Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Hari pertama sekolah


__ADS_3

Setelah berbicara dengan seseorang dari balik ponsel. Mirza masuk ke dalam rumah. Menghampiri Haira yang masih sibuk merapikan penampilannya di depan cermin. 


"Ayo, Sayang!" Mirza melihat jam yang melingkar di tangannya. Ia sudah tak sabar ingin segera menghabiskan malam berduaan. Saat ini Kemal sudah terlelap di kamarnya sendiri. Ditemani bi Enis dan pelayan yang lainnya. 


"Iya, Sayang." Haira meraih tas tangannya lalu keluar menghampiri sang suami yang sudah siap. 


Malam ini Haira nampak cantik dengan balutan gaun panjang, warnanya tetap putih namun dengan model yang berbeda. Begitu juga dengan Mirza yang memakai setelan yang senada. 


"Kita mau makan malam di mana?" tanya Haira saat Mirza  membantunya memasang seat belt. 


"Nanti kamu juga tahu," jawab Mirza. 


Kali ini ia hanya membawa pengawal untuk mengikuti mobilnya dari belakang. Namun tidak untuk sopir. 


Mobil harus melaju dengan tenang. Entah ke mana tujuan Mirza, Haira pun hanya bisa diam dan sesekali mendengarkan Mirza yang menunjukkan beberapa tempat penting. Seperti hotel dan beberapa restoran milik keluarganya. 


"Ini juga pabrik garmen kamu, kan?" Haira menunjuk bangunan yang menjulang tinggi. Malam hari tempat itu nampak indah dipenuhi dengan lampu yang berkelip. Di sana ia pernah mengais rejeki hingga berakhir tragis. 


"Dan sekarang sudah menjadi milik kamu dan Kemal," jawab Mirza yang membuat Haira mengernyitkan dahi. 


"Kok bisa?" tanya Haira menyelidik. 


Selama tujuh tahun dia tidak tahu apa-apa tentang Mirza, akan tetapi banyak perubahan pada pria itu. Kesombongan yang dulu dibanggakan seakan runtuh. Kini ia hanya bisa melihat cinta di mata sang suami. 


"Bisa. Ini punyaku, dan aku bisa melakukan apa saja. Termasuk mengganti nama pemilik pabrik."


Haira memilih diam lagi. 


Mirza menghentikan mobil di depan restoran milik Nita. Itu adalah salah satu tempat favorit bagi mereka yang ingin makan malam romantis bersama orang terkasih, seperti saat ini yang dilakukan Mirza. Ia mendapat rekomendasi itu dari kakak perempuannya yang sudah menyediakan tempat khusus. 


"Silahkan nyonya Mirza!" Mirza mengulurkan tangannya membantu Haira turun.


Beberapa waitres menyambut kedatangan  mereka. Meskipun ini pertama kali Haira datang, wajah nya sudah tak asing di kalangan setiap orang. Selain sebagai istri Mirza, juga menjadi adik ipar pemilik restoran tersebut. 


"Silahkan, Tuan! Kami sudah menyiapkan tempat untuk Anda dan Nyonya."


Mirza mengikuti seorang wanita yang berjalan di depannya. Melewati beberapa pengunjung yang nampak menikmati hidangan. 


Sebuah ruangan yang didesain indah itu memanjakan mata. Ada sebuah meja dan dua kursi di tengah-tengah tempat itu. Lilin kecil menyala menghiasi sisi kiri kanan jalan. Kumpulan kelopak mawar yang  berbentuk hati di sudut ruangan pun nampak memukau. 


Mirza menarik kursi dan mempersilahkan Haira duduk. Setelah itu ia duduk depan nya. Sengaja tidak memesan musik, karena ia suka ketenangan tanpa orang lain. 

__ADS_1


"Apa kamu yang menyiapkan semua ini?" tebak Haira. 


"Tidak, Kak Nita yang membuat ini semua." 


Kak Nita memang paling bisa membuatku malu. 


Tangannya mengulur mengangkat gelas minuman yang berisi cairan berwarna merah keunguan. 


"Itu hanya sari buah anggur, minum saja." Haira segera meneguknya setelah mendapat penjelasan dari Mirza. 


Beberapa hidangan pun tersaji, di tengah dinginnya malam yang berkabut, Mirza tak lupa untuk memesan makanan yang mendominan menghangatkan. 


Satu jam berlalu, Mirza beranjak dan menghampiri Haira. Mengangkat tubuh wanita itu dan membawanya ke sebuah kamar yang ada di lantai atas. Untung ada jalan yang tidak bisa diakses sembarang orang, hingga Haira tetap tenang saat berada di gendongan suaminya. 


"Apa malam ini kita akan tidur di sini?" ucap Haira membantu memutar knop. 


"Iya, pokoknya kamu nikmati saja. Karena malam ini aku akan membawamu terbang." 


Mirza kembali menutup pintu dengan satu kakinya. Ia membaringkan Haira dengan pelan. Membuka satu persatu bajunya hingga menampakkan tubuh atletisnya. 


Di bawah cahaya yang redup, mereka saling melepas rindu yang sesungguhnya. Menyalurkan cinta yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. 


°


°


°


Mirza menyodorkan satu sendok makanan di bibir sang buah hati yang masih cemberut dan menutup mulut dengan rapat. 


Pagi ini Mirza harus membujuk Kemal yang sedikit marah karena melihat dirinya dan Haira baru pulang. Seperti yang diucapkan pada sang istri semalam, ia yang akan bertanggung jawab jika Kemal ngambek. 


"Daddy dan mommy dari mana? Kenapa gak ajak aku," teriak Kemal. Menatap Mirza dengan tatapan kesal. 


Aku lagi bikinin dede buat kamu.


"Tadi mommy dan daddy  belanja, Sayang. Sekarang Kemal makan dulu, nanti terlambat."


Sekali mengucap, Kemal langsung mau menerima suapan dari Mirza. 


Sungguh, seorang ibu memang tak bisa ditandingi. Mirza yang sudah berjam-jam saja tidak mampu melunakkan hati Kemal, sedangkan Haira sekali saja sudah bisa membuat bocah itu luluh. 

__ADS_1


"Ini tas nya, Nona." Bi Enis  membawa tas sekolah dan juga sepatu. Membantu Kemal memakainya. 


"Tuan kecil mau sekolah dengan siapa?" tanya bi Enis. 


"Mommy."


"Tapi, Sayang __" 


"Gak ada tapi-tapian. Aku sendiri yang akan mengantar Kemal setiap hari." Haira memotong ucapan Mirza. 


Dari dalam mobil, Kemal menatap bocah yang berlarian ke sana kemari, ia tersenyum saat melintasi mereka. Mirza yang menggendong nya, sementara Haira membawakan tas. 


"Tuan Mirza Asil Glora," sapa salah satu guru yang bertugas. 


Mirza hanya menanggapinya dengan senyuman kecil. Menerima jabatan tangan seorang pria yang belum ia kenal. 


"Saya kepala sekolah di sini. Silakan masuk, Tuan." Pria itu memperkenalkan diri pada Mirza dan Haira. 


Seperti pada umumnya, Haira dan Mirza mengisi beberapa formulir pendaftaran  yang diberikan pihak sekolah. Mereka mengisi sesuai identitas masing-masing. 


Ternyata sekarang aku adalah seorang ayah. 


Seperti sebuah mimpi, akhirnya Mirza menjadi kepala keluarga. Mempunyai istri yang cantik dan anak yang kuat, bisa membelah keadaan yang sangat rumit. Bahkan tak menyangka, pertemuan  mereka berawal dari sebuah musibah. 


"Nanti kira-kira pulangnya jam berapa?" tanya Mirza. Di hari pertama, ia tak hanya ingin mengantar, namun juga menjemput. 


"Jam sembilan, Tuan. Tapi jika anda dan nyonya sibuk, kami bisa mengantarnya," sahut salah satu guru yang juga ikut menyambut kedatangan Kemal. 


"Untuk hari ini saya akan menjemputnya sendiri, terima kasih dan semoga putra saya betah di sini."


Sisi kebaikan Mirza nampak dengan jelas. Tak seperti dulu yang selalu arogan dan menunjukkan kekuasaannya, saat ini ia bagaikan rakyat jelata yang ramah dan hormat pada mereka yang menjadi guru Kemal. 


"Da da da Mommy, Daddy." 


Kemal melambaikan tangannya ke arah Haira dan Mirza yang sudah tiba di gerbang. 


Haira membalas lambaian tangan Kemal sebelum ia benar-benar pergi. 


"Kamu mau pulang apa ikut ke kantor?" tawar Mirza pada Haira. 


Kalau pulang pasti akan memakan waktu yang cukup lama, akhirnya ia memilih ikut ke kantor. 

__ADS_1


Disaat Mirza membuka pintu mobil, tiba-tiba ada suara berat yang memanggil nama Haira dari belakang. 


Haira tersenyum melihat pria berjalan ke arahnya. 


__ADS_2