Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Malam kedua


__ADS_3

Pertahanan Haira runtuh. Hatinya yang sekeras batu kini luluh lantah dengan sikap manis Mirza. Tidak ada alasan lagi untuk menolak. Mirza sudah membuktikan apa yang diucapkan. Sentuhan demi sentuhan lembut itu mampu membawa tubuh Haira terbang melayang. 


Ia lupa dengan keangkuhan saat Mirza terus mengunci pergerakannya. Haira tak bisa berkutik lagi dan memilih untuk pasrah dengan perlakuan sang suami. 


Pertempuran panas terjadi begitu saja. Di atas ranjang yang empuk, di bawah pencahayaan temaram itu sepasang suami istri melewati malam kedua. Malam yang dinanti oleh Mirza. Meskipun harus dengan susah payah, kini ia bisa memiliki Haira seutuhnya. 


Masih dipenuhi keringat, Haira membenamkan wajahnya di dada Mirza. Mencari tempat ternyaman supaya membawanya ke alam mimpi, juga menyembunyikan wajahnya yang merona mengingat pergulatannya tadi. Bahkan seakan ia lupa diri saat menikmati indahnya nirwana bersama sang suami. 


Bantal dan guling yang berserakan pun ikut menjadi saksi bisu, betapa ganasnya Mirza saat melahap Haira. Kelopak mawar yang tadi terususn rapi kini sudah tercecer entah ke mana, bahkan beberapa biji menempel di tubuh Mirza dan Haira.


Tujuh tahun hidup dalam kekosongan, kini Mirza kembali merasakan indahnya bercinta. Menumpahkan segala hasrat yang terpendam.


"Apa kamu akan memintaku minum pil kb lagi?" ucap Haira yang kembali  mengingatkan pada masa lalu.


"Iya," jawab Mirza singkat. Ia masih mengatur nafasnya yang ngos-ngosan karena kelelahan. Mengembalikan tenaganya yang sempat terkuras habis.


"Kenapa?" Haira menjauhkan tubuhnya, namun dengan cepat Mirza meraihnya lagi hingga keduanya tak ada jarak. 


"Apa kamu tidak mau memiliki anak dari rahimku?" 


"Kenapa harus itu yang kamu ingat?" sergah Mirza mengecup kening Haira. 


"Lantas?" Haira ingin sebuah penjelasan dari Mirza. 


"Jika diizinkan aku pun ingin memiliki banyak anak dari rahim kamu. Tapi kalau kamu hamil sekarang, tidak adil untuk Kemal, biarkan dia menikmati menjadi anak satu-satunya."


"Tapi kalau aku hamil seperti waktu itu gimana?" tanya Haira lemas. Pasalnya, waktu itu ia teringat sudah menelan pil yang diberikan Mirza, namun tetap saja bisa hamil. Keajaiban Sang Pencipta tak perlu diragukan lagi.


"Gak papa, Sayang. Itu cuma rencana. Walaupun kamu hamil lagi, artinya Tuhan percaya padaku."


Meskipun matanya berat. Mirza tetap membukanya demi mendapatkan jatah yang kedua. Terus menggoyang-goyangkan lengan Haira. 


Hening sejenak. Haira memejamkan mata. Sekelebat bayangan itu melintas membuat wanita itu terbangun. 


"O iya, sekarang aku sudah ingat."


"Ingat apa?" Mirza masih menanggapinya  dengan santai. 

__ADS_1


Haira mengangkat kepalanya. Membuka mata Mirza  yang hampir terpejam. 


"Aku pernah melihat Halil." Mendengar nama pria yang diucapkan Haira membuat dada Mirza meletup. Entah kenapa, ia tak suka istrinya menyebut nama orang lain. 


"Di mana?" tanya Mirza malas.


Sebaik apapun suasana hatinya, jika menyangkut orang lain pasti akan kacau seperti saat ini. 


"Waktu kecelakaan Nona Lunara, aku melihat dia di sana bersama perempuan. Aku pikir dia akan menolong, tapi malah pergi."


Mirza mengerutkan alisnya. Ungkapan Haira benar-benar membuatnya terkejut. 


Malam itu memang dirinya tak berada ditempat kejadian, namun kesaksian Ayla membuatnya percaya dan tak ingin mencari tahu, bahkan beberapa orang pun mengatakan jika Haira murni menabrak Lunara yang sedang melintas. 


"Maksud kamu?"


Haira kembali menceritakan saat kejadian malam itu yang merenggut nyawa tunangan suaminya. Ia masih ingat saat Halil dan perempuan itu berlari di belakang Lunara. Lalu mereka pergi saat Lunara terkapar di jalan.


"Kamu yakin?" tanya Mirza memastikan. 


Kenapa Halil bisa bersama Lunara, lalu siapa perempuan yang dimaksud Haira?


Mirza masih berbaring di sisi Haira, namun otaknya sudah berkelana. Menerka apa yang terjadi sebenarnya. Mulai bertanya-tanya tentang misteri dibalik semua yang terjadi. 


Meraih ponselnya dan menghubungi Erkan. 


"Halo, Tuan. Apa anda membutuhkan sesuatu?"


"Aku ingin mengusut tentang kematian Lunara lagi. Kata Haira saat kejadian itu, dia melihat Halil dan perempuan di sana. Kamu cari tahu, apa yang sebenarnya terjadi."


"Baik, Tuan." Mirza memutus sambungannya lau meletakkan ponselnya di nakas. . 


Haira menatap wajah Mirza yang dipenuhi kekhawatiran.


Apa Mirza masih mencintai Lunara. Jika benar, kenapa harus memintaku untuk kembali. Meskipun perempuan itu  sudah meninggal, aku tetap tidak mau diduakan. 


Haira memilih memejamkan mata. Ia tak mau berpikir negatif tentang suaminya yang jelas-jelas sudah membuktikan cinta padanya. 

__ADS_1


Beberapa menit kemudian. Mirza duduk sembari mengusap wajah sendu Haira yang mungkin sudah terbawa mimpi. Merapikan rambut wanita itu. 


"Maafkan aku." Menarik  selimut hingga menutupi seluruh tubuh Haira.


Mirza memakai piyama. Meraih ponselnya lagi  dan berjalan menuju balkon. Takut mengusik Haira yang sudah tertidur. 


Ucapan Haira terngiang-ngiang di telinga Mirza. Seakan itu memberi bukti jika Halil juga terlibat dengan apa yang dilakukan Lunara. 


Sebenarnya ada apa dibalik kematian Lunara. Kenapa ada Halil di sana, gak mungkin dia hanya sekedar lewat. 


Mirza mencari beberapa nama orang yang bisa ia percaya, lalu berhenti pada nama Aslan. Sebab, hanya pria itu yang banyak tahu tentang dirinya dan Lunara. 


"Halo, Za. Ada apa?" tanya suara berat dari sana. 


"Ada tugas untuk kamu. Tadi Haira bilang, waktu Lunara tertabrak motor itu disana juga ada Halil, tapi yang lebih membingungkan dia memilih pergi. Kamu selidiki, sebenarnya ada hubungan apa antara Halil dan Lunara. Tidak mungkin itu hanya kebetulan saja."


Aslan yang sudah memejamkan mata hanya mengiyakan ucapan Mirza. Meskipun terdengar samar-samar, ia tetap paham dengan apa yang diucapkan sang sahabat. 


Haira membuka mata saat percakapan Mirza terdengar serius. Gelisah melanda menusuk dada, disaat dirinya sudah memberikan segalanya, justru ketakutan itu hadir. Lunara memang bukanlah saingan baginya, namun ia tetap saja takut hati Mirza akan kembali berpaling dan hanya memanfaatkannya karena takut pada Nita dan Deniz.


Mirza kembali ke ranjang dan membaringkan tubuhnya. Menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi hiasan.


"Kamu mikirin apa?" Haira membuka suara.


Mirza mengulas senyum. "Bukan apa-apa."


Disaat dirinya cemas, justru ada yang kembali memberontak. Mirza langsung menyambar bibir Haira tanpa ampun.


"Aku ingin sekali lagi." Mirza berbisik di telinga Haira yang langsung dijawab anggukan oleh wanita itu.


"Tunggu!" Ucapan Haira menghentikan bibir Mirza ysng hampir saja menyusuri dua gunung kembar milik sang istri.


Mirza menatap manik mata Haira, lalu turun ke bibir hingga ke leher. Banyak tanda cinta di sana yang membuat Mirza tersenyum geli. Ia masih mengungkung Haira yang ada di bawahnya. Sedikitpun tak ingin melepas apalagi membiarkannya bebas.


"Nggak jadi," goda Haira menggoda.


Seketika itu juga Mirza melanjutkan aksinya dan kembali menunjukkan betapa ampuhnya senjata yang telah lama bersemedi.

__ADS_1


__ADS_2