Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Ulah Kemal


__ADS_3

Haira tersenyum kecil. Puas dengan ucapan mirza yang sangat tegas saat menegur Lunara. Sekarang ia tak perlu ragu lagi dengan kesetiaan sang suami yang benar-benar tulus padanya. Meninggalkan masa lalu yang seharusnya terkubur.


Ceklek 


Pintu terbuka lebar. Mirza yang baru saja masuk terkejut melihat istrinya sudah terbangun. Ia menghampiri Haira yang duduk di tepi ranjang. ''Kemal belum waktu nya pulang, tidur saja dulu.'' 


''Siapa yang datang?'' tanya Haira pura-pura, bergelayut manja di lengan kekar Mirza. Kedua tangannya memeluk sang suami dari samping. 


''Lunara,'' jawab Mirza jujur. Tidak ingin menutupi apapun pada Haira. Termasuk tentang Lunara yang sudah berani datang. 


''Mau apa dia ke sini?''


''Gak tahu, sudah aku usir.''


Mirza mengelilingi ruangan mewah itu. Matanya berhenti pada ranjang yang nampak lebar dan empuk. Tangannya menekan-nekan kasur lalu menyeringai. Kesempatan emas untuk menggoda Haira.


''Sayang, kayaknya kalau kita mengulanginya di sini akan lebih nikmat,'' bisiknya. 


Kumat lagi mesumnya. 


Haira bergeming. Menahan pergerakan tangan suaminya yang hampir merayap di dada putihnya. 


''Ini kantor, Sayang. Bagaimana kalau ada yang datang.'' Meletakkan tangan Mirza di pangkuannya.


Bukan Mirza yang gampang menyerah, nyatanya pria itu terus membujuk Haira. Memberikan sentuhan-sentuhan lembut hingga membuat wanita itu terbuai. 


Dalam hitungan menit, Haira terpancing saat merasakan keanehan di tubuhnya, bahkan penolakan yang tadi ia lakukan  berakhir sia-sia. Kini ia membiarkan tangan sang suami menyusup masuk ke dalam dressnya. 


Mereka sudah menyatukan bibirnya. Saling menyalurkan hasrat yang terpendam. Namun, dering ponsel memecahkan suasana. Terpaksa Haira melepas pagutannya dan mengambil ponselnya yang ada di nakas. 


''Gurunya Kemal,'' ucap Haira tanpa suara. 


Ia langsung mengangkat teleponnya, takut ada yang penting. 


''Maaf, Nyonya. Kemal bertengkar.'' 


''Apa?'' pekik Haira. Tak menyangka di hari pertama sekolah putranya itu sudah membuat ulah. 


Mirza tertawa cekikikan, ia tak heran lagi dengan kabar itu dan berharap Jagoannya yang menang. 


''Lalu, sekarang bagaimana? Apa ada yang terluka?'' 


''Kami sudah membawa mereka ke kantor. Kemal tidak apa-apa, tapi temannya memar.'' 

__ADS_1


Haira makin panik. Ternyata Kemal tak berubah juga. Dulu putranya itu pun sering berantem dengan anak tetangga dan membuat dirinya menjadi bahan olokan, dan sekarang itu terulang lagi. 


''Sayang, kita harus segera ke sekolah, Kemal berantem.'' 


Haira merapikan penampilannya, ia panik dan takut dengan kabar itu. 


''Aku yakin Kemal yaang menang.'' Sontak Haira membalikkan tubuhnya dan menghampiri Mirza. 


''Sayang, aku serius. Aku tidak takut Kemal terluka, karena dia itu anak yang kuat. Tapi bagaimana kalau dia melukai orang lain. Dulu aku pernah dilaporkan polisi karena ulah Kemal, dan sekarang aku tidak mau itu terjadi lagi.'' 


''Iya iya, kita ke sekolah Kemal.'' 


Mirza merengkuh istrinya, menenangkan.


Nampak bocah mungil itu duduk di kursi bagian pojok. Bibirnya bergetar menahan tangis dan mendekap tas sekolahnya. 


"Mommy." Memanggil Haira dengan lirih. Ingin berlari ke arah mommynya  yang baru saja masuk, tapi takut Haira marah seperti yang sudah-sudah. 


Haira menyapa beberapa orang yang ada di ruangan itu. Mirza menghampiri putranya yang tampak ketakutan. Ia menggendongnya dan mengelus punggung Kemal. 


''Kalau boleh saya tahu, kenapa  mereka bisa bertengkar?'' tanya Haira ramah. Sebagai wali murid ia tetap taat pada peraturan yang berlaku. 


Salah satu guru menceritakan tentang perkelahian Kemal dan temannya. Mereka menjelaskan pada Haira apa yang terjadi. 


''Tidak  apa-apa, nyonya. Anak saya juga salah. Wanita paruh baya pun menjawab ramah. Sebab, dia tahu siapa yang berdiri di depannya. 


Kemal menyandarkan kepalanya di pundak Mirza. Melirik Haira yang masih berbicara. 


Mirza membereskan urusannya. Mengambil langkah untuk berdamai dengan bocah yang saat ini menangis di pelukan ibunya. Lalu, ia membawa pulang Kemal, karena memang sudah waktunya. 


''Kemal tidak ingat ucapan mommy?'' tanya Haira setelah masuk ke mobil. 


''Sayang __"


Haira mengangkat tangannya. Memberikan kode pada Mirza untuk diam. Jika menyangkut Kemal, ia tidak ingin orang lain ikut campur, termasuk suaminya sendiri.


''Ingat, mommy. Tidak boleh berantem dengan teman, tapi Umay yang salah, dia merebut penghapusku.'' 


Dulu, Kemal lah yang sering merebut benda milik temannya, namun sekarang ia merasakan sendiri barang miliknya direbut orang lain. 


''Itulah yang dirasakan Toni dulu, dan anggap saja itu balasan untuk Kemal, oke.''


Kemal mengingat saat ia membawa pulang mainan Toni dan saat ini ia pun tak rela jika penghapusnya diambil orang lain. 

__ADS_1


''Kemal minta maaf, Mommy.'' 


''Apa kamu tadi sudah minta maaf pada Umay? Kamu apain dia sampai keningnya berdarah?"


Kemal menggeleng dan menundukkan kepalanya." Aku pukul pakai pensil." 


Seperti biasa, Kemal tetap saja jujur meskipun pahit. 


''Mommy akan maafin Kemal, tapi ada satu syarat.'' Haira menjeda ucapannya sejenak. ''Kemal harus berjanji, besok akan minta maaf pada Umay.'' 


Kemal mengangguk cepat. 


Untuk saat ini Mirza tak berhak bicara. Ia bagaikan sopir yang harus membawa Tuannya pergi dengan selamat. 


Meskipun tidak terlalu suka saat Haira membentak Kemal, namun ia kagum melihat kepatuhan Kemal yang luar biasa. 


''Kemal mau jalan-jalan atau langsung pulang,'' tawar Mirza sambil melihat putranya dari pantulan cermin. 


''Pulang saja, Daddy,'' jawab Kemal takut. Ia tak berani meminta apapun, takut Haira lebih marah padanya. 


Saat melakukan kesalahan, pasti Haira melarangnya keluar, terlebih tidak memberikannya uang jajan. 


Sesampainya di rumah, Kemal berlari menghampiri pelayan dan meminta mereka untuk mengganti bajunya. 


Mirza menggiring Haira ke kamar. 


''Kamu jangan marahin Kemal, dia itu masih kecil, belum mengerti apa-apa. Yang dia tahu harus mempertahankan barang miliknya.'' 


Berniat ingin menghibur, justru membuat emosi Haira memuncak. Wanita itu berkacak pinggang menghampiri Mirza yang duduk di ranjang, menantang.


''Jangan marahin? Lalu aku harus biarin dia melakukan kesalahan. Meskipun saat ini dia berada di posisi yang benar, tidak seharusnya memukul orang lain seenaknya sendiri.''


Mati aku, Nyonya benar-benar marah.


Mirza memalingkan pandangannya. Menggaruk alisnya yang tidak gatal. Tak berani menatap wajah Haira yang dipenuhi dengan amarah. 


"Bukan __"


"Aku belum selesai bicara, jadi diam saja. Mulai sekarang jangan manjakan Kemal, lama-lama dia bisa angelunjak."


"Iya, Sayang." Akhirnya Mirza memilih untuk mengalah daripada harus berdebat. Meraih tubuh Haira hingga jatuh ke pangkuannya. 


"Aku minta maaf, lain kali tidak akan membela Kemal lagi, hemmm." Mencubit pipi Haira dengan lembut. 

__ADS_1


"Karena kamu sudah ada di rumah, aku balik lagi ke kantor. Jangan ke mana-mana, kalau mau keluar nanti telpon aku," pinta Mirza. Mencium pipi Haira tanda pamit. 


__ADS_2