
Haira yang seharusnya berada di dekapan nya kini malah sibuk berbicara dengan pria lain. Mirza tidak bisa menerima itu. Ia memilih pergi daripada menyaksikan Haira yang masih sibuk bercanda dengan sekretarisnya.
Posisi yang mematikan, begitulah Erkan menyebutnya. Sebab, ia tahu kemarahan Mirza, tapi ia pun tak bisa menolak perintah Haira yang menyuruhnya untuk tetap duduk.
Udara senyap menghantam membuat dada Erkan sesak dan harus mensuplai oksigen untuk bernapas.
Pintu tertutup dengan kerasnya menandakan kemarahan Mirza yang memuncak. Semua orang terkejut dan menggeleng.
Haira memalingkan pandangannya ke arah depan. Ia mulai merasa bahwa apa yang dilakukannya itu salah, tapi tak bisa memendam keinginannya yang aneh tersebut.
"Apa Tuan Erkan ada pekerjaan penting?" tanya Haira melihat keringat sebesar biji jagung itu menghiasi kening pria itu.
"Ada Nona," jawabnya gugup. Dalam hati berkata-kata siap mendapat hukuman dari Mirza yang pasti saat ini sudah marah besar. Entah apa yang menjadi pelampiasan pria itu, Erkan pun hanya bisa menerka.
"Kalau begitu pergi saja, tapi nanti malam ke sini lagi ya, Kak Mirza mau mengadakan pesta," ujarnya lagi.
Setelah Erkan masuk mobil. Haira berjalan menuju kamarnya, namun langkahnya berhenti saat mendengar suara sesuatu jatuh dari arah kamar samping.
Tadi kak Mirza kan masuk ke kamar itu.
Deniz dan yang lain masih berada di ruang keluarga menyiapkan hadiah untuk Haira. Mereka tidak terlalu menanggapi amarah Mirza yang sangat serius. Sudah biasa bagi Nita dan Deniz menyaksikan adiknya ngamuk.
Saking penasarannya, Haira memutar knop pintu, dan betapa terkejutnya melihat kamar yang biasa rapi itu berantakan bak kapal pecah. Tak hanya itu, mata Haira membulat sempurna saat melihat Mirza mengangkat guci dan menatapnya tajam.
Haira menjerit, tak lama kemudian ia ambruk dengan mata terpejam.
Sontak Mirza melepas guci itu dan berlari menghampiri Haira.
"Sayang, bangun!" Menepuk pipi Haira dengan pelan, tangannya yang berdarah tak dihiraukan dan terus memeluk Haira dengan erat.
Rasa takut kehilangan membuat Mirza seringkali khilaf dan tak bisa berpikir jernih.
Keluarga yang lain pun berhamburan mendekati Mirza yang membawa Haira ke kamar. Membaringkannya dengan pelan lalu memeluknya dari samping.
"Haira kenapa, Za?" tanya Deniz cemas.
"Gak tahu, Kak. Tiba-tiba saja pingsan."
Nita menatap tangan Mirza yang nampak memar, setelah itu menyenggol Deniz.
__ADS_1
"Kalau kau mau cemburu itu lihat dulu situasinya. Haira lagi hamil, dan apa yang diinginkan harus terpenuhi. Lagian dia dan Erkan hanya berbicara, tidak saling bersentuhan. Aku pernah lihat wanita hamil mencium pria lain, bersyukur saja Haira masih wajar ngidamnya," tutur Deniz pada adiknya.
"Tapi aku gak bisa, Kak. Aku gak bisa dia di dekat laki-laki lain." Membenamkan wajahnya di pipi Haira. Tangannya yang berdarah tak seberapa sakitnya dibandingkan hatinya yang kini hancur berkeping-keping.
"Cuma sebentar, Za. Kamu harus sabar. Ini bukan keinginan Haira, tapi anak kamu."
Nita kembali menjelaskan. Mengusap lengan Mirza yang bergetar. Ia tahu adiknya itu pasti menangis seperti yang sudah sudah. Di balik ketangguhan dan keberaniannya melawan musuh, Mirza hanyalah pria lemah jika harus dijauhi orang yang dicintainya.
Mirza mengelus perut rata Haira.
Kenapa kau menyiksa daddy seperti ini. Daddy memang banyak salah pada mommy dan kak Kemal, tapi jangan seperti Ini juga, Daddy gak kuat.
Tak berselang lama, dokter datang.
Mirza turun dari ranjang. Memberi ruang pada dokter itu untuk memeriksa Haira.
“Kenapa adik saya sering pingsan, Dok?” tanya Deniz. Ia takut terjadi sesuatu yang tidak diketahuinya.
"Nona Haira baik-baik saja. Detak jantungnya juga normal, tidak ada penyakit yang serius. Apa kata dokter kandungan kemarin?"
"Dia juga bilang kalau anak dan istriku baik-baik saja," sahut Mirza menirukan ucapan dokter di rumah sakit.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Setelah dokter itu pergi, Deniz mendekati Mirza. "Istri kamu hamil, dia itu sangat sensitif. Jangan membebaninya dengan sifat konyol mu. Cemburu pada Erkan, dia bukan tandinganmu," ejek Deniz lalu duduk di sofa.
Nita pun mendekati Mirza dan menyuruh sang adik pergi sebelum Haira sadar. Aynur hanya bisa menenangkan Mirza yang masih tersulut emosi.
"Sini, aku bisikin!" Fuad merangkul pundak adik iparnya dan mengajaknya keluar. Mereka berdua bersandar di dinding dan menatap ke arah yang sama.
"Jangan khawatir. Aku yakin nanti kalau bangun, dia pasti mencarimu," ucap Fuad meyakinkan.
"Kakak yakin?"
"Hemmm, sekarang kita main catur dulu sambil menunggu Haira sadar."
Nita duduk di samping Haira yang masih memejamkan mata. Meskipun dokter sudah mengatakan bahwa Haira baik-baik saja, tetap saja ia merasa cemas melihat adiknya tak berdaya.
"Kak, gimana kalau besok kita bawa Haira ke rumah sakit, aku takut terjadi apa-apa padanya," ucapnya menatap punggung Deniz yang duduk di sofa.
__ADS_1
"Boleh, biar aku yang urus semuanya."
Deniz langsung menghubungi seseorang dan mengatakan niatnya. Ia juga mengatakan semua yang terjadi pada Haira saat ini.
Lima menit kemudian, Haira membuka matanya. Ia menatap Nita yang setia duduk di samping nya lalu menatap Aynur dan Deniz bergantian.
Kak Mirza di mana? tanya nya dalam hati.
Haira masih ingat apa yang terjadi sebelum ia pingsan. Namun, saat ini ia ingin melihat wajah tampan suaminya.
"Apa yang kamu rasakan saat ini?" tanya Nita antusias.
Haira menggeleng. "Aku tidak merasakan apa-apa, Kak. Aku juga gak tahu, kenapa sering pingsan." Bingung dengan dirinya sendiri. Pasalnya, Haira adalah wanita yang tangguh, sakit pun ia masih bisa bekerja. Akan tetapi, saat ini ia lemah dan hanya bisa menyusahkan orang lain.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat saja. Besok kita ke rumah sakit."
Haira mengangguk setuju. Meraih tangan Nita yang hampir beranjak.
"Ada apa?" tanya Nita menatap manik mata Haira yang tampak sendu.
"Kak Mirza mana?" tanya nya malu-malu.
Aynur tersenyum, “Dia tadi ngamuk-ngamuk lihat kamu bersama Erkan.” Deniz terkekeh lalu keluar diikuti Nita dari belakang.
“Za, dipanggil Haira.”
Mirza melompat dan berlari ke kamar. Tak peduli dengan Fuad yang berteriak memakinya karena hampir kalah dalam permainan.
Mirza membuka pintu dengan pelan. “Kamu mencariku?” tanya nya ragu.
Haira mengangguk tanpa suara. Tak seperti tadi yang jijik, saat ini ia ingin berlindung pada seorang pria tampan yang bernama Mirza.
“Kamu dari mana saja?” tanya Haira melingkarkan tangannya di pinggang Mirza yang meringkuk di sisinya. Membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu. Menghirup dalam-dalam aroma parfum yang bercampur keringat di tubuh sang suami.
“Aku di luar. Main catur dengan kak Fuad.”
“Maafin aku,” ucap Haira penuh penyesalan. Ia tahu suaminya pasti kesal melihatnya bercakap dengan Erkan.
“Gak papa, ini kan demi anak kita. Aku akan lebih sabar memenuhi permintaannya.” Mencium kening Haira dengan lembut.
__ADS_1