
Erkan membantu Mirza berkemas. Memasukkan barang-barang pria itu ke dalam koper. Hari ini mereka akan pulang setelah mendapat kepastian dari tuan Billy bahwa keadaan kantor mulai stabil. Kedatangannya membuahkan hasil. Dengan kerja keras dan bantuan dari crew membuat Mirza bisa menyelesaikan misinya dengan baik dan cepat.
Ucapan terima kasih terus Mirza lantunkan untuk mereka yang setia bekerja di perusahaan miliknya. Tak lupa memberi sebuah kenangan indah, meskipun hanya bingkisan kecil.
"Apa Haira menelponmu?" tanya Mirza pada Erkan. Mulai gelisah jika tak bisa berbicara dengan istrinya.
"Tidak, Tuan," jawab Erkan sembari memeriksa barang-barang di lemari, takut ada yang tertinggal.
Mirza mencoba menghubunginya lagi, dan ternyata masih sama, tidak aktif. Yang ada hanya suara operator yang menyebalkan.
"Ke mana sih, apa dia tidak merindukanku?" Mirza menggerutu kesal. Memasukkan ponselnya ke saku jas saat Erkan membuka pintu kamarnya.
Ternyata di depan kamar mereka sudah ada Lunara yang sudah siap. Wanita itu nampak cantik dengan dres selutut berwarna pastel serta anting berlian yang menghiasi telinga nya.
"Terima kasih, anting nya cantik banget," ucap Lunara mendekati Mirza.
"Anggap saja itu hadiah karena semalam kamu sudah berhasil menarik banyak pelanggan."
Tak seperti dulu yang penuh dengan kemesraan, saat ini mirza sedikit cuek. Bahkan ia langsung berjalan lebih dulu meninggalkan Lunara. Yang ada di otaknya saat ini hanya Haira dan Kemal.
Apa dia sangat sibuk?
Mirza terus menerka-nerka yang dilakukan Haira saat ini. Untung jauh, kalau dekat pasti ia tidak akan membiarkan Haira bebas dan membawanya ke ranjang. Mengungkung dan menelanjangi nya.
Dalam perjalanan menuju bandara, Mirza terus menatap ke arah luar, sedangkan Lunara menatapnya dari pantulan spion yang menggantung.
Sekarang kamu berubah, apa istri kamu benar-benar lebih sempurna dariku sampai kamu tidak mau melihatku lagi.
Tak hanya di mobil, di pesawat Mirza pun tak ingin duduk di samping Lunara. Ia memilih di belakang bersama dengan Erkan, sedangkan Lunara bersama dengan penumpang lain. Sebenarnya Deniz menawarkan jet pribadi pada Mirza, namun pria itu memilih untuk naik pesawat umum karena bersama dengan Lunara. Takut ada kesalahpahaman dan akan menjadi runyam.
Di sisi lain
Haira keluar dari kamarnya. Ia memakai dress berwarna putih dengan bandu yang senada. Rambut terurai panjang dengan make up tipis yang menyempurnakan kecantikannya.
"Kamu cantik sekali, Za," puji kak Nita dari arah dapur. Kagum dengan penampilan Haira yang luar biasa.
Haira memang sengaja memakai baju yang dibelikan Mirza. Ia ingin menyambut suaminya dengan penampilan yang perfect. Dan Tak ingin membuatnya kecewa.
__ADS_1
"Kak, aku mau menjemput suamiku di bandara," ucap Haira malu-malu. Ia dan Kemal memang tak bisa membendung rasa rindu nya lagi dan ingin segera bertemu dengan suaminya.
"Aku ikut, kita akan ke bandara sama-sama," ujar Aynur yang memang sudah punya rencana seperti itu.
"Setelah ini kalian harus rajin memproses junior lagi, Ra. Kasihan Kemal, mungkin dia sakit karena merasa kesepian?" ucap Fuad konyol. Ikut ngerumpi setelah melihat pada wanita di ruang makan.
Haira hanya tersenyum simpul. Dari lubuk hati, ia pun ingin segera memiliki anak lagi, namun semua kembali pada sang pencipta langit dan bumi.
Seluruh keluarga bergegas ke bandara karena diperkirakan kedatangan Mirza satu jam lagi. Sebab, Deniz sudah bertanya pada Erkan jadwal keberangkatan mereka terlebih dulu.
Jantung Haira berdebar-debar saat mobil yang ditumpanginya berhenti di depan Bandara internasional. Ia tak tahu apa yang menyelimutinya saat ini. Yang pasti ingin segera bertemu dengan Mirza yang sudah lima hari meninggalkannya.
Mereka duduk di tempat yang disediakan. Aynur dan Nita sibuk dengan Kemal yang berlarian ke sana ke mari, sedangkan Haira dan Deniz serta Aynur duduk saling bersejajar. Anak-anak tidak ikut karena masih sekolah.
Matanya terus tertuju pada pintu keluar. Berharap pria yang ia rindukan segera muncul dari sana.
"Udah gak sabar ya?" goda Aynur. Dari tadi memperhatikan sikap Haira yang nampak seperti orang gugup.
"Gak, Kak," jawab Haira pura-pura, padahal hatinya langsung menjawab iya.
Baru saja ingin bicara, seorang pria tampan dari jauh berteriak dan melambaikan tangan ke arah Haira. Pria itu berlari membelah orang yang melintas demi bisa menggapai sang istri.
Mirza
Mata Haira berkaca-kaca melihat suaminya baik-baik saja. Bibirnya membisu dan tak mampu untuk mengucap sepatah kata pun.
Tanpa aba-aba, Mirza mengangkat tubuh Haira dan memutarnya. Beberapa orang yang ada di sana ikut terharu dengan sikap Mirza yang sangat romantis.
Haira membenamkan wajahnya di pundak Mirza. Menghirup dalam aroma parfum yang selalu membuatnya tenang.
"Akhirnya kamu pulang juga," ucap Haira dengan bibir bergetar.
Mirza mendongak, menatap wajah Haira yang lebih tinggi darinya. Tangannya terus menopang paha Haira hingga wanita itu tetap aman.
"Aku kan sudah bilang sama kamu, kalau hari ini aku pulang."
Cup
__ADS_1
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Mirza. Mereka tak ingin melakukannya yang lebih hot mengingat itu adalah tempat umum dan banyak orang.
"Daddy," seru suara cempreng dari arah depan.
Mirza menurunkan Haira dan beralih menggendong jagoannya. Menanyakan kabar bocah itu yang tampak baik-baik saja.
"Mana mainannya?" setelah mencium kedua pipi Mirza, Kemal menengadahkan tangannya di depan sang Daddy. Menagih janji yang katanya akan nembelikannya banyak mainan.
"Di bawa om Erkan."
Mirza menoleh ke belakang, ternyata sang sekretaris tidak ada di sana yang membuat Mirza celingukan mengabsen setiap orang yang berlalu lalang.
Erkan dan Lunara ke mana.
"Ke mana dia, Za?" tanya Nita yang ikut mencari keberadaan Erkan.
"Tadi katanya mau ke toilet dan mungkin dia masih di sana."
Pasalnya, setelah turun dari pesawat, Mirza tak peduli apapun dan langsung pergi begitu saja.
Tawa canda mengiringi pertemuan Haira dan Mirza. Keduanya saling melepas rindu yang menggebu.
"Kenapa hp mu tidak aktif?" tanya Mirza menggiring Haira menuju mobil.
"Sengaja, mau ngerjain kamu," jawab Haira jahil.
Fuad dan Nita pun sudah berada di mobil lain, begitu juga dengan Deniz dan Aynur. Sebab, setelah ini mereka akan kembali ke rumah masing-masing. Sedangkan Haira dan Mirza menunggu Erkan yang belum menampakkan batang hidungnya.
"Sayang __"
Suara Mirza berhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya dari belakang. Tak hanya Mirza yang menoleh, Haira pun ikut menatap ke arah sumber suara.
Deg
Jantung Haira seakan berhenti berdetak melihat wanita yang tak asing itu berjalan ke arahnya dan Mirza. Sekujur tubuh Haira membeku. Meskipun belum pernah bertemu secara langsung, ia tahu siapa wanita itu.
Lunara
__ADS_1