Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Keseharian Mirza


__ADS_3

"Daddy… dady… daddy…" 


Abidah, Abiyyah, Abimanyu berlarian ke arah pintu utama. 


Teriakan itu yang membuat Mirza tak betah di kantor.  Setiap kali bekerja bayangan wajah mungil putra-putrinya selalu terlintas, seolah sosok yang menyuruhnya untuk segera pulang.


Mereka lepas dari sang pengasuh saat melihat daddynya membuka pintu depan. 


Kemal yang sudah menjadi abang mengalah dan akan manja jika adik-adiknya sudah tertidur. 


"Anak daddy sudah makan?" Merangkul ketiganya bersama. Menyalurkan kasih sayang yang tak akan pernah habis sampai kapanpun. 


Abiyyah dan Abidah mengangguk,  sedangkan Abimanyu menggeleng.  Ia memang paling susah makan di antara yang lainnya. 


"Mau di supain daddy?" Langsung mengangguk cepat.  


Mirza menggiring mereka ke ruang makan,  dimana ada ibu negara yang sedang menyiapkan makanan untuknya. 


"Kamu gak menyambut ku, Sayang?" Melipat baju nya sesiku lalu mengambil piring khusus untuk anak-anak. 


Haira mendekat, mencium kedua pipi Mirza bergantian. Repotnya kini berkurang tiap kali pria itu ada di rumah. 


Meskipun banyak pelayan yang membantu, tetap saja peran Mirza sebagai ayah berperan sangat penting.


"Abang tidak ingin mencium Daddy?" 


Dengan bibir manyun Kemal menghampiri Mirza dan memenuhi permintaannya. Seperti biasa, meminta uang sebagai upahnya. 


"Mereka baru tiga tahun, tapi sudah mewarisi sifat kamu." 


Mirza menatap Haira penuh tanya. Sifat yang mana? Begitulah kira-kira pertanyaan yang akan meluncur, namun di urungkan, di raba-raba untuk bisa menebak maksud dari sang istri. 


"Keras kepala dan ingin menang sendiri." Haira menjawab tanpa ditanya.


Mirza terkekeh,  itulah sifatnya yang sampai kapanpun akan melekat. 


Di saat triplet sibuk mengunyah makanan yang masuk ke mulut, Mirza menyibukkan diri untuk merayu sang permaisuri yang hampir seharian penuh di rumah mengurus anak-anak. Tiada hari yang paling indah selain itu. Tubuh ramping dengan dres selutut itu nampak menggoda di mata Mirza. 


Meskipun seringkali tak membuahkan hasil, tetap saja ia lakukan sebagai pewarna kebersamaannya. 


"Oh iya aku lupa, bulan ini nenek belum mendapat jatah uang." Haira mengucap dengan ragu. 


Mirza menepuk jidatnya. Sejak tadi memang ada yang menjanggal membuatnya terus kepikiran. 

__ADS_1


"Mulai bulan depan kamu yang atur semuanya. Termasuk keuangan orang di rumah ini." 


Mirza menyerahkan dompetnya pada Haira. Memasrahkan semua harta yang dimiliki pada sosok wanita yang kini menjadi bagian dari hidupnya. 


Hubungan yang berawal pahit dan menyakitkan dengan berjalannya waktu menjadi tatanan yang apik dan rukun. Menciptakan kebahagiaan yang nyata. Kehadiran anak-anak semakin mengeratkan sebuah ikatan. Dua insan yang saling menyempurnakan atas nama cinta. Menyatukan hati menjadi satu tujuan. Menggapai impian bersama,  saling menautkan jemari supaya menjadi kuat menghadapi terpaan. 


"Kalau Aku boros gimana?"


"Terserah, kamu mau pakai buat apa uang itu. Bukan urusanku lagi, tugasku hanya mencari uang."


Terdengar cukup santai, sedikitpun Mirza tak takut kehilangan hartanya. "Asalkan kamu dan anak-anak bahagia," imbuhnya. 


Disaat mereka menikmati kebersamaannya,  tamu spesial datang.  Wajahnya yang tak asing membuat Haira tersenyum bahagia. Adik semata wayangnya yang dulu dibesarkan kini sudah dewasa,  bahkan sebentar lagi akan menjadi seorang ibu. 


Nada,  ya wanita itu kini tengah mengandung tujuh bulan. Pernikahan nya dengan Erkan pun tak luput dari kata bahagia dan harmonis. 


"Tumben ke sini," sindir Haira. Sebab,  jarang sekali mereka berkunjung.


"Kangen sama mereka." Erkan menyungutkan kepalanya ke arah triplet dan juga Kemal yang duduk bersandingan. 


"Kakak gak lembur?" Mulai cipika-cipiki dengan Mirza, orang yang dulu menjadi Tuannya namun kini menjadi saudara ipar. 


Cukup akrab dan saling membutuhkan. Erkan selalu meminta pendapat sang kakak ipar jika ada pekerjaan yang sedikit rumit. 


"Aku gak pernah lembur,"  jawab Mirza seraya membersihkan bibir Abidah yang selesai makan lebih dulu. Kemudian membantu bocah itu minum, begitu juga dengan yang lainnya. 


"Mommy kapan ke sini lagi?"


Mirza jadi teringat kekocakan nyonya Alvero. Terakhir kali mereka bertemu saat Triplet lahir dan sampai sekarang belum datang lagi. 


Mungkin nanti kalau Nada melahirkan. 


"Kata siapa?" teriak suara bariton dari ambang pintu. 


Erkan menganga melihat sosok yang ia rindukan sekaligus takuti itu berkacak pinggang.


"Mommy…."


Semua orang mengucap serempak. Terkejut dengan kehadiran wanita yang baru saja dibicarakan. 


"Mommy kenapa gak bilang kalau mau datang?"


Erkan dan Nada bergegas menyambut kedatangan mommynya yang tiba-tiba. 

__ADS_1


"Dasar anak durhaka." Menoyor jidat Erkan yang ingin memeluknya. Padahal, Nyonya Alvero sudah mengatakan ingin secepatnya datang, tapi Erkan tak merespon karena sibuk. 


"Maaf Mom, aku lupa," ucap Erkan penuh penyesalan, ia tahu hukuman jika sampai membuat mommy nya marah. 


Nada berhamburan memeluk mommy nya dengan erat. "Maafkan kak Erkan, Mom."


Nyonya Alvero mengusap punggung Nada lalu beralih ke perut, tempat calon cucunya bersemayam. 


"Kamu yang sabar punya suami gak tahu diri. Dia memang menjengkelkan." Menjewer telinga Erkan hingga sang empu menjerit kesakitan. 


Haira dan Mirza hanya tertawa dari arah jauh, tak mau menerima luapan amarah nyonya Alvero seperti Erkan. 


"Lalu siapa yang jemput mommy?" 


Seorang pria tampan berdiri di belakang nyonya Alvero. Pria yang tak asing di mata Erkan juga Mirza. 


"Kamu yang jemput mommy?" 


"Hmm, memangnya kenapa? Dia lebih patuh daripada kamu," cetus mommy berjalan melewati Erkan, menghampiri keempat anak Mirza yang sangat lucu. 


"Abidah, Abiyyah, Abimanyu, Kemal." Menunjuk mereka bergantian. 


"Salah Mom, yang ini Abiyyah." Mirza menunjukkan putrinya yang ada di tengah saat nyonya Alvero salah menunjuk. 


"Maklum sudah tua. Sering keliru." 


Erkan mendekati Raya yang ada di samping Aslan. Ingin memastikan hubungan mereka yang kata mommy nya semakin dekat. 


"Kamu mencintai dia?" tanya Erkan berbisik. 


"Iya." Raya nampak malu-malu. Sudah hampir dua tahun mereka bersama, namun belum ada kelanjutan apapun. Akan tetapi Aslan sudah menunjukkan kesetiaannya. Selama ini  selalu mengunjungi kediaman Erkan hanya untuk memastikan keadaan keluarganya. 


"Apa Kakak gak setuju?"


"Setuju saja, asalkan Aslan tidak main-main, dan cepat resmikan hubungan ini,  jangan sampai kecelakaan." 


Aslan yang mendengar itu langsung berbinar. Selama ini memang hanya restu dari Erkan yang ditunggu. Satu-satunya saudara laki-laki yang Raya punya. 


"Kakak beneran menyetujui hubunganku dengan Raya?"


"Iya, jangan Kecewakan mommy, kalau sampai adikku tersakiti, maka kamu akan aku bakar hidup-hidup." 


Terdengar sadis, namun itu malah membuat tekad Aslan semakin bulat untuk melanjutkan hubungannya. 

__ADS_1


Tamat 


Cinta bisa mengalahkan segalanya, termasuk dendam. Setiap bibir berhak berkata, namun sesungguhnya hati yang akan bicara. Maka, jangan mengucap jika hati tak mendukung. Sebab, itu hanya akan menjadikanmu orang yang gugur dalam mengambil keputusan. 


__ADS_2