
Mirza melepas jarum infus yang menghiasi punggung tangannya. Menyibak selimut yang membalut tubuhnya lalu turun menghampiri Erkan yang berjaga di depan pintu. Mengabaikan rasa ngilu di area sensitifnya.
"Di mana Haira? Aku harus bertemu dengannya. Aku akan menjelaskan apa yang terjadi."
Erkan yang sudah mendengar penjelasan dokter itu pun ikut iba dengan musibah yang menimpa Tuannya.
"Tadi nona Haira bilang akan pergi untuk menenangkan diri, Tuan."
Kepergian yang pernah Haira lakukan tidak boleh terulang lagi. Ia tidak mau kehilangan mereka untuk yang kedua kali.
"Aku harus mencarinya." Menyeret kakinya yang terasa berat. Tak peduli dengan kondisinya yang lemah. Ia harus secepatnya menguak semuanya.
Setibanya di ujung lorong, Mirza menghentikan langkahnya saat melihat Deniz dari arah berlawanan.
"Kak, bantu aku." Mirza berhamburan memeluk sang kakak. Ia tak bisa membendung air matanya. Disaat itu juga dokter datang dan menjelaskan lagi pada mereka tentang obat yang membuat Mirza tak bisa mengendalikan dirinya. Yaitu obat perangsang yang melebihi dosis, jika terlambat dibawa ke rumah sakit akan berakibat fatal baginya.
"Kamu yang sabar." Kali ini Deniz tak mau menyalahkan Mirza setelah mendengar keterangan dari dokter.
"Kakak dengar sendiri, kan? Aku tidak bersalah. Sedikitpun aku tidak ingin menghianati Haira. Aku mencintainya," ucap Mirza di sela-sela tangis.
Di tengah musibah yang melanda, Nita pun ingin tertawa melihat adiknya yang sangat cengeng, bahkan ia tak percaya kalau Mirza adalah pria kejam yang membantai musuh dengan cara tak berperikemanusiaan. Tapi jika menyangkut perasaan, pria itu akan menangis layaknya seorang wanita.
Cobaan apa lagi yang menimpa adikku. Semoga dia lebih kuat menghadapi masalah yang terus menerpanya. Dan semoga dia bisa menjadi pemimpin dalam rumah tangga yang di bangunnya.
Deniz dan Nita pun selalu berdoa untuknya.
Deniz mengusap punggung Mirza yang bergetar. Namun, ia juga tak bisa memberi tahu begitu saja tentang keberadaan Haira saat ini. Ia harus menghormati keputusan adik iparnya yang ingin menyendiri untuk sementara waktu. Mungkin dengan begitu, akan membuat Mirza berpikir keras saat mengambil keputusan, dan tidak sembarang menolong orang lain.
Nita pun ikut memeluk sang adik yang masih tampak pucat. Kejadian tadi pasti pukulan keras bagi Mirza. Ia tahu adiknya itu bukan tipe laki-laki hidung belakang dan mudah goyah, namun itulah yang terjadi, Haira menyaksikan suaminya yang hampir menyentuh wanita lain dan ia sebagai wanita pun ikut merasakan sakit yang mendalam.
"Kita pulang ya, kamu istirahat di rumah."
Terpaksa Mirza mengangguk. Berjalan dengan bantuan kedua kakaknya. Tubuhnya masih terasa lemas untuk melakukan sesuatu.
__ADS_1
Sesampainya, Mirza langsung berteriak memanggil nama Haira dan Kemal. Menyusuri setiap ruangan yang kosong. Hanya ada beberapa pelayan yang berlalu lalang menjalankan aktivitasnya.
"Mereka pergi, Za," jawab Nita yakin. Sebab Haira sempat pamit pada mereka dan mengatakan akan menenangkan diri.
Kaki Mirza terasa lentur sehingga ia ambruk seketika. Menatap nanar pintu kamar nya yang tertutup rapat.
"Aku gak mau dia pergi, Kak. Aku mau dia ada di sini bersamaku dan anak-anak. Dia berjanji akan selalu bersamaku dalam suka maupun duka," ucapnya lirih.
Nita membantu Mirza berdiri lalu menggandeng tangannya menuju kamar.
"Sekarang kamu harus minum obat. Supaya kamu cepat sembuh."
Merapikan rambut Mirza yang berantakan. Mencium kening pria itu. Meskipun sudah dewasa dan sama-sama berumah tangga, tak menyurutkan kasih sayang Nita untuk nya. Terlebih, Mirza adalah anak bungsu yang tidak mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya yang meninggal saat ia masih sangat kecil.
Banyak yang harus diperjuangkan hingga Mirza langsung mengambil obat yang ada di tangan Nita.
Deniz ikut masuk lalu duduk di samping Mirza.
"Kakak tahu tujuan kamu menolong Lunara itu baik. Tapi kau harus tahu, bahwa dia menganggap ini adalah kesempatan untuk masuk ke kehidupanmu lagi. Kalian tidak pernah putus, dan mungkin Lunara itu masih mencintai kamu dan akan melakukan segala cara untuk mendapatkan kamu, meskipun dengan merendahkan dirinya."
"Aku harus pergi, Kak." Mirza membuka lemari dan mengambil baju di sana, mengganti baju rumah sakit dengan kaos oblong dan celana jeans.
"Mau ke mana?" tanya Nita membantu merapikan baju Mirza dan menatap matanya yang nampak sembab.
"Aku harus buat perhitungan pada Lunara sampai dia enyah dari dunia ini. Aku akan membuatnya menyesal seumur hidup karena sudah berani mengusik keluargaku."
Mirza mengambil ponsel yang ada di tangan Deniz lalu menghubungi seseorang.
"Bawa Lunara ke tempat biasa," ujarnya.
"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Deniz memastikan. Ia tidak mau adiknya itu melakukan kesalahan yang fatal pada orang lain, namun ia juga tak bisa menentukan apa yang dilakukan Mirza jika sedang terbawa emosi seperti saat ini.
"Kakak tenang saja, aku akan melakukan apa yang seharusnya aku lakukan."
__ADS_1
Mirza keluar dari rumah.
Erkan membuka pintu mobil untuk Mirza lalu duduk di depan kemudi.
"Ke mana, Tuan?" tanya Erkan melihat Mirza dari pantulan spion yang menggantung.
"Gudang," jawab Mirza singkat. Membuka layar ponselnya dan menghubungi nenek Zubaida.
"Halo, Nek," sapa Mirza ramah.
"Ini Mirza," tanya nenek dengan suara tua nya.
"Iya nek, ini aku. Maaf tidak bisa menjemput nenek. Kapan-kapan aku dan Haira yang akan ke sana."
"Baiklah, nenek tunggu Kalian."
Mirza menutup sambungannya lalu menatap ke arah luar.
Sayang, kamu harus mendengarkan penjelasanku. Ini semua bukan salahku.
"Tuan, lihat ini!" Erkan menyodorkan ponsel ke tangan Mirza. Menunjukkan sebuah video berdurasi tiga puluh menit.
Sebuah putaran yang dengan jelas membuktikan jika Mirza tidak bersalah, bahkan dalam video itu nampak dengan jelas saat Lunara memasukkan sesuatu ke dalam minuman Mirza.
Selama ini Mirza memang tidak pernah memasang cctv di ruangannya. Ia merasa risih dan tak bisa bergerak bebas. Apalagi saat Haira datang, dan itu sangat mengganggunya.
"Kurang ajar!" geram Mirza, namun semua sudah terjadi dan ia hanya perlu membalas dengan perbuatan yang lebih keji.
"Apa kamu tahu Haira pergi ke mana?" tanya Mirza menatap Erkan yang sibuk membelah jalanan yang lumayan padat.
"Tidak, Tuan. Tapi sepertinya tuan Deniz dan Nyonya Nita tahu, tadi aku sempat mendengar mereka berbicara di telepon."
Pasti mereka menjaga Haira ku dengan baik. Sampai aku bisa membuktikan semuanya.
__ADS_1
Mirza sedikit lega. Setidaknya ia bisa menyelesaikan urusannya sebelum bertemu dengan Haira dan anak-anaknya kembali.