Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Memanfaatkan perjanjian


__ADS_3

Mirza masuk ke kamarnya. Tak seperti biasa yang langsung menggoda atau menghampiri Haira, kali ini pria itu nampak lesu dan duduk di tepi ranjang. Ucapan Zelyn terngiang-ngiang membuat hatinya kacau.


Haira yang baru saja menyiapkan makanan dari pelayan itu menghampiri Mirza dan duduk di sampingnya. Wanita itu nampak cantik dengan dres berwarna hitam  kontras dengan kulitnya yang tampak putih bening. 


"Kamu mau makan sekarang apa nanti?" tanya nya. 


"Nanti," jawab Mirza singkat. Menggenggam ponselnya dengan kepala menunduk. 


"Tapi aku sudah lapar." Haira mengusap-usap perutnya yang kian memberontak. 


"Kamu makan saja dulu," jawab Mirza. Lagi-lagi pria itu berekspresi tak biasa. 


Meskipun statusnya sudah menjadi istri seorang Mirza, faktanya Haira belum berani untuk terlalu ikut campur urusan pria itu. Ia memilih mengambil makanan dan membawanya di samping Mirza. 


"Aku akan suapi kamu." Haira menyodorkan sendok yang berisi makanan serta lauk itu di depan mulut Mirza. 


"Tapi aku gak lapar," jawab Mirza mencoba menyingkirkan sendok itu. 


"Kalau kamu gak makan aku juga gak mau makan. Bukankah kamu sudah berjanji kalau kita akan selalu bersama dalam suka maupun duka. Apa kamu lupa?" 


Haira bisa memanfaatkan isi perjanjian itu untuk terus mengingatkan Mirza. Ia ingin rumah tangganya kali ini berjalan sesuai yang mereka rencanakan. 


Mirza meletakkan ponsel dan piring yang ada di tangan Haira lalu memeluk gadis itu dengan erat. 


"Maafkan aku." Entah yang keberapa  kali, Mirza seakan tak bosan untuk terus mengucapkannya. 


Haira membalas pelukan Mirza mengelus punggung pria itu. Menyalurkan kekuatan pada sang suami yang sepertinya sedang rapuh. 


"Kamu kenapa?" tanya Haira tanpa melepas pelukannya. Memancing Mirza untuk bicara tentang masalah yang menyelimuti saat ini. 


"Ternyata Lunara menghianatiku, dia hamil dengan laki-laki lain."


Haira bisa merasakan apa yang dirasakan Mirza saat ini, pasti sakit yang tak bisa di ungkapan dengan kata-kata. Meskipun kejadian itu hanya masa lalu, tetap saja menciptakan kesedihan yang mendalam. 


Dari lubuk hati terdalam, Haira ingin Mirza melihatnya seorang. Namun apa daya, dirinya pun tak bisa melakukan itu, dan ingin tahu seluk beluk seorang Lunara yang pernah bersemayam di hati Mirza hingga tega menyakitinya. 


"Apa kamu tahu laki-laki yang menghamili nona Lunara?" tanya Haira.


Mirza menggeleng, meskipun otaknya sudah menerka seseorang yang mencurigakan, tetap saja ia masih bungkam sebelum mendapatkan bukti. 

__ADS_1


Haira melepaskan pelukannya. Meraih tangan Mirza dan menempelkan di dadanya. 


"Apa kamu belum bisa melupakan Nona Lunara?" tanya Haira menekankan. 


Mirza menatap kedua bola mata Haira. Ia bisa menangkap kecemburuan di sana. 


"Kamu cemburu?" tanya Mirza memastikan. 


Haira tersenyum. "Apa aku pantas cemburu dengan orang yang sudah meninggal. Tapi aku ingin kamu menepati semua janji yang kamu buat sendiri." 


Haira berdiri dari duduknya, namun dengan sigap Mirza menarik pergelangan tangan wanita itu hingga jatuh ke pangkuannya. 


"Sayang, dengarkan aku!" pinta Mirza menangkup kedua pipi Hiara. 


"Aku mengusut semuanya bukan karena aku masih cinta dengan Lunara. Dia hanya masa lalu yang tak mungkin bisa kembali. Tapi aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik semua ini. Aku hanya tidak mau ada kesalahpahaman lagi. Jangan pernah berpikir aku akan menduakan kamu dan mencari perempuan lain."


Mirza mengecup bibir Haira kilat." Karena masa depanku adalah kamu dan Kemal," lanjutnya.


Mirza menempelkan keningnya di kening Haira. Mata nya menyusuri setiap jengkal wajah wanita itu. 


"Hari ini kamu cantik sekali." Mirza mulai menggoda. Tangannya merayap di leher Haira yang masih dipenuhi tanda merah.


Pertama kalinya mereka makan sepiring berdua.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini Mirza memutuskan untuk pulang ke rumah. Haira sendiri yang memintanya untuk tidak pindah dan menempati rumah lama. Meskipun banyak kenangan buruk, Haira memetik sebuah pelajaran. di mana cinta mereka berawal dari tempat itu. 


Masih di dalam mobil, Mirza menatap bangunan kokoh yang ada di depannya. Sudah lama ia tak menginjakkan kakinya di sana, bahkan sebelum ke Indonesia ia pun jarang tinggal di rumah dan memilih menempati apartemen milik Fuad. 


"Aku ingat waktu kamu pamit membeli jamu," ucap Mirza tiba-tiba saat melihat bi Enis keluar dari pintu depan. 


"Aku juga ingat, dan aku belum membayar hutang pada bi Enis."


Mirza mengambil ponselnya lalu menekan kalkulator. 


"Satu tahun berapa hari?" tanya nya pada Haira. 


"Tiga ratus enam puluh lima hari," jawab Haira polos.

__ADS_1


"Jika dikalikan tujuh jadi berapa?" imbuh lagi. 


Haira berpikir sejenak. 


"Dua ribu lima ratus lima puluh lima," Haira menjawab dengan santai. Ia tak mengerti maksud suaminya. 


"Setiap hari uang yang kamu pinjam akan berbunga seratus lira, jadi sekarang hitung saja, berapa lira kamu harus membayarnya."


Aaaa


Haira menutup telinganya dengan kedua telapak tangan seraya menatap Mirza kesal. 


"Itu gak baik, Sayang. Bi Enis bukan orang yang seperti itu," pekik Haira. 


Mirza melepas seat belt nya. Malirik sang istri yang nampak jengkel. 


"Siapa bilang harus membayar uangnya pada bi Enis. Waktu itu aku langsung menggantinya, jadi kamu harus membayar kepadaku."


Haira tercengang, seakan tak percaya dengan ungkapan suaminya. Jika Mirza mengganti uang yang dipinjam saat itu juga, artinya Mirza memang sudah peduli padanya sejak lama. 


"Benarkah?" Haira memastikan lagi. 


"Benar, Sayang. Saat itu juga aku menggantinya dengan jumlah yang sangat besar. Dan malamnya aku langsung datang ke rumah nenek, tapi kata nenek kamu tidak pulang. Aku mengerahkan anak buah untuk mencarimu. Ternyata mereka gagal dan tidak menemukanmu."


"Aku tahu," jawab Haira lirih. Sebab, beberapa kali ia bertemu orang suruhan Mirza. Hanya saja penyamarannya yang mumpuni mampu mengalihkan pandangan mereka.


Dari jauh, Bi Enis menatap mobil Mirza yang terparkir di halaman. Ia menghampiri penjaga yang bertugas.


"Itu seperti mobil Tuan Mirza?" tanya bi Enis menunjuk mobil mewah yang terparkir jauh darinya.


"Iya, itu memang mobil milik Tuan Mirza."


Ingin mendekat, takut. Namun, bi Enis penasaran dengan penghuni yang tak turun.


Momen yang ditunggu akhirnya tiba. Pintu mobil di buka oleh sang sopir. Nampak wanita cantik dengan rambut terurai panjang itu turun lalu disusul Mirza dari belakang.


Bi Enis mengulas senyum melihat mereka yang nampak bahagia.


"Selamat datang, Nona." Bi Enis dan beberapa pelayan menyapa dengan ramah. Mereka berjejer di sisi kiri dan kanan memberi jalan pada Haira dan Mirza.

__ADS_1


"Mommy, Daddy..." teriak bocah mungil yang ada di depan pintu membuat Haira tersenyum lebar.


__ADS_2