
Sungguh, Haira tak pernah menyangka kejadiannya akan seperti ini. Ia sudah melanggar janji kepada kedua orang tuanya. Dulu, sebelum mereka menghembuskan nafas terakhir. Haira berjanji tidak akan membongkar jati diri Nada yang sebenarnya. Namun kini, semua sudah terkuak. Nada sudah mengetahui semuanya yang selama ini ia pendam rapat.
Kebersamaannya selama dua puluh tahun membuat Haira sangat menyayangi Nada. Sedikitpun tidak pernah menganggap gadis itu orang lain.
Hampir lima jam Haira berbaring di samping Mirza, matanya tak bisa terpejam. Tubuhnya masih berada di tempat itu. Sementara hati dan otaknya berkelana memikirkan Nada saat ini.
Aku harus temui dia.
Bergerak pelan lalu turun dari ranjang. Berjalan mengendap-endap tanpa menoleh ke belakang.
"Kamu mau ke mana?" Suara berat menyapa dari arah ranjang.
Haira terkejut, menarik tangannya yang hampir menyentuh knop pintu. Menatap nanar Mirza yang menyibak selimut. Ia pikir suaminya itu sudah terbang di alam mimpi, tapi ternyata masih berjaga seperti dirinya.
Haira menundukkan kepalanya tanpa menjawab pertanyaan Mirza. Sejak perdebatannya dengan Nada, hatinya terus gelisah dan tak bisa memejamkan mata.
Mirza menghampiri Haira. Memegang kedua pundaknya. Netra keduanya saling bertemu. "Ini sudah terlalu malam. Kalau mau bicara dengan Nada, besok saja." Meyakinkan Haira sambil menunjuk jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul satu pagi daerah setempat.
"Tapi aku takut Nada akan pergi dari rumah ini." Haira takut. Ia menyesal sudah menguak semuanya. Bukan keinginannya membongkar siapa sebenarnya Nada. Namun, ia tidak mau disudutkan terus-menerus.
Mirza mendekap tubuh Haira. Ia tahu bagaimana perasaan wanitanya saat ini. Pasti terus merasa bersalah. Padahal, langkahnya sudah benar dan tidak perlu disesali lagi.
"Tidak akan, dia tidak akan pergi dari sini," ucap Mirza memastikan.
"Lebih baik kita tidur. Katanya Besok mau jalan-jalan dengan nenek."
Mirza mengingatkan ucapan Haira tadi siang, yang akan mengajak nenek berkeliling kota bersamanya.
"Tapi aku mau keluar, sebentar saja," ucap Haira memohon. Seperti biasa, ia akan tetap memastikan kalau Nada baik-baik saja.
"Baiklah, aku akan menemanimu."
Mirza membukakan pintu lalu mereka keluar.
Tidak ada siapapun di ruang tengah. Lampu sudah menyala redup.
Haira dan Mirza berjalan ke arah dapur. Hingga langkah mereka berhenti saat mendengar isakan dari arah belakang.
"Seperti ada yang menangis?" ucap Haira berbisik, jantungnya berdegup kencang saat suara itu terdengar jelas.
__ADS_1
Mirza mengangguk, karena ia pun bisa mendengarnya.
Haira melepas sandalnya. Berjalan pelan tapi pasti mencari sumber suara yang sepertinya dari arah luar.
Mirza hanya mengikutinya tanpa kata sambil menggenggam erat jemari Haira.
Haira menghentikan langkahnya lagi. Matanya menatap sosok wanita yang sedang duduk di pinggir taman. Meskipun hanya terlihat punggungnya saja, Haira sudah yakin bahwa itu adalah Nada.
Mirza sengaja membuat taman di samping dan belakang untuk memperindah rumah itu. Ia juga membuat sebidang kebun sayur supaya nenek bisa bertanam seperti keinginannya.
Haira meminta Mirza untuk menunggu diruang makan. Setelah itu ia menghampiri Nada dan duduk di samping nya.
Nada yang sadar akan kehadiran sang kakak, itu pun mengusap air matanya.
"Apa kamu marah padaku?" tanya Haira membelah kesunyian.
"Marah atau tidak, bukan urusan kamu. Jadi pergilah, aku ingin sendiri," jawab Nada dengan suara lantang.
Haira merangsek, mengikis jarak antara keduanya. Tidak peduli dengan Nada yang nampak marah. Baginya, malam ini ia harus segera meminta maaf. Mencari celah supaya bisa mencairkan hati Nada.
Mirza yang bersandar di dinding hanya bisa memendam amarahnya. Mendengar Haira dibentak seperti itu, dadanya terasa panas dan ingin menampar pipi Nada. Tapi itu hanya akan menimbulkan masalah baru. Sebab, Haira pasti tidak akan mengizinkannya.
"Kakak punya sesuatu untuk kamu, sebentar aku ambilkan."
Nada melirik sekilas lalu memalingkan pandangannya ke arah kegelapan.
"Kakak beli ini pakai uang sendiri, bukan dari kak Mirza, kau harus terima." Haira membuka kotak itu dan meletakkan di pangkuan sang adik.
Sebuah jam tangan mewah yang dulu sempat diidam-idamkan, dan Haira berjanji akan membelikan untuk Nada setelah gajian. Namun, setelah kecelakaan yang menjeratnya, ia tak bisa lagi menabung dan melupakan permintaan itu.
Nada menatapnya tanpa ingin menyentuh. Lalu menoleh ke arah Haira yang terus tersenyum padanya.
"Apa kakak masih menyayangiku?" tanya Nada dengan bibir bergetar.
"Kenapa kamu berkata seperti itu?
Haira memeluk Nada. Ia tak tahan melihat mata adiknya yang nampak sembab dan memerah.
"Aku sangat menyayangimu, kamu adikku satu-satunya. Dan sampai kapanpun aku akan tetap menyayangimu."
__ADS_1
Nada mengendurkan pelukannya lalu mengembalikan kotak itu di tangan Haira.
"Apa kakak akan memberikan apa yang aku mau?" tanya Nada penuh harap. Dan itu membuat Haira semakin tak mengerti.
Seperti dulu saat Nada meminta sesuatu, kali ini Haira pun mengangguk cepat.
"Pasti, katakan saja," ucap Haira dengan senang hati.
"Ceraikan kak Mirza!"
Dada Haira berdenyut nyeri. Kemudian, ia menggeleng cepat. Menatap Nada sinis. Jika selama ini ia selalu menyetujui permintaan Nada, untuk kali ini Haira tidak akan memenuhi itu.
"Nggak!" sahut Mirza yang dari tadi mendengar percakapan mereka. Ia bergegas menghampiri Haira dan memeluknya. Meskipun tahu bahwa Haira akan mempertahankannya, tetap saja harus beraksi. Takut Haira mundur karena kejadian di kantor waktu itu.
"Sampai kapanpun aku dan Haira tidak akan bercerai," imbuhnya menegaskan.
"Jangan pernah berani berkata seperti itu lagi, atau kau aka __"
Haira membungkam bibir Mirza dengan telapak tangan. Menghentikan ucapannya yang pasti akan berisi sebuah ancaman yang mengerikan.
"Apa maksud kamu?" tanya Haira selanjutnya.
Nada tersenyum lalu bertepuk tangan.
"Aku hanya ingin membuktikan sejauh mana kak Mirza mencintai kakak. Dan sekarang aku yakin, kalau kakak pasti bahagia menikah dengan kak Mirza."
Mirza dan Haira saling hadap lalu mereka menatap Nada dengan tatapan masing-masing.
"Aku hanya bercanda. Tidak mungkin aku merebut kakak iparku sendiri." Merentangkan kedua tangannya.
Mirza masih menahan tubuh Haira di pelukannya. Menatap Nada dengan tatapan selidik, mulai dari kaki hingga kepala wanita itu. Tidak percaya begitu saja dengan ucapannya.
"Kakak gak mau memelukku?" tanya nya lirih.
Apa Nada serius bercanda, atau ini hanya akal-akalan nya saja supaya bisa mengelabui Haira. Aku harus waspada padanya.
Terpaksa Mirza melepaskan pelukannya saat Haira memberontak. Ia membiarkan mereka berpelukan meskipun sedikit tak rela.
"Aku sempat mendengar isu buruk di pabrik tentang kekejaman kak Mirza yang menyiksa istrinya. Dan sekarang aku sudah mendapatkan bukti kalau yang dibicarakan mereka itu tidak benar."
__ADS_1
Mirza mengerutkan alisnya. Sekarang ia tahu kenapa matanya selalu berkedut sebelah. Ternyata ia menjadi bahan ghibah pegawainya sendiri.
Dasar karyawan laknat, umpatnya dalam hati.