Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Menutupi jati diri


__ADS_3

Nada dan Erkan duduk di kursi besi mengkilap yang menjulur panjang. Mata mereka tak teralihkan dari pintu ruang rawat yang ada di depannya. Menanti dokter keluar dari sana. 


"Bagaimana kalau lukanya serius, Kak?" Untuk yang kesekian kali Nada mengungkapkan kekhawatirannya pada sang ayah yang saat ini menjalani pemeriksaan. Padahal, Erkan sering menjawabnya dengan jawaban yang absurd. Namun, tetap saja hanya pria itu yang bisa diajak bicara. 


"Yang namanya luka itu serius, Sayang. yang gak serius itu luka-lukaan." Seketika itu Nada mencubit pinggang Erkan hingga sang empu meringis. 


Disaat dirinya cemas, justru pria itu terus membuat candaan yang menyebalkan. 


"Kok di cubit?" protes Erkan mengelus-elus pinggangnya yang terasa nyeri. 


"Aku serius, Kak. Ini gak lucu, ayah terluka tapi kakak terus ngelawak," pekik Nada tak terima. 


Erkan menahan tawa lalu kembali merangkul bahu Nada. 


"Aku yakin Tuan Meyzin tidak apa-apa, tenang saja. Kita tunggu lima menit lagi pasti dokter keluar."


Seperti ucapannya, selang lima menit pintu terbuka lebar. Dokter dan beberapa suster yang bertugas keluar. 


"Bagaimana keadaan ayah saya, Dok?" tanya Nada antusias. 


"Luka Tuan Meyzin cukup serius. Beliau harus menjalani perawatan selama beberapa hari." 


Semakin bertambah saja ketakutan Nada. Ia tak sanggup membendung air matanya saat melihat ayahnya terbaring lemah di atas brankar. Kakinya melangkah pelan mendekat. Diikuti Erkan dari belakang.


Belum sempat mengucap sepatah katapun. Seorang wanita dan pria masuk membuat Erkan dan Nada menoleh. Mereka terlihat cemas saat mendekati brankar, dimana Meyzin berbaring. 


"Tuan Erkan, kenapa Anda bisa ada di sini? Apa yang terjadi pada Meyzin?" tanya pria itu yang tak lain adalah Tuan Bahadir. 


Erkan menatap Nada sekilas lalu kembali menatap  tuan Bahadir. "Ada kecelakaan kecil, Tuan." 


"Kecelakan?" ulang Tuan Bahadir memastikan.


Bahadir tak bodoh, ia bisa melihat ketakutan di wajah Nada, dan dapat dipastikan semua ada hubungannya dengan gadis itu. Bukan cuma itu, wajah yang menurutnya sangat tak asing membuatnya dipenuhi tanda tanya.


Erkan menganggukkan kepala tanpa suara. Ia enggan menjelaskan kronologi kejadian yang pasti akan menyudutkan Nada. 


Engh

__ADS_1


Suara lenguhan dari atas brankar membuyarkan suasana. Mereka kembali fokus pada Meyzin yang nampak membuka mata perlahan. 


"Di mana ini?" Mata Meyzin menyusuri setiap sudut ruangan. Mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum tubuhnya terasa remuk. Kemudian matanya menatap satu-persatu beberapa orang yang mengelilinginya dan berhenti pada sosok gadis yang berdiri di samping Erkan. 


Air mata Meyzin menetes begitu saja membasahi pelipis. Bibirnya terasa kelu untuk mengucap, dari lubuk hati terdalam ia ingin memeluk Nada, namun tak ada keberanian untuk itu. Sebaliknya, justru Nada yang tak tahan dan berhamburan memeluk Meyzin. Meluapkan kerinduan yang mendalam. Menyalurkan rasa sayang antara anak dan ayah yang sekian lama berpisah.


Bak terguyur air es, sekujur tubuh Meyzin terasa sejuk. Sebuah momen indah yang tak pernah bisa ia lupakan seumur hidup. Rasa bahagia yang tak bisa diungkapkan lewat kata-kata. Selama ini hidupnya terasa kelabu dan penuh dengan duri, namun hadirnya Nada seolah memberi warna baru. 


Laurent dan Bahadir saling tatap. Mereka pun tak bisa apa-apa selain menunggu penjelasan dari Meyzin. 


Tak berselang lama Mirza dan Haira datang sebelum Meyzin mengungkap semuanya. Pria yang berstatus pasien itu tersenyum senang melihat kehadiran mereka. Karena dengan begitu, Nada akan terlindungi keselamatannya. 


Bahadir lebih terkejut dengan kedatangan Mirza. Pasalnya, tidak menyangka pria terhormat itu menjenguk putranya yang hanya klien.


"Sebenarnya apa yang terjadi, Tuan? Kenapa anda bisa berada di sini?" tanya Bahadir antusias. Ia sudah tak sabar mendengar cerita di balik musibah yang menimpa putra nya. 


"Tidak ada apa-apa, Dad. Ini hanya masalah kecil," jawab Meyzin tanpa melepaskan punggung Nada. Mengusap punggung nya yang bergetar. 


"Jangan menangis, aku tidak apa-apa," bisiknya. Sebab, sebelum benar-benar pingsan, Meyzin bisa mendengar jeritan Nada. 


"Lalu, siapa dia?" tanya Lauren menyungutkan kepalanya ke arah punggung Nada yang masih membungkuk di dada Meyzin. 


Meyzin menghentikan ucapannya, ia harus berpikir seribu kali sebelum mengakui putrinya di depan Laurent dan Bahadir. Masih ada beberapa masalah yang harus diusut yang besar kemungkinan melibatkan mereka. 


"Dia adalah putri sahabatku," jawabnya lirih.


Kedua bola mata Nada melotot. Lalu melepaskan pelukannya sembari menatap Meyzin kesal. 


Ternyata benar, dia hanya sandiwara dan tidak mau mengakuiku. 


Nada berjalan mundur, setelah itu keluar tanpa berpesan apapun. 


Erkan pun ikut keluar. Ia tahu ada sesuatu yang disembunyikan Meyzin saat ini. Entah karena apa, ia pun belum tahu.


"Semoga Anda cepat sembuh." Mirza menepuk lengan Meyzin lalu berpamitan pada Tuan Bahadir. Menyusul Erkan dan Nada yang entah pergi ke mana. 


"Kakak dengar sendiri, kan? Ayah itu memang tidak mau mengakuiku, dia hanya pura-pura," pekik Nada saat ia dan Erkan tiba di lobi rumah sakit. Kecewa dengan sikap Meyzin yang jelas-jelas tidak mengakuinya sebagai anak. 

__ADS_1


"Mungkin ada alasan lain, kita tunggu saja, kalau sampai dia berani tidak mengakuimu, aku juga tidak mau mengakui dia sebagai calon mertua. Imbas, kan?" 


Nada menatap Erkan lekat. Entah, hari ini pria itu selalu menanggapi ucapannya yang serius itu dengan lelucon. 


"Aku serius, Kak. Bisa nggak sih, kamu gak bercanda," pinta Nada bersungguh-sungguh. 


Haira hanya cekikikan melihat tingkah mereka yang sangat lucu untuk ukuran tunangan. 


"Aku juga serius. Kita cukup balas apa yang Meyzin lakukan. Ngapain pusing-pusing?"


"Terserah, aku mau pulang." 


Nada membuka pintu mobil lalu duduk, sedangkan Erkan menghampiri Mirza dan Haira, setelah itu menyusul Nada. 


Ting tung 


Bunyi notif dari ponsel Erkan menghentikan pria itu yang hampir melajukan mobilnya. 


Ternyata itu pesan dari tuan Meyzin. 


Tolong sampaikan pesan ini pada Nada, Tuan. 


Maafkan ayah, Nak. Bukan maksud ayah tidak mau mengakuimu di depan semua orang, tapi masih ada beberapa masalah yang harus ayah selesaikan. Ayah hanya ingin menjaga keselamatanmu dari orang-orang jahat. Terima kasih karena kamu mau menerima ayah. 


Nada tersenyum setelah mendengarkan pesan yang dibaca oleh Erkan. 


"Sudah puas?"


Nada hanya tersenyum malu. "Tapi aku masih mau bersama ayah," ucapnya kemudian. 


Mendengar itu, Erkan mengirim pesan pada Tuan Meyzin tentang permintaan Nada. 


Jangan, Laurent masih ada di sini, nanti kalau aku sudah pulang, pasti akan menemuinya.


Lauren yang duduk di dekat Meyzin curiga saat melihat pria itu tersenyum pada layar ponselnya.


"Pesan dari siapa? Sepertinya happy banget?" cetus Lauren.

__ADS_1


Meyzin bergegas menghapus semua pesan untuk Nada lalu meletakkan benda pipihnya. "Bukan siapa-siapa."


__ADS_2