
Haira menceritakan pada Mirza apa saja yang ia lakukan di mall. Beli baju, makan, lalu jalan-jalan ke tempat yang belum pernah dikunjungi. Ia pun menunjukkan nota belanja pada sang suami yang menurutnya fantastis.
"Kamu gak marah, kan?" ucapnya pelan. Menatap Mirza yang masih membaca kertas putih di tangannya.
Tidak ada yang salah, Haira membeli baju dan aksesoris, hanya saja Mirza heran dengan banyak nya belanjaan, namun menghabiskan uang yang tak seberapa.
Mirza hanya diam tanpa kata. Sesekali matanya melirik ke arah Haira yang menunduk dengan tangan terpaut.
"Kalau kamu marah, besok aku kembalikan," imbuhnya dengan bibir bergetar.
Mirza mengatupkan bibirnya menahan tawa. Lalu menarik tubuh ramping Haira ke dalam pangkuannya.
"Aku gak marah, cuma bingung apa yang kamu beli. Uang segini bisa dapat sepuluh baju, lalu bagaimana modelnya?" Nada mengejek.
Paper bag memang masih berjejer di ruang tengah. Haira sengaja belum memeriksanya karena menunggu Mirza. Jika pria itu selalu membeli serba mewah, berbeda dengan Haira yang membelinya dengan harga murah tapi mendapatkan banyak barang.
Haira mengambil beberapa paper bag. Menunjukkan pada Mirza beberapa baju rumahan yang tadi dibeli.
"Kalau untuk di rumah gak papa kan pakai baju ini. Lumayan lo, Sayang. Ini gak terlalu mahal dapat diskon juga."
Ternyata istriku pemburu diskon.
Hmmm
Mirza memandang jijik pada kain yang ada di tangan Haira. Namun, ia tetap menghargainya.
"Kamu gak suka?" tanya Haira lagi sembari mengelus pipi Mirza.
"Apapun yang kau pakai, aku suka."
Plok Plok
Seorang pengawal datang dengan beberapa tas di kedua tangannya. Itu bukan pengawal yang tadi menjaga Haira, melainkan pengawal lainnya.
"Letakkan di situ!" Mirza menyungutkan kepalanya ke arah meja.
Setelah meletakan barang bawaannya, pria itu kembali ke depan.
"Besok-besok kalau aku pergi gak usah penjagaan, kalau kamu memang khawatir padaku pilih pengawal perempuan."
__ADS_1
"Perempuan itu kerja nya lelet, aku gak mau ambil resiko."
Mirza mengambil baju mewah yang berwarna maroon dari salah satu tas lalu menunjukkannya didepan istrinya. Setelah itu kembali membuka tas yang selanjutnya. Ada gaun putih yang mewah dan elegan, dan begitu seterusnya.
"Nanti malam kamu pakai ini ya," pinta Mirza mengiba. "Anggap saja ini permintaanku sebelum kita pisah beberapa hari."
Haira menerima baju itu lalu membolak-balikkannya. Berbeda dengan bajunya yang lumayan berat, baju itu terasa ringan dan tipis. Ia tahu apa maksud Mirza dan itu tak bisa ditolaknya.
Haira menyandarkan kepalanya di ada Mirza, suasana menjadi mencekam, ada rasa takut yang memenuhi dada Haira saat ini. Ini pertama kali mereka akan berpisah jauh. Namun, Haira harus merelakan itu.
Benih-benih cinta yang baru saja tumbuh harus menerima ujian. Mereka akan dipisahkan oleh sebuah misi sang suami.
"Aku akan terus menghubungi kamu dan Kemal. Doakan masalahnya cepat kelar dan aku segera pulang."
Cup
Sebuah kecupan mendarat di kening Haira dengan lembut.
Hari ini Kemal tidak pulang hingga rumah terasa sepi. Hanya ada mereka berdua dan pelayan yang bertugas. Arini pun ikut ke rumah Nita menemani sang keponakan.
Setelah mengurai rasa lelah, Mirza kembali ke ruang kerja. Memeriksa data-data yang belum lengkap, ia juga memastikan jika misi nya mulai berjalan. Seharian di kantor tak cukup untuk segera memulihkan kondisi perusahaan yang berada di ambang kebangkrutan karena pesaing yang lebih energik.
Drt Drt
Dering ponsel yang satu ini tak bisa ia abaikan, itu adalah hp khusus untuk dirinya dan Haira, dan sudah dipastikan wanita itu yang menelpon.
"Video call, memangnya dia ada di mana?" Menerka-nerka keberadaan sang istri yang ia ketahui dari tadi di kamar.
Mirza segera mengangkatnya. Dua wajah saling bertemu dari balik layar masing-masing. Senyum simpul menyapa Mirza yang sibuk dengan pekerjaannya.
"Ada apa, Sayang?" Masih belum sepenuhnya memperhatikan wajah Haira. Sebab, tangannya sedang menandatangani lampiran di depannya, sedangkan ponsel disandarkan di vas bunga.
"Kamu belum ngantuk?" tanya Haira yang sudah bersembunyi di balik selimut.
"Tanggung, bentar lagi," jawab Mirza.
Merasa diabaikan, Haira memilih untuk diam menatap pergerakan tangan Mirza. Ada rasa kasihan yang menjalar melihat betapa besarnya perjuangan pria itu. Haira tidak bisa membantu apa-apa selain memberi semangat dan memberikan service terbaik.
"Katanya tadi mau itu." Haira mencoba mengingatkan. Tidak ada salahnya, toh itu sudah tugasnya sebagai seorang istri.
__ADS_1
"O iya, aku lupa."
Mirza buru-buru menutup buku nya. Menatap lekat wajah Haira yang dipenuhi make up.
"Kamu sudah siap?" tanya Mirza antusias.
Haira mengangguk pelan yang membuat Mirza langsung memutus sambungannya. Pria itu mengambil beberapa ponselnya dan kembali ke kamar.
Tidak ada penyambutan yang istimewa, Haira bahkan sudah berbaring dengan balutan selimut tebal. Lampu menyala redup, namun Mirza masih bisa melihat dengan jelas jika Haira belum terlelap.
"Lama sekali, apa saja yang kamu kerjakan?" tanya Haira tanpa ingin mengubah posisinya.
"Aku mempersiapkan data yang akan dibawa nanti ke New York." Mirza menjawab lalu ke kamar mandi.
Beberapa menit kemudian, pria itu kembali naik ke atas ranjang. Menyibak selimut dengan paksa dan membuangnya.
Haira menjerit seketika. Suaranya memenuhi seluruh ruangan hingga memecahkan keheningan. Kedua tangannya menangkup di bagian dada yang terekspos.
Sedangkan Mirza, ia mencoba untuk menelan ludahnya dengan susah payah. Matanya menatap Haira dari atas hingga ke ujung kaki. Ini pertama kali Haira memakai lingerie dan itu mampu menyulut gairah hingga ke puncak ubun-ubun.
"Kamu kan punya pabrik garmen, kenapa membelikan aku baju yang kurang bahan seperti ini?" protes hair malau- malu. Terus menarik bajunya hingga menutupi separuh paha nya.
"Kainnya habis, Sayang."
Jawaban yang tak masuk akal, namun sah-sah saja kalau sultan yang bicara.
Tangannya mulai bergerak menyentuh sesuatu yang membuatnya mabuk kepayang.
Hampir saja Mirza melakukan aksinya, dering ponsel menggema hingga ia mengurungkan niatnya sejenak.
"Kamu gak tahu ini jam berapa?" tanya Mirza ketus setelah menerima panggilan dari sekretarisnya.
"Maaf, Tuan. Saya cuma mau memberi kabar kalau kita harus berangkat besok. Kita tidak punya waktu lagi."
"Iya iya, pokoknya kamu siapkan semuanya."
Mirza menutup teleponnya sebelum Erkan menjawab nya. Ia kembali mendekati Haira. Mendekatkan bibirnya di telinga wanita itu.
"Puaskan aku malam ini, Sayang."
__ADS_1
Haira bagaikan patung hidup, ia mengangguk tanpa suara setelah tadi mendengar sendiri ucapan Erkan yang mempercepat jadwal keberangkatan suaminya.