
Tidak apa tidur di sofa yang sempit, yang penting bisa melihat ibunya bahagia. Begitulah Erkan saat mommy nya ingin tidur bersama Nada.
Hampir tengah malam, Nada yang berbaring di samping nyonya Alvero malah tak bisa tertidur. Matanya terus menatap ke arah pintu yang tertutup rapat. Khawatir dengan Erkan yang ada di luar.
Mungkin kak Erkan sudah tidur.
Menilik jam yang ada di layar ponsel. Setelah itu menyibak selimutnya dengan pelan. Berjalan mengendap-endap ke arah pintu.
Semoga mommy gak melihatku.
Menoleh ke belakang. Lalu bergegas keluar setelah pintu terbuka. Kembali menutup nya dengan pelan. Menghampiri Erkan yang nampak sudah memejamkan mata.
"Bangun, Kak!" Menyenggol kaki Erkan yang menjulur melebihi sofa.
Nampak nya pria itu sangat lelah hingga tak terusik sedikitpun. Terpaksa Nada lebih mendekat lagi. Mengarahkan bibirnya tepat di telinga sang kekasih.
"Kak bangun, ini aku," ucapnya berbisik. Merasa ada yang memanggil, Erkan mengerjap-ngerjapkan matanya. Terkejut melihat Nada yang sudah berada di sampingnya.
"Kamu ngapain keluar? Nanti kalau mommy tahu bagaimana?" Erkan pun berbicara pelan, takut mommy nya terbangun.
"Aku gak bisa tidur," keluh Nada manja. Duduk dibawah sembari menyandarkan kepalanya di sofa yang tersisa.
Erkan mengulurkan tangannya. Mengusap rambut gadis itu dengan lembut.
"Tidur di kamar Raya aja, biar aku bangunin dia."
Nada menarik lengan kekar Erkan yang hampir mencari pegangan.
"Gak usah, aku gak mau ganggu dia. Kasihan, pasti mommy dan Raya capek banget habis perjalanan."
"Lalu kau tidur di mana, di sini gak muat." Memiringkan tubuhnya memberi ruang untuk Nada supaya bisa duduk.
"Kakak tidur saja di sini, biar aku tidur di bawah."
Erkan langsung beranjak lalu berjalan ke arah lemari. Tak mungkin membiarkan Nada tidur di lantai. Sedangkan cuaca terasa sangat dingin. Kembali membawa karpet bulu, selimut serta bantal.
"Kita tidur di sini berdua."
__ADS_1
Tak ada jawaban, Nada nampak enggan mengingat mereka belum halal. Takut khilaf dan terjadi kecelakaan yang pastinya tak diinginkan.
"Aku gak akan ngapa-ngapain kamu. Besok kita sudah resmi, ngapain harus melakukannya sekarang." Menaik turunkan alisnya. Meyakinkan Nada untuk tidak takut padanya.
"Tetap saja aku gak mau."
Karpet bulu sudah tertata rapi. Dua bantal dan satu guling serta selimut tebal pun sudah siap menampung mereka. Namun, Nada maupun Erkan masih saling berdiri tanpa ingin berbaring.
"Kalau begitu kamu tidur saja, aku akan berjaga," tawar Erkan. Ia pun tak mau Nada takut dan berimbas pada malam pertama nantinya. Sudah cukup rintangan yang menerpa dan tak mau lagi ada halangan lainnya.
Erkan duduk di bagian tepi. Menepuk pahanya, memberi kode pada gadis itu untuk menyandarkan kepalanya di sana.
Nada pun mengikuti perintah Erkan, kini mata keduanya saling tatap dan saling berargumen dengan bahasa kalbu.
"Apa keinginanmu setelah kita menikah?" Mengusap pucuk kepala Nada.
"Aku ingin menjadi istri yang baik, tidak bekerja dan hanya menjadi ibu rumah tangga seperti kak Haira," jawab Nada dengan lancar.
Kemudian, Erkan kembali mengajukan pertanyaan hingga beberapa kali. Tak berselang lama, Nada menguap pertanda gadis itu sudah mulai ngantuk.
Erkan tak menghentikan usapannya. Ia ingin memberikan tempat ternyaman yang tak pernah terlupakan.
"Hari ini kau pasti tegang karena mommy. Maafkan aku yang tidak bisa mencegah kemarahan dia. Sekarang tidak usah khawatir, semua orang sudah menyetujui hubungan kita."
Erkan menyelimuti tubuh Nada dan ikut berbaring tanpa ingin memindahkan kepalanya.
Sebuah tangan tiba-tiba menyentuh bahu Erkan dengan lembut membuatnya terkejut.
"Mau apa kau?" tanya nya menikmati sentuhan lembut yang merayap menyusup ke dada bidangnya. Ini kali pertama Erkan merasakan jari lentik Nada yang sedikit liar. Di balik sikapnya yang lembut ternyata menyimpan sejuta godaan.
"Aku mau kamu." Suara itu terdengar erotis, seperti sapuan angin yang melesat. Sangat menggoda dan membangkitkan sesuatu di bagian bawah sana.
"Benarkah?" Erkan memutar tubuhnya, menatap manik mata biru yang penuh pesona.
Wanita yang ada di depannya itu mengangguk pelan.
Wajahnya tampak merona malu saat ia terus menatapnya.
__ADS_1
Erkan mengangkat dagu Nada dengan satu jarinya. Mensejajarkan wajah cantik tanpa make up itu dengan dirinya.
"Apa kau yakin akan memberikan keperawananmu padaku?" tanya Erkan sekali lagi. Memastikan bahwa calon istrinya itu tak berbohong.
Nada mengangguk pelan, malu saat terus-terusan ditanya. Seketika itu Erkan menyambar bibir ranum gadis itu. Ia menciumnya dengan rakus, seperti menemukan sesuatu yang berharga.
Hampir lima menit, Erkan mulai merasa ada yang aneh. Rasa bibir itu tak seperti novel yang ia baca. Lembut dan kenyal serta memabukkan. Justru bibir Nada terasa keras dan bersuara.
Tapi bodo amat, ia sangat menikmati dan tak ingin melepasnya. "Sayang, aku _" Suara Erkan tertahan saat sesuatu telah menyembur tanpa dapat ia tahan.
Puas, begitulah Erkan yang bisa menyemprotkan lahar panasnya untuk pertama kali. Ia kembali mencium bibir gadis yang ada di depannya. Namun, rasanya semakin aneh yang membuatnya berpikir keras.
"Apa memang begini rasanya bibir perawan?" gumamnya dalam hati, namun tak melepas ciumannya. Semakin lama Erkan merasakan asin hingga terpaksa ia melepaskannya.
"Lipstik apa yang kamu pakai? Kenapa rasanya asin begini?" Menggerutu.
"Lipstik rasa garam?" Suara tawa membuyarkan Erkan yang masih sibuk mengelap bibirnya. Matanya terbuka lebar saat suara itu terdengar begitu lantang.
"Mommy," Erkan berdiri. Menatap mommy nya yang ada di depannya. Entah sejak kapan, ia pun tak menyadari kedatangannya.
"Ngapain mommy di sini?"
Seperti biasa, nyonya Alvero geram dengan putranya saat melakukan kesalahan.
Wanita itu menarik telinga Erkan hingga terasa nyeri dan hampir putus.
"Dasar anak gak tahu diri. Kamu kira garam ini bibir siapa, hah?"
Erkan mulai berpikir jernih mengingat-ingat apa yang sebenarnya terjadi tadi.
Gawat, bukannya tadi aku __
Tangan Erkan merambat, menutup celananya yang terasa basah. Ternyata aku cuma mimpi.
Nada merapikan bantal dan selimut yang berserakan akibat ulah Erkan. Tertawa geli, karena sebenarnya ia pun melihat saat calon suaminya itu menggigit kerupuk yang dicampur garam oleh nyonya Alvero. Ia juga menyaksikan saat Erkan mengeluarkan bibit-bibit yang nantinya akan bersemayam di rahimnya.
"Bukannya tadi __" Menghentikan ucapannya, tidak mungkin mengatakan bahwa tadi ia dan Nada akan melakukan hubungan yang lebih intim lagi.
__ADS_1
"Tidak, Kak. Tadi kakak cuma mimpi, karena semalam aku langsung pindah ke kamar Mommy setelah kakak tidur."
Erkan menepuk jidatnya. Untuk yang ke sekian kali harga dirinya jatuh saat berada di depan calon istrinya.