
Mirza duduk di depan Lunara. Erkan dan Margaret pun ikut duduk di ruang tamu yang lumayan sempit itu. Ia menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Juga memberi tahu pada Lunara kalau Lucinta sudah meninggal karena kecelakaan. Tak ada yang ia tutupi, termasuk kehadiran Kemal dan Haira yang kini menunggu di rumah.
Seharusnya Lunara bahagia karena dendamnya pada Lucinta secara tidak langsung terbalaskan, namun ia tak bisa lagi memiliki Mirza saat pria itu mengaku sudah menikah dan memiliki putra.
Perpisahan selama tujuh tahun memang bukan waktu yang sebentar. Banyak yang terjadi di antara keduanya. Jalan hidup mereka jelas berbeda. Jika di masa itu, Mirza hidup penuh dengan penyesalan karena sudah menyia-nyiakan Haira, Lunara harus berjuang untuk bisa kembali ke kota.
Sempat berpikir Mirza akan datang menolongnya, namun semua itu hanyalah harapan yang sia-sia. Faktanya, pria itu lebih percaya dengan apa yang ada di depannya.
Disaat Mirza serius menjelaskan pada Lunara, tiba-tiba ponsel yang ada di saku jasnya berdering. Dari suara yang menggema sudah dipastikan itu adalah Haira.
Sebelum menggeser lencana hijau, Mirza menatap Lunara dan yang lain bergantian.
"Halo, Sayang," sapa Mirza sambil tersenyum tipis. Tak segan-segan memamerkan kemesraannya di depan banyak orang.
"Sayang, badan Kemal panas, dia terus memanggil kamu," ucap Haira terputus-putus seraya menggeser ponselnya di depan Kemal yang berbaring lemah di atas brankar.
Mirza beranjak dari duduknya. Wajahnya diselimuti kepanikan.
"Apa sudah dibawa ke rumah sakit?" tanya Mirza antusias, matanya tak teralihkan dari wajah Kemal yang tampak pucat.
"Sudah, Za. Jangan khawatir, nanti juga sembuh, fokus saja dengan pekerjaanmu."
Kali ini Nita yang menjawab sambil memeluk Kemal yang nampak layu.
"Daddy cepat pulang, aku kangen," ujar Kemal dengan suara serak.
"Iya, Nak. Daddy akan segera pulang, kamu cepat sembuh ya."
Apa itu telepon dari istri Mirza. Kelihatannya keluarga mereka romantis banget. Lalu kapan mereka menikah.
"Maaf, aku harus pulang,'' pamit Mirza buru-buru. Namun, sebelum ia membuka pintu depan, Lunara kembali memanggilnya.
Wanita itu berjalan pelan menghampiri Mirza yang sudah berada di belakang pintu.
"Za, bantu aku untuk mengembalikan nama baik. Aku ingin bebas dan bisa bekerja seperti dulu," pinta Lunara memohon.
__ADS_1
Mirza menatap Erkan. Masih bingung harus menjawab apa dengan permintaan Lunara.
"Erkan yang akan mengurus semuanya."
Mirza melanjutkan langkahnya dan pergi, sekalipun tak menoleh ke arah Lunara yang masih mematung di depan pintu.
Aku tidak tahu wanita seperti apa yang berhasil memilikimu, tapi aku harap kamu bisa membantuku untuk kembali ke duniaku lagi.
Mirza lebih banyak diam, bukan memikirkan kehadiran Lunara, melainkan Kemal yang saat ini pasti merindukannya.
"Nanti malam aku akan menjalankan misi. Kamu bicara saja dengan Tuan Billy," titah Mirza pada Erkan yang langsung disanggupi pria itu.
Setelah mengantar Margaret pulang, Mirza dan Erkan kembali ke hotel. Mempersiapkan perlengkapan acara yang akan digelar nanti malam. Tidak ada waktu luang untuk bersantai, namun Mirza menyempatkan untuk menghubungi Kemal dan Haira.
"Bagaimana keadaan Kemal, Tuan?" tanya Erkan ikut cemas.
"Dia hanya demam, aku ke kamar dulu."
Mirza kembali menghubungi Haira lewat video call. Ia membaringkan tubuhnya di pembaringan dengan telanjang dada.
"Ada apa lagi, Sayang? Kemal baru saja tidur," ucap Haira sambil menyelimuti sang putra yang sudah terlelap.
"Sayang, ditahan dulu, bentar lagi kamu kan sudah pulang, jangan nakal ya," pinta Hiara mengingatkan.
Mirza memiringkan tubuhnya. Mengabsen setiap pergerakan Haira yang nampak mondar-mandir.
"Aku sudah punya kamu, gak akan mencari yang lain lagi."
"Beneran?" Haira ikut berbaring di samping Kemal. Memastikan kalau Mirza memegang ucapannya.
"Tujuh tahun aku mencarimu. Tidak ada nama perempuan lain yang aku sebut selain namamu, kamu pikir itu mudah. Aku tidak hanya berada di ambang rasa bersalah, tapi juga memendam cinta yang baru aku sadari, bahkan nama Lunara saja tidak mampu mengalihkan kamu dari ingatanku."
Haira merasa terharu, disaat suaminya itu memikirkannya, justru dirinya sibuk untuk bisa melupakan pria itu. Ia juga berniat tidak ingin menyebut namanya saat di depan Kemal.
"Makasih, Sayang. Aku percaya sama kamu. Aku akan selalu berdoa, semoga urusanmu cepat selesai, dan pulang."
__ADS_1
"Nanti kasih hadiah, ya?" pinta Mirza mulai menggoda.
"Iya, aku sudah siapkan hadiah yang spesial untuk kamu." Haira membalas ciuman di layar juga. Meskipun jauh tapi tetap di hati.
Mirza meminta Haira untuk istirahat, ia jadi tak sabar untuk segera pulang setelah mendengar ucapan sang istri yang terus memancing birahi nya.
Seperti yang dikatakan tadi siang, malam ini Mirza melanjutkan misinya. Memamerkan baju rancangan Carroline juga membuka promo besar-besaran. Tak lupa juga ia memanggil Lunara untuk datang ke tempat acara.
Berada di depan banyak orang bukan hal yang tabu.
Mirza naik ke atas panggung setelah namanya dipanggil. Sebagai pemimpin besar, ia harus tampil maksimal demi kelancaran acara.
"Selamat malam semuanya, perkenalkan nama saya Mirza Asil Glora, pemilik pabrik garmen Glora. Di sini saya akan menyampaikan bahwa promo akan dibuka satu minggu kedepan. Kami akan menawarkan berbagai barang trend masa kini."
Carroline ikut naik ke panggung dan menunjukkan rancangannya seperti yang ia lakukan di ruang rapat.
Sedangkan Mirza menjelaskan dengan detail dari bahan hingga harga yang terjangkau. Menjamin kualitas produk yang awet dan bagus.
Ia juga mengendorse Lunara untuk menjadi salah satu orang yang akan mempromosikan produk miliknya. Namanya yang pernah hilang di jagad hiburan, kini kembali mencuat dengan dukungan Mirza.
Pernah terjun di bidang pemodelan membuat Lunara mudah melakukan pekerjaanya, bahkan ia juga bisa menarik pelanggan dengan cepat.
"Sepertinya saya pernah melihat, Anda." Salah satu pembeli menatap Lunara dengan intens.
Mirza yang melihat hal itu langsung menghampiri Lunara yang nampak kebingungan.
"Ada apa ini?" tanya Mirza basa-basi, padahal ia sudah mendengar semuanya.
"Sepertinya saya pernah melihat Nona ini? Tapi Saya lupa di mana."
Mirza tersenyum memperkenalkan Lunara pada wanita itu. Ia pun menyebut nama Lunara dan mengakuinya sebagai model dari Turki. Tujuh tahun berlalu, membuat orang-orang pangling dengan nama maupun wajah wanita itu.
Misi berjalan lancar, Mirza lega, akhirnya ia bisa pulang besok. Satu yang paling Mirza inginkan, yaitu memeluk Haira dan Kemal.
"Erkan siapkan semuanya, aku akan pulang besok."
__ADS_1
Lunara yang tak sengaja mendengar ucapan Mirza itu pun menghampiri pria itu. "Za, apa aku boleh ikut pulang ke Turki?"
Ingin melarang, namun Mirza takut kalau ada orang yang kembali berbuat jahat pada Lunara. Dan pada akhirnya, Mirza mengangguk tanda setuju.