
Masih di kamar hotel
Beberapa kali ketukan pintu terdengar mengusik Mirza yang masih terlelap. Pergulatannya semalam membuatnya tertidur pulas, begitu juga dengan Haira yang tampak tenang di alam mimpinya.
Mirza tak tega untuk membangunkan Haira. Sama seperti dirinya, pasti Haira juga kelelahan dengan malam yang penuh gairah itu.
Menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Tak sengaja, tangannya menyentuh pipi mulus Haira.
"Terima kasih atas semuanya, aku tidak akan menyia-nyiakan kamu dan Kemal. Ketulusanmu membuatku tak berdaya, dan akhirnya aku kalah."
Mirza tersenyum. Ia turun dengan pelan lalu membuka pintu.
Ternyata Erkan, sang sekretaris yang berdiri di depan pintu.
Pria yang sudah memakai baju kantor itu menyodorkan map yang ada di tangannya pada Mirza.
"Saya sudah menulis sesuai keinginan Tuan, semoga nona Haira setuju dan mau menandatanganinya."
Mirza membuka map itu lalu membaca tulisan yang tertera. Benar saja, Erkan menulis seperti yang ia minta, dan sedikitpun tak ada yang kurang maupun berlebihan.
"Ada kabar apa lagi?" tanya Mirza menutup dokumen itu. Duduk di kursi besi yang ada di depan kamar.
Erkan menghela nafas panjang lalu mengikuti langkah Mirza.
"Sebelum kejadian kecelakaan itu, Nona Lunara dan Halil sempat berdebat. Awalnya mereka bertemu di restoran RK yang katanya berujung pertengkaran. Nona Lunara memilih pergi, sedangkan Halil mengikutinya dari belakang."
"Lalu?" tanya Mirza antusias. Ia tak sabar mendengar kelanjutan cerita Erkan.
"Waktu itu Halil hanya dengan Nona Lunara, Tuan. Dan tidak ada yang tahu perempuan yang bersama mereka. Untuk urusan ini sebaiknya kita tanyakan pada Nona Haira. Pasti dia ingat wajah perempuan itu.''
"Nanti saja, dia masih tidur," ucap Mirza dengan tegas. Ia tak ingin melibatkan sang istri dengan masalah ini.
"Tadi nyonya Nita meminta saya untuk mengantar Anda ke Mugla. Katanya nona Haira butuh tempat yang nyaman untuk bisa melupakan semuanya."
"Mugla? Kakak menyuruhku bulan madu di sana?" balik tanya.
Erkan mengangguk. Kembali mengeluarkan beberapa tiket dari saku jasnya.
__ADS_1
Mugla terkenal dengan destinasi wisata alam yang sangat indah. Meskipun masih banyak tempat indah, kak Nita sengaja merekomendasikan tempat itu untuk memulihkan trauma Haira. Ingin memberikan yang terbaik pada sang adik ipar setelah lama hidup dalam keterpurukan karena sikap Mirza.
Mirza mengambil tiket itu. Ia tak begitu antusias karena semalam sudah mendapatkan hadiah terindah dari sang istri, namun apa salahnya mencoba menawari Haira.
"Baiklah, aku akan bicarakan ini dengan Haira. Kamu terus cari tahu tentang hubungan Halil dan Lunara."
"Baik, Tuan."
Setelah Erkan menjawab, Mirza kembali masuk. Matanya langsung mengarah ke ranjang yang kosong. Haira sudah tidak ada di sana. Suara gemericik air menandakan wanita itu ada di kamar mandi.
Mirza meletakkan tiket dan mapnya di meja. Kakinya mengayun ke arah kamar mandi. "Sayang, buka pintunya!" teriak Mirza sambil mengetuk pintu.
Tidak ada sahutan, sepertinya Haira tak mendengar suara Mirza, ataukah sengaja tidak menghiraukan nya yang suka jahil.
Hampir lima menit menunggu di depan kamar mandi, akhirnya Haira membuka pintunya.
Menatap Mirza yang bersedekap dengan bahu bersandar di dinding.
"Mau ke kamar mandi juga?" Haira melepas handuk yang membalut kepalanya. Berjalan menuju meja rias.
Mirza mengambil map dan tiket yang dibawa Erkan. Lalu menghampiri Haira yang Mulai menyalakan hair dryer.
Sontak Haira membulatkan matanya. Menatap bayangan Mirza dari pantulan cermin. Tertawa lepas mendengar penuturan suaminya. Ia tak pernah berpikir jauh tentang honeymoon, diterima menjadi keluarga Glora saja sudah membuatnya bahagia. Dan tidak pernah berharap lebih.
"Menurut aku gak usah," jawab Haira cepat.
"Kenapa? Kamu gak mau kita berlibur berdua?" tanya Mirza.
Melingkarkan tangannya di perut Haira hingga dokumen yang berwarna hijau itu terlihat dari arah cermin.
"Kita bisa berlibur bertiga dengan Kemal. Selama ini aku gak pernah mengajak dia jalan-jalan ke tempat yang ia inginkan. Aku tidak punya uang lebih untuk memanjakannya. Setiap hari hiburannya hanya truk yang melintas di tambang."
Jantung Mirza berdenyut nyeri jika mengingat tentang kehidupan putranya. Ia pun ikut tersayat, merasakan sakit tak berdarah. Membayangkan saat bocah polos itu merengek meminta sesuatu, namun Haira tak bisa memenuhinya. Pasti hanya kecewa yang dirasakan. Umurnya yang masih sangat kecil namun harus merasakan kesulitan. Hidup serba kekurangan dan penuh tekanan karena statusnya yang tak memiliki ayah.
"Baiklah, nanti kita akan libur bertiga dengan Kemal."
Mirza memutar tubuh Haira hingga kini mereka saling tatap.
__ADS_1
Memberikan map itu di tangan Haira.
"Apa ini?" Menerima surat itu seperti mengulang saat mereka baru menikah, di mana Mirza memberikan sebuah surat perjanjian yang mematikan.
"Baca saja!" Mirza terus menatap wajah Haira yang tampak pucat.
Tangan Haira bergetar hingga kertas yang ada di tangannya ikut bergerak. Perlahan ia membukanya, sesekali menatap Mirza yang ada di depannya.
Apa dia akan kembali memberi surat perjanjian seperti waktu itu?
Deh deg deg
Jantung Haira berirama lebih cepat. Ia takut Mirza akan mengulangi hal yang sama seperti dulu.
Ada beberapa poin yang harus Haira perhatikan. Di antaranya tulisan itu menegaskan jika Mirza sudah mengikatnya seumur hidup. Itu artinya Haira tidak bisa lepas dari nya.
Mirza juga menegaskan pada Haira untuk selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Memberikan anak dan juga semua waktu nya. Berwenang menjaga harta yang Mirza miliki.
"Apa aku harus tanda tangan juga?" tanya Haira mengambil pulpen yang ada di tengah kertas itu.
"Hhhmmmm…" jawab Mirza percaya diri.
Namun, Haira kembali menutup map itu tanpa menandatanganinya.
"Kamu pernah mengingkari perjanjian yang kamu tulis sendiri, bukan?" ucap Haira mengingatkan. Sebagai seorang istri, kini ia tak mau terus ditindas. Meskipun berulang kali Mirza mengucapkan cinta, ia tak ingin kejadian yang lalu terulang lagi.
Mirza membisu. Dulu ia dengan keras mengatakan tidak akan menyentuh Haira. Namun kenyataannya, ia menodai wanita itu hingga menyebabkan trauma yang mendalam.
"Sekarang giliranku."
Haira meraih kedua tangan Mirza dan menggenggamnya dengan erat. "Berjanjilah kalau kamu tidak akan menyakitiku dan Kemal. Seandainya tidak ada cinta untukku lagi, biarkan aku pergi mencari kehidupan sendiri."
Mirza menarik nafas yang terasa berat lalu mengangguk. Memeluk tubuh Haira dengan erat. Menghirup dalam-dalam aroma sabun yang menenangkan. Bibirnya masih diam, seolah-olah meresapi setiap kata yang Haira ucapkan. Hingga ketukan pintu kembali membuyarkan keheningan yang tercipta.
Mirza membuka pintu. Kali ini Aslan yang sudah mematung di sana.
"Ada apa?" Menutup pintunya dengan rapat, takut sahabatnya itu melihat Haira yang memakai jubah mandi.
__ADS_1
''Aku cuma mau bilang, ternyata Lunara dan Halil pernah berpacaran saat mereka kuliah."