Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Bau terasi


__ADS_3

Usia kandungan Haira baru menginjak delapan minggu, namun permintaannya yang berubah-ubah sudah membuat Mirza pusing tujuh keliling. Seperti saat ini, Haira yang tak ingin didekati olehnya dan itu seperti hukuman yang paling menyakitkan. 


"Ayo dong Sayang, buka pintunya, di luar dingin."


Mirza terus mengetuk pintu kamarnya yang tertutup rapat. Ia tak pantang menyerah dan terus mencoba meluluhkan hati Haira. 


Pelayan yang masih berlalu lalang menjalankan aktivitasnya hanya bisa menahan tawa melihat Mirza yang bersandar di pintu. Wajahnya memelas bak anak kecil yang minta dibelikan mainan. 


Haira yang merasa risih terpaksa menutup kedua telinganya dengan bantal. Saat ini ia sangat benci dengan Mirza dan tak ingin bertemu pria itu. 


Erkan datang dengan wajah lelahnya. Pria itu membuka pintu depan lalu melepas jas nya, diikuti Nada dari belakang. Mereka berdua berhenti di ruang tamu sembari menatap Mirza. 


Erkan melambaikan tangannya ke arah pelayan. Dengan sigap, pelayan yang memakai seragam biru navy itu mendekat. 


"Tuan Mirza kenapa?" tanya Erkan antusias. Tidak biasanya Mirza terlihat menyedihkan seperti itu. 


"Nona Haira melarang tuan Mirza tidur di kamar, Tuan. Katanya bau," ucap  pelayan lirih. Menirukan ucapan Haira tadi. 


Kini tak hanya pelayan, Erkan dan Nada pun menahan tawa. 


Nenek yang baru keluar pun ikut menghampiri Mirza. "Yang sabar, Za. Kamu duduk dulu, nenek buatin kopi. Nanti kalau sudah bosan sendiri, pasti dia mencarimu," tutur nenek menenangkan. 


Terpaksa Mirza bergabung dengan Nada dan Erkan yang ada di ruang tamu. 


"Sabar, Kak. Resiko mempunyai istri hamil memang seperti itu, bahkan terkadang ada juga seorang istri itu ngidam minta di peluk suami orang," ucap Nada membuat Mirza bergidik ngeri. 


"Tapi itu jarang sekali, Za," timpal  nenek yang datang membawa tiga cangkir minuman panas. 


Nenek duduk di samping Nada, ia bisa melihat gadis itu lebih berseri daripada tadi sebelum pergi. 


"Bagaimana urusan Kalian?" tanya nenek mencairkan keheningan. 


Erkan menatap Nada yang berarti meminta gadis itu untuk bercerita pada nenek. 


"Semua lancar, Nek. Aku sudah bertemu ayah. Meskipun dia tidak mengenaliku, aku bisa melihat ayah dari dekat."


Mirza ikut angkat bicara. Ia ingin mengalihkan otaknya yang dari tadi gelisah memikirkan permintaan Haira. 

__ADS_1


"Bagus, kalau begitu besok kamu datang ke kantor Meyzin. Aku yakin dia pasti akan menemuimu," ucap Mirza. Lagi, matanya menutup pintu yang belum terbuka juga. 


Ngapain dia sekarang, apa tertawa keras sudah membuatku tersiksa seperti ini. 


Erkan bisa melihat kekesalan Mirza yang memuncak, namun kali ini ia tak bisa membantu apa-apa selain menemaninya  di luar. 


Erkan menyenggol lengan Nada. Memberikan kode pada gadis itu untuk ke kamar, dan itu langsung dimengerti. 


"Aku ke kamar dulu ya, Kak. Semoga kak Haira cepat keluar dan mau tidur dengan kakak," ucap Nada sebelum pergi. 


Nenek ikut pergi menyusul Nada. Sebab, ia ingin mendengarkan cerita gadis itu saat bertemu dengan ayah kandungnya. 


Saat ini hanya ada Erkan dan Mirza yang duduk dengan saling berhadapan. 


"Mungkin Tuan butuh hiburan sambil menunggu Nona Haira membuka pintu?" tawar Erkan. 


Mirza menggeleng berat lalu berbaring dengan menggunakan kedua tangannya sebagai bantal. 


"Apa iya ada ngidam seperti ini, ada-ada saja." Masih tak mengerti dengan jalan pikiran ibu hamil. 


"Bukankah waktu itu nona juga ingin Anda pergi." 


"Iya, tapi kali ini Haira bilang, katanya aku bau terasi, makanan apa lagi itu?" pekik Mirza tak terima. 


Lagi-lagi Erkan membuka mbah google untuk mencari sesuatu yang diucapkan Mirza. Setelah menemukannya, ia menghadapkan layar ponselnya tepat di depan sang tuan. 


Mirza mengernyitkan dahinya saat melihat gambar yang berwarna coklat dan berbentuk batang kecil itu. Ia tak menyangka, disamakan dengan bumbu dapur yang dibuat dari udang. 


"Apa itu mahal?" tanya nya sinis. 


Erkan pun melihat harga yang tertera di berbagai label nya. 


"Murah, Tuan, bahkan kalau di Indonesia harganya hanya lima ribu rupiah."


Harga dirinya jatuh seketika di mata sang sekretaris. Namun, Mirza tak peduli itu semua, seburuk apapun jika istrinya yang berkata, ia akan tetap menerima dengan lapang dada. 


Ceklek 

__ADS_1


Pintu terbuka. Mirza mengembangkan senyum saat melihat sosok wanita cantik itu keluar dari kamar. Ia mengira pasti Haira akan menghampirinya seperti waktu itu. Namun nyatanya, Haira justru berjalan ke arah belakang, bahkan hanya melirik nya sekilas. 


"Kamu lihat sendiri, kan. Dia tidak memanggilku sama sekali."


Mirza semakin kesal saat melihat Haira ketawa ketiwi dengan pelayan yang ada di ruang makan. Seperti tak punya dosa sudah membuat suaminya emosi. 


"Jangan salahkan Nona, Tuan. Mungkin anak Anda memang tidak ingin berada didekat daddy nya," jawab Erkan hati-hati. Sebab, ia tahu hati Mirza saat ini sudah tersulut emosi dan mudah marah. 


Mirza berbaring lagi dan menatap langit-langit ruangan itu. Mencerna ucapan Erkan yang benar adanya. 


Kalian boleh menjauh dari daddy, asalkan tidak pergi dari kehidupan daddy. 


Mirza memaksa matanya untuk terpejam demi mengurai emosi yang menyesakkan dada. Erkan pun ikut tidur di sofa untuk menemani pria itu. 


Tak seperti pagi sebelumnya yang dipenuhi dengan canda tawa, kamar itu sangat hening saat Mirza masuk. Bahkan, Haira masih cuek dan tak mau menyapa sang suami yang cari-cari perhatian padanya. 


"Sepertinya kemarin aku letakkan disini, kenapa gak ada," gumam Mirza membuka beberapa pintu lemari secara bergantian. 


Haira yang meringkuk di balik selimut terus tertawa kecil saat menonton video yang ada di ponselnya, sedikitpun tak memperdulikan Mirza yang nampak kesusahan. 


"Sayang, kamu lihat dasiku yang bermotif garis nggak?" Akhirnya Mirza bertanya pada Haira. 


Wanita itu menunjuk ke arah laci yang ada di sisi lemari tanpa membuka suara.


Mirza mengikuti jari Haira menunjuk. Setelah itu, ia membukanya. Mengambil satu dasi yang ia cari.


"Kalau ce lana dalam ku di mana?" Mirza membongkar isi lemari di bagian bawah.


Akhirnya Haira terbangun. Menarik lembut tangan kekar Mirza.


"Apa kamu lupa kalau semua ce lana dalam mu ada di sini?"


Tidak seperti semalam yang terus mengimpit hidungnya, saat ini Haira terlihat biasa saja berada di dekat Mirza. Bahkan, cenderung mendekatkan wajahnya di dada Mirza, dan itu membuat pria itu bersorak gembira.


"Apa kau menginginkan sesuatu?" tanya Mirza sembari mengelus perut rata Haira. Hatinya ketar-ketir, takut tak bisa memenuhi permintaan sang istri.


Haira menggeleng lalu menarik kerah baju Mirza hingga membungkuk.

__ADS_1


"Triplet pingin dimanja," bisik nya membuat sekujur tubuh Mirza meradang.


__ADS_2