
Tidak semua orang itu memiliki sifat yang sama. Bisa Menjalani sulitnya hidup dengan kesabaran dan menghadapi setiap masalah dengan ketegaran, namun sebagian mereka pun rapuh dan memilih untuk mengakhiri hidupnya. Seperti Veronika, yang tak tahan dengan ujian dan memilih mati dengan cara yang tragis. Sebab, dengan begitu ia terbebas dari semua beban hidup yang menyesakkan.
"Tuan tidak apa-apa?"
Saat ini Erkan kebingungan antara harus bersama dengan Nada yang terisak atau Mirza yang tampak pucat dan kacau tanpa alasan.
Ia terombang-ambing dengan mereka yang sama-sama terpukul.
"Antarkan aku ke mobil!" pinta Mirza setelah menghabiskan satu botol air mineral. Ia sudah tak sanggup mendengar cerita tentang penderitaan Veronika yang memprihatinkan.
"Jika Tuan butuh sesuatu, hubungi saya. Saya akan menemani Nada ke makam ibunya."
Mirza mengangguk pelan. Lalu menyandarkan punggungnya di jok.
Ia seperti ditampar dengan kenyatan itu. Perjalanan hidup Veronika adalah gambaran Haira setelah pergi dari rumah kala itu. Hamil tanpa suami dan hidup di tengah orang asing pasti mengalami tekanan batin yang menyakitkan.
Mirza berusaha tenang, walaupun sebenarnya hatinya terguncang. Ia mengambil ponsel dan menghubungi Haira.
"Ada apa, Kak?" Suara serak menyapa.
"Lagi ngapain?" tanya Mirza lirih. Ia merasa sedikit tenang setelah mendengar suara Haira.
"Masih di ranjang, malas bangun."
"Jangan ke mana-mana ya, aku akan segera pulang."
Haira mengernyitkan dahi. Bingung dengan suaminya yang berkata seperti itu. Tak seperti biasanya yang selalu jahil. Kali ini suara Mirza sangat serius.
Erkan memeluk tubuh ramping Nada. Memberikan kekuatan untuk tetap tegar.
"Ibuku, Kak. Ternyata dia sudah meninggal," ucap Nada di sela-sela tangis.
Erkan mengusap punggung gadis itu. Tak henti-hentinya menenangkan untuk kuat.
"Maaf, apa Tuan bisa menunjukkan makam nyonya Veronika?"
Pria tua itu mengangguk. Meletakkan peralatannya di rumah. Lalu menghampiri Erkan dan Nada.
"Kamu yang sabar. Ada aku yang akan menemanimu. Masih banyak orang yang menyayangimu. Kamu tidak sendiri."
Nada mengusap air matanya yang terus mengalir membasahi pipi. Mencoba menerima kenyataan meskipun pahit.
__ADS_1
Setibanya di sebuah makam umum, Nada menjerit. Tubuhnya ambruk sembari memeluk batu nisan yang bertuliskan Nama Veronika.
"Terima kasih, Tuan," ucap Erkan lalu menyuruh pria itu pergi.
Erkan duduk di belakang Nada. Ia ikut meneteskan air mata. Kehilangan orang terdekat memang sangat menyakitkan. Apalagi ibu, pasti hatinya hancur. Meskipun Nada belum pernah melihat sosok ibunya. Tetap saja itu membuatnya kecewa.
"Kenapa ibu ninggalin aku, Kak. Kenapa dia harus pergi dengan cara seperti itu?" ucap Nada tersendat.
Erkan menghela napas panjang. Ia tak tahu harus berbicara apa, setidaknya masih bisa menemani Nada disaat terpuruk seperti ini.
"Aku ingin dipeluk ibu."
Erkan tak sanggup lagi membiarkan Nada di sana. Yang ada gadis itu tak akan bisa tenang, justru akan terlihat mengenaskan dan mengharapkan kehadiran ibunya yang sudah tiada.
"Kita doakan saja, semoga nyonya Veronika tenang di alam sana. Dia tidak mungkin kembali pada kita, tapi aku yakin dia bahagia melihat bayinya sudah menjadi gadis dewasa dan cantik."
Setelah melantunkan doa untuk Veronika, Erkan membantu Nada untuk berdiri. Ia membawa gadis itu pergi meninggalkan makam.
Erkan menoleh ke belakang sembari menatap makam Veronika dari jauh.
Aku akan menjaga Nada dengan baik. Dia akan bahagia. Ibu tenang saja, aku akan membalas orang yang sudah membuat hidup ibu menderita.
Tak seperti saat berangkat yang masih dipenuhi dengan tawa dan saling menggoda, kini suasana di mobil itu terasa hening. Tidak ada yang berbicara. Erkan hanya bisa melirik ke arah Mirza yang nampak termenung dan sesekali melihat Nada dari pantulan spion yang menggantung.
Mobil berhenti di depan mansion. Mirza yang sudah tak sabar ingin bertemu dengan Haira langsung berlari masuk.
"Sayang, kamu di mana?" teriak Mirza. Suaranya menggema di seluruh ruangan dengan kaki yang terus melangkah menuju kamar utama.
Haira yang ada di ruang makan sengaja bersembunyi dibalik lemari. Meminta semua pelayan untuk diam.
Mirza membuka pintu kamar. Pandangannya mengedar, menyapu tempat itu. Tidak ada siapapun yang membuat jantungnya berdegup kencang.
Pasti dia ada di kamar mandi.
Meskipun tidak ada suara gemericik air, Mirza tetap membuka nya.
Ia semakin panik saat tak mendapati Haira disana. Kemudian, Mirza melempar jaket dan keluar.
"Haira, kamu di mana sayang?"
Haira yang masih ada di balik lemari terus tersenyum kecil dan meminta pelayan untuk tetap diam.
__ADS_1
"Apa kau melihat Haira?" tanya Mirza pada salah satu pelayan yang membersihkan ruang makan.
Pelayan itu menunduk. Ia tahu resikonya jika berani berbohong, namun juga harus patuh pada Haira yang memintanya untuk diam.
Veronika bunuh diri di dalam rumahnya.
Mirza semakin takut. Tidak, Haira tidak mungkin melakukan itu.
Dooorrrr
Suara diiringi tepukan di punggung membuat Mirza terkejut. Ia langsung membalikkan badan. Matanya menangkap wajah yang dari tadi dirindukan.
"Sayang, kamu dari mana saja?"
Seketika itu Mirza memeluk Haira dengan erat. Ia tak memberi ruang pada wanita itu untuk bergerak sedikitpun. Mencium pucuk kepalanya dengan lembut. Seolah-olah mereka baru bertemu setelah lama berpisah.
"Sayang, kasihan dedeknya," keluh Haira sembari mendorong perut pria itu.
Mirza mengendurkan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Haira.
"Jangan pernah tinggalkan aku. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi."
"Kamu kenapa sih, Kak. Aku tidak akan meninggalkanmu, sampai kapanpun kita akan tetap bersama," ucap Haira meyakinkan. Ia menyandarkan kepalanya di dada Mirza.
"Aku takut kamu akan meninggalkanku seperti ibunya Nada."
Mendengar itu, Haira mendongak menatap manik mata Mirza yang tampak berkaca-kaca.
"Ibunya Nada? Memangnya kakak tahu ibunya Nada?" tanya Haira menyelidik.
Mirza mengangguk berat. Ia tidak akan menceritakan apa yang terjadi pada Veronika semasa hidup, karena itu hanya akan mengingatkan pada masa lalunya. Tapi alangkah baiknya jika Haira tahu bahwa ibunya Nada sudah meninggal dunia.
"Aku dan Erkan sudah menemukan keluarga Nada."
Haira tersenyum senang. "Lalu, kenapa kakak bersedih? Bukankah ini kabar bahagia?"
Mirza menggeleng. "Ibunya Nada sudah meninggal karena bunuh diri, dan Erkan masih mencari bukti tentang ayahnya Nada."
Wajah Haira redup, ia bisa merasakan apa yang dirasakan Nada saat ini, pasti sangat sulit diungkapkan lewat kata-kata.
Nenek yang mendengar percakapan itu ikut kaget dan tak bisa berkata apa-apa. Pasti saat ini Nada sangat kacau dan butuh orang-orang tercinta.
__ADS_1
"Sekarang di mana Nada?" tanya Haira
"Dia bersama Erkan. Aku yakin Erkan bisa membuatnya tenang dan bisa melewati ini semua."