Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Kejutan


__ADS_3

Haira masih terpaku di tempat dengan mata berkaca. Disambut oleh orang-orang terhormat bagaikan mimpi baginya, bahkan Nita sendiri yang menghampirinya saat turun dari mobil.


Berada di tengah keluarga Glora membuatnya canggung hingga Haira tak bisa berkutik. Keringat dingin mulai bercucuran menyaksikan kegugupannya. Ia takut akan membuat malu Mirza karena sudah memiliki istri dari kalangan biasa. 


"Sebenarnya ini ada acara apa, Kak?" Haira menatap kakak iparnya bergantian. Bukan wajah mereka yang menjadi pusat perhatian, namun baju yang dipakainya seperti seseorang yang mengadakan pesta. 


Nita meraih tangan Haira. "Hari ini kami akan menyambutmu sebagai menantu Glora. Seandainya mommy dan daddy masih hidup, pasti mereka bahagia."


Haira menatap Mirza yang berdiri di  samping nya. Pria itu pun membisu melihat orang-orang yang berlalu lalang mendekatinya. 


Kemal turun dari gendongan Mirza dan berlari menghampiri Hasan dan Fajar yang tampak rapi. 


"Kenapa baju ku tak sebagus punya kalian?" Wajahnya merengut. Menjewer piyama tidur yang membalut tubuhnya, karena panik Haira tak sempat mengganti baju Kemal. 


"Sini, biar kakak yang ganti." Tsamara melambaikan tangan ke arah kemal. 


Kemal mengikuti kakak-kakaknya, diikuti beberapa pelayan dari belakang. 


"Sekarang Kalian masuk dulu," imbuh Deniz. Sebagai kepala keluarga, pria itu pun antusias seperti yang lainnya. 


Mengadakan pesta bagi adik bungsunya memang keinginan mereka sejak dulu, namun pernikahan Mirza yang tersembunyi membuat mereka harus terlambat.


Haira menarik tangan Mirza yang hampir melangkah. 


"Ada apa?" tanya Mirza berbisik, bahkan nyaris tak terdengar. 


"Kenapa harus disambut seperti ini, kita kan menikah sudah lama, lagipula aku malu." 


"Kamu malu menjadi istriku?" pekiknya.


Untuk yang kesekian kali Mirza salah mengartikan ucapan Haira. 


Salah lagi, kan?


Haira menggeleng cepat, bukan saatnya untuk ribut, ia memilih diam mengikuti Mirza dan seluruh kerabatnya.


"Sayang, kamu ke kamar dulu. Nanti aku nyusul." Mirza melepaskan tangan Haira saat ia melihat beberapa tamu penting memanggilnya. 

__ADS_1


Haira meninggalkan Mirza yang mulai berhamburan dengan yang lain. 


"Selamat datang di keluarga Glora, Nona Haira," sapa wanita yang ada di ujung ruangan. Meskipun sudah tua, wanita yang ada di depannya itu tampak cantik dan anggun. Perhiasan yang menghiasi leher dan tangannya pun menyempurnakan kecantikannya yang luar biasa. 


Haira menangkupkan tangannya dan tersenyum. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana pada mereka. Dan mungkin senyum manis akan menjadi jawaban yang terbaik. 


Pelayan membuka pintu kamar hotel. Mempersilahkan Haira masuk. Beberapa orang pun sudah menunggu di dalam. Entah siapa saja dan apa tugasnya, Haira tak ingin banyak tanya.


"Ini kamar untuk kamu dan Mirza."


Haira menoleh ke arah sumber suara. Ternyata Aynur yang datang sambil membawa baju pengantin. 


Haira berhamburan memeluk Aynur yang juga sudah berpenampilan cantik.


"Selamat ya, Ra. Akhirnya kamu lah yang menjadi pelabuhan cinta Mirza. Kamu juga sudah melahirkan keturunan Glora. Semoga Kalian bahagia seperti aku dan Nita."


Air mata Haira tumpah. Ia terharu dengan kebaikan keluarga Mirza. Jika mengingat di awal pertemuan, Haira tak pernah menyangka akan bahagia seperti ini. Namun Tuhan maha membolak-balikkan hati dan kini membuat Mirza menjadi baik padanya. 


"Silahkan, Nona, waktunya keburu habis." Seorang MUA sudah siap merombak wajah Haira. 


Setelah tadi dipenuhi dengan ketakutan, kini Haira sudah semakin lega. Ternyata di balik kejadian tadi pagi adalah kejutan dari kakaknya Mirza, dan itu sangat spesial baginya. 


Mirza yang masih menggunakan baju santai itu menemui beberapa atau penting. Wajahnya terus berseri saat bercakap dengan mereka. Membahas pekerjaan yang tak ada tuntasnya.


"Selamat atas pernikahan, Tuan. Akhirnya Anda mendapatkan pengganti Nona Lunara."


Tuan Bahadir mengulurkan tangan di depan Mirza. 


"Terima kasih, Tuan," jawab Mirza menerima uluran tangan itu. Dan begitu seterusnya yang ia lakukan pada tamu yang lain.


"Za, kamu ganti baju dulu, Haira sudah nungguin di atas," ucap Nita.


Mirza meninggalkan beberapa klien penting. Ia pun langsung berjalan menuju kamar yang ditunjukkan pelayan. 


"Ini terlalu mewah, kayaknya aku gak pantas memakai nya." Suara dari dalam kamar menghentikan Mirza yang hampir masuk. Pria itu menyembulkan kepala, menatap Haira yang hanya melihat gaunnya. 


"Tapi ini perintah, Nona. Anda harus memakai nya," ucap pelayan itu sedikit memaksa, ia tak mau disalahkan jika  penampilan Haira kurang maksimal. 

__ADS_1


"Ada apa ini?" tanya Mirza yang akhirnya masuk menghampiri Haira. Baru memakai make up saja Mirza sudah terpesona, dan ia membayangkan jika baju itu membalut tubuh sang istri, pasti akan lebih cantik.


"Nona Haira tidak mau memakai gaunnya, Tuan," lapor pelayan membungkuk ramah. 


Mirza mengambil alih baju yang ada di tangan pelayan lalu menyuruh wanita itu keluar. 


Kini di ruangan yang mendominasi warna putih itu hanya ada sepasang suami istri yang sedang dimabuk cinta.


"Kamu pakai sendiri, atau aku yang pakaikan?" tawar Mirza. Matanya tak teralihkan dari wajah Haira yang nampak cantik bak bidadari. 


"Tapi itu terlalu bagus, Sayang. Rasanya aku gak pantas." Menolak dengan cara halus, karena ia tahu kalau Mirza tak mungkin begitu saja mendengarkan ucapannya. 


"Pakai, jangan banyak membantah!" Mirza kembali menegaskan. 


Terpaksa Haira mengambil baju itu dan membawanya masuk ke kamar mandi. Protes pun percuma, karena dirinya tidak akan pernah menang.


Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan memakai gaun pengantin tadi. 


Mirza yang duduk di tepi ranjang hampir tak bisa berkedip saat melihat Haira. Selama ini yang ia tahu, istrinya itu hanyalah gadis sederhana yang polos, namun kini wanita itu bagaikan putri raja. 


"Kamu lihatin apa?" Suara Haira membuyarkan lamunan Mirza. 


"Kamu cantik." Berbisik di telinga Haira yang membuat sang empu tersipu. 


Mirza membantu merapikan baju Haira lalu memegang kedua pundak wanita itu dari belakang. Menggiring tepat di depan cermin. Saling nenatap bayangan masing-masing.


"Seandainya dari dulu aku sadar, pasti acara pesta pernikahan kita tidak akan sampai tertunda lama. Maafkan aku."


Haira tersenyum, membalikkan tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya di leher Mirza. 


"Anggap saja kita memang baru kenal. Bukankah kamu ingin melupakan semuanya?" Mengecup bibir Mirza kilat. 


"Cepetan ganti baju, Za. Acaranya sudah mau dimulai," teriak seseorang yang ada di ambang pintu. 


Mirza melepaskan pinggang ramping Haira dan mengambil baju yang sudah disiapkan. Tak ingin mengulur waktu takut kena jewer sang kakak.


Saling menggenggam tangan dengan erat dan berjalan bersejajar, Haira dan Mirza menyusuri tangga yang menjuntai. Tepuk tangan riuh mengiringi langkah mereka yang hampir tiba di tempat acara.

__ADS_1


Haira maupun Mirza terus mengulas senyum bahagia. Namun, ada yang membuat Haira lebih bahagia saat melihat sang nenek dan juga Nada yang ada di samping Nita.


Meskipun wajah Nada masih cemberut, setidaknya di hari yang istimewa ini bisa menikmati dengan keluarga tercinta.


__ADS_2