
Ruangan tamu itu terasa mencekam. Nyonya Alvero masih tetap dengan pendiriannya. Tidak menyetujui pernikahan Erkan dan Nada, sedangkan Erkan pun membangkang akan tetap menikah mengingat semua sudah siap.
Mirza tak bisa menyela perdebatan antara anak dan ibu nya. Haira merasa pusing, karena ia tak tahu permasalahan yang membelit mereka.
"Stop….!
Aslan memekik, ia merasa risih dengan mereka.
"Kalau gak ada yang mengalah, kapan selesainya?"
Raya mengintip di balik kamar, baru kali ini melihat pertengkaran mommy nya dan sang kakak yang sangat serius. Pertemuan yang seharusnya hangat berubah penuh drama.
Pintu diketuk membuyarkan semuanya. Aslan yang membuka pintu.
"Tuan Meyzin."
Dada nyonya Alvero meluap. Kedua tangannya mengepal sempurna melihat wajah yang sangat ia benci.
"Mau apa kau ke sini? Pergi!" Nyonya Alvero beranjak dari duduknya menghampiri Meyzin yang berdiri di ambang pintu.
Erkan mengikuti langkah mommy nya dari belakang. Ia tak mau kalau wanita itu berbuat ulah yang lebih kejam pada calon mertuanya.
"Aku ke sini mau minta maaf." Ucapan itu meluncur dengan lugas dan menggetarkan jiwa nyonya Alvero.
Pria yang dulu dikenal sangat angkuh dan dingin serta sombong itu tiba-tiba minta maaf padanya, gadis yang pernah diejek dan dihina di depan umum.
"Apa ini karena kau menginginkan putraku?" Melipat kedua tangannya. Kini ia merasa menang karena pria yang dulu sering membully nya kini memohon dan mengiba padanya.
"Sampai kapanpun aku tidak pernah setuju Erkan menikah dengan putrimu, titik."
Meyzin terdiam. Benar apa yang dikatakan wanita di depannya itu. Kedatangannya memang bertujuan untuk itu, tapi juga meminta maaf atas perbuatannya di masa lampau.
Erkan menangkup kedua pipi mommy nya. Menatap dalam kedua mata wanita tersebut.
"Mommy ingin aku bahagia, 'kan?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu, Son?" Setelah daddy mu meninggal, tujuan mommy hidup hanya ingin melihatmu dan Raya bahagia. Mommy tidak mau kau mendapatkan penghinaan karena keluarga kita bukan keturunan konglomerat."
Erkan memeluk nyonya Alvero lagi. Sebenarnya rasa rindunya belum lepas tuntas, namun harus terhalang masalah yang rumit.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan aku menikahi Nada. Karena hanya itu yang membuatku bahagia, Mom."
Nyonya Alvero melirik Meyzin yang tertunduk lesu. Kebencian kala itu memang masih terasa mengendap di dada. Ia belum bisa melupakan apa yang pernah dilakukan pria itu padanya.
Haira ikut mendekat dan memeluk nyonya Alvero." Mommy jangan khawatir, sekretaris Erkan tidak akan menerima perlakuan buruk seperti yang mommy katakan."
"Iya mommy, benar kata istriku, tuan Meyzin tidak mungkin berani macam-macam selama ada aku," imbuh sang penguasa. Sebab, hanya dia yang bisa memecahkan masalah ini.
"Aku ingin bukti."
"Bukti apa?" Semua orang bertanya serempak. Sedikit lega dengan permintaan nyonya Alvero itu.
"Bukti kalau dia," Menunjuk dada Meyzin. "Benar-benar baik pada putraku dan tidak akan menghinanya seperti yang dia lakukan padaku."
"Aku sudah memberikan seluruh hartaku pada Erkan dan Nada. Kalau aku berbuat kesalahan, dia berhak mengusir ku."
Alamak, beruntung sekali si Erkan, dia sudah menguasai harta Tuan Meyzin. Padahal belum menjadi menantunya.
Aslan geleng-geleng, tak menyangka pria itu kini bergelimang harta hanya dengan menikahi Nada. Lalu apa kabar dengannya yang kini akan menjatuhkan hati pada Raya.
"Bukti apalagi yang kau inginkan?"
Nyonya Alvero tersenyum menyeringai, teringat saat Meyzin menyuruhnya untuk membersihkan kamar mandi.
Seketika itu Meyzin mengangguk mengingat Nada yang terus menangis. Demi apapun tidak ada yang lebih berharga selain kebahagiaan putrinya.
"Aku mau."
Erkan tak habis pikir dengan mommy nya, namun ia juga tak bisa membela Meyzin. Seburuk apa masa lalu mereka sehingga membuat nyonya Alvero marah besar.
"Lebih baik sekarang daddy pulang, biar aku yang bujuk mommy."
"Dasar anak kurang ajar. Aku kutuk kau jadi keong racun. Mommy cuma ingin melihat keseriusannya. Jangan bela dia, atau kamu selamanya tidak akan menikah," ancam Nyonya Alvero tegas.
Gaspooool, sekali-laki lihat Erkan dimarahi mommy nya. Bukan aku yang diomelin Haira.
Mirza bersiul senang, seolah-olah menonton hiburan gratis.
"Tidak apa-apa, daddy akan membersihkan kamar mandi di apartemen ini seperti yang mommy mu minta."
__ADS_1
Erkan melipat bajunya hingga sesiku, setelah itu mengantar Meyzin ke kamar mandi. Mengunci pintunya dari dalam. Menghentikan tangan sang calon mertua yang hampir menyentuh pembersih lantai.
"Jangan, Dad. Semalam sudah aku bersihkan. Mommy memang seperti itu, tapi dia baik, kok."
Meyzin menghela nafas panjang. Lalu memeluk Erkan. Menepuk bahu pria itu.
"Apa kau ingin mendengar alasan mommy mu membenci ku?"
Erkan menganggukkan kepala dengan cepat. Dari tadi itu yang ingin ia tanyakan, tapi selalu terhalang oleh mereka.
"Dulu mommy mu dan daddy satu kampus. Dia mahasiswi paling pintar dan cantik. Hampir setiap hari daddy dihukum karena tidak mengerjakan tugas. Waktu itu Daddy mencuri tugas milik mommy mu. Tapi dia mengenali kalau bukunya ada pada daddy. Dia merebutnya di depan umum. Daddy malu, dan disaat itu Daddy membalas perbuatan mommy mu. Daddy menyuruhnya untuk membersihkan kamar mandi pria. Tak hanya itu, daddy juga menghina dia dan saudaranya."
"Onty Aerin?" sahut Erkan.
"Iya, mereka jadi pembullyan di kampus karena ulah daddy. Dan akhirnya mereka gak betah kuliah di sana."
"Pantas mommy marah banget."
"Sebenarnya bukan itu saja," imbuh Meyzin.
"Lalu?"
''Daddy menghasut semua sahabat daddy untuk menjauhi mommy mu.''
Jika terdengar memang sangat kejam. Erkan bisa merasakan rasa sakit yang dialami mommy ya. Tapi semua sudah terlanjur, Erkan juga melihat penyesalan di kedua bola mata Meyzin yang nampak sendu.
Dengan begitu, ia bisa mengambil pelajaran dari kehidupan mereka berdua, bahwa tidak semua orang kaya bisa berkuasa selamanya, dia juga akan jatuh layaknya daun yang mulai menguning.
"Kalian ngapain di dalam?" Teriakan dan ketukan pintu yang memburu menghentikan percakapan Meyzin dan Erkan.
Meyzin bergegas mengambil pembersih dan mulai menjalankan tugasnya. Sedangkan Erkan membuka pintu. Sebab, ia tahu apa yang terjadi jika mengabaikan mommy nya.
"Ngapain kamu ikut di dalam?" tanya Nyonya Alvero menyelidik.
"Aku cuma nunjukin ke daddy cara membersihkan kamar mandi yang benar, Mom."
Nyonya Alvero menatap Meyzin sinis. Tak ingin menyapa, ia masih sakit hati walaupun sudah berpuluh-puluh tahun tetap saja tidak akan terlupakan.
"Awas kalau gak bersih," pesan Nyonya Alvero ketus.
__ADS_1
Setelah punggung sang mommy menghilang, Erkan menghampiri Meyzin.
"Sudah, Dad. Tinggal siram-siram saja, biar basah. Mommy juga gak akan tahu."