
"Gak bisa gitu dong, Sayang. Masih banyak proyek yang baru dimulai. Aku juga baru kemarin akan meluncurkan produk baru, belum lagi pertemuan penting dengan beberapa perusahaan yang terkemuka, job baru, masa iya dia resign dalam keadaan yang seperti ini?" protes Mirza dengan keputusan Erkan yang mendadak. Kepalanya hampir meledak saat mendengar laporan dari Nada.
Rincian pekerjaan yang bertumpuk-tumpuk tak bisa dilakukan sendiri membuat Mirza tak siap jika harus kehilangan Erkan.
Hening
Haira bisa merasakan kebingungan yang dialami Mirza jika saja Erkan keluar dalam waktu dekat. Namun, juga tak bisa memaksa sang sekretaris itu menemani suaminya.
"Aku gak selera makan." Meletakkan sendok dan garpunya lalu meneguk segelas air putih hingga kandas.
Nita sudah tak heran lagi. Saat ngambek, pasti Mirza tak mau menyentuh apapun termasuk makanan, meskipun perutnya lapar.
"Kamu tinggal cari lagi bisa, kan?" Deniz ikut angkat bicara.
"Coba kakak bayangkan, kalau aku harus ganti sekretaris dalam waktu dekat, pasti dia masih butuh membimbing cara kerja ku. Belum lagi ngurusin kehamilan istriku. Pokoknya Erkan gak boleh keluar sebelum aku siap," ucapnya menekankan.
Nita hanya tertawa dalam hati.
Alasan, bilang aja kalau hanya Erkan yang bisa memahami watak keras mu.
Nada hanya bisa melirik Haira yang nampak putus asa membujuk Mirza. Terdengar egois, namun ia juga harus memikirkan keadaan Meyzin yang masih dalam masa pemulihan. Juga menjaga perusahan yang sudah diserahkan pada calon suaminya.
"Aku punya pendapat." Fuad mengangkat tangannya.
"Apa?" Mirza terlihat meremehkan. Sebab, biasanya pendapat pria itu hanya iseng dan unfaedah.
"Biar Nada yang memegang perusahaan Tuan Meyzin. Dan Erkan tetap menjadi sekretaris mu."
"Tapi aku belum bisa seperti kak Mirza dan kak Erkan. Bagaimana bisa memegang perusahaan sebesar itu," bantah Nada yang juga bercita-cita ingin menjadi ibu rumah tangga setelah menikah. Bahkan ia akan berhenti bekerja dan hanya mengurus suaminya seorang. Bukan wanita karir yang sibuk dengan pekerjaan.
Haira mengusap bahu Mirza. Mengurai kekesalan pria itu yang nampak memuncak.
Panjang umur. Orang yang baru saja dibahas datang dengan wajahnya yang sedikit pucat. Ia tahu tidak mudah untuk pergi dari Mirza, namun juga tidak mungkin selamanya menjadi sekretaris. Sementara Meyzin dan Bahadir yang sebentar lagi akan menjadi keluarga itu membutuhkannya.
"Maaf, Tuan. Hari ini ada rapat," lapor Erkan dengan kepala menunduk. Dua tangannya saling meremas menunjukkan ketakutan nya.
__ADS_1
Hmmm
Mirza hanya melirik Erkan dan tak ingin berkomentar apapun.
Nada dan sang calon suami pun hanya bisa saling pandang tanpa menyapa. Padahal, dalam hati ingin saling menegur dan bertanya, namun ditahan mengingat situasi yang sedikit mencekam.
"Jangan marah lagi, nanti triplet gak mau dijenguk gimana?" bisik Haira yang mampu membangun semangat baru bagi Mirza. Hanya dengan itu saja, Haira berhasil mengembangkan senyum di bibir pria itu.
"Daddy berangkat dulu ya. Nanti kalau butuh apa-apa telepon aku." Mengecup kening Haira dengan lembut.
"Daddy jangan marah-marah terus ya, selesaikan masalah dengan kepala dingin bukan emosi," pesan Haira sebelum Mirza meninggalkan ruang makan.
"Iya, Sayang."
Erkan mengikuti langkah Mirza dari belakang. Mereka langsung menuju mobil tanpa saling bercakap.
"Maaf, Tuan. Ada yang ingin saya bicarakan," sapa Erkan sembari membukakan pintu mobil untuk Mirza.
"Apa ini tentang pengunduran diri kamu?" cetus Mirza dingin.
"Semalam saya sudah bicara dengan daddy dan kakek, dan mereka mengizinkan saya untuk bekerja dengan Tuan."
Bak diguyur air es, sekujur tubuh Mirza terasa sejuk, namun ia tetap pura-pura datar, dan sedikitpun tak menunjukkan kebahagiaannya.
"Lalu?" tanya Mirza cuek, bahkan tak memberikan respon positif untuk sang sekretaris.
"Lalu?"
"Ayo cepetan jalan," sergah Mirza yang berhasil memotong ucapan Erkan. Berharap pria itu tak berubah pikiran sebelum dirinya benar-benar siap mencari pengganti.
Sementara itu di mansion utama
Haira dan nenek serta Nada saling memeluk saat mobil Meyzin datang. Nada memang sudah memutuskan akan tinggal dengan keluarga barunya dan meninggalkan keluarga Haira. Ia berjanji akan merawat Meyzin dan Bahadir.
"Kakak pasti akan merindukanmu." Haira mengelus punggung Nada yang bergetar karena tangis.
__ADS_1
"Aku juga," lanjut Nada dengan menahan isakan kecil.
Nenek tersenyum. "Kalian hanya akan berpisah rumah, dan pasti masih sering bertemu." Nenek memeluk kedua cucunya bersamaan. Meskipun hatinya tak rela, ia harus tetap melepas Nada demi meraih kebahagiaannya.
"Onty mau ke mana?" tanya Kemal yang baru datang sembari menarik pucuk baju Nada.
"Onty mau pindah rumah, Nak." Nanti kita bisa main ke rumah nya Onty."
Nada memeluk Kemal dengan erat lalu menatap Meyzin yang sedang berbincang dengan Deniz di depan pintu kamar.
Beberapa pengawal mengeluarkan koper milik Nada, di dusul sang pemilik yang menghampiri seluruh keluarga Mirza.
"Terima kasih ya, Kak. Kalian semua orang baik, dan aku tidak akan melupakan kebaikan kalian." Memeluk Nita dan Aynur bergantian. Setelah itu memeluk Deniz dan Fuad.
"Pintu mansion ini terbuka untuk kamu, jangan sungkan-sungkan untuk datang," tutur Deniz kemudian.
"Terima kasih, Tuan. Saya tidak bisa membalas apa-apa selain ucapan terima kasih," imbuh Meyzin.
"Salam untuk Tuan Bahadir."
Dengan berat hati Nada meninggalkan keluarga yang selama ini menemani demi bisa bersama ayah kandungnya.
Lambaian tangan mengiringi saat mobil Meyzin meninggalkan mansion. Seperti ada sesuatu yang hilang, Haira merasakan kesedihan yang mendalam. Ia tak pernah menyangka akan dipisahkan oleh keadaan, bahkan adik tercinta yang dulu ia jaga sepenuh hati menemukan keluarga kandungnya.
''Kak Mirza tidak setuju kalau kak Erkan mengundurkan diri, Dad. Tadi dia marah besar." Nada mengucap dengan lirih, takut Meyzin kecewa karena tak bisa membujuk Mirza.
Meyzin tersenyum, mengusap rambut Nada dengan lembut. "Gak papa, dady sudah mengizinkan Erkan supaya dia bekerja dengan Mirza. Dia akan pergi setelah menjadi menantu di keluarga kita," ujar Meyzin seperti yang diucapkan pada Erkan semalam.
Mobil terus melaju dengan kencang yang membuat Nada bingung. Pasalnya itu bukan jalan menuju rumah Meyzin, akan tetapi ke arah di mana Veronika tinggal.
''Kita mau ke mana, Dad?" tanya Nada menyelidik, dadanya bergemuruh takut, mengingat nasib ibunya yang dulu pernah menjadi pelampiasan pria yang duduk di samping nya.
"Kita akan ke makam mommy mu. Daddy sudah berjanji akan sering berziarah ke sana. Maafkan Daddy yang tidak bisa menjaga mommy," ucap Meyzin penuh penyesalan.
Meskipun semua sudah berlalu, Meyzin tak pernah luput dari rasa bersalah, bahkan ia akan selamanya tenggelam dengan penyesalan yang tak berujung.
__ADS_1