Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Tertunda


__ADS_3

Tidak ada yang paling bahagia selain pengantin baru, begitulah orang menggambarkan. Senyum merekah di sudut bibir Erkan dan Nada saat  menyambut tamu yang mengucapkan selamat. Setelah prosesi pernikahan yang berjalan lancar. Kini acara resepsi digelar dengan begitu megah dan meriah. 


Bukan hal yang tabu, setiap orang yang datang ke acara pernikahan pasti berpenampilan anggun dan glamour. Terutama kaum hawa. Mereka terlihat mempesona dengan ciri khas masing-masing. Namun, kali ini bukan sepenuhnya pengantin yang menjadi sorotan, melainkan wanita yang berdiri di sampingnya. 


Haira, wanita itu terlihat anggun dengan gaun yang melekat di tubuhnya. Meskipun perutnya buncit tak menyurutkan kecantikannya yang memang alami. 


Kebahagiaan tak hanya terpancar dari sang mempelai, tapi juga dari seluruh keluarga termasuk Meyzin dan Bahadir.  Mereka terlihat antusias mendampingi putrinya di pelaminan. 


"Apa kau tidak ingin menyusul seperti mereka?" Mirza menyenggol lengan dokter Hasad yang nampak termenung. 


Semenjak bertemu beberapa menit yang lalu, Dokter itu cenderung diam seperti tidak menikmati pestanya.


"Kalau ada orang mengatakan tidak ingin menikah, itu pembohong besar. Aku pun ingin menyusul mereka, Tuan. Tapi dengan siapa?"


Mirza menahan tawa. Benar sekali, kira-kira wanita mana yang mau dengan pria kaku seperti Hasad, belum lagi pekerjaannya sebagai seorang dokter tak  mempunyai waktu untuk memikirkan asmaranya. 


 


"Coba aja ganti nama, siapa tahu langsung ada cewek yang nyantol?"


Apa yang dikatakan Mirza ternyata tak jauh dari pemikiran Hasad, ia pun sempat berpikir seperti itu. 


"Apa nama memang berpengaruh, kenapa mommy memberiku nama Hasad padaku yang artinya iri?"


"Mungkin karena Nyonya Fallery mengutukmu. Dia tidak menginginkanmu lahir dan memberikan nama asal." 


Sialan. Menatap Mirza sinis. Setiap kali bersama pria itu pasti mencari keburukannya.


Layaknya tamu yang lain, Haira sebagai keluarga pengantin pun ikut berada di garda terdepan, nampak wanita itu  memegang perutnya dan sesekali duduk. 


Mirza yang melihat itu bergegas ke depan menghampirinya. Sebab, ia tak pernah mengalihkan pandangannya dari sang istri. Walaupun keberangkatan mereka saling diam tak menyurutkan perhatian pria tersebut. 


"Kalau kamu capek istirahat saja. Acaranya masih sangat lama, jangan dipaksa." Berbisik seraya mengusap kening Haira yang dipenuhi dengan peluh. 


Terpaksa Haira mengikuti saran Mirza daripada tumbang sebelum waktunya. 


Setelah membantu Haira turun, Mirza menghampiri sang nenek. 


"Nenek mau ikut turun?" Nenek Zubaida menatap Nada yang menggeleng, itu artinya tidak mengizinkannya untuk pergi sebelum selesai. 

__ADS_1


"Nanti saja, jaga Haira dengan baik, Nenek gak papa."  Baginya ini pun momen penting. Meskipun Nada bukan cucu kandung tetap saja gadis itu sangat berarti. Sedangkan, nenek tak bisa menyaksikan pernikahan Haira kala itu. 


Bersama dengan beberapa pengawal, Mirza membelah kerumunan. Mereka masuk ke sebuah ruangan khusus setelah pamit pada saudara yang lainnya. Membantu Haira berbaring lalu menyelimutinya. Hampir saja melangkah pergi, tangan Mirza ditarik dari belakang yang membuat sang empu terkejut. 


"Jangan pergi, aku gak mau tidur sendiri."  Berbalik dengan ucapannya saat di rumah, sekarang Haira mengharapkan sang suami berada di sisinya. 


Tidak ada penolakan, Mirza langsung meloncat kegirangan. Ikut berbaring di sisi wanita itu. Seperti kebiasaan sebelum tidur,  membacakan dongeng untuk ketiga anaknya. 


Selang lima belas menit, Haira sudah nampak terlelap, napasnya terdengar teratur serta genggaman tangan terlepas. 


Mirza  melambaikan tangannya tepat di wajah Haira. Memastikan bahwa wanita itu benar-benar tertidur. 


Sebab, masih ada satu yang diurus sebelum dirinya tertidur, yaitu Kemal.


Seperti yang dilakukannya pada triplet,  Mirza puan selalu menidurkan Kemal.


Merapikan penampilannya lalu keluar. Memerintah pengawal untuk tetap berada di depan pintu sampai dirinya kembali. 


"Kalau ada sesuatu yang mencurigakan, hubungi aku!" 


Melihat kiri kanan yang nampak sepi, kemudian berlalu. 


"Hati-hati, Nak. nanti jatuh." Mendekap putranya dengan erat. 


"Daddy, di mana Mommy?" tanya Kemal polos.


"Mommy istirahat, dedek bayinya capek, Kemal mau tidur sekarang apa nanti?" Menciumi pipi gembil bocah itu. 


"Nanti saja."


Suasana yang sangat ramai membuat Kemal lebih betah bermain. Mirza bergabung dengan yang lain. Di manapun berada mereka tetap membicarakan bisnis yang akhir-akhir ini semakin melebar. 


"Setelah ini biarkan Erkan bekerja di perusahaan Tuan Meyzin." Deniz mengingatkan. 


"Iya, Kak. Kemarin pihak kantor sudah interview beberapa orang yang akan menggantikannya, dan aku sudah menemukan. Meskipun tak sebaik Erkan bisa diasah dengan pelan."


Di tengah perbincangan Mirza dsn Deniz,  seorang wanita cantik berseragam hotel datang. 


"Ada tamu yang ingin bertemu dengan tuan Mirza."

__ADS_1


"Suruh dia masuk!'' titah Mirza yang tahu siapa gerangan yang datang. Sebab,  sebelumnya mereka sudah janji akan bertemu di tempat itu. 


Seorang pria berdiri di belakang pintu,  meskipun tubuhnya tak se kekar Erkan, pria itu terlihat tampan dan wibawa. 


" Kamu yang akan menjadi sekretaris Mirza?" Deniz yang melayangkan pertanyaan. 


Fuad pun ikut melihat penampilan pria itu.


"Iya, Tuan,"  jawab nya membungkuk ramah. 


"Menjadi sekretarisnya Mirza harus sabar, dia orangnya emosian, tapi tenang saja gajinya sangat besar," cibir Fuad kemudian, yang membuat Nita dan Aynur terbahak. 


Hampir lima jam berlalu, akhirnya pesta usai juga. Satu-persatu tamu berhamburan meninggalkan ballroom. Sebagian dari mereka ada yang masih berbincang dengan sang tuan rumah. 


Mirza menatap jam yang melingkar di tangannya. 


Kemudian menghampiri Kemal yang masih sibuk bermain dengan kedua saudaranya. 


"Ini sudah terlalu malam, Nak. Waktunya tidur," ajak Mirza dengan lembut. 


Kemal menggeleng tanpa suara. Menunjukkan beberapa mainan yang ada di tangannya 


"Tapi Daddy sudah ngantuk." Dilihat dari matanya yang sayu pria itu sudah tak tahan untuk segera menikmati pulau kapuk nya. 


"Kamu ke kamar aja dulu!" suruh Nita. Biasanya juga sang kakak yang mengantar, hanya saja saat ini mereka berada di hotel yang pasti keadaannya tak seperti di rumah. 


"Selamat tidur, Daddy." Kemal melambaikan tangannya ke arah Mirza, begitu juga sebaliknya, dan itu terus mereka lakukan sebelum tidur. 


"Nanti kamu tidur dengan siapa?" tanya Fajar pada Kemal.


"Dengan __" Kemal menghentikan ucapannya saat melihat Nada dan Erkan melintas. 


"Onty,"  teriak Kemal yang membuat Nada seketika menoleh. 


Kemal berlari, berhamburan memeluk Nada. "Malam ini aku mau tidur dengan Onty," pinta bocah itu penuh harap. 


Erkan lemas seketika, waktu yang dinanti kembali terhalang oleh makhluk titisan Tuannya. Tidak mungkin ia menolak permintaan Kemal, yang pasti akan berujung maut jika Mirza tahu. 


"Ya sudah, malam ini Kemal akan tidur dengan Onty Nada." Erkan menggendong tubuh mungil itu dan membawanya ke kamar. 

__ADS_1


Masih ada malam-malam berikutnya yang pasti sudah melambai ingin dilewati sang pengantin. 


__ADS_2