Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Lebah jantan


__ADS_3

Kemal berhamburan memeluk Haira. Meskipun banyak mainan dan teman di rumah itu, ia tetap merindukan mommy nya. 


"Apa Kemal betah tinggal di sini?" tanya Mirza mengusap pucuk kepala putranya. 


"Betah, Daddy. Di sini tidak ada yang marah-marah seperti di rumah mommy. Semua orang baik padaku." 


"Kalau begitu sekarang kita masuk." Mirza melingkarkan tangannya di pinggang ramping Haira. Membiarkan Kemal di gendongan sang istri. 


Tidak ada yang berubah dari rumah itu. Isi ruangan sama, tata letak pajangan dan perabot masih seperti semula saat ia datang. Semua pelayan pun orang yang pernah Haira temui saat pertama kali  menginjakkan kaki di rumah itu.


"Selamat datang Nyonya Mirza," sapa Nita. Ternyata di sana sudah ada semua keluarga Mirza. Tak terkecuali anak-anak.


"Seharusnya kakak nggak perlu repot-repot."


"Gak papa, kamu adalah adik ipar kami, jadi kami ingin menyambutmu."


Kini Haira benar-benar merasakan menjadi istri Mirza yang sesungguhnya. Dihormati dan disayang oleh suami dan keluarganya. Bukan disakiti dan ditindas sesuka hati oleh pria itu. 


Haira menghentikan langkahnya, menatap pintu kamar yang tertutup rapat. Bayangan saat Mirza meminta hak nya dengan paksa itu kembali melintas. Namun, dengan cepat Mirza mencium pipinya dengan lembut. 


"Jangan takut, aku tidak akan mengulanginya lagi," bisik Mirza. Ia tahu apa yang menyelimuti sang istri saat ini hingga harus selalu antisipasi sebelum Haira mengingat masa lalu yang kelam. 


Kemal yang dari tadi digendong Haira terus menatap dada wanita itu. Tangannya bergerak menyingkap sedikit kemeja Haira  saat melihat sesuatu yang aneh di sana. 


"Mommy disengat lebah?" tanya  Kemal polos. Matanya berkaca dengan bibir bergetar. Tak tega melihat sang Mommy yang di penuhi tanda merah.


Tanda merah itu persis seperti yang Kemal lihat di pipi Haira saat disengat lebah di pohon mangga. 


Hening


Seluruh penghuni ruangan saling tatap dan mengangkat bahu. 


Mirza yang ada di samping Haira pun mengikuti ke mana arah mata Kemal memandang. 


Kenapa Kemal bilang Haira disengat lebah, bukankah itu __ Mirza menepuk jidatnya.


Kacau, kalau sampai kak Fuad tahu, pasti akan menghinaku. Melirik Fuad yang berjalan ke arahnya. 


Haira menunduk ke bawah. Menatap jari Kemal yang terus menunjuk tanda merah di dadanya. 


"Mana yang disengat lebah, Sayang?" Nita ikut antusias menghampiri Haira.

__ADS_1


Mirza tak bisa menghindar lagi. Ia pura-pura memainkan ponsel di tangannya saat seluruh keluarganya mendekati Haira. 


Hi…Hi…Hi…


Tiba-tiba Kemal sesenggukan. Mengusap-usap beberapa tanda merah yang ada di dada mommy nya. Pergerakan Haira tercekat, ia tertangkap basah dan tak bisa menghindar lagi dari serangan seluruh kakak iparnya. Bahkan Tsamara dan Havva pun ikut mendekat karena penasaran. 


Aynur mengamankan Hasan dan Fajar yang hampir saja ikut melihat.


"Mana?" tanya Nita lagi. 


Kemal menunjukkan tanda merah yang membuat semua orang bergelak tawa. Bagi mereka yang sudah menikah itu bukanlah hal yang tabu, namun tetap saja memalukan. Sedangkan dua putri cantik Deniz hanya menggaruk kepala sambil melihat wajah Haira yang nampak merona. 


"Itu yang gigit lebah raksasa," imbuh Deniz kemudian bergelak tawa. Menjulurkan lidah di depan Mirza. 


"Om jahat, mommy sakit kenapa diketawain?" ucap Kemal menyeka air matanya yang keluar begitu saja. 


Haira segera menutup dadanya. Takut menjadi bahan olokan semua orang. 


Fuad datang dan mengambil alih Kemal. 


"Kemal, dengarkan om! Mommy memang disengat lebah."


Seketika Mirza terbatuk, mulut Deniz masih punya etika jika berbicara. Akan tetapi, kakak iparnya yang satu itu jelas-jelas akan lebih mempermalukan nya, bibirnya sangat licin dan lebih tajam. 


Mirza hanya bisa menggeleng menahan malu. Begitu juga dengan Haira yang terus menutup dadanya. Menaikkan kerah bajunya hingga ke leher. 


"Tapi Kemal tenang saja, mommy tidak kenapa-napa, malahan mommy nya suka kalau lebahnya gigitnya di bagian dada."


Kemal kembali menatap Haira yang kini menundukkan kepala. Ikut bingung dengan penjelasan Fuad. Namun, setidaknya ia bisa lega melihat mommy nya baik-baik saja. 


"Apa itu benar, Mommy?" tanya Kemal di sela-sela isakannya. 


Aku harus jawab apa? 


Menatap Mirza. Meminta pertolongan pria itu untuk membantunya. 


"Benar, Sayang. Mommy gak papa kok, nanti juga sembuh." Nita mengulurkan tangannya, mencubit lengan Fuad yang dengan sengaja mempermalukan Haira dan Mirza. 


"Awww sakit," keluh Fuad menggosok-gosok bekas cubitan sang istri yang nampak memerah. 


Tak seperti mereka yang bisa tertawa lepas, Mirza hanya bisa menahannya saat melihat Fuad meringis. 

__ADS_1


"Lebah jantan." Setelah mengucap itu, Fuad pembawa Kemal berlari menuju ruang bermain. 


"Jangan hiraukan mereka, anggap saja burung berkicau, nanti juga diam," bisik Mirza di telinga Haira. 


Setelah semua orang kembali ke tempat masing-masing, Haira meraih tangan Mirza. "Aku malu."


Mirza tersenyum menggandeng tangan Haira menuju kamarnya. Mungkin hanya tempat itu untuk menghindar sejenak dari godaan yang lain. 


Ruangan yang juga meninggalkan kenangan buruk. Beberapa kali Mirza memarahi Haira yang lancang masuk, dengan tegasnya pria itu memaki dan merendahkan. Menganggap Haira hanya wanita pembunuh dan tak patut dikasihani. 


Melihat perubahan ekspresi wajah Istrinya, Mirza melepas bajunya lalu berbaring diatas ranjang. Melambaikan tangan ke arah Haira yang mematung di belakang pintu.


"Jalan sendiri atau aku jemput?" Tidak ada cara yang lebih ampuh selain mengancam Haira.


Meskipun hanya bercanda, tetap saja membuat Haira bergidik dan segera menghampiri Mirza.


Haira ikut merangkak dan berbaring di samping Mirza. Menggunakan tangan pria itu sebagai bantal. Wajahnya terbenam di bawah ketiak sang suami.


Disaat keduanya saling diam, tiba-tiba Haira teringat sosok Arini yang tak muncul di depannya.


"Sayang, Arini ke mana?" tanya Haira pada Mirza.


Mirza mengerutkan alisnya. Benar juga, ia pun tak sadar jika Arini tidak hadir di pesta semalam, dan juga tidak ada di rumah. Ia mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi sepupunya itu.


Tersambung, namun tak diangkat yang membuat Mirza kesal. Kemudian, ia menghubungi Erkan dan memintanya untuk mencari Arini.


Cup


Sebuah kecupan mendarat di pipi Haira dengan lembut. Mirza memiringkan tubuhnya hingga ia bisa menatap setiap jengkal wajah sang istri.


"Mumpung Kemal bermain dengan kak Fuad, mendingan kita lanjutkan yang semalam."


Haira bisa melihat wajah Mirza yang dipenuhi dengan hasrat. Ia tak bisa menolak ataupun mengiyakan permintaan itu.


"Tapi gimana kalau nanti Kemal mencariku?"


Haira menghentikan tangan Mirza yang hampir melepas kancing bajunya.


"Gak mungkin, di depan banyak orang, pasti Kemal akan nyaman bersama yang lain."


Haira mengangguk kecil tanda setuju.

__ADS_1


Baru saja mereka menyatukan bibirnya, Ketukan pintu menggema membuat Haira melepaskan ciumannya.


__ADS_2