
Setelah sadar dari pingsan
Aynur menumpahkan air matanya di pelukan Nita dan juga Haira. Ia tak sanggup membendung kesedihan yang mendalam. Deniz bagaikan malaikat dalam hidupnya. Bagaimana jika nyawanya tak tertolong. Bayangan hitam selalu melintas hingga air mata yang mengalir itu semakin deras.
"Ini ada apa?" tanya Tsamara yang baru saja datang. Tadi bocah itu sempat mendengar suara jeritan dari kamar mommy nya. Ia penasaran lalu mengajak Havva untuk menemui Aynur.
Mirza memeluk kedua keponakannya. Mengusap air matanya yang sempat lolos.
"Tidak ada apa-apa, Nak. Kalian ke kamar saja, berdoa supaya daddy cepat pulang."
"Memangnya daddy ke mana, Mommy?" tanya Havva. Bocah yang masih polos itu belum mampu membaca kesedihan di wajah seluruh keluarga dan mommy nya.
"Daddy berjuang," jawab Mirza kemudian.
Setelah mendapat penjelasan itu, mereka kembali ke kamar. Situasi kembali stabil. Meskipun duka itu menyesakkan dada, Haira mencoba membuat kakaknya tenang. Yakin bahwa Deniz kuat dan bisa melewati semuanya.
Dering ponsel memecahkan keheningan. Mirza yang tadi ingin ke rumah sakit mengurungkan niatnya dan memilih menemani Aynur.
"Kak Fuad."
Aynur bergegas turun menghampiri Mirza yang berdiri di depan lemari.
"Aku mau bicara dengan dia."
Aynur merebut ponsel yang ada di tangan Mirza lalu mengangkatnya.
"Halo, Fuad. Bagaimana kabar kak Deniz?" tanya Aynur antusias. Sekuat hati untuk bisa menerima penjelasan dari adik iparnya itu.
"Masih di operasi, Kak," jawab Fuad dengan berat. Terdengar juga helaan napas panjang.
"Aku mau ke rumah sakit sekarang. Biarkan aku menemani kak Deniz. Dia pasti membutuhkan aku," pinta Aynur penuh harap.
Mirza mengangguk, mungkin dengan begitu semangat hidup Deniz akan lebih tinggi.
"Kakak jaga anak-anak, aku dan Haira akan mengantar kak Aynur." Mirza pamit pada Nita.
Masih sama, villa itu tetap dijaga dengan ketat. Kendatipun saat ini Yusef sudah lumpuh, Mirza takut ada musuh lain yang menyusup. Kejadian yang baru saja terjadi membuatnya lebih waspada dan tidak lengah.
Tiga puluh menit kemudian
Mirza, Haira dan juga Aynur memasuki lorong rumah sakit. Mereka mengikuti langkah suster yang akan menunjukkan kamar Deniz.
Setibanya di ruangan yang ditunjuk suster, mereka berhenti. Tidak ada siapapun di sana, Fuad pun juga tak menampakkan batang hidungnya.
"Kalau ini ruangan kak Deniz, kak Fuad di mana?" tanya Haira pada sang suami.
__ADS_1
Mirza mengangkat bahunya lalu berjalan ke arah kiri.
Benar saja, Fuad berada di balkon rumah sakit.
"Kak," sapa Mirza yang membuat Fuad terkejut.
"Kapan kamu datang? Dengan si __"
Fuad menghentikan ucapannya saat Aynur muncul di balik dinding.
"Bagaimana keadaan kak Deniz?"
Aynur mendekati Fuad. Diikuti Haira dari belakang.
"Kak Deniz sudah melewati masa kritisnya, tinggal pemulihan saja, Kak."
"Apa aku bisa menjenguk nya?" tanya Aynur. Ia sudah tidak sabar ingin melihat suaminya secara langsung.
Fuad mengangguk. Sebab, dokter sudah mengizinkannya untuk masuk melihat kondisi pasien. Meskipun belum sadarkan diri, setidaknya Deniz sudah melewati masa tersulitnya.
Bunyi monitor terdengar teratur. Pria yang ia lihat kegagahannya kini terkapar dengan mata terpejam. Beberapa alat medis menghiasi sekujur tubuh pria itu.
Air mata Aynur kembali menetes saat ia masuk. Kakinya terus mengayun menghampiri Deniz yang belum sadarkan diri.
Menarik kursi dan duduk disamping brankar.
Pertanyaan yang belum ia jawab sampai sekarang. Di mana Deniz mempertanyakan perasaan wanita itu padanya. Mengingat masa lalu nya yang begitu unik saat pertama kali mengenalnya.
Mereka dipertemukan untuk yang pertama kali dan dipersatukan sampai saat ini. Pria yang sangat menyebalkan dengan sejuta pesona itu mampu mengikatnya dalam hitungan menit. Bagaimana tidak, mereka menikah setelah acara resepsi sang sepupu.
Awalnya Aynur sangat membenci Deniz karena sudah memaksanya untuk menjadi seorang istri, tapi ketulusan Deniz yang luar biasa mampu menaklukkannya yang dulu sebagai putri kampus. Bahkan Aynur tak tahu jika pria yang menikahinya itu adalah seorang miliarder.
Deniz sengaja menyembunyikan identitasnya sebagai pengusaha, ia juga tidak pernah menunjukkan pada Aynur sisi kekayaannya karena ia mencari wanita yang tulus menerima dan rela mengabdi padanya. Bukan karena hartanya.
Sampai pada suatu hari cinta itu tumbuh dengan sendirinya. Berjalannya waktu, cinta Deniz mampu melunakkan hati Aynur.
"Kalau kau tidak mau bangun, aku tidak mau bicara padamu lagi."
Lagi-lagi kembali pada masa lalu, dimana ia dan Deniz bagaikan orang asing yang tinggal satu atap. Tidak saling menyapa sampai tiga bulan, meskipun Deniz selalu menggodanya, Aynur tetap angkuh dan dingin.
Baru saja beranjak, sebuah tangan meraih jemari Aynur yang membuat sang empu terbelalak.
"Kak Deniz," pekik Aynur memeluk suaminya dengan erat. Menciumi pipinya penuh cinta.
"Mau sampai kapan kau tidak mau bicara padaku, Hemmm?" tanya Deniz tersendat menahan rasa sakit di punggungnya.
__ADS_1
"Sampai kau mau melihatku."
"Tadi aku juga dengar kalau kau akan memberi jawaban padaku?"
Meskipun sudah tahu, tetap saja menggoda Aynur akan lebih menyenangkan sekaligus menjadi obat di masa pemulihan.
"Aku mencintaimu." Aynur hanya berbisik yang membuat Deniz terkekeh.
Deniz melepas alat bantuan pernapasan yang tak dibutuhkan lagi. Sekarang sudah ada orang yang mampu membangkitkannya dari kelemahan. Ia juga melepas beberapa kabel yang menghiasi tubuhnya.
"Sayang, kenapa dilepas?" tanya Aynur tak bisa menghentikan tangan Deniz.
"Aku sudah sembuh," jawabnya meringis menahan nyeri saat ia menggerakkan tangannya.
Aynur menatap bahu Deniz yang dibalut perban. Ada cairan merah merembes dari dalam membuatnya takut.
"Luka kamu berdarah lagi, Kak?" Aynur menekan tombol darurat tanda bahaya, dalam hitungan menit, Dokter berhamburan datang, begitu juga dengan Mirza, Fuad dan Haira, mereka pun ikut masuk.
"Kak Deniz kenapa, Kak?" tanya Mirza.
Aynur tak menjawab, kesal melihat suaminya yang sok sokan kuat. Padahal, ia baru saja bangun.
"Jangan ditanya, Za. Dia sakit gigi," jawab Deniz meringis saat dokter itu mengobati lukanya.
Fuad menggaruk alisnya yang tidak gatal melihat sikap kakak iparnya. Disaat situasi yang mencekam pun masih bisa genit pada istrinya.
"Jahitannya robek, Tuan." Ucapan dokter membuat dada Aynur semakin meluap dan takut. Ia bingung dengan suaminya yang selalu meremehkan perkara serius.
"Kau mau meninggalkan aku?" pekik Aynur kesal.
Semua orang hanya diam dan saling tatap. Haira yang ada di samping Mirza pun hanya membisu melihat aksi kakak iparnya yang nampak marah.
"Tidak, Sayang." Deniz meraih tubuh Aynur dengan satu tangannya lalu mencium kening nya.
"Lagipula dokternya yang tidak bisa menjahit," ejeknya dengan mengedipkan mata.
Setelah puas menggoda Aynur, Deniz menatap Haira, wanita sederhana yang membuat adik bungsunya kecanduan.
"Kamu gak papa kan, Ra?" tanya Deniz, menatap Haira dengan intens dari atas hingga bawah.
"Tidak, Kak. Aku baik-baik saja."
Deniz tersenyum melihat semua keluarganya baik-baik saja dan selamat dari peperangan itu.
"Kamu apakan Yusef?" Menatap Mirza dengan tatapan tajam lalu menepuk jidat pria itu.
__ADS_1
Mirza hanya cekikikan lalu berlari keluar.