
Haira terperanjat kaget saat tak mendapati Mirza di sisinya. Matahari belum sepenuhnya terbit, namun hatinya sudah gelisah sambil memanggil nama Mirza. Menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat, tidak ada suara apapun di sana. Itu artinya Mirza tidak ada di kamar mandi.
Haira bergegas menyibak selimutnya lalu keluar.
Nampak kaki yang menjulur melebihi sofa. Dilihat dari celananya, sudah di pastikan itu adalah Mirza. Namun, langkah Haira terhenti saat melihat dua orang yang terlelap di sofa lainnya.
"Erkan, kapan dia datang ke sini?" tanya nya dalam hati. Lalu menatap pria yang menurutnya tak asing.
"Aku seperti pernah melihat dia, tapi di mana?" Haira mengingat-ingat wajah pria yang saat ini tidur di dekat suaminya.
''Dari jas nya seperti seorang dokter?'' terka nya lagi, namun otaknya tak bisa menjangkau di mana ia pernah bertemu dengan pria itu.
Haira mendekati Mirza lalu membenarkan letak tangannya yang masih dihiasi dengan infus.
Tanpa sengaja, ia menyenggol jarum hingga membuat Mirza terusik.
Mirza mengerjap-ngerjapkan matanya. Menatap Haira yang berdiri di samping nya.
"Sayang, kau sudah bangun?"
Haira mendaratkan satu jarinya di bibir. Memberi kode pada Mirza untuk tidak mengeraskan suaranya.
Tidak bagi pria itu yang langsung menendang dokter Hasad dengan kakinya hingga pria itu jatuh tersungkur. Kemudian menggoyang-goyangkan lengan Erkan.
"Aduh, apa sih ini," gerutu dokter Hasad sambil menggosok punggungnya yang terasa linu akibat terhempas di lantai. Masih belum sepenuhnya sadar bahwa ada dua pasang mata mengawasinya.
Ehem..
Kemudian Mirza berdehem
"Tuan Mirza." Mata dokter Hasad terbelalak, begitu juga dengan Erkan yang terkejut melihat Haira ada di samping Tuannya.
"Aku yang sakit, Kalian yang enak-enak tidur," ceplos Mirza menurunkan kakinya.
"Kapan mereka datang ke sini?" tanya Haira pada Mirza.
"Semalam, karena kamu sudah tidur, aku gak tega bangunin."
Erkan yang ingin ke kamar mandi itu merapatkan pahanya. Matanya melirik ke sana ke mari berharap ada orang yang melintas.
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Erkan melihat Nada baru saja keluar dari kamarnya.
"Maaf Tuan, Nona, Saya ke belakang dulu." Ia bergegas meninggalkan ruangan itu menghampiri Nada yang berjalan menuju dapur.
"Maaf Nona, kamar mandi di mana? tanya Erkan sopan.
"Namaku Nada." Nada mengulurkan tangannya tanda perkenalan.
__ADS_1
"Erkan."
Erkan menerima uluran tangan Nada hingga ia melupakan tujuan utamanya.
"Jadi mulai sekarang panggil aku Nada, oke."
Erkan mengangguk setuju. Ia membalikkan tubuhnya, namun setelah beberapa langkah Nada memanggilnya dari arah belakang.
"Ada apa?" tanya Erkan menatap Nada dengan lekat.
"Tadi, katanya mau ke kamar mandi, kok balik lagi?"
Erkan menepuk jidatnya, baru juga berkenalan dengan cewek, jiwa pikunnya sudah kumat membuat nya malu setengah mati.
Nada mengantarkan Erkan ke kamar tamu. Setelah itu ia keluar.
"Bagaimana, Sayang? Apa perutmu sakit?" tanya Haira memastikan.
Dokter Hasad pun melepas jarum infus dari tangan Mirza, setelah memastikan bahwa kondisi Mirza jauh lebih baik.
"Sebenarnya semalam sudah tidak sakit, diarenya juga sudah sembuh. Erkan saja yang berlebihan, membawa dokter Hasad ke sini."
Mirza merangkul pundak Haira dan mengecup pipinya.
"Tapi kemarin dokter memang menyarankan kamu dirawat. Tapi aku gak tega membangunakn kamu. Maafin aku sudah memaksa kamu makan seblak."
"Tidak apa-apa, lagipula aku senang bisa membahagiakan kamu."
Mirza tak henti-hentinya mengelus pipi mulus Haira. Sengaja ingin membuat dokter Hasad kepanasan melihat tingkah nya.
Dokter Hasad yang seperti obat nyamuk itu pun memalingkan pandangannya ke arah lain.
Lama-lama aku kok mual ya, lihat kelakuan Tuan mirza. Apa dia se lebay itu memperlakukan istrinya?
Daripada menjadi patung, menyaksikan Mirza dan Haira yang sedang memadu asmara, Dokter Hasad merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas.
Setelah menahan hampir semalaman penuh, akhirnya Erkan lega bisa membuang ampas yang membuat perutnya sakit. Ia keluar dari kamar mandi dengan tangan yang masih membenarkan resleting celana. Tiba-tiba pintu terbuka membuat Erkan menelan saliva. Tubuhnya terpaku dengan tangan masih sibuk di bawah sana.
Aaaaa
Nada menjerit. Kedua tangannya menutup wajah saat melihat celana Erkan masih terbuka, bahkan ce lana dalam milik Erkan masih terekspos.
"Kenapa kau ceroboh?" pekik Nada tanpa membuka wajahnya.
"Ma— maaf, aku gak sengaja."
Erkan berbalik badan memunggungi Nada, lalu menarik resletingnya ke atas. Setelah di kira cukup sempurna, ia membalikkan tubuhnya lagi.
__ADS_1
"Sudah," ucap Erkan yang masih berdiri agak jauh dari Nada.
"Lain kali harus lebih hati-hati, kau menodai mataku yang masih perawan," celetuk Nada kesal. Lantas, ia mengambil dua handuk dari dalam lemari dan memberikannya pada Erkan.
"Silahkan, kalau kamu mau mandi, aku ke dapur dulu." Meninggalkan Erkan yang masih tercengang.
Hampir saja memutar knop, Erkan kembali menghalangi Nada. "Gak ada sabun, ambilin," pinta Erkan seperti anak kecil.
Baru saja berkenalan, sudah banyak drama.
Haira yang hampir menghampiri Nada itu pun dilarang oleh Mirza. Sebab, pria itu tahu ada Erkan di sana, dan dipastikan ada kejadian aneh yang membuat Nada sampai menjerit dan marah-marah.
"Ada apa itu?" tanya dokter Hasad antusias.
Nenek hanya menyembulkan kepalanya lalu kembali ke dapur, sungkan dengan kehadiran mereka para orang kaya.
"Mungkin ada burung yang keluar dari sangkar," jawab Mirza nyeleneh.
Nada keluar dengan wajah cemberutnya. Matanya terus dibayangii dengan sesuatu yang baru pertama kali dilihatnya. Meskipun terbungkus dengan kain, tetap saja itu menjijikkan baginya.
"Kamu kenapa, Nad?" tanya Haira mendekati sang adik yang hanya berdiri di samping sofa.
Nada menggeleng tanpa suara. Bibirnya terkunci dan tidak bisa berkata apa-apa.
"Dokter silahkan mandi, Saya sudah siapkan handuk," ucap Nada memberitahu, lalu ke dapur untuk menyiapkan makanan.
Mirza yang juga perlu membersihkan diri pun ke kamar bersama Haira.
"Sebenarnya tadi Nada kenapa, ya?"
Haira duduk di tepi ranjang, ia masih kepikiran sang adik.
"Mungkin dia melihat Erkan telanjang."
Bicara seperti itu, justru Mirza sendiri yang melucuti bajunya hingga tubuh polos tanpa sehelai benang pun itu terpampang jelas di mata Haira. Namun, itu tak asing lagi, ia sudah terbiasa melihat pemandangan itu, bahkan akhir-akhir ini ia sering tergoda dengan tubuh atletis suaminya.
Bukannya ke kamar mandi, Mirza malah menghampiri Haira, sedikitpun tak mempunyai rasa malu sudah memamerkan tubuhnya.
"Apa pagi ini kamu gak mau olahraga ranjang, sepertinya masih aman?" goda Mirza menaik turunkan alisnya.
Seketika, Haira menyambar handuk dan melilitnya di pinggang sang suami, lalu mendorong pria itu ke kamar mandi.
"Sepertinya ngidam kali ini akan sedikit berat untuk kamu, Sayang." ucapnya menyeringai.
"Apa itu?" tanya Mirza penasaran.
"Dedeknya gak mau dijenguk, dan mungkin agak sedikit lama."
__ADS_1
Seketika itu juga senjata pamungkas milik Mirza ikut lemas.