
Haira bersantai di taman samping rumah sembari mengawasi Kemal yang sedang bermain. Ini pertama kali bocah itu menikmati musim dingin, dan bagi Kemal sangat menyenangkan. Haira pernah menceritakan tentang salju pada putranya. Meskipun kala itu tidak ada harapan untuk kembali. Ia berusaha untuk mengenang tempat kelahirannya.
''Ayo Mommy ke sini,'' teriak Kemal berlarian bersama pengawal yang berjaga.
Haira menggeleng tanpa suara. Ia enggan bergerak mengikuti Kemal yang sangat lincah.
''Ada tamu yang ingin bertemu dengan, Nyonya,'' lapor pelayan dengan ramah.
''Siapa?'' tanya Haira. Matanya menatap ke arah gerbang. Nampak seorang pria yang membawa seikat bunga di tangannya.
''Katanya kurir yang mau mengantarkan bunga,'' jawab pelayan selanjutnya seperti yang diucapkan sang tamu.
Itu pasti bunga dari Mirza.
Haira berlari kecil menemui tamunya. Bukan fokus pada orangnya, melainkan pada sesuatu yang ada di tangan pria itu.
''Apa benar ini rumah Nyonya Haira?'' tanya pria itu kembali melihat alamat yang tertulis di bukunya.
''Iya, saya Haira, ada apa?'' tanya Haira antusias.
''Ada kiriman bunga untuk, Anda.'' Menyerahkan bunga itu pada Haira yang ada di dalam gerbang.
Setelah tanda tangan dan mengucapkan terimakasih, Haira masuk. Terus Mencium bunga tulip dengan tujuh warna. Baru kali ini ada yang memberikan bunga seindah itu, dan ia merasa bahagia.
Haira membolak-balikkan bunga itu. Tidak ada nama sang pengirim. Terdapat kertas kecil yang bertuliskan syair cinta.
Ternyata Mirza romantis juga.
Haira tersenyum kecil. Membawa bunga itu ke kamar dan meletakkannya di nakas.
''Kenapa harus beli bunga, seharusnya dia mengajakku ke taman bunga tulip warna-warni.'' Meskipun musim semi berakhir, Haira masih berharap Mirza mengajak nya jalan-jalan ke tempat yang pernah diimpikannya.
Selain Memandangi bunga yang kini sudah menjadi hiasan indah di kamarnya, Haira pun menanti telepon dari sang suami.
Suara mobil mendesing di depan rumah membuyarkan Haira yang sedang melamun. Seperti setiap harinya, ia menyambut kedatangan Mirza di depan pintu.
Senyum terukir di bibir Mirza saat melihat anak dan istrinya berhamburan lari ke arahnya.
Terpaksa tangan Mirza menangkap dua orang dari arah yang berbeda. Memeluk keduanya dengan erat serta memberikan kehangatan pada mereka. Tidak ada yang lebih menenangkan selain berkumpul dengan keluarga kecilnya.
''Terima kasih, Sayang,'' ucap Haira sembari mencium pipi Mirza.
Pria itu hanya diam saja, tak mengerti maksud Haira. Namun, ia tetap suka sikap istrinya yang terus membangkitkan gairah.
__ADS_1
Haira membantu mengambilkan minuman hangat untuk Mirza yang duduk di ruang tengah.
''Seharusnya kamu mengajakku ke taman bunga saja."
Mirza semakin tak mengerti dengan ucapan Haira.
''Tapi gak papa, aku suka bunganya.''
''Bunga apa?'' tanya Mirza memastikan.
Haira tersenyum. "Jangan pura-pura seperti itu, aku tahu kamu yang sudah mengirim bunga ke rumah, kan?''
Mirza mengangkat kedua bahunya tanda tak mengerti.
''Aku gak pernah mengirim bunga ke rumah.''
''Lalu, bunga tadi dari siapa?'' gumamnya.
''Sekarang di mana bunganya? tanya Mirza antusias.
Haira menunjuk arah kamar.
Tanpa menunggu waktu lagi, Mirza berjalan menuju kamar. Ia membuka pintu lebar-lebar. Menatap bunga yang tersusun rapi di atas nakas.
Aku harap kamu menyukai bunga dariku, dari orang yang mencintaimu. I love you, Haira.
Mirza meremas kertas itu hingga tak berbentuk lalu menginjaknya. Sedangkan Haira hanya bisa melihat kemarahan suaminya dari ambang pintu.
''Kamu yakin tidak mengenal laki-laki lain selain aku?'' tanya Mirza menekankan. Menatap Haira dari pantulan cermin.
Haira menggeleng tanpa suara. Bahkan ia lupa dengan orang-orang yang pernah dekat dengannya, semenjak masuk ke kehidupan Mirza, hanya pria itu yang terlukis di sekujur tubuhnya.
''Aku bertanya serius?'' Mirza membalikkan tubuhnya menatap Haira tajam ya g mematikan.
''Aku juga serius.'' Haira menjawab dengan nada tinggi. Meyakinkan Mirza yang nampak tersulut emosi.
Hening
Mereka tak saling bicara. Mirza menyambar bunga itu dan membuangnya di tong sampah. Tak sudi melihat sesuatu yang bukan miliknya, terlebih dari kata-kata tadi sudah terlihat jelas adalah seseorang yang mencintai istrinya.
''Jangan pernah menerima apapun dari orang yang tidak dikenal.'' Mirza menarik dasi yang seharian ini mencekik lehernya lalu melempar ke dalam keranjang kotor.
Mana aku tahu, aku pikir itu bunga darimu, Haira hanya mengucap dalam hati, ia tak mau membuat Mirza semakin marah.
__ADS_1
"Apa kau masih berhubungan dengan Hamiz?"
Lama-lama Haira kesal dengan Mirza yang terus menyudutkan nya. Seolah-olah dirinya sudah lancang menerima bunga itu. Padahal, sedikitpun tak tahu gerangan yang sudah mengirim bunga untuknya.
Ia mendekati Mirza yang masih ada di depan jendela.
''Kamu tidak percaya padaku?'' tanya Haira lirih.
Mirza mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia tidak bisa melihat kesedihan di wajah Haira, namun juga tak bisa menerima begitu saja dengan bunga itu.
''Aku katakan sekali lagi, kalau aku juga tidak tahu orang yang mengirim bunga itu. Aku hanya menerimanya, dan aku pikir kamu yang sudah mengirimnya.''
Ingin memeluk tubuh ramping yang berdiri di depannya, namun egonya terlalu tinggi dan memilih menghindar.
Haira kecewa dengan sikap Mirza yang acuh padanya dan ingin menjambak rambut pria itu. Geram dengan sikapnya yang tak berubah juga. Tetap kejam saat diselimuti rasa cemburu.
Awas saja, aku balas perbuatanmu. Keluar dari kamar dan beralih ke kamar Kemal.
Malam semakin larut, hanya ada kesunyian membelah jiwa yang kosong.
Mirza memiringkan tubuhnya. Rasa cemas terus meliputi saat menatap ke arah samping yang tak berpenghuni. Haira tidak tidur di kamarnya, melainkan di kamar putranya.
Mirza terbangun dan duduk dengan kaki menjulur ke depan. Otaknya berkelana hingga ke ujung dunia. Memikirkan seseorang yang sudah berani memberikan bunga pada istrinya.
''Apa ini ulah Hamiz?''
Mirza meraih ponselnya lalu menghubungi seseorang.
''Kamu cari tahu tentang pria yang bernama Hamiz!'' titah nya lalu turun dari ranjang
Mirza membuka pintu kamarnya. Matanya langsung tertuju pada kamar sang buah hati yag tertutup rapat.
Kakinya mengayun menuju ke ruang makan. Jika biasanya ada Haira dan Kemal di sana, kini Mirza hanya seorang diri.
Apa dia marah padaku, tapi aku kan tidak salah. Hanya memperjelas semuanya.
Tak berselang lama, nampak Haira keluar dari kamar. Dengan segera Mirza pura-pura sibuk dengan makanannya. Ia tak mau menyapa duluan.
Haira menghampiri bi Enis yang sedang membersihkan dapur. Tak mengindahkan suara dentuman sendok dan piring dari ruang makan.
''Bi, kasihan tetangga sebelah,'' ucap Haira lantang. ''Dia ditinggal istrinya pergi karena menuduh istrinya berselingkuh,'' imbuhnya melirik Mirza yang nampak tercengang.
Itu bagaikan sebuah sindiran untuk Mirza.
__ADS_1