
Tak banyak basa-basi. Mirza menemui Tuan Billy, pria asal Kolombia yang sudah hampir empat tahun menjadi direktur utama di perusahaan miliknya, dan juga orang yang dipercaya untuk menjalankan bisnis Mirza yang lain. Mereka berbicara serius di ruangan yang tertutup rapat. Hanya direksi penting yang ada di sana, dan tak lupa Erkan yang selalu mendampinginya.
"Saya dengar produk milik Tuan Anthoni sangat bagus dan lebih awet. Memiliki keunggulan lebih daripada dari buatan pabrik kita."
Mirza menghela napas panjang. Mengetuk-ngetukkan pulpen di atas meja, telinganya terus mencerna setiap keluhan konsumen yang akhir-akhir ini menjadi kendala, juga pendapat yang mereka luncurkan untuk mengatasinya.
"Tapi kalau menurut saya, hanya sekedar merek yang bagus dan bahan yang awet tidak penting. Kita harus mengikuti trend terkini, seperti membuat model baru dengan kain yang baru juga, dan yang paling penting bisa dipakai segala usia. Saya punya rekomendasi tentang beberapa baju yang cocok untuk ibu dan anak gadis serta juga wanita lanjut usia."
Seorang wanita cantik bernama Carroline mengajukan pendapat. Ia maju ke depan menunjukkan gambaran yang dirancang seminggu lalu. Menjelaskan secara detail bahan yang digunakan dan juga proses pembuatan yang tak menghabiskan banyak biaya, namun bisa dijual dengan harga yang mahal.
"Saya setuju," jawab Erkan tiba-tiba.
Senyap
Semua orang kini menatap Erkan yang terus mengulas senyum. Matanya tak teralihkan dari Carroline yang masih berdiri di depan layar.
Sadar menjadi pusat perhatian, Erkan membuka suara lagi, "Bukankah itu ide yang bagus, Tuan?" Mencairkan keheningan yang sempat tercipta.
Mirza manggut-manggut mengerti, ia tahu setiap keputusan yang diambil Erkan pasti bisa dipikir secara matang.
"Baiklah, kalau begitu sekarang kita harus memperkenalkan mereknya, dan umumkan akan ada produk terbaru."
Akhirnya Mirza setuju dengan pendapat Carroline.
Tepuk tangan mengiringi Carroline yang kembali ke tempat duduknya. Mirza bangga memiliki pekerja profesional dan bisa memecahkan masalah yang membelit. Tak hanya itu saja, Ia pun juga kagum dengan gadis muda itu yang nampak bersemangat menjalankan misinya.
"Siapa nama kamu?" tanya Mirza yang lupa dengan nama gadis itu.
"Carroline, Tuan," jawabnya ramah.
"Saya rasa rapat hari ini cukup sekian, jika Kalian ada yang tidak setuju lebih baik bicara sekarang, karena setelah ini saya tidak menerima komplain apapun."
Mirza beranjak dari duduknya. Menghampiri Erkan yang sibuk merapikan dokumen di depannya. Belum mengucapkan sepatah kata, Tuan Billy mendekatinya.
"Maaf, Tuan. Istri saya mengundang Anda untuk makan siang di rumah. Jika berkenan silahkan mampir ke gubuk saya. Tapi jika tidak, juga tidak apa-apa." Tuan Billy menyampaikan apa yang diucapkan istrinya sebelum dirinya berangkat.
__ADS_1
Jika orang miskin mah langsung menjawab iya, saya mau. Namun, berbeda dengan Mirza yang enggan untuk datang, tapi karena jasa pria itu sangat besar, ia harus menghormatinya.
"Baiklah, siapkan makanan yang banyak, karena saya sangat lapar," ucap Mirza bercanda yang membuat semua orang tertawa.
Mirza meninggalkan ruangan itu untuk kembali ke hotel. Sebab, masih ada beberapa jam lagi untuk istirahat sebelum datang ke rumah Tuan Billy, diikuti Erkan dari belakang. Baru saja membuka pintu depan, suara seorang wanita memanggil hingga Mirza dan Erkan menoleh.
Ternyata Carroline yang menghampiri mereka.
"Ada perlu apa?" Erkan yang bertanya.
"Ini, pulpen Anda ketinggalan, Tuan." Menyerahkan pada Erkan diiringi dengan senyum manis.
"Terima kasih," jawab Erkan menerima pulpen itu dan memasukkan ke saku jas nya.
Sepertinya ada yang lagi jatuh cintrong, terka Mirza dalam hati. Ia ikut bahagia dengan mereka yang nampak serasi.
Mirza melanjutkan langkahnya. Karena tujuannya sama, akhirnya Carroline mengikuti Mirza dan Erkan dari belakang.
"Oh iya Carrolline, apa kamu sudah punya pacar atau suami?" tanya Mirza to the point. Ia tak mau salah langkah yang berakibat fatal.
"Umur kamu berapa?" tanya Mirza lagi.
Apa Tuan Mirza menyukai Caroline? Ini gak bisa dibiarkan, apa jadinya kalau itu terjadi, pasti akan ada perang dunia kedua.
"Dua puluh tujuh."
"Wah, seumuran istriku, sepertinya umur segitu sudah pantas untuk menikah. Kenapa kamu belum memiliki pacar?"
Erkan membisu. Ia hanya bisa menjadi pendengar setia setiap kata yang meluncur dari sudut bibir Mirza.
Terdengar helaan nafas panjang saat mereka berhenti di depan pintu lift.
"Belum ada laki-laki yang cocok, Tuan," jawab Carroline lirih.
"Memangnya laki-laki seperti apa yang kamu cari?" Masuk ke dalam lift setelah pintu terbuka.
__ADS_1
Kenapa Tuan Mirza bertanya seperti itu sih? Aku kan malu, Caroline.
Ia berdiri di belakang Erkan dan Mirza. Bingung ingin menjawab apa, yang pastinya kriteria Carroline seperti pria yang saat ini ada di depannya.
Erkan melirik wajah Carroline yang nampak memerah, mungkin karena sudah mendapatkan banyak pertanyaan dari Mirza yang menyangkut kepribadiannya.
"Maaf, Tuan. Tidak semua orang bisa mengatakan tentang itu, karena menurut saya itu adalah sesuatu yang rahasia." Jawaban Erkan mewakili bibir Carroline yang terkunci.
Selamat
Carroline mengelus dadanya setelah mendengar pembelaan Erkan. Ia tak menyangka pria yang nampak angkuh itu bisa membaca isi hatinya.
"Biasanya laki-laki dan perempuan yang banyak kesamaan itu jodoh, dan mungkin itu terjadi pada Kalian." Mirza menunjuk Erkan dan Carroline bergantian lalu keluar meninggalkan mereka yang masih bengong.
Jangan ditanya, jantung Carroline maupun Erkan berdegup dengan kencang.
Apakah akan ada cinta pada pandangan pertama?
"Permisi, Nona." Erkan berlari kecil menghampiri Mirza yang sedang berbicara dengan salah satu penjaga di pintu gerbang, sedangkan Carroline hanya bisa menatap punggung Erkan yang mulai menjauh.
"Semoga kita jodoh, gak papa angkuh, yang penting tampan dan sukses." Tak dusta, ia pun dari tadi sudah merasa ada sesuatu yang berbeda dengan Erkan, bukan sekedar wajahnya yang tampan, namun dari setiap tingkah Erkan yang membuatnya menyukai pria itu.
Dari dalam mobil yang hampir melaju, Erkan membuka kaca lalu menatap Carroline yang masih berdiri di teras gedung.
"Saya pergi dulu, Nona. Besok kita lanjutkan untuk membahas tentang yang tadi."
Carroline membungkuk ramah sembari tersenyum.
"Jika Tuan Erkan belum punya pasangan, lantas siapa perempuan yang beruntung menjadi istri Tuan Mirza? Pasti dia sangat cantik dan anggun. Hidup serba mewah dan juga bisa memiliki apapun yang diinginkan."
Mobil melesat dengan cepat menerobos jalanan yang lumayan ramai. Mirza terus menatap ke arah luar. Selain memanjakan mata dengan pemandangan, ia pun menghindari tidur di siang hari, takut malamnya begadang seperti yang sering terjadi.
Disaat dirinya fokus dengan keramaian di depan sebuah mall, tiba-tiba matanya menangkap seseorang yang tak asing.
"Lunara."
__ADS_1