
Kehamilan Haira adalah Anugerah terindah yang hadir di tengah-tengah musibah. Tak lelah Mirza memanjakan wanita yang akan memberikannya putra kedua. Mengabulkan apapun yang Haira inginkan. Selalu ada untuk Kemal yang pernah kehilangan kasih sayangnya. Seperti saat ini, ia memilih menyibukkan diri untuk istri dan anaknya daripada harus bekerja.
Sedangkan Fuad, ia yang bolak-balik ke rumah sakit menjenguk Deniz yang masih dirawat. Memastikan seluruh keluarganya aman dari orang jahat. Namun, sudah semalam ia tidur di rumah atas perintah dari Aynur yang memintanya pulang.
Nita ikut bahagia dengan kabar itu. Sebagai kakak perempuan, ia pun membantu Mirza menyiapkan segala sesuatu untuk Haira yang kini mengandung keponakannya.
"Aku gak nyangka kalau Haira bakalan hamil secepat ini." Menepuk bahu lebar adiknya yang sedang mengaduk susu Ibu hamil.
Mirza tersenyum, ini bukan lagi hal yang membingungkan bagi Mirza. Sebab, hadirnya Kemal pun ia hanya menyentuh Haira sekali dan saat itupun tidak ada rasa cinta, melainkan kebencian.
"Kemal hadir sebelum aku mempunyai rasa cinta untuk mommy nya. Kak. Dan itu terlalu cepat bagiku." Mengucapkannya dengan penuh penyesalan.
"Waktu itu aku memaksa Haira minum pil KB, tapi Tuhan berkata lain. Haira tetap hamil anakku. Bukankah itu pertanda kalau kami berjodoh."
Ada benarnya, sekeras apapun Mirza membenci Haira. Faktanya, dia malah menanam cinta yang mendalam.
"Mengandung itu sangat berat, Za. Dan sekarang bersiaplah menjadi suami yang baik dan selalu memenuhi permintaan istrimu. Jangan Kecewakan dia lagi."
Nita meninggalkan Haira. Ia menghampiri Arini yang nampak melamun di dekat jendela dengan tatapan jauh ke depan.
"Ngapain, Rin?" tanya Nita duduk di samping gadis itu.
"Aku pengen jalan-jalan, gak enak banget dikurung seperti ini, Kak," keluhnya.
"Sabar, tunggu kak Deniz pulang, dia masih takut kalau ada musuh lain yang mengincar."
"Tapi aku bosan, Kak."
"Kita semua juga bosan berada di sini, tapi mengertilah, aku tidak mau salah satu dari kita mengalami seperti Haira."
"Ayang." Suara berat terdengar dari pintu kamar membuat Nita dan Arini menoleh. Ternyata itu adalah Fuad. Pria itu menyembulkan kepalanya di pintu kamarnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Nita dengan pelan, bingung dengan suaminya yang sangat manja. Bahkan, setelah pulang dari rumah sakit, Fuad terus mengajaknya berduel di ranjang bak pengantin baru.
"Sini!" Melambaikan tangannya ke arah Nita yang belum juga bergerak.
"Maaf ya, Rin. Kakak ke kamar dulu," pamit Nita yang terpaksa memenuhi panggilan suaminya.
Mereka ada pasangan untuk diajak bercanda. Nah, aku kalau bosan cuma bisa main hp dan anak-anak, gerutu Arini dalam hati. Kembali melanjutkan lamunan nya yang sempat terjeda.
"Apa?" tanya Nita menatap suaminya yang nampak cengar-cengir di depan lemari baju. Bukan itu saja, saat ini Fuad hanya memakai handuk kecil yang menutupi area sensitifnya dan sudah dipastikan meminta jatah seperti semalam.
"Kamu gak capek, kan semalam sudah berulang-ulang," ucap Nita mengambilkan baju untuk Fuad.
Sayangnya, Fuad tidak menerimanya dengan baik. Ia tidak memakainya dan melempar baju itu ke sembarang arah. Tangannya mengulur, menarik pinggang ramping sang istri. Wanita yang dinikahi dua belas tahun lalu itu sangat menggoda dengan bajunya yang lumayan seksi. Bagaimana tidak, Nita memakai baju berleher rendah dengan panjang diatas lutut. Mengekspos dadanya yang terlihat putih namun tetap sopan.
"Aku gak pernah capek sampai burungku sendiri yang tidak bangun," bisiknya dengan bibir yang mulai nakal. Sebagai seorang istri, Nita tetap memenuhi kewajiban yang memang seharusnya ia lakukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kamu yakin mau pulang?" tanya Aynur membantu mengelap keringat Deniz.
"Iya, lagipula aku sudah tidak betah di sini. Aku ingin tinggal di vila lebih lama lagi sebelum kita pulang ke rumah."
Satu hal yang tak bisa diungkapkan Deniz. Dia rindu pada kedua putrinya yang sampai saat ini tidak diizinkan untuk ke rumah sakit.
"Baiklah Tuan Deniz, aku tidak akan melarangmu lagi. Sekarang juga kita pulang."
Deniz tersenyum menyeringai melihat istrinya yang pagi ini tampak cantik jelita. Meskipun umurnya sudah kepala empat, tak menyurutkan kecantikan wanita itu yang pernah menyandang wanita tercantik di kampus.
"Malam ini kita bikin adik lagi untuk Havva dan Tsamara. Jangan kalah sama Mirza. Sebentar lagi dia punya anak, masa kita nggak?" goda Deniz yang membuat wajah Aynur merah merona.
Ternyata tak jauh dari Fuad dan Mirza yang terus ketagihan dengan sosok istri masing-masing. Di balik ketangguhannya sebagai pembisnis, Deniz yang sudah berumur empat puluh tujuh tahun pun masih semangat saat membahas itu.
__ADS_1
Wanita itu hanya menunduk malu mengikuti langkah suaminya menuju depan.
Beberapa penjaga siap mengawal Deniz sampai tujuan. Semenjak penyerangan dari Yusef yang tidak terdeteksi. Mereka tak menghentikan penjagaan, takut musuh lain memanfaatkan situasinya.
"Nanti malam Mirza menggelar pesta untuk kehamilan istrinya," ujar Aynur yang baru saja mendapat pesan dari Haira.
Deniz mengangguk senang. Itu memang harus dilakukan untuk menyambut calon keponakannya yang akan lahir.
Seperti Haira yang disambut meriah, kepulangan Deniz pun disambut antusias oleh sekeluarga. Terutama Nita, sang adik dan kedua putrinya serta keponakan dan Arini yang belum pernah melihatnya sekali pun. Mereka bergantian memeluk Deniz yang baru saja masuk ke villa.
"Mana yang sakit, Kak?" tanya Nita seperti yang sering ia pertanyaan dulu saat Deniz berantem.
Aynur membuka kemeja sang suami. Menunjukkan bekas jahitan di bahu yang lumayan panjang. Havva dan Tsamara pun ikut melihatnya.
"Apa ini masih sakit, Daddy?" tanya Havva sembari menyentuh bekas luka yang sedikit memerah. Matanya berkaca-kaca membayangkan saat daddynya itu berlumuran darah seperti yang sering ia lihat di tv.
"Tidak, Nak. Jangan khawatir lagi ya." Merangkul Havva dan Tsamara menuju ruang keluarga.
Acara pesta akan diadakan nanti malam. Deniz semakin memperketat penjagaan, meskipun mereka hanya merayakan dengan keluarga dan sudah berada di tempat yang aman, tetap harus waspada.
"Pokoknya aku gak mau makan itu," ucap Haira menunjuk kebab yang di depan Mirza. Disaat yang lain sibuk berbahagia karena anugerah yang bertubi-tubi. Mirza sibuk menikmati menjadi suami yang siaga.
"Lalu yang mana?"
Berjejer kebab dengan varian dan dari berbagai restoran, namun satupun tak ada yang dipilih Haira.
Wanita itu melirik Mirza sekilas.
"Aku mau yang ada di Indonesia."
Mereka yang ada di ruang tengah tertawa melihat penderitaan adik bungsunya.
__ADS_1