
Mirza membujuk Haira dengan ucapan lembut. Memberikan alasan yang masuk akal juga terus mengingatkan akan janjinya yang tidak ingin dikenal orang lebih luas lagi, terlebih seorang wanita.
Setelah sekian rentetan kalimat yang diluncurkan Mirza, akhirnya Haira setuju jika suaminya tetap memakai masker serta topi dan kacamata yang serba hitam. Dengan satu syarat, yaitu tetap saling bergandengan tangan, yang mana langsung disetujui Mirza.
"Bukan karena kamu malu mempunyai istri sepertiku, kan?" Haira kembali memastikan.
Mirza tersenyum mengelus pipi Haira. "Aku bersyukur, walaupun pertemuan kita kurang baik, setidaknya aku bisa menebus kesalahanku di sisa umurku."
Mirza langsung melajukan mobilnya setelah Haira terlihat tenang.
Perjalanan yang menyenangkan. Mirza terus disuguhi dengan senyuman manis Haira. Tak henti-hentinya wanita itu manja dan menyandarkan kepala di pundaknya yang sibuk menyetir.
Mobil Mirza mendarat di depan sebuah pusat perbelanjaan. Ia memarkirkan mobilnya di tengah mobil pengunjung lain. Setelah itu, membantu Haira membuka pintu. Sedikit saja membuat kesalahan akan berakibat fatal, dan itulah yang membuatnya terus siaga.
"Nada, kamu ajak Kemal bermain dulu."
Mirza memberikan sebuah kartu untuk adik iparnya itu. "Sekalian untuk kamu belanja. Pinnya aku kirim lewat pesan."
Mirza meraih ponsel milik Haira lalu mengirim nomor pin ke ponsel Nada. Haira menggandeng tangan nenek untuk masuk ke dalam. Tempat yang pertama kali mereka tuju adalah toko baju yang ada di lantai dua.
"Sekarang nenek shopping, biar aku yang bayar," ujar Mirza menunjuk beberapa baju yang berjejer di manekin.
"Seumur hidup nenek, ini pertama kali nenek dimanjakan," ungkap nenek Zubaida menyentuh punggung tangan Mirza. Seperti sebuah mimpi baginya. Setelah sekian lama hanya bisa membeli baju di pasar, kini ia bisa memilih baju di sebuah toko mewah dan besar yang pastinya mahal.
Mirza hanya bisa mengembangkan senyum. Di balik maskernya terukir wajah sumringah mewakili kebahagiaannya. Selama tujuh tahun ia sibuk bekerja dan mencari harta hingga lupa cara membahagiakan orang terdekat.
"Sekarang nenek puas-puasin, karena aku tidak bisa menemani nenek seperti ini terus," ucap Mirza berbisik. Menghampiri Haira yang sudah mulai sibuk memilih baju.
"Beli saja yang kamu suka, nanti kalau sudah, panggil aku."
Haira mengangguk. Ia mulai berhamburan bersama pengunjung lain untuk membeli sesuatu.
Dari jarak jauh, nampak dua orang yang berseragam itu mengawasi Mirza dengan tatapan curiga. Dari penampilannya pun berbeda dengan pengunjung yang lain hingga mereka memperketat keamanan.
Mengerahkan semua petugas untuk berjaga di akses pintu keluar masuk.
Mirza duduk di kursi besi ruang tunggu untuk menerima panggilan dari Erkan.
"Halo, Tuan. Saya sudah membawa Lunara ke pulau yang Anda sebutkan," ucap Erkan mengawali pembicaraan lewat telepon.
"Kerja bagus. Kamu pastikan dia tidak bisa kabur dari tempat itu. Jika perlu, ikat dia."
__ADS_1
Perintah Mirza membuat Erkan menelan saliva nya. Tak menyangka Mirza akan lebih kejam dari yang ia bayangkan.
"Ba—baik, Tuan. Akan segera saya laksanakan," jawab Erkan terputus-putus.
Baru masuk ke pulau yang tak berpenghuni saja sudah membuatnya merinding, apalagi harus tinggal dengan tangan terikat. Erkan tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada Lunara selanjutnya.
Mirza menghampiri Haira yang nampak kesusahan mengambil baju yang ada di atas. Ia lalu mengambilkan nya dan menempelkan di tubuh sang istri.
"Kayaknya kamu gak cocok pakai baju ini," protes Mirza melempar baju itu ke rak.
Lantas, ia mengambil dres panjang yang berwarna putih lalu menempelkan di tubuh Haira. "Yang ini akan lebih cantik," ujarnya kemudian.
Bukan bajunya yang menjadi pusat perhatian Haira, namun orang yang mengambilnya yang saat ini memilih baju untuknya.
"Sepertinya kamu memang harus menyiapkan semua kebutuhanku. Aku tidak terlalu pintar memilih baju."
Mirza menghentikan aktivitasnya. Jantungnya berdegup tak karuan, ketar-ketir dengan ucapan Haira. Apakah itu memang keinginan, atau hanya sindiran karena ia sudah lancang berkomentar.
"Ma—maaf, Sayang. Aku hanya __"
"Ayolah, Kak. Pilih lagi, aku suka apapun yang kamu beli." Mendorong Mirza ke arah baju yang berjejer rapi.
Huh
"Tempat ini sudah dikepung." Tiba-tiba suara dari pengeras menggema. Semua pengunjung panik, bahkan dari sebagian para wanita menjerit.
Haira menggenggam erat tangan Mirza yang ada di samping nya. "Ada apa ini, Kak? Apa di sini ada orang jahat?" tanya nya berbisik. Matanya menatap beberapa petugas yang ada di depan pintu.
Apa mungkin ada anak buah Yusef?
Mirza mengabsen setiap pengunjung yang diam di tempat.
"Aku gak tahu," jawab Mirza setelah tak menemukan yang mencurigakan. Otaknya langsung mengingat Kemal yang saat ini bersama Nada.
Mirza langsung menghubungi adik iparnya, memastikan bahwa mereka baik-baik saja.
"Halo, Nad. Di mana Kemal?" tanya Mirza masih dengan suara pelan.
"Dia lagi main, Kak. Memangnya kenapa?"
"Gak papa, pokoknya jaga dia, tempat ini tidak aman."
__ADS_1
Setelah mendapat jawaban dari Nada, Mirza mematikan ponselnya lagi.
Dua orang polisi masuk lalu memeriksa beberapa pengunjung. Kemudian mereka berjalan menghampiri Mirza dan Haira, sedangkan nenek berdiri jauh dari mereka dan tak berani ikut mendekat.
Udara ac menjadi engap. Dada Haira terasa sesak hingga harus mensuplai oksigen untuk bisa bernafas.
Mirza membuka kaca mata menatap polisi tanpa rasa takut.
"Selamat siang, Tuan," sapanya.
"Siang," jawab Mirza datar.
"Ada apa?" tanya Mirza lagi.
"Silahkan buka topi dan masker, Anda!" titah nya.
Mirza menatap beberapa pengunjung yang saling berbisik. Keadaan yang cukup rumit dan membuatnya bingung.
"Buka, Kak!" pinta Haira penuh harap. Ia takut polisi itu akan menangkap Mirza karena tampilannya yang meresahkan.
Akhirnya Mirza membukanya seperti perintah polisi itu.
Semua mata yang tadinya menatap curiga kini terpana dengan ketampanan nya. Bahkan sebagian dari mereka sampai melupakan pasangannya sendiri.
"Maaf, Tuan. Ternyata kami salah orang," ucap polisi itu lalu pergi.
Haira mengelus dadanya. Apa yang ditakutkan tidak terjadi. Sekarang, ia bisa berbelanja dengan tenang.
"Memangnya mereka kira aku siapa? Bu ronan?" gerutu Mirza semakin kesal. Ia kembali mengambil beberapa baju untuk Haira.
"Itu karena kamu menutup wajah, pantas saja mereka curiga."
Haira menoleh ke belakang, dan betapa terkejutnya melihat beberapa orang sudah mematung di sana.
Eh, mereka ngapain?
Haira beralih menatap Mirza yang sibuk memilih baju. Sepertinya pria itu tak tahu menjadi pusat perhatian.
Apa mereka mengagumi ketampanan kak Mirza? imbuhnya yang membuat amarahnya memuncak ke ubun-ubun.
"Kakak, aku mau pulang." Meraih tangan Mirza dan mengajaknya keluar. Ia sudah tak tahan dengan tatapan mereka semua untuk suaminya.
__ADS_1
"Sayang, aku belum selesai, masih banyak baju yang belum aku beli."
Mirza berjalan mengikuti langkah lebar Haira. Paham dengan apa yang terjadi saat membelah kerumunan. Ia hanya menahan tawa melihat istrinya yang nampak cemburu.