
"Semua sudah berlalu, kita hanya bisa berdoa semoga ibu kamu mendapatkan tempat terindah di alam sana," tutur nenek mengusap punggung Nada yang masih bergetar.
Gadis itu menangis di pelukan Erkan. Sepertinya saat ini ia mendapatkan tempat ternyaman untuk melepas semua yang bergejolak di dada. Kedua tangannya mencengkeram erat jas sang sekretaris yang sudah setengah basah karena air matanya. Juga kepala terbenam di dada bidang pria itu.
Haira ikut menangis, membayangkan saat Nada berada di makam, pasti hatinya hancur berkeping-keping melihat makam ibu kandungnya.
Itu mah kesempatan dalam kesempitan.
Mirza menatap Erkan sinis. Sepertinya pria itu sangat menikmati pelukan dari Nada. Suasana yang seharusnya sedih justru membuatnya bahagia.
"Tapi aku gak terima, Nek. Aku akan membalas orang yang membuat ibu menderita," kata Nada terputus-putus.
"Bagaimana kalau pelakunya adalah ayahmu sendiri," ucap Erkan lirih. Dari lubuk hati terdalam, ia sudah geram dan ingin membalas perbuatan Meyzin, namun ia tahan dan meminta persetujuan Nada sebelum melanjutkan misi untuk balas dendam.
"Apa kau akan tetap membuat perhitungan padanya?" imbuh Erkan.
Nada mendongak, karena kelamaan menangis, matanya sembab dan memerah.
"Aku dibesarkan oleh ibu dan ayahnya kak Haira. Bukan ayah kandungku, jadi aku akan tetap memberi pelajaran kepadanya supaya bisa menghargai seseorang, termasuk aku."
Erkan semakin yakin dengan rencananya yang akan menghancurkan Meyzin. Ia bisa menggunakan kekuasaan Mirza untuk itu. Apalagi saat ini Meyzin berada di ambang kehancuran dan itu memudahkannya.
"Apa kau tidak ingin melihat ayahmu sebelum dia hancur?" timpal Mirza yang ikut greget. Meskipun ia pernah memperlakukan Haira dengan kasar. Setidaknya menyadari dan mau mengakui anaknya, tidak seperti Meyzin yang melepasnya begitu saja.
Nada mengangguk cepat. Ia melepas tangan Erkan lalu berbalik menatap kedua kakaknya.
Haira menghampiri sang adik dan merapikan rambutnya yang berantakan.
"Yang kuat, buktikan kalau kamu bisa menjadi perempuan yang hebat tanpa campur tangan dia. Tunjukkan ke ayah kamu, kalau kamu tidak membutuhkan dia. Tapi __"
Haira menghentikan ucapannya, menatap semua orang bergantian.
"Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandung kamu, dan aku yakin kamu mempunyai cara yang elegan untuk membuatnya menyesal, jangan sampai kamu lupa, kalau kamu itu terlahir karena adanya dia," ucap Haira bijak, yang mana membuat Mirza terharu.
Setelah sedikit tenang, Nada memeluk Haira dan nenek. Kemudian menghampiri Erkan yang mengibas-ngibaskan bajunya.
"Kakak mau menemaniku, kan?" tanya Nada penuh harap. Sebab, hanya pria itu yang bisa membantunya.
Erkan tersenyum kecil. "Aku akan membantumu, tapi dengan satu syarat."
__ADS_1
Ucapan Erkan kali ini membuat semua orang tercengang termasuk Mirza. Ia mengangkat bahu saat Haira menatap nya penuh tanda tanya.
"A—apa itu?" tanya Nada gugup, takut syarat yang diajukan Erkan itu sulit ia lakukan.
Cih, beneran kan, pasti dia akan menuntut upah.
Tak henti-hentinya Mirza berburuk sangka pada sang sekretaris. Kebersamaannya yang sudah bertahun-tahun membuatnya bisa membaca wajah pria itu yang nampak mengharapkan sesuatu dari Nada.
"Apa kau mau menikah denganku?" Meraih tangan Nada dan menggenggamnya. Mungkin itu terlalu cepat, namun Erkan sudah tak bisa menahan apa yang dari kemarin mengusik nya hingga tak tenang.
"Nah kan, aku bilang pasti tujuannya itu," ceplos Mirza tanpa rem.
Plaaakkk
Seketika itu Haira memukul lengan kekar sang suami. "Bisa diam gak sih, kita dengar jawaban Nada," bisiknya di telinga Mirza.
Hanya gara-gara Erkan kau berani memukul ku. Awas kau, akan kubalas nanti, ancam Mirza dalam hati.
Nada menundukkan kepalanya. Ia malu untuk menerima lamaran dadakan itu, namun dari lubuk hati terdalam, ada rasa suka pada pria yang saat ini berdiri di depan nya tersebut.
"Ayo Nad, jawab!" Nenek menyenggol siku Nada dengan tangannya.
Kak Erkan orang yang baik, dia juga orang kepercayaan kak Mirza. Tidak ada alasan aku menolaknya.
"Aku mau," jawab Nada dengan satu tarikan napas.
Akhirnya Erkan bisa bernapas lega setelah mendapat jawaban sesuai ekspektasinya.
Nenek pun ikut lega. Kedua cucunya kini mulai meniti kehidupan baru bersama dengan pasangan masing-masing.
"Sudah cukup dramanya. Sekarang kalian pergi, sudah hampir malam. Aku sudah menghubungi Tuan Meyzin," titah Mirza yang ikut panas saat melihat Erkan bersikap romantis pada Nada.
Setelah pamit, Nada dan Erkan pergi meninggalkan mansion. Mereka pergi berdua mengingat Haira yang terlihat manja di pangkuan Mirza.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Kau mau ke mana?" tanya seorang wanita dengan nada ketus sembari menatap Meyzin dengan tatapan sinis.
"Aku mau bertemu dengan orang yang akan membeli perusahaan kita," jawab Meyzin merapikan penampilannya. Lalu mendekati wanita itu yang masih manyun.
__ADS_1
"Baiklah, jangan lupa beliin semua pesananku," pintanya dengan lembut, wajahnya berubah seketika setelah mendengar penjelasan Meyzin.
Sebuah kecupan mendarat di kening Meyzin. Bangga dengan suaminya yang terus memenuhi semua keinginannya, walaupun kini harus mengorbankan perusahaan, setidaknya ia merasa bahagia.
Selain pamit pada istrinya, Meyzin juga pamit pada Tuan Bahadir yang ada di ruang makan.
"Kamu yakin akan menjual perusahaan itu pada Tuan Mirza?" tanya tuan Bahadir memastikan.
"Iya, Tuan Mirza akan memberikan perusahaan itu untuk adik iparnya, dan sekarang aku mau bertemu dengan mereka."
Tuan Bahadir manggut-manggut mengerti.
Tak berselang lama, Meyzin tiba di sebuah restoran mewah. Pandangannya mengedar mengabsen setiap pengunjung yang berlalu lalang keluar masuk.
Lalu ia meraih ponselnya dan menghubungi Erkan seperti perintah Mirza.
"Anda di mana, tuan?" tanya Meyzin mengawali pembicaraan.
"Saya ada di meja nomor 22."
Setelah mendengar itu, Meyzin langsung menatap meja yang yang diucapkan Erkan. Benar saja, Erkan melambaikan tangan ke arahnya.
Dan di samping pria itu ada seorang gadis yang memunggunginya.
Apa itu adik iparnya Tuan Mirza?
Melangkah pelan, melewati beberapa meja hingga tiba di kursi yang di duduki Erkan.
"Selamat sore, Tuan," sapa Meyzin mengulurkan tangannya bersalaman.
"Sore, silakan duduk!" jawab Erkan ramah. Menunjuk kursi yang ada di depan Nada. Mendengar suaranya saja sudah membuat dada Nada meledak, namun ia tak boleh bertindak cepat dan harus menunggu hasil tes DNA keluar.
Deg
Jantung Meyzin berdetak kencang saat ia melihat wajah Nada. Gambaran yang menurutnya tak asing.
Veronika, dia mirip sekali dengan Veronika.
Meskipun gadis yang ada di depannya itu bukanlah wanita yang ia sebut, namun mereka sangat mirip, bahkan Meyzin tak lupa dengan tahi lalat Vero yang ada dibawah mata, dan itu sama persis dimiliki wanita yang saat ini ada di depannya.
__ADS_1
"Kenalkan Tuan, ini adik ipar Tuan Mirza. Namanya Nada. Dia yang akan membeli perusahaan, Tuan."