
"Itu foto siapa?" Mirza menunjuk pigura besar yang menggantung di dinding. Mulai menerka sosok yang membuatnya penasaran.
"O, itu teman-teman putri saya setelah mereka lulus sekolah. Saya juga tidak tahu siapa saja, mungkin Margaret bisa menjelaskannya."
Menatap istrinya, memberi kode pada wanita itu untuk memanggil putri mereka yang saat ini tidak ikut makan.
Tak berselang lama, gadis cantik dengan rambut pirang dan memakai kacamata itu datang menghampiri daddynya.
"Ada apa, Daddy?" tanya nya. Lalu fokus pada Mirza yang memunggunginya.
Jadi ini tamunya daddy yang katanya sultan itu. Tampan banget. Margaret pun mengagumi Mirza yang memeng mendekati kata sempurna.
Umur Margaret sudah tiga puluh dua tahun dan dia sudah bertunangan dengan salah satu pengusaha minyak. Beberapa bulan lagi mereka akan melangsungkan pernikahannya dengan mewah.
"Tuan Mirza ingin tahu siapa saja nama teman kamu."
Tuan Billy mengatakan tujuannya memanggil Margaret.
Gadis itu melintasi Mirza dan menunjuk gambar dari sisi kiri. Menyebut namanya satu persatu dengan jelas. Tak hanya Mirza, Erkan pun ikut mendengarkannya.
"Kalau yang ini namanya Lucinta dan Lunara. Mereka saudara kembar." Menunjuk gambar yang dari tadi ditanyakan oleh Mirza.
Deg
Jantung Mirza seakan berhenti berdetak. Sebuah fakta yang mengejutkan baginya, bahkan saat berpacaran selama tiga tahun pun ia tak tahu jika Lunara memiliki kembaran. Dari dulu ia tak pernah peduli dengan siapapun kecuali orang-orang yang dicintainya, termasuk keluarga Lunara.
Erkan ikut kaget dan meneguk airnya hingga kandas. Menatap Mirza yang nampak terpaku.
"Apa sampai sekarang kamu masih sering bertemu dengan Lunara dan Lucinta?" tanya Mirza memancing.
Wanita itu duduk di samping Tuan Billy dan menghembuskan napas dengan pelan.
"Lucinta dan Lunara tidak pernah akur. Dari dulu mereka sering bertengkar. Terlebih Lucinta, dia tega menyakiti Lunara demi memiliki pacarnya."
"Maksud kamu?" Mirza semakin menyelidik. Ucapan itu seperti membawanya ke masa lalu yang tak pernah diketahui.
"Saya tidak tahu di mana Lucinta berada. Katanya sih dia pergi setelah berhasil mendapatkan pacar Lunara. Dia sangat kejam dan melukai Lunara jika sampai membantahnya."
Erkan mulai menerka setiap kata yang diucapkan Margaret. Ia mencium ada sebuah fakta baru tentang kisah Tuannya dan Lunara.
__ADS_1
"Merebut, maksudnya bagaimana?" Erkan ikut angkat bicara.
"Dulu Lunara punya pacar tampan dan tajir, tapi setelah Lucinta tahu, ia merebutnya dengan menyamar sebagai Lunara. Dia juga tega mengasingkan Lunara supaya tidak menggagalkan pernikahannya dengan laki-laki itu."
Sekujur tubuh Mirza membeku. Ia sesekali menatap Erkan yang juga fokus pada Margaret.
"Apakah laki-laki itu orang dari Turki?" tanya Mirza dengan bibir bergetar, banyak kemungkinan yang dimaksud Margaret adalah dirinya. Dan ia harus memastikan supaya tak ada simpang siur.
"Iya, Tuan. Tapi saya tidak tahu karena waktu itu saya sendiri kuliah di luar negeri."
Itu Artinya perempuan yang selama ini aku anggap Lunara adalah Lucinta, dan perempuan itu juga yang sudah menghianatiku, lalu bagaimana dengan Lunara.
"Sekarang keadaan Lunara memprihatinkan, sebelum dibuang ke pulau pengasingan, Lucinta memfitnahnya dengan keji sampai nama Lunara jatuh. Sekarang dia bekerja di pasar tradisional untuk mengantarkan barang."
Semua sudah terjadi di masa lalu, tapi rasanya tak adil untuk Lunara yang tertindas.
Erkan menatap wajah Mirza yang tampak redup dan sayu. Ia tahu, pasti hati pria itu tersayat mendengarnya. Orang yang dicintainya pertama kali bukanlah orang yang mengkhianati nya, dan itu lebih menyakitkan.
"Itu artinya Lunara masih hidup?" ucap Mirza lirih.
"Benar, Tuan. Sekarang dia tinggal di perkampungan yang tak jauh dari sini."
"Apa Anda ingin berkunjung ke rumah Lunara, Tuan? Tapi ingat, sudah ada Nona Haira, pasti dia terluka jika sampai tahu ini semua."
"Tenang saja, aku hanya ingin tahu kebenarannya."
"Nona, tolong antarkan kami ke rumah Nona Lunara," ucap Erkan pada Margaret yang masih berada di samping Tuan billy.
"Baiklah, mari saya antar."
Erkan melajukan mobil nya sesuai petunjuk yang diarahkan Margaret, sesekali ia melihat Mirza dari pantulan spion yang menggantung. Pria itu nampak diam dengan mata yang terus tertuju ke arah luar.
"Apa dulu kamu dan Lunara bersahabat?" tanya Erkan memecahkan keheningan yang sempat tercipta.
"Iya Tuan, tapi setelah lulus sekolah kita semua berpencar dan tidak saling berhubungan lagi. Dan baru beberapa hari yang lalu saya bertemu dengannya."
Mobil mulai menjauh dari rumah Tuan Billy. Melintasi beberapa jalan yang lumayan sempit juga jauh dari kota besar. Margaret terus menunjuk jalanan menuju rumah Lunara.
"Berhenti di sini, Tuan," pinta Lunara sembari membaca tulisan yang terpampang di sisi jalan.
__ADS_1
Mirza turun lalu mengikuti langkah Margaret yang ada di depannya.
Masih berharap orang yang akan ditemuinya bukanlah Lunara, kekasihnya dulu.
"Ini rumahnya, Tuan."
Margaret menunjuk rumah sederhana yang berdiri di sisi jalan. Menurut Mirza rumah itu tak layak huni.
Margaret mengetuk pintu dengan pelan dan memanggil nama Lunara. Tak berselang lama, terdengar suara seorang wanita dari arah dalam menyahut.
Kreeekkk
Pintu yang nampak lapuk itu dibuka dari dalam.
Benar saja, wanita yang membuka pintu adalah wanita yang tadi Mirza lihat di depan mall.
"M… Mirza," sapa seorang wanita yang ada di depan Mirza, Erkan dan Margaret.
Tanpa aba-aba, wanita itu berhamburan memeluk tubuh Mirza yang bagaikan patung. Berdiri tegak namun tak bisa berbuat apa-apa.
Margaret nampak bingung dengan sikap Lunara. Ia hanya bisa diam membiarkan mereka.
"Akhirnya kamu datang juga, Za." Tangis Lunara pecah, tangannya terus melingkar di punggung pria yang selama ini ia rindukan. Namun, tak ada niat bagi Mirza untuk membalas pelukan itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?" Erkan menyadarkan Mirza yang dari tadi hanya mematung tanpa kata, sedangkan Lunara sibuk menumpahkan air matanya di dada bidang sang kekasih.
Mirza mengangguk pelan. Matanya berkaca-kaca melihat keadaan Lunara yang sangat memprihatinkan.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Margaret.
"Dia pacarku yang direbut Lucinta, Ret," jawab Lunara dengan cepat. Ia melepas pelukannya lalu mengucapkan terima kasih pada Margaret yang sudah membawa Mirza.
"Aku ingin bukti kalau kamu benar-benar Lunara," ucap Mirza lagi.
Lunara tersenyum lalu menceritakan awal mereka berjumpa. Ia juga menceritakan perbuatan jahat Lucinta.
"Kamu ke sini mau menjemputku, kan?" tanya Lunara penuh harap. Menangkup kedua rahang kokoh Mirza.
Namun, dengan cepat pria itu menggeleng. "Tidak, di antara kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, aku sudah mempunyai istri."
__ADS_1
Lunara mendorong tubuh Mirza hingga pria itu tersentak ke belakang. Kebahagiaannya yang sejenak mampir kini kembali lenyap diterpa angin.
"Pasti Lucinta bahagia bisa menikah denganmu. Dia sudah berhasil merenggut kebahagiaanku dan orang yang aku cintai." Lunara kembali terisak mengingat luka yang pernah ditorehkan oleh kembarannya.