Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Menemukan Liontin


__ADS_3

Nada menanda tangani berkas-berkas penting sebagaimana yang diajarkan Erkan. Dalam hal seperti ini ia memang belum mengerti apapun. Namun, sang sekretaris cukup lihai dan bisa membantunya mengurus semua itu, termasuk mengelola, nantinya. 


Mata Meyzin tak teralihkan dari wajah cantik Nada. Wajah yang tak asing baginya. Meskipun sudah dua puluh lima tahun berpisah, Ia tak mungkin melupakan orang yang disiksa secara lahir batin. Dibutuhkan hanya untuk pelampiasan hasratnya. Kemudian dibuang setelah puas dan bosan.


"Tuan tidak apa-apa?" tanya Nada membuyarkan lamunan Meyzin. 


Pria itu menggeleng cepat, mengalihkan pandangannya ke arah luar untuk menutupi kegugupannya. Nada dan Erkan tidak boleh tahu bahwa saat ini ia dirundung rasa gelisah yang mendalam.


"Atau mungkin Anda mengingat seseorang di masa lalu?" pancing Nada sembari menutup map yang sudah selesai ditandatangani. 


Meyzin manyunggar rambutnya ke belakang lalu menyeruput jus yang sudah mulai mengembun. Ia tak bisa menyangkal dengan itu. Dadanya saat ini berdegup tak karuan. Seolah-olah Nada bisa membaca isi hatinya. 


"Aku tidak apa-apa. Apa sudah selesai?" 


Meyzin bertanya pada Erkan yang masih sibuk dengan ponselnya. 


"Kenapa harus buru-buru, Tuan. Kita santai saja dulu," ucap Erkan melirik ke arah Nada  yang memasang wajah datar. Entah apa yang dipendam wanita itu, Erkan pun hanya bisa menerka. 


Terpaksa Meyzin mengikuti ucapan Erkan yang bernada perintah. 


"Oh iya, sekalian aku mau mengundang Anda ke acara pernikahan kami." 


Kedua bola mata Nada membulat sempurna. Ia memang menerima lamaran Erkan, namun belum siap untuk menikah seperti ucapan tadi. 


Eh, kenapa kak Erkan bicara seperti itu. Bukankah ini terlalu cepat? 


Nada hanya mengucap dalam hati. Ia terus menatap mata Erkan yang berkedip, seakan memberi sebuah kode padanya. 


"Kalian akan menikah?" tanya Meyzin memastikan. 


"Iya," jawab Nada yang akhirnya mengikuti alur dari Erkan.


Meyzin berjabat tangan dengan Erkan lalu mengucapkan selamat. 


Setelah itu, beralih mengulurkan tangannya tepat di depan Nada yang langsung diterima gadis itu. 


Seperti ada sebuah sengatan yang membuat jantung Meyzin bergetar. Sekujur tubuhnya terpaku dengan tangan yang menggenggam erat. 


Kenapa dia terus mengingat kan aku pada Veronika. Siapa dia sebenarnya? 

__ADS_1


Ternyata seperti ini rasanya bersentuhan dengan ayah kandung. Meskipun dia tidak mengakuiku, setidaknya aku bisa melihat dia masih hidup. Ibu, aku akan membuat ayah merasakan apa yang kau rasakan. Dia akan membayar semua yang pernah dilakukannya padamu. 


Nada menarik tangannya lagi lalu menundukkan kepala. Seakan terhanyut dan ingin dipeluk, namun itu tidak mungkin mengingat cerita dari Erkan bahwa Meyzin tidak akan mengakui nya yang terlahir dari rahim Veronika. 


"Sepertinya sudah hampir malam, aku mau pulang." Nada beranjak dari duduknya. Meraih tas yang ada di meja. Menarik tangan Erkan lalu berpamitan pada Meyzin. 


"Mulai besok perusahaan itu sudah menjadi milik Nada, jadi aku harap Tuan bisa membersihkan semua barang-barang yang gak penting."


Erkan mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di atas meja untuk membayar makanan dan minuman yang tak disentuh sedikitpun. 


"Baik, Tuan," jawab Meyzin ramah, menatap punggung Erkan dan Nada berlalu. 


Sebenarnya siapa adik ipar Mirza? Kenapa dia mirip sekali dengan Veronika? 


Untuk yang ke sekian kali pertanyaan itu muncul begitu saja dan mengusik jiwa Meyzin.


Kini wajah sang sekretaris cantik yang terus berpakaian tertutup itu terlintas di benaknya. Bahkan Meyzin tak pernah lupa ciri khas Veronika yang selalu berparas cantik dan rapi saat bekerja. 


"Di mana dia sekarang?" Tanpa disadari, buliran bening lolos dari sudut mata Meyzin. 


Tak mau larut dalam suasana yang mencabik-cabik hatinya, Meyzin beranjak. Hampir saja melangkah, kakinya menyandung sesuatu hingga tergeser di bawah kaki meja. 


"Kalung siapa itu?" tanya pada diri sendiri. 


Akhirnya Meyzin membuka Liontin itu dengan hati-hati. 


Seketika itu tangannya gemetar melihat foto seseorang yang dari tadi menghantuinya. 


Veronika?


Meyzin hanya mampu mengucap dalam hati. Setelah itu ia menatap fotonya sendiri yang ada di sana. 


"Ini benar Veronika, jangan-jangan Nada adalah __"


Meyzin memotong ucapannya, ia menggenggam erat kalung itu kemudian berlari ke luar.


Matanya menyusuri tempat parkir yang dipenuhi banyak mobil. Meyzin terus mengabsen setiap orang yang berlalu lalang di sekelilingnya. 


Di mana Tuan Erkan? Apa dia sudah pergi? 

__ADS_1


Mengingat hari sudah gelap, Meyzin memilih pulang. Masih banyak waktu untuk meminta penjelasan pada mereka tentang Liontin yang ia temukan. 


Baru saja turun dari mobil, seorang wanita sudah menyambut kedatangan Meyzin, dia adalah Laurent, istri pria itu. Wanita yang dinikahi setelah mencampakkan Veronika. 


"Bagaimana, apa kau sudah membelikan pesanan ku?" tanya nya memeluk Meyzin dengan erat. 


Meyzin menggeleng tanpa suara. Saat ini ia tak bisa memikirkan apapun selain sosok gadis yang tadi bersama Erkan. 


"Kau lupa apa sengaja?" bentak Laurent mendorong tubuh kekar Meyzin hingga terhempas di mobil. 


Meyzin tak menjawab sepatah katapun dan lebih menikmati pukulan Laurent yang bertubi-tubi. 


"Kamu tidak berhak memiliki uang ini. Aku akan membelikan pesanan mu dengan uangku sendiri," ucap Meyzin lalu meninggalkan Lauren yang masih dipenuhi kekesalan. 


"Ada apa dengannya? Tidak biasanya dia menolak permintaanku," gerutu Laurent menatap punggung Meyzin menghilang di balik pintu utama. 


Meyzin menemui tuan Bahadir yang ada di kamar. Ia duduk di samping pria tua itu. 


"Apa kau sudah bertemu dengan Tuan Erkan?" tanya tuan Bahadir memastikan. 


"Sudah, Dad. Tapi bukan itu yang ingin aku bicarakan?" 


"Lalu?" tanya Tuan Bahadir menyelidik. 


"Ini tentang Veronika." 


Mendengar nama itu membuat Tuan Bahadir kaget bukan kepalang. Nama yang seharusnya sudah terkubur dalam dan tidak perlu diingat lagi. Justru mencuat kembali.


"Apa maksudmu?" pekik Tuan Bahadir. Wajahnya berubah pias, seakan tak menyukai saat Meyzin membahas tentang wanita itu. 


"Apa Dad yakin Veronika yang meracuni Milka? Kenapa kasus nya harus ditutup? Bukankah kita belum mendapatkan bukti yang konkrit?"


Tuan Bahadir berusaha untuk tenang dan menepuk paha Meyzin. "Percaya sama Daddy, kalau Veronika itu bukan gadis baik-baik. Dia hanya sok polos yang ingin mengelabui kita. Sudah, lebih baik kamu keluar, aku mau tidur." Tuan Bahadir mengusir Meyzin yang terus menyudutkannya. 


Meyzin keluar dari kamar tuan Bahadir. Ia menyembunyikan kalung itu di saku celana lalu masuk ke kamarnya. 


Laurent tidak boleh tahu tentang ini. Aku harus cari tahu siapa Nada sebenarnya dan apa hubungannya dengan Veronika.


Menghentikan langkahnya yang hampir tiba di kamar mandi.

__ADS_1


Bagaimana kalau dia anak Veronika?


Jantung Meyzin kembali berpacu dengan cepat dan melumpuhkan pergerakannya.


__ADS_2