
Sungguh Raka tidak menyangka, keluarga mereka punya cabang perusahaan hampir di seluruh dunia.
Kekayaan macam apa itu.
"Ini serius Raka, saham terbesar keluarga kita berada di Benua Eropa, Afrika, dan Amerika, sedangkan di tempat lainya hanya sebagian-sebagian saja" ujar ibu Raka.
Raka masih tidak percaya dengan ucapan mereka, benar-benar tidak masuk akal.
"Tenang saja, kami akan memberi tahu kamu sedikit-sedikit dengan kemampuan keluarga kita, agar kamh mudah mengingatnya, iya sebenarnya sekolahmu 90% sahamnya adalah milik keluarga kita, dan juga proyek yang sedang berlangsung dan di kerjakan oleh keluarga Jonson juga milik keluarga kita. Bahkan sebenarnya proyek Abadi Jaya atas namamu dan Bima, jadi bisa di katakan itu milikmu juga" lanjut kakek Raka.
Raka masih syok dengan yang di katakan mereka, setelah bicara sedikit lagi mereka mempersilahkan Raka untuk beristirahat di tempatnya. Mereka semua mengerti bahwa Raka sangat kelelahan.
Pagi keesokan harinya saat Raka bangun sudah di suguhkan dengan berbagai makanan enak di meja makan. Sungguh nikmat menjadi orang kaya kembali, sekarang keluarga ini memiliki banyak pelayan yang sudah tak asing lagi. Karena sebelum ayah dan ibu Raka ke Amerika dan berbohong tentang kebangkrutanya. Intinya mereka adalah pelayan yang sebelumnya bekerja di sini, dan sekarang kembali.
"Selamat pagi tuan muda" kata pelayan sambil membungkuk.
"Iya" jawab Raka.
Raka hanya sarapan sendiri, karena yang lain sudah sarapan terlebih dahulu. Selesai makan Raka bersiap untuk berangkat ke sekolah dan sekarang benar-benar di sambut oleh ratusan pengawal yang membungkuk dan menyapanya serempak.
"Raka sebentar" tiba-tiba Bima datang dan menghentikan Raka.
"Ada apa mas??" Tanya Raka.
"Aku mau bicara yang semalam belum sempat di bicarakan, ingat walaupun kamu menonjolkan kekayaan keluarga kita, berhati-hatilah dengan kekuatanmu, walaupun keluarga kita kuat, tetap banyak musuh yang ingin menjatuhkan kita" ujar Bima.
"Baiklah aku mengerti mas" jawab Raka.
Setelah itu Raka bersalaman dengan kakaknya dan mencium punggung tangan kakaknya. Ini yang membuat Bima sangat menyayangi adeknya, karena Raka sangat menghormati orang yang lebih tua, apalagi yang berhubungan darah denganya. Ini membuat Bima merelakan kalau semua hartanya di berikan kepada adiknya.
Setelah berpamitan dengan Bima, seperti biasa Raka mengendarai mobil ferrarinya dan langsung menuju sekolah. Deni sudah sampai di sekolah karena berangkat lebih dahulu untuk menjemput Susi.
Sampai di depan sekolah terjadi keramaian, sontak Raka pun berhenti dan turun dari mobil.
Dia di sambut dengan banyak sekali anak dari SMA lain 'mungkin mereka berniat balas dendam kejadian sebulan yang lalu' pikirnya dalam hati. Raka berjalan ke arah mereka saat tiba-tiba di hentikan seseorang.
"Ini dia anaknya, eh lu berani ya bikin masalah dengan sekolah kita, sebaiknya lu sujud dan minta maaf ke Indra atau...." ujar teman Indra waktu itu yang ingin mukulin Raka.
"atau apa??" Angel yang bicara.
"Hey ada wanita secantik ini di sekolah ini" mereka tidak menanggapi pertanyaan Angel , tapi langsung mengagumi kecantikanya.
"Diem lu, kira di sini bukan buat nyari cewek tapi buat balas dendam" jawab pria tadi.
"Sebentar lagi sekolah ini bakal di hancurkan, karena kamu berani menyinggung Indra, dia akan kesini bersama kakaknya" tambah pria tadi.
"Panggil siapapun, dan bawa kesini!!!" Tantang Angel.
Raka hanya diam jika tidak ada yang perlu dia katakan, karena dia tidak akan terlalu mengekpos kekuatanya.
"Apa, kamu wanita cantik sebaiknya diam dan masuk saja ke dalam, jangan mencoba-coba nantangin kami ya" jawab lelaki tadi semakin geram dengan Angel, siapa sangka seorang wanita benar-benar berani menanyang mereka. Keadaan semakin rame dan mencengangkan banyak dari siswa sekolah Raka sudah keluar untuk bertarung. Guru sendiri sudah ketakutan dan mencoba memanggil polisi. Siswa dari sekolah lainpun semakin banyak berkumpul, sepertinya mereka bolos sekolah.
Tidak butuh waktu lama, rombongan datang lagi dengan deretan 10 mobil Inova, keluarlah semua orang dari dalam mobil.
Mereka semua hampir sekitar 50 orang lelaki dewasa.
__ADS_1
"Apakah kalian siap bertarung melawan laki-laki kekar seperti mereka" ujar lelaki tadi dengan bangganya.
Banyak siswa yang sudah minder, tapi seandainya lawan menyerang lebih dulu maka mereka tidak punya pilihan selain melawan.
Hanya teman sekelas Raka yang maju kedepan siap melakukan perlawanan jika di perlukan.
Teman Raka sudah tahu tentang kekayaanya, jadi mereka sangat mengerti. Jika Raka memanggil anak buahnya, maka dengan mudah orang-orang ini akan di habisi.
"Bawa kesini orang yang pernah membikin ulang padaku" perintah Indra ke temanya.
"Baiklah" jawab temanya sambil menyeret Raka sampai di depan Indra, Raka hanya mengikuti saja.
"Berani sekali kau telah menyinggung keponakanku, apakah kau sudah bosan hidup nak" suara yang agak familiar terdengan di telinga Raka, setelah itu Raka menoleh untuk melihat orang tersebut.
Dari tadi orang tersebut tidak melihat Raka dari depan dan hanya melihat punggungnya saja. Saat bertatap muka dengan Raka, lelaki tersebut masih tersenyum menghina hingga senyumnya perlahan menghilang. Tubuhnya bergetar, bukan hanya dia yang bergetar, hampir saparuh anak buahnya ikut bergetar dan meneteskan keringat dingin di dahinya, sebelum jatuh dan bersujut di depan Raka.
Pemandangan ini membuat Indra dan temanya yang lain menjadi bingung dan gugup.
'Siapa sebenarnya lelaki ini , kenapa pamanku sampai tunduk padanya' batin Indra.
"Paman apa yang terjadi, kenapa anda tunduk pada anak ini??" Tanya Indra kepamanya. Bicaranya menjadi melunak dan sedikit sopan.
Tapi pamanya tidak menanggapi Indra, dia hanya menatap Raka sebelum menundukan kepalanya lagi.
"Maafkan saya tuan, saya telah menyinggung anda dua kali. Mohon maafkan kelancangan saya tuan" ujar Widodo. Iya benar sekali, paman Indra adalah widodo penguasa gunung sumbing.
"Maafkan kami juga tuan" teriak semua pengawal yang menundukan kepalanya di tanah.
Pengawal yang masih berdiripun melongo menatap semua ini dan tanpa aba-aba, mereka semua mengikuti bos mereka untuk menjatuhkan diri dengan lututnya di tanah dan tidak berani mengatakan apa-apa.
Raka hanya diam dan tersemyum, teman Indra yang masih memegang kerahnya langsung melepaskanya dan merasa bingung juga.
"Ah anda Nona" jawab Widodo masih gemetaran.
"Keponakanmu ini sudah menyinggungku dan temanku, mereka bahkan berencana menyerang sekolahku, jadi bagaimana kita akan menyelesaikan ini" ujar Angel.
"Iya Nona maafkan kami yang kurang berwawasan luas, saya pasti akan menghukum keponakan saya juga diri saya sendiri" jawab Widodo dengan wajah memelas.
"Apa?? Paman akan menghukumku hanya karena dua orang ini" Indra sungguh tidak bisa mempercayai telinganya dan juga matanya sendiri.
Tiba-tiba Indra merasakan tamparan yang sangat keras di wajahnya sampai dia terjatuh di tanah.
"Sebaiknya kau diam atau aku sendiri akan membunuhmu" setelah menampar keponakanya Dia langsung memerahinya juga.
Sungguh pemandangan yang aneh, semua teman sekolah Indra hanya diam melihat ini semua.
Indra merasa sangat malu, dia adalah pemimpin dan paling di takuti di sekolahnya. Tapi sekarang dia di hajar pamanya sendiri di hadapan banyak orang.
Setelah menerima tamparan dan kemarahan pamanya, dia langsung diam dan menundukan kepalanya.
"Baiklah sudah cukup, kita mau belajar dan masuk kedalam kelas, kuharap anda memegang janji anda bahwa akan menghukum diri anda sendiri beserta keponakan anda, jangan membuatku mengulangi perkataanku" ujar Angel sangat dingin, Widodo hanya bisa begidik ketakutan dan hanya menjawab dengan anggukan.
"Ayo tuan muda Randika kita masuk kembali ke kelas kita" ajak Angel sambil menggandeng tangan Raka.
"Baiklah" jawab Raka pelan. Setelah itu dia mengikuti Angel pergi dan mengendarai mobilnya.
__ADS_1
Sebelum ini pasti anak buah Widodo ataupun teman sekolah indra akan menghentikanya. Tapi sekarang berbeda, mereka hanya diam menundukan kepala tanpa mengatakan apa-apa.
Saat Raka melirik dengan tatapan tajam, Widodo begidik ketakutan.
Bukan hanya karena dia memang sudah di kalahkan dalam pertarungan, tapi dia begidik saat mendengar kata Randika.
'Jadi dia adalah tuan muda dari keluarga Randika, hampir saja aku bunuh diri dengan menyinggung mereka' Widodo bicara dalam hati sambil begidik membayangkan konsekuensinya.
Setelah Raka pergi, rombongan Indra yang tadi bersiap tawuran pun membubarkan diri karena malu.
Indra sendiri hanya menatap tak percaya dengan semua ini.
"Indra, aku akan menghukumu karena membuatku dalam situasi yang sangat sulit, juga jangan pernah mencoba menyinggung orang tadi, atau aku sendiri yang akan membunuhmu" jelas Widodo.
"Apa?? Tapi kenapa paman?? Dia jelas hampir menabraku, seharusnya dia yang bertanggung jawab memberikan kompensasi padaku" Indra masih tidak percaya dan merasa sangat di permalukan.
Beekkkk....
Widodo memukul tepat ke mulut indra, dan dia langsung jatuh ke tanah.
"Apakah aku belum jelas bicara?? Jangan membuatku mengulangi perkataanku" ujar Widodo.
"Paman kenapa kamu memukulku hanya karena bangsat itu" ujar Indra tak percaya, sekarang hanya bisa menyeka darah di mulutnya.
"Dasar kurang ajar, apa kau bilang tadi?? Hey kalian bawa dan hajar anak tidak tau beruntung ini, jadikan dia tahanan rumah di bawah kaki Gunung Sumbing" perintah anak buah Widodo, mereka pun langsung membawa Indra dengan paksa dan menghajarnya sampai babak belur. Hanya Indra yang tidak mengerti dengan semua ini, dia selalu di manjakan oleh pamanya. Tapi sekarang gara-gara bangsat yang malang itu, dia di hajar habis-habisan, bahkan dijadikan tahanan rumah.
Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman mereka, saat Indra bertemu dengan ayahnya dia sudah berharap bahwa ayahnya akan menyelesaikan ini untuk dirinya dan memarahi pamanya karena sudah mempermalukanya.
Tapi setelah pamanya memberi tahu kejadian yang sebenatnya kepada ayah Indra, bukan pamanya yang di marahi ayahnya, tapi Indra sendiri tambah di pukuli ayahnya dan di masukan ke sel rumah mereka.
Indra bukan menyadari kesalahanya, tapi dia justru semakin membenci Raka. Dan dia memutuskan untuk balas dendam bagaimana pun caranya. Indra sudah merasa sangat di permalukan.
Kembali ke sekolah, Raka dan Angel sekarang duduk bersama lagi. Ini membuat Laras merasa tidak nyaman, kemarin dia menyuapi Laras saat ulang tahunya, tapi sekarang duduk dengan gadis lain lagi.
'Apakah kamu tidak mengerti, aku selalu berharap kamu ada perasaan untuku sejak perkenalan masuk sekolah waktu itu, walaupun aku belum mengetahui kekayaanmu, tapi kenapa kamu hanya bisa bersama murid baru itu yang dulu di kira dia lebih kaya darimu' pikir Laras dalam hati.
"Hey laras jangan melamun aja" ujar Miko, Miko adalah teman sekelas Laras yang sangat peduli padanya. Saat Laras menatap lelaki lain dengan intim, tentu hatinyaa sangat tidak nyaman. Apalagi saat ulang tahun Raka, dia melihat sendiri Raka menyuapi wanita idamanya. Padahal semua orang tahu kalau Raka dekat sekali Dengan Angel.
"A-ah Miko" jawab Laras gagap, dia tau Miko sangat peduli padanya.
"Sudahlah , kamu tidak usah banyak berfikir, aku akan selalu peduli sama kamu" tambah Miko.
"Iya makasih ya kamu selalu peduli sama aku" jawab Laras pelan.
Mereka mengobrol sebentar sampai guru tiba dan melakukan pelajaran seperti biasanya.
Sepulang sekolah Raka pergi bersama Angel tapi mereka mengendarai mobil masing-masing.
Dijalanan banyak tatapan orang-orang iri dengan mobil yang mereka kendarai. Semua orang merasa dunia ini tak adil. Bagaimana bisa di Kabupaten Temanggung ada orang yang mengendarai mobil seperti itu.
Akhirnya Raka dan Angel berhenti di sebuah restoran yang baru di resmikan setelah selesai pembangunan.
Restoran ini juga termasuk proyek yang di kembangkan dengan nama Raka Randika. Banyak orang dalam proyek ini tau nama besar Raka Randika. Hanya mereka belum pernah bertemu langsung ataupun mengetahui wajahnya.
Saat Raka dan Angek memarkir mobilnya, sudah ada banyak orang yang menatap dengan takjub.
__ADS_1
"Pasti ada seorang bos besar datang ke restoran ini" ujar salah satu pelayan Restoran.
"Iya semoga saja" jawab peyalan lainya.