
Mentari belum sepenuhnya terbit, namun Nada dan Erkan sudah keluar dari mansion utama setelah mendapat kabar dari penjaga bahwa Meyzin tidak mau pergi dan memilih tidur di depan gerbang. Mereka akan menemui pria itu dan menanyakan maksudnya.
"Bagaimana kalau sekarang Meyzin mau mengakuimu sebagai putrinya?"
Erkan membantu Nada memasang seat belt sebelum melajukan mobilnya.
"Aku yang tidak mau mengakuinya. Dia harus merasakan apa yang pernah dilakukan nya pada ibu." Seperti rencana awal, Nada tidak menggeser hatinya sedikit pun. Ia ingin membalas perbuatan Meyzin pada Veronika.
Mobil melaju dengan kencang membelah jalanan yang lumayan sepi, hingga dalam hitungan menit sudah tiba di depan perusahaan.
Benar saja, pemandangan yang ia lihat saat tiba adalah Meyzin yang duduk bersandar di dinding gerbang dengan kedua tangan merangkul kaki. Wajah pria itu tampak kacau dengan rambut acak-acakan.
"Itu ayahmu." Menunjuk Meyzin. Padahal Nada sendiri sudah melihatnya.
Sorot lampu yang menyala tepat di wajahnya menyilaukan mata Meyzin hingga pria itu terpaksa berdiri.
Hampir semalaman penuh ia terjaga dan bergelut dengan pikirannya. Kini ia kembali di hadapkan dengan pagi lagi.
"Apa kau akan langsung menemuinya?" tanya Erkan yang masih berhenti di depan gerbang, walaupun pintu gerbang sudah terbuka lebar.
Raut wajah Nada menunjukkan kekesalan yang amat mendalam. "Iya."
Nada membuka pintu lalu turun.
Meyzin tersenyum senang. Semua rasa lelah nya tak sia-sia saat melihat Nada yang terus berjalan ke arahnya. Akhirnya orang yang ingin ia temui datang juga.
Mereka saling tatap dengan jarak satu meter. Nada bisa melihat jelas mata Meyzin yang sudah digenangi dengan cairan bening, namun ia tak bisa menyimpulkan apa penyebab Meyzin menangis.
Apakah itu karena dirinya? Atau ada sesuatu yang lain.
"Bukankah kau sudah tidak punya hak atas kantor ini? Tapi kenapa masih di sini?"
Setiap dekat dengan Meyzin amarah nya kembali memuncak. Membayangkan rintihan ibunya saat kesakitan saat pria di depannya itu menyiksanya.
"Aku ingin bertemu kamu," jawab Meyzin lirih. Menggunakan sisa tenaganya untuk melangkah maju dan lebih mendekat lagi.
__ADS_1
"Untuk apa? Aku rasa semua sudah cukup dan tidak ada yang perlu dibicarakan. Jadi, mulai hari ini jangan ganggu aku, atau aku akan laporkan kamu ke polisi." Menunjuk wajah Meyzin.
Ternyata anakku sangat pemberani.
Meskipun Nada mengancam, Meyzin justru bangga dengan keberanian gadis itu. Tidak menyangka bahwa benih yang ia tanam di rahim Veronika tumbuh menjadi wanita cantik.
Dada Meyzin terasa sesak, bahkan saluran pernafasan seakan tersumbat saat mengingat masa lalu yang kelam itu. Hingga beberapa kali ia harus mensuplai oksigen untuk bisa bernafas.
"Lakukan saja. Aku tidak takut," jawab Meyzin santai.
Kedua tangan Nada terkepal sempurna. Ingin memukul Meyzin yang nampak baik-baik saja. Namun, ia urungkan mengingat wejangan dari nenek dan Haira yang memintanya untuk tidak gegabah.
Setelah memarkirkan mobil, Erkan menghampiri Nada dan berdiri di samping wanita itu. Beberapa penjaga pun ikut mendekat sewaktu-waktu dibutuhkan.
Dan tanpa campur tangan ku, dia akan mendapatkan suami yang sukses.
Tanpa meminta izin, Meyzin menarik tubuh ramping itu dan mendekapnya dengan erat.
"Lepaskan!"
"Lepas, atau semua orang akan memukulmu sampai mati," ancam Nada dengan suara lantang.
Semua penjaga sudah siap menjalankan perintah, justru Meyzin malah mengeratkan pelukannya. Menikmati hangatnya memeluk seorang putri yang tak pernah diharapkan kehadirannya.
"Apapun yang akan kau lakukan, aku akan terima," bisiknya di telinga Nada.
"Hajar dia!" teriak Nada yang langsung dilakukan oleh bawahan.
Erkan hanya bisa diam menjadi penonton saat beberapa penjaga mulai melayangkan pukulan di punggung dan kaki Meyzin. Tidak ingin mencegah aksi brutal mereka. Mungkin dengan begitu akan sedikit meredakan emosi Nada.
Tidak ada perlawanan, Meyzin tetap merengkuh Nada dengan erat. Bagian pipinya pun penuh dengan cakaran gadis itu. Rasa sakit di sekujur tubuh itu tak seberapa dibandingkan yang dirasakan Veronika.
Bogeman dan tendangan terus bergulir mendarat hingga sesekali membuat Nada tersentak ke belakang. Ia mencoba untuk tidak memiliki belas kasihan pada orang yang sudah membuat hidup ibunya menderita. Meskipun dalam hati mulai ada rasa iba, bisikan setan terus merasuki otaknya.
Bagaimanapun juga dia adalah ayahmu, dan kau hadir di dunia karena adanya dia.
__ADS_1
Ucapan Haira melintas membuat air matanya menetes. Nada menguar kepalan tangannya saat ia tak mendengar kata maaf meluncur dari bibir Meyzin. Tubuhnya terasa berat seakan tertimpa batu balok. Bersamaan dengan itu, tangan Meyzin melepaskan pelukannya.
"Ayah," panggil nada lirih. Jantungnya berdegup kencang saat pria yang beberapa saat mendapatkan pukulan itu ambruk di tubuhnya dengan kedua mata terpejam.
Erkan yang tahu akan runtuhnya Meyzin langsung menangkap punggung Nada dari belakang. Sedangkan beberapa orang membantu menahan Meyzin supaya tidak tersungkur.
"Kamu gak papa?" Erkan memastikan bahwa Nada baik-baik saja.
Nada mengangguk cepat lalu berjongkok, ia menumpahkan air mata di samping tubuh Meyzin yang berbaring tak berdaya. Ada sedikit penyesalan karena sudah membuat ayahnya babak belur, meskipun itu belum cukup untuk membalaskan dendam ibunya, tetaplah Nada adalah seorang anak yang tak mungkin tega menyakiti orang tuanya secara berlebihan.
"Ayah bangun! Aku belum puas memukul ayah." Nada menarik kerah baju Meyzin. Menggoyang-goyangkan lengan pria itu dan sesekali menampar pipinya.
"Kalau ayah tidak mau bangun, aku tidak akan menemui ayah lagi," imbuhnya dengan diiringi derai air mata.
Tidak ada pergerakan, sepertinya Meyzin benar-benar tidak mendengar ucapan Nada yang bernada ancaman itu.
Erkan memeriksa denyut nadi Meyzin yang ternyata masih berjalan.
"Sepertinya ayah kamu pingsan."
Nada menjerit histeris lalu memeluk Meyzin. Sebenci apapun tak dapat dipungkiri jika sebenarnya ia merindukan kasih sayang dari orang tua kandung yang kini tak mungkin didapatkan dari seorang ibu.
"Ayah bangun! Jangan tinggalin aku, cukup ibu yang pergi, aku mohon."
Erkan ikut menitihkan air mata dan memeluk Nada dari belakang.
"Cepat bawa Tuan Meyzin ke rumah sakit!" titah Erkan pada beberapa pengawal yang baru datang. Sebelum pergi, ia sengaja mengirim beberapa orang, takut terjadi sesuatu di luar dugaan.
Nada ikut masuk dan duduk di samping Meyzin, begitu juga dengan Erkan yang selalu mendampinginya. Ia menghubungi Mirza dan memberitahu keadaan Meyzin saat ini.
"Tenang lah, ayahmu pasti baik-baik saja," ucap Erkan menenangkan.
Nada mengusap lembut wajah Meyzin yang bersandar di pundak Erkan.
"Apa yang harus aku lakukan kalau ayah sadar, Kak?"
__ADS_1
Erkan tersenyum jahil. "Pukul lagi, sampai dia mati." Lalu tertawa terbahak-bahak.