
Deniz tak tinggal diam, ia menyuruh Mirza duduk di sampingnya dan siap mengintimidasi pria itu. Di ruangan yang masih kental dengan bau obat itu menjadi ruangan yang mencekam. Di mana Deniz meminta Mirza untuk menceritakan apa saja yang dilakukan nya pada sang musuh.
Mirza menunduk dengan tangan saling terpaut, seakan memiliki seribu wajah yang pasti akan berubah saat berada di depan orang yang berbeda.
Mirza akan terlihat lembut jika bersama dengan Haira dan orang-orang yang dicintainya, namun bisa berubah garang dan kejam saat berhadapan dengan musuh dan orang-orang yang ia benci. Saat berada di depan Deniz, ia bagaikan kelinci kecil yang lemah. Takluk dan penurut.
"Aku hanya menembaknya di bagian perut."
"Bukan itu yang aku tanyakan? Tapi setelah aku pergi?"
Deniz tahu, bahwa Mirza tidak mungkin memberikan Yusef hanya dengan satu kali tembakan, pasti ada kenangan lain yang diberikan pada sang musuh yang berani mengusiknya.
"Aku injak tangannya sampai berdarah," ucap Mirza dengan lugas.
Haira sudah tak heran lagi dengan kekejaman suaminya. Ia juga kagum dengan pria itu yang selalu patuh pada kakaknya.
"Lalu?" tanya Deniz lagi, meraih tangan Aynur untuk tetap berada di samping nya.
"Aku pukul dia."
"Apanya yang kau pukul?" Deniz tak henti-hentinya membuat Mirza mengorek semuanya.
"Wajahnya," ucap Mirza dengan nada rendah. Suaranya tercekat saat melihat Fuad, pasti pria itu akan mengejeknya jika sampai tahu apa yang sudah Mirza perbuat.
"Kau yakin hanya wajahnya?" Deniz menyelidik. Sebab ia tak percaya sepenuhnya dengan Mirza yang sering membohonginya.
"Itu nya."
Benar saja, Fuad langsung tertawa geli. Ternyata adik iparnya itu tak jauh darinya, yang pasti akan memukul bagian sensitif saat melumpuhkan lawan.
"Tapi aku tidak membunuhnya, Kak?"
Mirza menggeleng cepat. Sebab, kabar yang terakhir ia dapat dari Erkan, Yusef berada di rumah sakit dalam keadaan kritis.
"Lain kali jangan libatkan Haira dalam masalah bisnis mu. Aku tidak mau dia celaka lagi."
Deniz turun dari ranjang dan menghampiri Haira. Memastikan lagi kalau adik iparnya itu baik-baik saja.
"Maafkan Mirza karena teledor menjagamu."
Haira mendongak, betapa beruntungnya memiliki kakak ipar sebaik Deniz. Bahkan dalam benaknya sempat terlintas, berharap Mirza sebaik pria itu dan tidak pencemburu.
__ADS_1
"Gak papa, Kak. Ini juga salahku yang terlalu percaya pada orang lain."
Mirza beralih berdiri di depan Haira. Hingga dirinya yang saling tatap dengan Deniz.
"Dia istriku, Kak."
"Dalam hitungan detik aku bisa mengambil alih posisimu. Tapi jangan khawatir, karena aku lebih takut pada singa betina yang ada di belakangku."
Menyindir Aynur yang terlihat manyun.
Geram pun percuma, karena Mirza tidak bisa berbuat apa-apa selain memendam kekesalannya.
Beberapa polisi datang ke kamar Deniz. Mereka langsung menanyakan kasus yang terlapor beberapa jam lalu. Haira yang menjadi korban menceritakan semuanya yang terjadi. Sedikitpun tidak menutupi atau menambahi. Mengutarakan bahwa mereka sempat ingin memper-kosanya secara bergilir, namun kedatangan Deniz menggagalkan aksi mereka dan Murad yang berulah.
"Anda yakin tidak menutupi apapun dari kami?"
Mirza Langsung menarik kerah polisi yang duduk di depan istrinya. Ia merasa jika polisi itu menyudutkan Haira yang masih nampak ketakutan.
"Itu artinya kau tidak percaya pada istriku?" pekik Mirza tak terima.
Deniz yang ada di atas brankar hanya menggelengkan kepala melihat adiknya yang kembali bersikap arogan. Entah itu warisan atau benar-benar sifat bawaan dari lahir, yang pastinya sulit dihilangkan dari tubuh Mirza.
"Silahkan pergi, Pak!" titah Deniz dari arah ranjang. Membiarkan polisi itu lepas dari cengkeraman adiknya.
Dasar tidak berguna, umpatnya menatap punggung polisi yang baru keluar dari pintu depan.
"Sekarang kalian pulang saja, biar aku yang berada di sini." Aynur membantu Deniz makan. Pasca operasi, ini pertama kali pria itu diperbolehkan mengkonsumsi makanan.
Fuad yang nampak lelah pun langsung keluar setelah mendapat izin. Selain rindu pada keluarganya, ia pun juga tidak tidur sehari semalam karena harus tetap menjaga Deniz.
Mirza menghampiri Haira yang duduk di sofa lalu mengajaknya pulang.
Baru beberapa langkah, tubuh Haira kembali lemas dan terhuyung. Dengan cepat Mirza meraih tubuh istrinya. Ia kembali mengingat kemarin saat Haira pingsan setelah melihat pistol miliknya.
"Haira kenapa, Za?" tanya Deniz meneguk air putih. Ia turun menghampiri Mirza yang nampak tercengang.
Ia masih takercaya bahwa istrinya pingsan dua kali dalam dua belas jam.
"Gak tahu, Kak," jawab Mirza.
Deniz membantu membuka pintu, sedang Aynur memungut tas Haira yang teronggok di lantai.
__ADS_1
"Dokter, tolong adik saya!" pinta Deniz pada dokter yang melintas di depan ruangannya.
Mirza membawa Haira ke kamar lain untuk menjalani perawatan. Kasus yang menimpa belum usai. Deniz pun belum diizinkan pulang, tapi kini timbul masalah baru.
Mirza duduk di kursi besi yang mengulur panjang, ditemani kakak dan kakak iparnya. Ketiganya menatap pintu ruang rawat yang tertutup rapat.
"Kamu tenang saja, mungkin Haira hanya sok karena penculikan kemarin."
Deniz mengusap punggung adiknya yang tampak gelisah.
Tak berselang lama, seorang dokter keluar dengan senyum mengembang di sudut bibirnya.
"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Mirza antusias.
Dokter itu mengulurkan tangannya. Bersalaman dengan Mirza.
"Selamat, Istri Anda hamil."
Aku tidak bermimpi, kan?
Mirza tercengang. Kata itu bak air es yang mengguyur tubuhnya di musim panas, menyejukkan. Anugerah terbesar dalam hidupnya yang kembali hadir setelah pertemuannya dengan Haira dan Kemal.
Mirza menepuk-nepuk pipinya sendiri. Setelah itu menatap Haira yang berbaring di atas brankar.
"Dokter yakin?" tanya Mirza memastikan.
"Saya sudah menyuruh dokter kandungan memeriksanya, dan benar. Istri Anda memang sedang hamil, karena kandungannya masih sangat dini, jadi butuh istirahat total dan jangan beraktivitas, terlebih yang berat."
"Baik Dok, terima kasih." Mirza langsung masuk ke dalam dengan mata berkaca-kaca.
Impiannya ingin melihat sang istri hamil terkabul. Mirza tidak tahu perjuangan Haira saat hamil Kemal, namun kali ini sedetik pun tidak ingin meninggalkan wanita itu.
"Aku kenapa?" tanya Haira lirih. Melihat kedua kakaknya yang tersenyum, lalu beralih suaminya yang terlihat menangis. Mirza berandai-andai dengan masa lalu yang tak mungkin kembali.
Deniz dan Aynur memilih bungkam, karena hanya Mirza yang berhak untuk mengungkapkannya.
"Kamu hamil, Sayang," ucap Mirza kemudian.
"Beneran? Apa kau tidak membohongiku?" tanya Haira menangkup kedua pipi Mirza. Ia berharap pria itu tidak berbicara asal.
"Benar, Ra. Kamu hamil, dan ini akan menjadi berita besar di keluarga Glora," timpal Deniz yang ikut bahagia di tengah rasa sakit yang menyelimutinya.
__ADS_1