Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Membereskan semua kenangan


__ADS_3

Mata Mirza terus mengikuti pergerakan Haira yang sedang merapikan baju. Entah mendengar ucapannya atau tidak, wanita itu terus membisu. Sepatah kata pun tak ada yang keluar dari sudut bibirnya. Meletakkan ponselnya, lalu turun memeluk Haira dari belakang, namun dengan cepat ditepis oleh sang pemilik tubuh. 


"Kamu kenapa sih?" Mirza menutup lemari dan berdiri di depan Haira. Kedua tangannya menggenggam jemari lentik wanita itu. Ia tak tahu kesalahan yang membuatnya cemberut. 


"Kalau aku ada salah, katakan!" imbuhnya menekankan. 


"Kamu gak ada salah apapun. Aku yang salah sudah membunuh Lunara." 


Brakkk


Seketika itu juga Mirza menggebrak pintu lemari dengan keras. Ubun-ubunnya terasa panas mendengar ucapan Haira. Sudah berapa kali dia bilang, jangan menyinggung masa lalu, namun Haira masih saja mengingatnya.


"Kenapa harus membahas dia lagi?" Mengucapkan dengan nada lembut. Namun, sangat menakutkan bagi Haira. Sorot mata Mirza penuh dengan amarah hingga ia tak berani menatapnya. 


Haira memilih mundur beberapa langkah menjauhi Mirza. Sekujur tubuhnya bergetar. Seolah-olah ia melihat suaminya  saat awal bertemu. Kakinya menabrak meja membuatnya harus berhenti. 


Mirza mendekati Haira dan memeluknya dengan erat, sedikitpun tak memberi ruang pada wanitanya untuk lepas. Ia memang mendekati kata sempurna. Memiliki wajah tampan dan harta berlimpah yang menjadi idaman setiap wanita. Namun, satu kecacatan nya, yaitu tidak bisa bersabar dan selalu membawa setiap masalah pada emosi. 


"Maafkan aku," ucap Mirza lirih. Ia tak bisa menahan emosinya yang meluap memenuhi kepalanya. 


Haira bergeming, tak ingin terlepas juga tak mau membalas pelukan itu. Dadanya terasa sesak mengingat suara yang begitu keras menggema. 


Mirza menangkup kedua pipi Haira. Menatap kedua manik matanya yang digenangi cairan bening. 


"Sekarang katakan, apa yang harus aku lakukan supaya kamu percaya padaku.  Lunara hanya masa lalu dan sampai kapanpun akan seperti itu." 


"Tapi kenapa kamu masih menyimpan semua kenangan tentang dia?" Akhirnya Haira mengucap apa yang dari tadi mengganjal di hatinya. 


"Maksud kamu apa?" tanya Mirza memastikan. 


Haira menunjuk ke arah rak buku dengan jari telunjuknya. 


"Kalau kamu memang peka, cari tahu sendiri, jangan ganggu aku." 


Haira keluar, meninggalkan Mirza yang masih bingung. Ia memilih tidur di kamar Kemal mengingat malam sudah semakin larut.


"Memangnya ada apa di sana?" Mirza mengayunkan kakinya. Pertama kali yang ia lihat adalah buku proposal dan sebagainya. Lalu beralih ke barisan bawah, semua sama saja. Saking penasaran dan tak mau salah paham, akhirnya ia membongkar semua buku itu. 


Memanggil bi Enis yang kebetulan ada di ruang tengah. 

__ADS_1


"Ada apa, Tuan?" tanya bi Enis. 


Mirza melirik Haira yang hampir masuk ke kamar Kemal dengan sebotol air minum di tangannya. 


Awas saja nanti malam, aku pastikan akan berada dipelukanku.


"Bantu aku beresin buku," ucapnya.


Besok-besok aku akan membuat rumah yang hanya ada satu kamar, biar kamu gak bisa lari dariku. Enak saja, aku nyariin sampai tujuh tahun, sudah ketemu malah di anggurin lagi.


Mirza masuk, menunjukkan tugas Bi Enis. 


"Pokoknya bibi periksa, sisihkan yang buku proposal dengan buku lainnya. Nanti kalau bibi melihat buku yang ada kaitannya dengan Lunara atau perempuan siapapun itu, kasih ke aku."


"Baik, Tuan."


Wanita paruh baya yang masih memakai seragam asisten rumah tangga itu langsung melaksanakan tugasnya. 


Bi Enis memungut satu persatu buku yang berserakan lalu menelitinya. Tak ingin melakukan kesalahan sedikitpun.


Mirza menghempaskan tubuhnya di sofa. Seharusnya malam ini ada ritual yang ke empat, namun harus gagal karena sesuatu yang tak dimengerti. 


"Seperti ini, Tuan?" Bi Enis menunjukkan foto Lunara dan Tuannya itu sangat mesra, bahkan terlihat jelas dalam foto itu mereka ciuman bibir. 


Mirza merebut foto itu dari tangan bi Enis, malu juga kemesraannya dilihat sang pembantu. Memijat pelipisnya yang terasa nyut-nyutan. Ingin sekali hidup dengan tenang, tapi selalu saja ada masalah yang menerpa padanya dan Haira. 


Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, walaupun ada sesuatu tentang aku dan Lunara, itu hanya masa lalu. 


Baru beberapa menit memejamkan mata, Mirza merasa  terusik. Ternyata bi Enis yang menggoyang-goyangkan tubuhnya. 


"Ada apa, Bi?" tanya Haira dengan berat. Bi Enis membawa setumpuk buku di depannya. 


"Saya menemukan ini, Tuan." Meletakkan di atas meja tepat di depan Mirza. 


"Apa ini semua tentang aku dan Lunara?" tanya Mirza antusias. 


"Iya, Tuan," jawab bi Enis lalu pergi meninggalkan kamar Mirza. 


Sebenarnya Mirza tak ingin menyentuh buku yang sedikit usang itu, namun ia harus tetap memeriksanya. 

__ADS_1


"Pantesan Haira marah, seandainya aku yang berada di posisi dia, pasti juga sama." Berdecak kesal lalu keluar. 


Mirza menatap pintu kamar Kemal yang tertutup rapat. Hampir lima jam Haira meninggalkan kamar. Pasti wanita itu sudah terlelap. 


Mirza berjalan mengendap-endap di bawah lampu yang menyala redup. Matanya celingukan ke sana kemari seperti maling yang sedang beraksi. 


Tangannya memutar knop dengan pelan. Ternyata pintu kamar Kemal tak di kunci. Ia membukanya lalu masuk. 


Benar saja, Haira berbaring dengan mata terpejam. Di sampingnya ada Kemal yang juga tertidur. 


Aku janji ini kesalahanku yang terakhir. Aku mencintaimu sampai kapanpun, dan tidak ada kenangan tentang Lunara yang tersimpan. 


Ia berjalan masuk menghampiri Haira dan ikut berbaring di samping nya. 


Haira menggeliat. Ia merasa tubuhnya terjepit, padahal ranjang Kemal berukuran jumbo dan bahkan bisa ditempati lima orang dewasa, namun tiba-tiba saja terasa sempit seperti sofa. 


Apa aku mimpi?


Masih berbicara di bawah alam sadarnya. Sudahlah, gak papa daripada harus tidur dengan orang yang masih memikirkan mantannya. 


Tunggu dulu! Tanpa sengaja tangan haira menyentuh sesuatu yang mengeras dibawah sana. Ia teringat sesuatu yang pernah dilihat dari tubuh Mirza. 


Kok seperti __


Tak melanjutkan ucapannya. Ia tak mau berpikir mesum. Tangannya melepas benda itu sejenak. Memiringkan tubuhnya dan meneluk Kemal. 


Baru saja ingin melanjutkan tidurnya, punggungnya tertabrak oleh sesuatu dari belakang hingga benar-benar membuatnya terbangun. 


Matanya langsung turun ke bawah, menatap tangan kekar yang melingkar di perutnya. 


"Siapa yang mengizinkan kamu tidur di sini?" Mengucap dengan ketus. 


"Tidak ada, aku sendiri yang ingin tidur disini," jawab Mirza sambil mencium ceruk leher Haira. 


Sedikitpun tak takut dengan kemarahan wanita itu, justru akan menjadi tantangan baginya untuk bisa memahami apa yang diinginkan. 


"Tidur saja, atau aku akan melakukan seperti tadi siang," lanjutnya menyeringai. 


Terpaksa Haira diam dan memejamkan  mata daripada Mirza melakukan apa yang diucapkan.

__ADS_1


"Tujuh tahun aku tersiksa karena memikirkan kamu. Sekarang jangan tinggalkan aku lagi. Apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama."


Haira merasa terenyuh. Ia pun tak ingin memisahkan Kemal dan daddy nya.  


__ADS_2