita makan siang di restoran milik nyonya Nita."


Hampir dua puluh menit membelah jalanan, mobil Erkan memasuki halaman restoran. Ia langsung masuk saat melihat mobil Tuannya ada di sana. 


"Itu Nona Haira." Menunjuk Haira dan Mirza yang sudah duduk di salah satu kursi khusus. Mereka terlihat bercanda dan saling melempar senyum. 


Nada berhamburan memeluk Haira. Menumpahkan air matanya di sana. 


"Hai, ada apa ini?" tanya Haira panik. Mengelus punggung Nada yang bergetar. 


"Cerita ke kakak. Apa yang terjadi? Apa Erkan yang membuatmu menangis seperti ini?"


Sontak Erkan menelan ludahnya dengan susah payah dengan kedua tangan melambai cepat. 


"Kalau bukan kamu, lalu siapa?" tanya Haira menekankan. Seolah-olah menyudutkan Erkan yang membuat Nada menangis. 


"Sayang, kamu gak boleh berprasangka  buruk. Erkan itu baik, gak mungkin dia membuat Nada menangis?" tutur Mirza membantu sang sekretaris. 


Beberapa menu makanan yang dipesan  datang membuat mereka mengalihkan perhatian. Nada pun mengusap pipinya yang dipenuhi air mata. Tidak mau cengeng, dan akan menghadapi apapun yang akan terjadi nantinya. 


"Sekarang kamu dan Nada makan dulu, aku mau bicara dengan Erkan." Mengusap pucuk kepala Haira lalu beranjak. 


Mirza dan Erkan berjalan menuju salah satu ruangan yang ada di lantai dua. Dan sepertinya tempat itu aman untuk bicara. 


"Bagaimana dengan Meyzin?" Mirza menatap ke arah luar. Memunggungi Erkan yang berdiri di belakangnya. 

__ADS_1


"Benar, Tuan. Ternyata yang ada di foto itu tuan Meyzin, dan perempuan itu adalah Veronika, mantan istrinya. Kemungkinan besar, Nada adalah anak Tuan Meyzin dan Veronika. Tapi, Tuan Meyzin tidak mau mengakui seandainya Nada benar-benar putri kandungnya."


Erkan mengucap seperti yang diterangkan Meyzin padanya. 


Mirza mengingat ucapan tuan Bahadir delapan tahun yang lalu. Dimana anaknya menikahi seorang wanita hanya untuk balas dendam. Dan menceraikannya setelah hidupnya hancur. 


Apa yang dimaksud tuan Bahadir adalah  Meyzin dan Veronika. Apa Veronika sedang hamil saat diceraikan Meyzin. Apa nasib ibu Nada seperti Haira. Pergi disaat mengandung. Lalu ke mana Veronika sekarang, kenapa dia membuang Nada. 


Mata Mirza berkaca-kaca. Serpihan penyesalan kembali merasuk mencabik-cabik hatinya. Teringat dengan masa saat dirinya harus menodai Haira karena terpengaruh dengan ucapan Tuan Bahadir. Ia menyakiti Haira tanpa perasaan. 


"Lalu di mana Veronika sekarang?" tanya Mirza dengan bibir bergetar. Sekujur tubuhnya terasa lemah saat mengingat kejadian yang menyakitkan kala itu. 


"Tuan Meyzin juga tidak tahu dimana Veronika berada, tapi dia tahu alamat wanita itu tinggal."


Erkan membacakan alamat yang tadi diberikan oleh Meyzin. 


"Baiklah, kamu jangan ceritakan ini pada siapapun. Aku sendiri yang akan mencari Veronika. Kita akan berangkat nanti setelah mengantarkan Haira pulang."


Mirza kembali turun untuk menemui Nada dan Haira.


"Apa ini juga termasuk ngidam?" tanya Mirza menahan sendok yang hampir menyentuh bibirnya. Menatap lekat wajah Haira yang hari ini terlihat cantik jelita. 


"Bisa dikatakan seperti itu, kalau kau tidak mau, aku akan marah."


Mirza melahap makanannya yang sebenarnya ia tak suka. Demi membahagiakan wanita itu, kini pria yang memiliki kekejaman level tinggi itu rela melakukan apapun meskipun diluar batas kemampuannya. 


Aku lebih beruntung karena Haira mempertahankan Kemal dan merawatnya. Kamu memilih menjadi bahan hinaan orang lain daripada membuang anakku. Kamu sudah menjaga putraku, orang yang sudah menghancurkan hidupmu. 


Tenggorokan Mirza terasa sempit hingga ia tak bisa menelan makanan yang ada di mulut. 


"Tadi kau membeli apa saja?" tanya Mirza mencairkan suasana. 


Nada menikmati hidangannya yang tinggal beberapa suap. Melirik Erkan yang juga mulai memakan makanannya. 


"Aku membeli perlengkapan untuk tiga bayi kita. Semua yang aku suka, aku beli. Aku juga membeli beberapa baju dan tas branded. Sepatu branded, dan juga make up." Suara Haira semakin pelan. Ia takut Mirza akan memarahi nya karena  sudah menghabiskan banyak uang dalam waktu sekejap. Lalu, Ia memberikan nota belanja pada Mirza. 


"Kamu gak marah kan, Sayang?" tanya Haira menggoda. Menurut Haira, itu adalah senjata yang ampuh untuk membuat Mirza luluh. 

__ADS_1


Namun, Mirza pura-pura acuh seraya membaca semua barang yang dibeli Haira setelah itu melipat kedua tangannya. Memasang ekspresi datar dengan bibir membisu. 


"Itu semua diskon lo. Sayang kalau gak dibeli?" imbuhnya menatap Mirza dengan mengedipkan mata genit. Bahkan Haira juga membeli tiga stroller untuk persiapan nanti anak-anaknya. 


"Dulu, Kemal gak punya benda itu semua, dia harus merangkak sampai lututnya kapalan. Dan aku gak mau itu terjadi pada adik-adiknya."


Ucapan itu terdengar menohok di telinga Mirza. Daripada Haira mengupas masa lalu yang sangat pahit, akhirnya Mirza membuka suara. 


"Kenapa aku harus marah? Bukankah uang suami adalah uang istri, jadi kamu gak perlu takut untuk membeli semua yang kamu butuhkan."


Haira menepuk pipi Mirza berulang kali yang membuat sang empu meringis. Seakan tak percaya dengan ucapan pria itu. 


"Kamu beneran gak marah?" tanya nya lagi memastikan. 


"Aku gak akan marah." 


"Bukan hanya kamu yang hari ini mendapat hadiah, tapi Nada juga." 


Nada menghentikan makannya dan beralih fokus pada Mirza. 


Erkan mengeluarkan selembar kertas dari aku jas nya dan membacakan isinya. 


Dalam surat itu mengatakan bahwa Mirza memberikan perusahaan yang dibeli dari tuan Meyzin untuk Nada. Dan itu langsung membuat Haira bertepuk tangan. 


Bukan tanpa alasan, Mirza ingin memberi pelajaran pada Meyzin yang sudah berulah dengan memberikan kekayaan pada Nada. Sementara Meyzin sendiri saat ini terlilit hutang yang besar pada pihak bank. 


"Lalu hadiah untukku apa?" Haira menengadahkan tangan di depan Mirza dan langsung diterima pria itu. 


Nanti di ranjang. Begitulah kata hati Mirza, namun tak bisa diungkapkan lewat bibir mengingat suasana restoran yang lumayan ramai. 


Sebuah kecupan mendarat di punggung tangan Haira. "Semua yang aku miliki adalah milikmu. Kamu bisa melakukan apapun dengan harta ku." 


"Termasuk selingkuh?" canda Haira. 


"Kecuali itu."


Lagi-lagi Haira tak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan Mirza. Ia merasa terharu dengan pengakuan pria itu. 

__ADS_1


__ADS_2