
Hampir sepuluh kali Mirza bolak-balik ke kamar mandi, tapi belum bisa menyurutkan rasa sakit di perutnya. Akibat makan semangkuk seblak yang kepedasannya level sepuluh, ia mengalami diare parah. Tubuhnya terasa lemas dan dingin dengan peluh yang terus bercucuran. Wajahnya pucat pasi dan bibir mulai mengering.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka lagi.
Mirza ambruk dengan punggung bersandar di dinding, matanya terpejam sempurna. Ia tak sanggup lagi karena saat ini sekujur tubuhnya terasa gemetar hebat.
"Kamu gak papa, Kak." Haira menepuk-nepuk pipi Mirza lalu mengusap keringat yang terus menembus pori-pori pria itu.
Mirza menggeleng pelan tanpa suara. Ia sudah tak sanggup menanggapi pertanyaan Haira.
Haira memeluk Mirza dan menumpahkan air matanya di sana. Ia merasa bersalah sudah memaksa pria itu untuk memakan seblak.
"Maafkan aku. Mulai sekarang aku janji gak akan ngidam lagi."
Ingin tertawa tapi tak mampu, akhirnya Mirza hanya membalas pelukan Haira. Mengusap punggungnya dengan lembut, menenangkan.
"Dokter sudah datang, Kak," ucap Nada dari ambang pintu. Nenek hanya bisa melihat dari jauh. Tak kuasa melihat penderitaan cucu menantunya.
Haira membantu Mirza pindah ke ranjang. Lalu membuka bajunya hingga pria itu kini bertelanjang dada.
Setelah menjalani pemeriksaan, ia kembali menutup dada Mirza dengan selimut dan menghampiri dokter yang sedang bercakap di luar.
"Apa diarenya bahaya, Dok?" tanya Haira takut.
"Lebih baik pasien dirawat ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, dia sudah kehilangan banyak cairan, takutnya berbahaya."
Buliran bening mengalir membasahi pipi Haira. Ia tak menyangka semua akan seperti ini. Tapi apa daya, semua sudah berlalu. Nasi sudah menjadi bubur.
"Baik, Dok. Saya akan ajak kak Mirza ke rumah sakit."
Haira kembali ke kamar. Ia berjalan pelan menghampiri Mirza yang terbaring lemah di atas pembaringan lalu ikut meringkuk di sampingnya.
"Aku janji tidak akan ngidam lagi. Aku akan menahannya meskipun sangat sulit, cepat sembuh, Kak." Mengusap kening Mirza.
Berulang kali Haira menyentuh tubuh Mirza untuk memastikan keadaannya. Setelah mendapat suntikan, Mirza pun tak merasakan perutnya sakit lagi. Hingga ia bisa terlelap dengan tenang.
Ponsel milik Mirza berdering membuat Haira segera terbangun.
__ADS_1
"Halo Tuan Erkan, ini aku Haira," sapa Haira lebih dulu.
"Saya ingin bicara dengan tuan, Nona," jawab Erkan selanjutnya.
"Kak Mirza sakit, dia sekarang tertidur."
Erkan memutus sambungan nya seketika. Ia yang nampak panik langsung berlari keluar dari kantor setelah berpesan pada resepsionis untuk tidak menerima tamu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mirza melenguh, meregangkan otot-otot yang terasa kaku. Tanpa sengaja tangannya menyentuh pipi Haira yang masih setia di sampingnya. Rasa haus melanda memaksanya harus terbangun dan mengambil segelas air yang sudah disiapkan di meja kamar. Setelah meneguk hingga kandas, Mirza kembali ke ranjang.
Mengelus pipi Haira dengan lembut. "Aku tidak pernah menyesal melakukan apapun yang kamu mau. Jangan pernah merasa bersalah, aku hanya belum terbiasa makan makanan yang terlalu pedas. Setelah ini aku akan belajar lebih keras lagi," gumam nya lirih, takut mengusik Haira yang nampak terlelap.
Tak berselang lama, terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Mirza membuka tirai sedikit, memastikan siapa yang datang.
Nampak Erkan turun dari mobil diikuti pria yang memakai jas putih di samping nya.
Ia segera keluar, karena sudah terlalu malam, takut mengganggu yang lainnya.
"Kau, ngapain datang ke sini?" tanya Mirza setelah membuka pintu depan. Mempersilahkan Erkan dan dokter Hasad masuk ke dalam.
"Cuma diare." Meremehkan penyakit yang hampir membuatnya mati.
"Saya tahu, Tuan." Meskipun hanya menerka, ternyata Erkan pun tepat. Sebab, selama bekerja dengan Mirza, hanya penyakit itu yang berani menyerang Tuannya.
Seperti biasa, Mirza harus diinfus untuk memulihkan tenaganya yang terkuras. Ia duduk di sofa dengan tenang. Membiarkan dokter Hasad memeriksa tekanan darahnya.
"Haira menelpon kamu?" tanya Mirza kemudian.
"Tidak, Saya yang menghubungi Tuan, tapi Nona Haira yang mengangkatnya," jawab Erkan jujur.
"Mungkin aku sedang tidur."
"Apa diarenya sudah mendingan, Tuan?" tanya Dokter Hasad sembari memasang jarum infus di tangan Mirza.
"Sejauh ini sudah, tadi juga sudah diperiksa sama dokter sini. Cuma tadi siang saja kebanyakan malam sabalak."
"Sabalak, makanan apa itu?" Erkan dan dokter Hasad saling tatap lalu mengangkat bahu. Ini pertama kali mereka mendengar makanan yang menurutnya sangat aneh.
__ADS_1
Mirza tertawa lirih sembari menyuruh Erkan menyalakan lampu yang lebih terang.
"Itu makanan yang ada tingkat kepedasannya. Sepertinya yang diolah itu kerupuk, sayuran, daging ayam, ada kuahnya juga, tapi menyebalkan. Menurunkan image ku di depan Haira."
Mendengus kesal mengingat diarenya yang harus kambuh.
Erkan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Masih belum paham dengan ucapan Mirza kali ini.
Akhirnya ia mencari di mbah google daripada pusing mikirin sabalak.
"Maksud Tuan seblak?" ujar Erkan kemudian. Sebab, setiap ia menulis kata sabalak yang keluar adalah seblak.
"Betul, itu yang aku maksud." Ucapan itu sukses membuat mereka bertiga tak bisa menahan tawa.
"Siapa sih, berisik banget."
Nada yang merasa terganggu pun terbangun. Ia menyelimuti Kemal lalu membuka pintu kamar.
Nampak ketiga pria yang ada di ruang tamu itu tertawa seperti tak punya beban. Padahal, bukan cuma Nada, Nenek pun terbangun namun tak berani keluar.
"Ternyata ada tamu," ucap Nada di sela-sela tawa Mirza dan Erkan serta dokter Hasad.
"Maaf, Nona. Apa kami mengganggu Anda?" Erkan membungkuk ramah.
"Tidak, cuma bingung saja, aku kira kuntilanak yang tertawa."
Nada mengikat rambutnya yang sedikit berantakan lalu ke dapur membuat minuman hangat untuk mereka.
Tatapan Erkan tak teralihkan dari punggung Nada yang mulai menghilang, dan itu sukses ditangkap oleh Mirza.
Nada keluar membawa tiga cangkir kopi panas dan meletakkannya di atas meja.
"Apa kakak sudah lebih baik?" Nada memastikan bahawa kondisi kakak iparnya itu tak seburuk tadi siang.
"Sudah, lagipula Erkan saja yang terlalu lebay," cetus nya sedikit tak terima, karena kedatangannya tak hanya mengganggu tidur, tapi juga kebersamaannya dengan Haira. Pasalnya, setelah bangun Mirza akan memberi hukuman pada sang istri, namun harus terhalang dengan kedatangan sekretarisnya itu.
Nada tersenyum simpul kembali ke dapur mengambil beberapa cemilan. Tanpa sengaja, kakinya yang tak punya mata itu tersandung kaki meja hingga ia terhuyung dan hampir jatuh. Beruntung, Erkan dengan sigap menangkap punggungnya hingga Nada terhempas di dada bidang sang sekretaris. Netra keduanya saling bertemu seolah-olah menghentikan waktu yang terus berputar.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Erkan membuyarkan lamunan Nada. Ia segera menegakkan tubuhnya.
__ADS_1
"Ti—ti tidak, terima kasih." Nada kembali ke kamar, takut Erkan mendengar detak jantungnya yang berlebihan.