Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Salah lagi, kan?


__ADS_3

Ruang makan terdengar sangat ramai. Nenek yang baru saja bangun membuka pintu dengan pelan. Memastikan apa yang terjadi di sana. Menyembulkan kepalanya sedikit. Pandangannya mengedar ke arah Haira dan Mirza yang bercanda dan saling mengoles tepung ke wajah lawan. Sedangkan Nada  terlihat sibuk dengan penggorengan. Kemal pun ada di sana  tertawa melihat tingkah kedua orang tuanya. 


Apa yang terjadi?


Saking penasarannya, Nenek keluar. 


"Kemal mau makan apa?" tanya Nada dari arah dapur. 


Kemal mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk. Memikirkan beberapa menu yang ingin dimakan pagi ini. 


"Roti saja, Tante," jawabnya kemudian. 


"Kak, sudah." Haira menutup wajahnya yang sudah dipenuhi dengan tepung. Ia tak sanggup menerima coretan lagi dari Mirza yang begitu antusias. 


"Salah siapa, kamu yang mulai duluan." 


Mirza masih mencoba membuka wajah Haira. Satu tangannya masih menggenggam tepung dan siap mengoleskan di wajah Haira, sedangkan yang satu sibuk mencengkal tangan wanita itu. Saling tertawa bahagia.


"Aku minta maaf, aku gak akan mengulanginya lagi."


Haira memohon di depan Mirza.


Nenek melihat mereka bergantian. Lalu berhenti di meja makan. Banyak makanan yang sudah tersusun rapi. 


"Siapa yang memasak ini semua?" Pertanyaan itu membuyarkan canda Mirza dan Haira. 


"Aku, Nek," jawab Haira sedikit berteriak, membersihkan wajahnya dengan bantuan Mirza. 


"Dan ini aku," sahut Nada yang membawa dua mangkuk sup lalu meletakkannya di depan nenek. 


Mereka sudah akur. Apa Nada tidak marah lagi pada Haira? 


Nenek mengunyah makanannya dengan pelan. Ia hanya menerka-nerka apa yang terjadi selama dirinya tidur semalam. 


Setelah bersih, Haira menghampiri Nenek dan duduk di sampingnya. "Hari ini kita akan jalan-jalan," ucap Haira pada nenek. 


"Benarkah?" Nada menyahut, ia baru tahu rencana itu. Sebab, hubungannya  yang tak membaik membuat Haira bungkam dengan rencananya. 


Mirza ikut duduk lalu meneguk susu buatan Haira. Tak lupa tangannya mengelus perut rata, menyapa anak-anaknya. 


"Iya, nanti kak Mirza akan mentraktir kita semua." 


Mengerlingkan matanya di depan  Mirza. Terus menggoda dan mencairkan suasana hatinya yang akhir-akhir ini sedikit suram. 


Mirza tersenyum. Ia siap membobol kartu hanya untuk membahagiakan orang tercinta. 

__ADS_1


"Boleh menghabiskan dana berapa? Aku juga ingin ditraktir," imbuh Nada berdiri di tengah-tengah nenek dan Haira. Memastikan jika semua keinginannya kali ini terpenuhi tanpa mengeluarkan uang sepeserpun. 


"Terserah, khusus hari ini aku akan membelikan apa saja yang kalian mau," jawab Mirza akhirnya. Matanya tak teralihkan dari jerawat kecil yang menghiasi hidung sang istri. 


"Kamu ganti bedak?" Tangannya mengulur mengusap bibir Haira yang terkena susu. 


Ia menggeleng meraih tisu membersihkan tangan Mirza. Melirik sang empu yang terus menatapnya dan membuatnya malu. 


Nada mengajak Kemal pergi dan menyuapinya di ruang depan. Nenek yang dibuat baper pun ikut duduk dengan Nada. Meninggalkan Haira dan Mirza yang saling memadu kasih. 


"Hidung kamu berjerawat." 


Haira segera meraih ponsel dan memeriksanya. Benar saja, ada jerawat tepat di bagian pangkal hidungnya. 


"Tapi aku gak ganti bedak atau sabun. Bagaimana cara menghilangkannya?" rengek nya kembali, memastikan bahwa itu benar jerawat. Seserius apa Mirza memperhatikannya, sampai noda sekecil itu pun tak luput dari pandangan pria itu. 


Mirza terkekeh. Padahal, ia tak mempermasalahkan itu, tapi Haira tetap heboh. Ia hanya memberi tahu. Meskipun itu tak menyurutkan kecantikannya. Memang sudah terbiasa setiap wanita akan menganggap jerawat itu memalukan. 


"Dicium mungkin juga hilang." 


Wajah Haira merah seketika. Ia malu pada nenek dan juga Nada. Entah mereka mendengar atau tidak, ia harus bisa menjaga mulut Mirza supaya tidak terus keceplosan dengan ucapan mesumnya. 


Mirza menggigit roti bakar isi sayur. Akhir-akhir ini ia sering mengkonsumsi makanan vegetarian daripada daging. 


Haira tidak mengindahkannya, ia memilih pergi untuk bersiap setelah menghabiskan sepotong roti dan segelas susu. 


"Dari siapa sih, kok dari tadi gak berhenti?"


"Bukan siapa-siapa," balas Mirza santai. Meraih pinggang Haira hingga jatuh ke pangkuannya. 


Hampir saja Mirza mendaratkan bibirnya di pundak Haira, sang empu segera menjauhkan kepalanya hingga lelaki itu tak bisa menjangkaunya. 


"Ingat ya, ini di rumah nenek, jadi kamu gak bisa bebas." Kode keras bagi Mirza yang sebenarnya sudah tak tahan ingin mencumbu Haira. Apalagi sejak kejadian di kantor itu, ia belum sekalipun menyentuh sang istri dan sudah membuatnya kelabakan. 


Ting 


Lagi, ponsel yang baru di letakkan itu berdering. Haira yang kepo pun mengambilnya. 


Ternyata pesan dari Erkan. 


"Apa aku boleh membaca pesan dari Erkan?"


"Boleh," jawab Mirza tanpa berpikir ulang. 


Haira mengernyitkan dahi saat membaca pesan dari Erkan. 

__ADS_1


Nama nama yang terlibat. Terlibat apa? 


Haira membaca satu per satu. Dari sekian banyak nama, yang tertulis adalah nama-nama wanita yang membuat Haira bertanya-tanya. 


"Sayang, apa ini?" tanya Haira menyodorkan ponsel milik Mirza ke arah Tuannya. 


Mirza pun membacanya dengan serius lalu membaca pesannya yang ia kirim untuk Erkan. 


"O…" Mirza hanya ber oh ria memasukkan ponselnya ke dalam saku jaket. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa itu daftar nama orang yang suka ghibahin dia. Dan pastinya, Mirza akan berterima kasih pada mereka karena sudah ikut memikul dosanya. 


"Bukan apa-apa. Mereka perlu diberikan bonus karena sudah berjasa padaku."


Haira melanjutkan dandannya, ia tak mau terlalu serius menanggapi Mirza yang sering berbuat di luar nalarnya. 


Sebagaimana Haira, nenek dan Nada pun sudah siap. Mereka memakai baju dan jaket yang serba hitam. Bahkan Haira dan Mirza memakai jaket dengan warna dan gambar yang senada. 


"Kita ke mana dulu nih?" ucap Haira saat Mirza membukakan pintu mobil untuknya. 


"Terserah kamu, Sayang. Aku sebagai sopir akan mengantarkan kamu ke mana saja."


Cup 


Dalam keadaan di luar bisa-bisa nya Mirza mencuri ciuman di pipi Haira. 


"Belanja dulu," ide Nada yang sudah duduk di jok belakang. 


"Kita belanja dulu." Akhirnya Haira menyetujui ucapan Nada, dan sepertinya itu memang paling menarik bagi mereka kaum wanita. 


Mirza duduk di depan setir. Ia membuka dasbord lalu mengambil masker dan juga topi lalu memakai keduanya, tak lupa kacamata hitam. 


"Kenapa kamu memakai itu, Sayang?" Haira menatap lekat wajah suaminya yang hampir tertutup keseluruhan. 


"Gak papa, aku hanya gak mau dilihat perempuan di luaran sana. Lagipula, aku terbiasa berpakaian seperti ini." 


Namun, alasan itu membuat wajah Haira yang cantik jelita menjadi redup seketika. Sehingga Mirza yang hampir menyalakan mesin mengurungkan niatnya. 


"Kenapa lagi?" 


Mengangkat dagu Haira dengan jari nya. 


"Apa kau malu mempunyai istri sepertiku? Sampai kau menutupi jati dirimu di depan umum, apa aku begitu buruk di matamu?" 


Air mata Haira luruh yang membuat seluruh penghuni mobil kebingungan, termasuk Kemal. 


Salah lagi, kan?  

__ADS_1


Mirza hanya menepuk keningnya, dan terpaksa harus menenangkan Haira sebelum melajukan mobilnya. 


__ADS_2