Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam

Terjerat Pernikahan Dengan Pria Kejam
Bumil sensitif


__ADS_3

Tidak ada kata yang meluncur selain kata maaf. Meyzin tergugu, kedua tangannya mencengkeram tanah kering yang ada di samping pusara sang mantan istri. Berandai-andai dengan waktu yang sudah berlalu membuat dadanya sesak. Udara tak terasa lagi sejuk saat rasa sesal itu memenuhi sekujur tubuhnya. 


Kecewa dengan orang-orang yang mempermainkan hidupnya. Marah pada dirinya sendiri yang sudah melakukan kesalahan pada orang yang tak bersalah. Hancur saat tahu ada sosok putri kandung yang tak diketahuinya selama puluhan tahun. 


Nada ikut meneteskan air mata. Tangannya mengulur mengelus punggung Meyzin yang masih bergetar hebat. 


"Aku berjanji akan menjaga putrimu," ucapnya tersendat. Tangannya tak henti-hentinya mengusap nama yang tertera di batu nisan. 


"Seandainya kita dipertemukan kembali di dunia lain.  Aku tidak akan melepasmu lagi." 


Sekuat apapun, Meyzin hanya manusia rapuh saat berada di titik terendah.


"Apa Daddy mempunyai kenang-kenangan tentang mommy?"


Meyzin menyeka air matanya seraya  menatap sang putri yang nampak berharap penuh padanya. 


Kasihan Nada. Aku sudah membuang semua tentang Veronika. Aku tidak meninggalkan satu pun barang miliknya.


Namun, otaknya langsung teringat pada sebuah foto yang pernah ia lihat di gudang. 


"Nanti daddy akan carikan, sekarang kita pulang."


Meyzin beranjak, diikuti oleh Nada dan pengawal yang menjaga mereka. Dari lubuk hati terdalam, ia merasa sangat berat untuk meninggalkan tempat itu. Namun, Meyzin harus tetap berada di samping Nada. 


Sementara itu di ruangan Mirza


"Siapa yang datang?" tanya Mirza pada Erkan yang membuka pintu ruangannya. 


Erkan mempersilahkan sang tamu masuk. 


Wanita dengan paras cantik dan menarik serta penampilan yang seksi itu tersenyum ke arah Mirza. 


"Dia calon sekretaris yang akan menggantikan saya, Tuan."


Kedua bola mata Mirza membulat sempurna setelah mendengar penuturan Erkan.  


"Apa-apaan ini?" Mirza tak terima. Menutup laptopnya dan fokus pada wanita yang saat ini berdiri di samping meja kerja nya.


Tidak ada yang salah. Wanita itu perfect, bahkan lebih cantik dari Haira. Tubuhnya semampai dengan kulit putih bening, sangat ideal bak model papan atas, tapi Mirza merasa merinding saat di dekatnya. 

__ADS_1


"Kau mau aku pulang menjadi mayat?" cetus nya. Erkan berdiri di belakang wanita itu. Wajahnya menciut melihat kemarahan Mirza yang mulai meluap. 


Erkan menggeleng cepat dengan kedua tangan melambai-lambai. "Ti…tidak, Tuan. Saya hanya ingin membantu, Anda," jawab Erkan seperti isi hatinya. 


"Ini bukan membantu, tapi kau memberi umpan. Kalau Haira tahu, pasti dia marah," pekik Mirza yang masih tak terima. "Cepat usir dia!" Menunjuk pintu yang sedikit terbuka. 


Ya ampun, gagah dan tampan juga berkuasa, tapi takut istri.


Belum juga melaksanakan tugasnya, seorang wanita datang dengan raut wajah yang kebingungan.


Mirza menepuk jidatnya. Apa yang ditakutkan dari tadi akhirnya terjadi, Haira datang tidak tepat waktu dan itu membuatnya pusing tujuh keliling.


"Ngapain kamu ke sini, Sayang?" tanya Mirza gugup, berjalan lenggang menghampiri wanita yang masih mematung di belakang pintu. 


Erkan mengelus dadanya lega. Kedatangan Haira menyelamatkan nyawanya yang hampir saja melayang karena kemarahan sang Tuan. 


"Mau ketemu kamu." Matanya tak teralihkan dari wanita cantik itu, bahkan Haira mengabsen penampilannya yang cukup seksi. 


Mirza merangkul pundak Haira. Sedang satu tanganya terus memberi kode pada Erkan untuk membawa wanita itu keluar. 


"Siapa dia?" tanya Haira lirih, menatap manik mata Mirza. 


"Berapa kali aku katakan, jangan bicara dengan perempuan, tapi kenapa kamu masih mempekerjakan dia?" Air mata  Haira luruh begitu saja membasahi pipinya. Hatinya tercabik-cabik saat Mirza terus mengingkari janjinya. 


"Sayang, dia bukan perempuan yang bekerja di sini?" bantah Mirza yang kehabisan kata-kata, seakan lidahnya terasa kelu saat melihat kesedihan di wajah sang istri. 


"Jangan bohong!" pekik Haira lagi, mengerasnya tangisannya. 


"Aku gak bohong, dia __" 


"Cukup!" sergah Haira yang nampak semakin kacau. 


Awas kau Erkan, aku pastikan kalau burungmu tidak bisa malam pertama, ancam Mirza dalam hati. Kekesalannya memuncak saat Haira tak mau dipeluk olehnya. 


"Kau memang tidak pernah mencintaiku, aku benci kamu." Memukul dada Mirza dengan keras. 


Tidak ada perlawanan. Mirza juga tak menghindari amukan dari Haira. 


Bahkan seperti menikmati pukulan yang sedikitpun tidak terasa sakit. 

__ADS_1


Kalau dia merasa benar, pasti dia akan melawan. Tapi lihatlah! Dia sangat tenang. Itu artinya perempuan itu benar-benar pegawainya. 


Haira semakin murka. Meraih tangan Mirza lalu menggigitnya hingga giginya menancap di kulit putih sang suami. 


Mirza tersenyum kecil. Satu tangannya mengulur dan merengkuh punggung Haira. 


"Sejak kapan dia bekerja di sini?" pekik Haira menekankan. 


"Dia tidak pernah bekerja di sini, dan aku juga tidak tahu kenapa dia ada di sini. Erkan yang mengundangnya."


"Aku gak percaya." Haira menggeser duduknya sedikit menjauh dari Mirza. Mengusap kedua pipinya yang dipenuhi air mata. Memalingkan wajahnya ke arah lain.


"Bagaimana caranya supaya kamu percaya padaku?" tanya Mirza seraya duduk bersimpuh di depan Haira lalu mencium perut buncit wanita itu. 


"Panggil Erkan! Aku ingin mendengar penjelasannya."


Seketika itu juga Erkan masuk setelah mendapat panggilan. Pria yang tadinya sudah beruntung mendapat calon sekretaris yang handal kini mendadak tak punya nyali, bahkan nyawanya terancam saat melihat Mirza yang masih dipenuhi amarah.


Sungguh keadaan ini membuatnya ingin lenyap saja. 


"Tu–an mema–nggil saya?" tanya Erkan terputus-putus, kedua tangannya saling terpaut menunjukkan ketegangannya. 


"Bukan aku yang manggil, tapi Nyonya besar." Seketika Mirza langsung mendapat hadiah cubitan di pinggang. 


"Sekarang kamu jelaskan, siapa perempuan itu?" Menyungutkan kepalanya ke arah pintu. 


"Dia calon sekretaris Tuan,  Nyonya. Tadi pagi Tuan bilang pada saya meminta dicarikan sekretaris baru yang berpenampilan rapi dan seksi." Melirik ke arah Mirza yang nampak berapi-api. 


Ingin tertawa tapi takut dosa. Eh tidak, takut kalau nyawanya melayang seketika itu juga dan tak jadi kawin. 


"Dia bohong, Sayang. Percayalah padaku!" ucap Mirza mengiba, menangkup kedua tangannya di depan sang istri. 


"Dasar kau penghianat." Tanpa aba-aba Mirza melempar Erkan menggunakan bantal sofa. Beberapa benda yang ada di dekatnya pun melayang ke arah sang sekretaris. Ruangan yang tadinya bersih kini bak kapal pecah, karena hampir seluruh isinya teronggok di lantai. 


"Tak ada ampun lagi bagi seorang yang sudah berani menghianatiku," imbuhnya dengan nada kesal. 


"Aku pastikan kalau kau tidak akan bisa malam pertama dengan Nada." Sumpah  serapah terus keluar dari bibir Mirza. Kali ini ia tak bisa lagi memendam amarahnya yang terus memuncak. 


"Ampun, Tuan. Saya hanya bercanda." 

__ADS_1


"Gak lucu," teriak Mirza yang tak ingin melepaskan tangan Haira. Pria itu tak bisa mentolerir sikap Erkan yang menurutnya keterlaluan. 


__ADS_2