
Suasana masih terasa canggung. Tak ada yang berbicara. Meskipun sudah menghukum Meyzin, nyonya Alvero belum merasa puas. Mengingat dulu saat pria itu terus menghinanya.
Sebenarnya dalam hati sudah jatuh cinta pada Nada dan setuju menjadikan gadis itu calon menantunya, tapi setiap melihat wajah meyzin, amarahnya kembali memuncak.
Untuk mengucap kata yang seharusnya ringan terasa sangat sulit. Lidahnya kaku dan memilih diam.
"Hukuman apalagi yang akan kau berikan padaku?" Pertanyaan Meyzin membuat kening Erkan berkerut.
"Bersujud di kakiku seperti yang pernah kau perintahkan padaku."
"Mommy," pekik Erkan yang tak mengerti dengan cara berpikir wanita itu.
Mirza dan Haira pun tak bisa berbuat apa-apa, karena nyonya Alvero melarang mereka untuk pergi.
Mata nyonya Alvero berkaca-kaca. Hatinya terlalu sakit saat mengingat masa depannya yang hancur hanya karena pria yang saat ini duduk di depannya itu.
"Kau memang tidak pernah tahu apa yang dilakukan dia pada mommy. Dia yang menghancurkan hidup mommy. Cita-cita yang mommy impikan harus musnah hanya karena dia." Menunjuk Meyzin yang menunduk.
Sungguh, semua perlakuan Meyzin menjadi kenangan buruk yang tak pernah terlupakan. Terpahat di dada hingga rasa benci itu tak akan pernah bertepi.
"Jika dia tidak mau bersujud di kakiku, aku akan tetap melarangmu menikahi putrinya."
Disini tak ada yang merasa tersakiti selain Erkan dan Nada. Mereka adalah korban dari masa lalu orang tuanya. Masa yang seharusnya sudah selesai, tapi malah berbuntut serius dan rumit.
"Aku akan bersujud seperti yang pernah kamu lakukan di depanku," ucap Meyzin dengan lugas.
Erkan tak bisa berkata apa-apa. Kali ini entah kesalahan terletak pada siapa, yang pasti ia pun tak ingin kehilangan Nada.
Nyonya Alvero mengusap pipinya yang dipenuhi dengan air mata. Kakinya terus mundur saat Meyzin mulai berlutut di depannya.
Hampir saja wajah Meyzin menyentuh kaki nyonya Alvero, wanita itu menghentikannya dan pergi ke kamar. Menumpahkan sisa air matanya di sana. Mencoba untuk melupakan semuanya, walaupun ia berjanji tidak akan memaafkan, tapi kebahagian putranya itu lebih penting.
Sepasang tangan melingkar dari arah belakang. Kecupan pun mendarat di bahu nyonya Alvero yang masih bergetar.
"Maafkan aku karena mencintai anak dari orang yang mommy benci. Bukan maksudku untuk mengingat kan mommy pada masa lalu. Percayalah kalau Nada itu baik. Daddy Meyzin juga sudah berubah, bahkan bukan hanya mommy yang pernah tersakiti, tapi mommy nya Nada pun dulu tersakiti karena tak dianggap."
"Calon mertuamu itu memang jelmaan luwak. Bisa-bisanya anak secantik Nada terlahir dari benih laki-laki seperti dia."
__ADS_1
Erkan ingin tertawa namun ditahan, bukan saatnya untuk melawak. Setidaknya sekarang nyonya Alvero mau menganggap Meyzin sebagai calon mertuanya.
"Jadi bagaimana? Apa mommy merestuiku menikah dengan Nada?" Berbicara dengan nada lembut, takut ditolak mentah-mentah oleh mommy nya.
"Baiklah, mommy setuju kamu menikah dengan Nada."
Kebahagiaan yang tiada tara. Setelah berjuang hampir seharian penuh, akhirnya Erkan menemui titik terang.
"Tapi dengan satu syarat."
"Apa?" Erkan kembali ketar-ketir. Sebab, mommy nya itu penuh dengan teka-teki dan suka melakukan sesuatu yang terkadang di luar nalar.
"Mommy mau bertukar anak."
"Kok gitu?"
"Iya, kau yang jadi anak Meyzin, dan Nada yang jadi putriku."
"Kenapa?"
"Karena dari tadi kau yang terus membela Meyzin, mommy gak suka."
Mengecup kening nyonya Alvero lalu keluar. Menyampaikan permintaan mommy nya pada sang calon mertua.
Seketika itu juga Meyzin meminta supir untuk mengantar Nada ke apartemen Erkan.
"Daddy pergi dulu, ajak mommy mu menginap di rumah. Kalau dia tidak nyaman dengan keberadaan daddy. Daddy yang akan keluar dan tinggal di apartemen lain."
Erkan hanya mengangguk, meskipun itu tak mungkin ia lakukan.
Salut, hanya kata itu yang mampu Mirza ungkapkan dalam hati. Pengorbanan seorang ayah untuk putrinya yang jarang bisa dilakukan ayah di luaran sana. Dan itu mampu dijalankan oleh seorang Meyzin.
"Di mana mommy?" tanya Mirza menatap pintu kamar yang sedikit terbuka.
"Biasa, semedi, makan menyan, supaya kebal," jawab Erkan kesal. Kedatangan wanita itu benar-benar menguras otak dan tenaganya. Hari yang seharusnya untuk istirahat demi mempersiapkan malam pertama malah berubah tegang.
"Mommy… kata Erkan kau semedi dan makan menyan," teriak Mirza sengaja dan itu sukses menyulut emosi seorang ibu.
__ADS_1
Nyonya Alvero mengambil sapu yang ada di balik gudang lalu menghampiri Erkan.
"Sejak kapan kau kurang ajar pada mommy, hah?" pekiknya.
"Ampun, Mommy." Erkan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, takut hancur sebelum dipertontonkan di depan ribuan tamu.
Mirza mengelus perut buncit sang istri, dalam hati berdoa,
Semoga anak-anakku tidak somplak kayak mommy Alvero.
Mirza dan Haira pulang karena semua sudah beres. Mereka juga ingin mempersiapkan baju yang akan di pakai ke pesta pernikahan sang adik.
Satu jam setelah kepergian Meyzin, Nada datang. Mata gadis itu nampak sembab dan memerah, sudah dipastikan karena tangis.
Erkan mendekapnya dengan erat dan mengusap punggungnya dengan lembut.
"Semua baik-baik saja. Kedua orang tua kita sudah merestui hubungan kita. Jangan nangis lagi," tutur Erkan lembut.
"Mommy di mana?" tanya Nada dengan bibir bergetar.
Erkan menyungutkan kepalanya ke arah dapur. Memang tidak terlihat, namun suara penggorengan terdengar nyaring.
Nada berjalan pelan menghampiri nyonya Alvero yang sibuk mengiris sesuatu, sedangkan Raya pun ikut membantunya.
"Mommy," sapanya ragu. Masih takut tak diterima dengan baik.
Seketika nyonya Alvero berhamburan memeluk Nada dan meminta maaf pada gadis itu. Meluapkan kasih sayangnya pada seorang putri, sebagaimana sikapnya pada Raya.
"Ya ampun, kau menangis karena takut kehilangan anak durhaka itu." Menunjuk Erkan yang sedang menikmati kebab di ruang makan.
Setelah sekian lama menangis, akhirnya Nada bisa tertawa mendengar Nyonya Alvero menyebut Erkan anak durhaka.
"Kau itu cantik, anak orang kaya. Bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dan lebih tampan, tapi kenapa kau jatuh cinta pada titisan Mommy yang kurang ajar itu."
Nada tersipu. Entah sejak kapan ia jatuh cinta pada Erkan, yang pasti saat ini hanya ada nama pria itu di hatinya.
Erkan tak menanggapi ocehan mommy nya. Biarlah wanita keturunan Arab Sunda itu menjatuhkan dan menginjak nya, yang terpenting ia bisa makan setelah seharian penuh bekerja keras untuk mendapatkan restu.
__ADS_1
"Di dunia ini gak akan ada yang mengalahkan jodoh, Mom. Jadi seburuk apapun anakmu ini, tetap jodohnya Nada.'' Tertawa terbahak-bahak. Membanggakan diri di depan mommy, adik dan calon istrinya.