Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Nyonya Alvero


__ADS_3

Melewati berbagai terjalnya kehidupan. Menjalankan tugas yang terkadang harus mempertaruhkan nyawa. Tak mengenal lelah, bahkan melupakan keglamoran dunia yang melambai-lambai ingin dinikmati. Hanya bisa berbicara dengan ibu dan adiknya dari telepon. Proses yang berliku dan tajam. Penuh dengan duri yang mengharuskannya untuk berhati-hati. Kini Erkan sudah menuai perjuangan panjangnya. Akhirnya setelah sekian lama hanya bisa menatap wajah sang ibu, pria itu bisa memeluknya, mendekapnya dengan erat.


"Kamu tega banget ama mommy, Son." Nyonya Alvero menangis dipelukan sang putra. Tangannya tak henti-hentinya  memukul punggung lebar pria yang juga menangis di pelukannya. 


"Bukan tega, Mom. Tapi __"


"Tapi apa?" sergahnya sembari mendorong tubuh kekar Erkan. 


Pertemuan yang mengharukan hingga membuat beberapa pasang mata ikut meneteskan air mata.


Di bandara internasional itu Erkan meluapkan rasa rindu yang terpendam hingga sepuluh tahun lamanya. 


"Kalian jangan mencontoh dia." Mengatakannya di depan beberapa anak muda yang melintas. "Dia ini anak durhaka." Menunjuk Erkan yang masih merangkul nya. "Sepuluh tahun dia tidak menemuiku, dan lebih mementingkan pekerjaan," imbuhnya menjelaskan. 


Erkan hanya bisa diam membisu seribu bahasa. Pasalnya,  itu memang benar adanya dan ia tak ingin mengelak. 


"Aku akan menebusnya. Mom," bisiknya.


Seorang pria yang gagah perkasa, bahkan terlihat garang jika di depan musuh itu terlihat gemulai saat di depan ibunya. Tak jauh beda dengan Mirza, kasih sayang Erkan pada keluarganya pun sangat besar. 


"Bagaimana caranya? Apa kau bisa mengembalikan sepuluh tahun yang sudah terlewati, dasar bodoh." Menoyor kening Erkan. 


"Kau juga apa kabar, Ray?" Pura-pura memeluk adiknya, mengalihkan pembicaraan yang pasti akan berujung kemarahan.


"Baik," jawab Raya singkat. 


Nada yang melihat tingkah calon suami dan mertuanya itu hanya bisa tertawa kecil. Sebenarnya ia ingin menghampiri mereka, namun masih malu-malu.


"Bukan memutar sepuluh tahun yang lalu, Mom. Tapi aku akan memberikan cucu untuk mommy. Bukankah itu yang mommy harapkan dariku?"


Wajah yang tadinya dipenuhi dengan kekesalan itu berbinar secerah mentari yang baru terbit. 


"Di mana calon menantuku?" Celingukan, mengabsen beberapa gadis yang melintas. 


"Nanti aku kenalkan mommy dengan dia." 


Erkan menarik koper dari tangan adiknya. Menggiring mereka menuju mobil. 


"Memangnya burungmu sudah bisa hidup, Son?" Melirik senjata pamungkas milik Erkan yang terbungkus rapi. 


Seketika itu Erkan membungkam bibir ibunya yang tak berakhlak. Bagaimana bisa mommy nya meremehkan kejantanannya yang setiap pagi sering menuntut. 

__ADS_1


"Mommy meragukanku?" 


Nyonya Alvero mengangguk. Tak yakin kalau senjata putranya itu sudah normal, mengingat dulu sering mengeluh sakit. 


"Aku akan membuktikan pada mommy,  kalau aku ini laki-laki yang gagah perkasa."  Membanggakan diri. Tidak mau terlihat lemah dimata mommy dan adiknya. 


Nada yang dari tadi berdiri di samping mobil itu membungkuk ramah. Menyapa wanita yang ada di samping Erkan kemudian ada gadis remaja yang belum ia kenal. 


"Siapa dia?" Nyonya Alvero menunjuk Nada yang menundukkan kepala. 


"Namanya Nada,  dia calon istriku." 


Nyonya Alvero memukul lengan kekar sang putra. Matanya terpana melihat kecantikan gadis yang ada di depannya tersebut. Tak menyangka, Erkan yang ia anggap impoten itu mendapatkan gadis yang sangat cantik dan sopan. 


"Kamu gak salah pilih kan, Nak?" Memegang kedua lengan Nada. Seolah-olah merendahkan Erkan yang selama ini dikenal gagah dan tampan serta pekerja keras dan jenius. 


"Maksud, Mommy?" tanya Nada memastikan ucapan calon mertuanya yang ambigu. 


Jantung Erkan berdegup kencang. Mulai waswas dengan mommy nya yang sering bicara nyeleneh. 


"Kamu mau menjadi istri pria seperti ini?" Menunjuk Erkan yang ada di sampingnya. 


Nada tersenyum kecil melihat tingkah mereka. Ternyata di balik sikapnya yang angkuh, Erkan dan mommy nya bisa bercanda. 


"Sebelum dia menyesal. Mommy harus jelaskan lebih dulu," terang nyonya Alvero. 


"Jangan mengada-ada deh, Mom. Kalau tahu begini, aku gak mau jemput mommy. Biarkan aku menikah tanpa kehadiran mommy."


"Dasar kau anak durhaka." Menoyor jidat Erkan. 


Raya menarik tangan Nada sedikit menjauh.


"Begitulah mereka, Kak. Nanti kalau kakak sudah menjadi keluarga kami, pasti akan melihat kak Erkan dan mommy bertengkar setiap hari."


Raya memasukkan koper ke dalam mobil dibantu sang supir, sedangkan Nada menyaksikan perdebatan kecil antara Erkan dan ibu mertuanya. 


"Memangnya kalian tinggal di mana?"


Raya melongo, menoleh ke arah Erkan yang nampak sibuk meryau mommy nya. 


"Jadi kak Erkan belum pernah memberi tahu kakak tentang aku dan mommy?"

__ADS_1


Nada menggeleng pelan. Faktanya,  selama berhubungan sekalipun Erkan tak pernah menyinggung tentang orang tuanya, dan ia pikir calon suaminya itu sudah yatim piatu. 


Raya menepuk jidatnya, ia ikut kesal kalau begini ceritanya. 


Terpaksa gadis yang berumur dua puluh tahun itu angkat bicara. 


"Hajar terus, Mom. Dia memang anak durhaka. Kata kak Nada dia juga tidak mengakui mommy."


''Bu __"


Bahkan Nada tak bisa menyerang.  Sedikitpun tak bisa membela Erkan yang merasa tersudut oleh ibu dan adiknya. Mereka sudah diselimuti oleh kemarahan yang mendalam karena ulah Erkan yang sudah keterlaluan. 


Puas memukul Erkan, nyonya Alvero menghampiri Nada dan memeluknya. 


"Sial bener calon suamimu. Menyesal aku sudah melahirkannya." 


Erkan mengikuti langkah ibunya, ia pikir bertemu dengan mommy nya akan dimanja, tapi nyatanya ia malah mendapat perlakuan yang buruk. 


"Kalau kau berani seperti itu lagi, mommy akan mencabutmu dari keluarga," ancam Nyonya Alvero pada putra sulungnya. 


"Sekarang cepat antar ke rumah, mommy capek."


Aduuuhhh, apartemen ku kan cuma ada dua kamar. Nanti aku tidur dimana?"


"Antar ke rumah Daddy aja, Kak," ujar Nada yang tahu keadaan apartemen pria itu.


Hampir setengah perjalanan, wajah nyonya Alvero meredup saat mengingat masa lalu.


Hampir empat puluh tahun, akhirnya aku menginjakkan kaki di kota ini lagi. Semoga anakku tidak berhubungan dengan keluarga itu. Cukup aku dan saudaraku yang diinjak-injak, bukan anakku.


Tanpa terasa, mobil berhenti di depan rumah Meyzin. Nyonya alvero terpana melihat rumah yang berdiri kokoh di depannya.


"Ini rumah calon mertuamu, Son?" Nyonya Alvero nampak ragu, berhubungan dengan orang kaya membuatnya trauma.


"Iya, Mom. Ini rumah Daddy. Dan sebentar lagi kak Erkan yang akan menjadi kepala keluarga di rumah ini. Kalau mommy mau tinggal di sini juga gak papa."


Nada menggenggam tangan Nyonya Alvero yang terasa dingin. Seperti ada sesuatu yang dipendam wanita tua itu.


"Daddy," teriak Nada yang membuat Meyzin langsung terhenyak. Dan betapa terkejutnya melihat wanita yang ada di samping putrinya.


Apa yang ditakutkan terjadi. Nyonya Alvero seketika melepas tangan Nada saat melihat pria yang berdiri tak jauh darinya.

__ADS_1


__ADS_2