
"Dasar sekretaris sialan." Mirza tak berhenti mengumpat. Kesal pada Erkan yang baru memberitahu pasal rapat pagi ini.
Haira ikut panik dan menyiapkan baju untuk suaminya yang sibuk dengan layar komputer.
Hampir semalam penuh mereka bersama dan banyak membahas tentang pekerjaan. Erkan tidak mengucapkan apapun, namun pagi-pagi harus meluncurkan kalimat yang menyebalkan.
"Jangan marah-marah terus, nanti cepat tua," seloroh Haira sembari melirik wajah Mirza yang nampak datar.
Pria itu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa untuk mengurai kekesalan yang memuncak. "Tapi Erkan sudah keterlaluan, Sayang. Seharusnya semalam dia bilang padaku, tapi kenapa mendadak seperti ini?" Mirza masih tak terima. Seandainya sekretaris itu ada di depannya, pasti sudah babak belur.
Haira duduk di samping Mirza dan membantu menumpuk map yang sudah selesai dikerjakan.
"Sayang, nanti siang aku mau belanja, boleh nggak?" tanya Haira mengalihkan pembicaraan. Mencoba mengembalikan mood suami nya yang sedikit memburuk.
Mirza mengangguk berat. Lalu fokus pada perut rata Haira.
"Apa dedeknya masih belum mau dijenguk?" kata Mirza memelas. Menyandarkan kepala di paha Haira dan membenamkan wajahnya di perut wanita itu. Kali ini ngidam Haira benar-benar menyiksanya. Meskipun baru dua malam, ia sangat gelisah tak bisa mengasah senjata pamungkas nya.
Haira mengusap kening Mirza. Jari lentiknya menelusuri setiap jengkal wajah pria itu. Seolah-olah memancing sesuatu yang dari tadi sudah menegang dan meminta lebih.
"Kayaknya hari ini dedeknya ngidam belanja."
Mendengar kata itu, Mirza langsung menyambar bibir Haira dengan lembut. Menciptakan sensasi baru di pagi hari. Tak peduli dengan Haira yang terus memukul dadanya. Mirza terus melanjutkan aksinya hingga akhirnya wanita itu mengalah dan memilih pasrah.
Sofa seharga puluhan juta itu menjadi tempat Mirza untuk melampiaskan hasratnya yang menggebu. Tidak memberi kesempatan pada Haira untuk melawan.
Empat puluh menit kemudian
Mirza berbaring dan mengatur napasnya yang masih ngos-ngosan. Lalu menyodorkan kartu di depan Haira sebagai hadiah karena pagi ini sudah memberikan service terbaik untuk menghilangkan kekesalan. Ia terus mengecup kening wanita itu yang meringkuk di balik selimut.
"Nanti kalau pergi harus dengan pengawal," ucap Mirza kemudian.
Haira mengangguk menerima kartu itu. Sebab, pagi ini ia benar-benar ingin menghabiskan saldo milik suaminya. Walaupun tidak mungkin bisa.
"Katanya mau rapat." Haira mengingatkan. Ia takut Mirza akan menggila seperti tadi dan membuatnya kelimpungan.
Mirza meraih ponsel yang ada di nakas untuk melihat jam yang dijadwalkan Erkan.
"Masih ada waktu dua jam lagi, dan seperti nya __"
"Aku harus menyiapkan baju Kemal. Bukankah hari ini dia bersekolah?" sergah Haira memotong ucapan Mirza.
Ia mencoba untuk pergi, namun dengan cepat Mirza kembali memeluknya hingga tak bisa berkutik.
__ADS_1
"Aku sudah atur semuanya pada pelayan. Jadi kamu gak usah ikut mengurus Kemal, cukup bersamaku."
Haira tak bisa menghindar lagi, kalau sang Tuan sudah berkata seperti itu, ia harus patuh daripada menerima hukuman yang diluar dugaan.
Pagi yang indah tak hanya dirasakan Mirza dan Haira yang melewatinya dengan bergumul diatas ranjang. Erkan pun terus mengembangkan senyum saat melihat layar ponselnya. Bukan karena mendapat jackpot atau hadiah paket data. Melainkan nama yang berkedip di layar. Saat dirinya sibuk bersiap, justru Nada menghubungi nya lewat video call.
Mereka saling tatap dan melempar senyum.
"Iya, ada apa?" Erkan meletakkan ponsel itu di meja, sedangkan tangannya sibuk mengenakan dasi.
Nada tersenyum malu-malu saat Erkan kembali menyisir rambutnya yang sebenarnya sudah rapi. Terlihat jelas pria itu mencari perhatian padanya.
"Aku cuma mau ngucapin selamat pagi dan selamat beraktivitas."
Terdengar alay, namun memang itu yang ingin diucapkan Nada pada Erkan.
Erkan mengerutkan alis. Menatap lekat wajah Nada yang masih kusut.
"Kamu belum mandi?" tanya Erkan memastikan bahwa dugaannya tidak salah.
Nada menggeleng. "Jam kerja ku hari ini siang, jadi bisa bersantai."
"Yang rajin, jangan sampai aku yang mengawasi pabrik dan memecatmu."
"Jadi perempuan jangan jorok, cepetan mandi!" titah Erkan serius layaknya memerintah seseorang yang ia sayangi.
Nada bergegas mematikan teleponnya dan berlari ke kamar mandi. Erkan seperti jelmaan nenek waktu mereka masih tinggal di rumah lama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Apa kau sudah menyiapkan semuanya?" Mirza mulai memasuki gedung perkantoran.
Erkan yang mengikutinya dari belakang terus memeriksa satu persatu persiapan untuk rapat.
"Sudah, Tuan. Kayaknya perusahaan Tuan Bahadir sudah dipegang anaknya."
"Itu artinya kita bekerja sama dengan Tuan Meyzin?"
Deg
Menyebut nama itu, Mirza mengingat sesuatu.
__ADS_1
Ah, ternyata penyatuan nya dengan Haira tadi pagi membawa pengaruh positif. Membuat otaknya lebih cerdas dan cemerlang. Bisa menjangkau sesuatu yang seharusnya tak penting baginya.
Meyzin, mengucap lagi dalam hati. Jika Mirza sudah terbiasa bertemu dengan pria itu, tidak untuk Erkan yang baru pertama kali bertemu.
Ting
Pintu lift terbuka. Mirza langsung naik, begitu juga Erkan yang terus mengekori nya dari belakang.
Di dalam lift itu terasa hening. Mirza memikirkan sesuatu yang kemungkinan besar benar adanya, namun ia masih bungkam berharap Erkan bisa menyelesaikan sendiri tanpa bantuan darinya.
"Apa kamu gak merasa keberatan membantu Nada?" tanya Mirza saat pintu lift terbuka. Mereka melanjutkan jalannya menuju ruang rapat.
"Tidak, Tuan. Dengan senang hati, dan saya akan membantunya sampai dia menemukan kedua orang tuanya.''
Calon suami yang sangat baik.
"Kalau begitu, selamat menjalankan tugas."
Erkan membuka pintu ruang rapat. Ternyata para staf penting sudah menempati tempat duduk masing-masing.
"Selamat pagi, Tuan." Mereka menyapa Mirza secara serempak.
"Pagi." Mirza menjawab dengan nada datar. Matanya langsung menatap putra dari tuan Bahadir yang tak lain adalah Meyzin.
"Apa kabar, Tuan?" Meyzin mengulurkan tangan di depan Mirza. Erkan yang mendengar suara itu langsung berpusat pada tamu nya.
Bukankah orang ini yang ada di Liontin milik Nada.
"Baik, silahkan duduk kembali, karena saya akan memulai rapat hari ini."
Erkan langsung merogoh saku celana dan mengambil kalung milik Nada. Diam-diam dia memeriksa gambar itu lagi. Entah sebuah kebetulan atau memang sudah waktunya, ia secepat itu mendapatkan petunjuk yang tak disangka. Namun, saat ini ia fokus pada rapat dan harus mengesampingkan itu untuk sejenak.
"Apa yang Anda tawarkan Tuan Meyzin?" Mirza melirik Erkan yang dari tadi juga menatap pria itu.
Tuan Meyzin menjelaskan maksud kedatangannya pagi ini. Ternyata selain bekerja sama, Dia juga akan menjual salah satu perusahaannya yang hampir bangkrut.
Mirza menyerahkan urusan itu pada Erkan. Ia memilih untuk Diam dan meminta sang sekretaris untuk berbicara.
Hampir satu jam, akhirnya rapat itu selesai dengan baik. Erkan juga sudah menyetujui akan membeli perusahaan milik Meyzin dengan harga yang ditawarkan.
"Terima kasih, Tuan."
Saling bersalaman tanda deal.
__ADS_1
"Apa setelah ini kita bisa bicara, tapi ini masalah pribadi," ucap Erkan tanpa basa-basi.