
Meyzin duduk termenung. Matanya menatap ke arah kegelapan. Tidak ada siapapun disana kecuali dirinya. Seakan itu adalah ruangan yang tak berpenghuni. Akhirnya ia tersadar bahwa tempat itu adalah tempat yang sangat aneh dan mencekam.
"Aku ada di mana?" tanya nya pada diri sendiri. Menyusuri tempat yang baru pertama kali ia lihat. Kakinya mengayun ke arah sebuah pintu yang sedikit terbuka.
Pancaran cahaya putih muncul dari balik pintu menyilaukan mata. Meyzin menutup wajahnya dengan telapak tangan.
"Siapa itu?" pekiknya sembari mengerjap-ngerjapkan matanya.
Seorang wanita cantik dengan rambut yang terurai panjang berdiri tak jauh darinya. Kulitnya putih mengkilap dengan hidung mancung membuat siapa saja pasti akan terpana.
"Ternyata kau sudah melupakan ku?" ujarnya dengan lugas sembari memanyunkan bibirnya.
Wajah itu memang tak asing di mata Meyzin, namun ia bingung mau menyebutnya siapa. Sekilas wanita yang berbaju putih dan beraroma wangi itu mirip dengan Veronika, hanya saja wajahnya terlihat cantik bak remaja, sekelebat juga mirip Nada, yaitu putri nya.
"Veronika," ucap Meyzin dengan ragu-ragu. Takut salah menebak.
Akhirnya wanita itu tersenyum manis lalu melangkah maju. Lebih mendekat pada Meyzin yang masih tampak linglung. Meraih kedua tangan pria itu dan menggenggamnya dengan erat.
"Ternyata kau masih mengingatku. Apa kau tahu, apa yang aku inginkan di dunia ini?" tanya Veronika penuh teka-teki.
Meyzin menggeleng pelan. Matanya tak teralihkan dari mata Veronika yang memancarkan sebuah kebahagiaan.
"Aku ingin kamu memelukku disaat aku kedinginan, aku ingin kamu menyebut namaku Veronika, bukan pembunuh. Tapi itu tidak mungkin. Karena aku bukan siapa-siapa dan tidak berhak untuk meminta. Sekarang pergilah, tempat ini bukan untukmu."
Veronika mendorong tubuh kekar Meyzin hingga pria itu tersentak kaget.
Reflek, Meyzin mendekap tubuh ramping di depannya seperti yang ia lakukan saat bertemu dengan Nada. Sedikitpun tak memberi celah pada wanita itu untuk bisa lepas.
Air matanya luruh membasahi pundak Veronika. "Maafkan aku, maafkan aku karena terus menyakitimu. Apa kau tahu, apa yang ingin aku lakukan sebelum pergi dari dunia ini?" ucap Meyzin di sela-sela tangisnya.
"Apa, bukankah semua sudah kau dapatkan, lalu apalagi?" Veronika melepaskan pelukannya, menangkup kedua rahang kokoh Meyzin yang dipenuhi dengan air mata.
"Meminta maaf padamu. Dan akhirnya Tuhan mengabulkan doaku."
Veronika tersenyum lalu kembali mendaratkan kepalanya di dada pria itu.
"Akhirnya aku bisa memelukmu. takdir begitu baik dan kembali mempertemukan kita."
Berulang kali Meyzin mengecup kening Veronika dan saling menautkan jemarinya.
__ADS_1
Veronika terus mengulas senyum. Tak henti-hentinya menatap wajah Meyzin yang sangat tampan. Kemudian melepaskan pelukan itu.
"Aku harus pergi. Terima kasih karena kau sudah mau menerima anak kita. Jaga dia dengan baik, setidaknya aku bisa tenang."
Meyzin menggeleng cepat dan kembali merengkuh Veronika. "Jangan pergi lagi. Aku mohon," pinta Meyzin dengan penuh kesedihan.
Veronika mengusap air mata Meyzin yang terus luruh lalu menarik bibir pria itu hingga berbentuk senyum paksa.
"Aku tidak bisa bersama mu lagi. Karena aku sudah punya kehidupan sendiri. Tapi aku janji akan selalu menunggumu di sini. Dan berjanjilah kalau kau akan selalu mengingatku sampai kapanpun."
Veronika mengangkat jari kelingkingnya di depan Meyzin dan langsung diterima pria itu.
"Aku berjanji akan selalu ingat pada Veronika, perempuan yang sudah memberikan putri cantik untukku. Dan aku akan sering datang ke sini untukmu."
Veronika melepas tangan Meyzin dan berjalan mundur. Tanganya terus melambai-lambai ke arah Meyzin yang terus berteriak memanggil namanya.
"Veronika… jangan pergi!"
Nada yang dari tadi duduk di sofa terkejut mendengar jeritan sang Daddy.
Ia beranjak dari duduknya lalu berlari kecil menghampiri Meyzin yang masih memejamkan matanya.
Nada panik dan meraih tangan Meyzin yang terasa dingin, lalu mengusap wajah sang Daddy yang dipenuhi keringat.
"Daddy, ini aku." Nada menepuk pipi Meyzin. Dan seketika, pria itu membuka mata lebar-lebar. Mengatur napasnya yang masih memburu. Mengabsen sekelilingnya lalu menghentikan pandangannya di wajah Nada.
"Daddy kenapa?" tanya Nada cemas.
Bahadir menekan tombol darurat untuk memanggil dokter.
Ternyata aku hanya mimpi, tapi kenapa seperti nyata.
Mengepal kedua tangannya yang masih merasakan sentuhan lembut jemari Veronika. Ia tidak akan bisa melupakan wanita cantik yang baru saja hadir dalam mimpinya. Seakan tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi, bahkan pelukan tubuh ramping Veronika masih sangat terasa melekat di tubuhnya.
"Daddy mimpi buruk?"
Nada mengambil segelas air putih lalu membantu Meyzin meneguknya.
Aku tidak mungkin cerita pada Nada, itu hanya akan membuatnya bersedih dan teringat pada Mommy nya.
__ADS_1
Meyzin menggeleng pelan lalu meletakkan gelas itu di atas meja.
"Tapi tadi aku dengar daddy menyebut nama mommy," tanya Nada menyelidik. Memastikan jika ia tak salah dengar.
Meyzin memeluk Nada dengan erat. "Daddy hanya teringat dengan mommy mu."
Pintu terbuka lebar. Bersamaan dengan dokter yang datang, Erkan pun datang. Pria itu langsung menghampiri tuan Bahadir dan memberikan berkas yang tadi dibawa Laurent, sedangkan sang dokter memeriksa kondisi Meyzin yang mulai membaik.
Bahadir menepuk bahu lebar Erkan dan kembali menyerahkan berkas itu di tangan sang sekretaris.
"Sepertinya aku dan Meyzin sudah tidak berhak atas semua ini. Dan hari ini, aku serahkan semua perusahaan padamu."
Erkan menoleh ke arah Nada yang berdiri di samping Meyzin. Kemudian menatap sang calon mertua. Meminta penjelasan pada pria itu.
"Ambil Saja! Kamu bisa mengelola semua perusahaan yang aku miliki, uang penjualan perusahaan kemarin juga masih ada, dan aku tidak mengambilnya sepeserpun," terang Meyzin dengan jelas.
"Kenapa Daddy sangat mempercayaiku? Bagaimana kalau aku berkhianat dan membawa kabur semua ini?"
Bahadir tertawa lecil. Ternyata calon menantu cucunya itu tak hanya pintar berbisnis dan juga menyelesaikan masalah, tapi juga berdebat.
"Itu artinya kau siap-siap kehilangan Nada untuk selama-lamanya, karena sebenarnya hartaku yang paling berharga adalah dia, bukan yang kamu pegang sekarang ini."
Meyzin lega. Kini beban di hidupnya mulai berkurang dengan hadirnya Erkan dan putrinya.
Jika seperti itu, Erkan tak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya.
"Aku keluar dulu, Dad."
Erkan terlihat gelisah, entah apa yang ia pikirkan saat ini, yang pasti membuat Nada khawatir.
Nada ikut keluar dan duduk di samping sang sekretaris yang sebentar lagi akan menduduki tempat utama di perusahan milik Meyzin.
"Kakak kenapa?"
Erkan meletakkan semua sertifikat itu di pangkuan Nada. Menatap manik mata biru gadis itu.
"Bantu aku berbicara dengan Tuan Mirza, karena aku gak yakin dia akan mengizinkanku pergi."
Nada tertawa terbahak-bahak. Ternyata, dibalik keberaniannya, Erkan hanya takut pada satu orang, yaitu kakak iparnya.
__ADS_1