Terlihat Miskin Padahal Sultan

Terlihat Miskin Padahal Sultan
Bab 71


__ADS_3

Setelah semua orang masuk kedalam gedung hotel,


semuanya langsung menuju Cafe di dalam gedung hotel.


"Tolong persiapkan kopi paling enak!" titah Hendrik pada pelayan Cafe setelah semua orang duduk di meja VVIP.


"Baik Tuan," jawab pelayan dengan anggukan sebelum berlalu pergi untuk menyiapkan pesanan.


"Hendrik,!" panggil Angelica.


"Iya Nona," jawab Hendrik menatap Angelica.


"Apakah kau pemilik hotel ini,?" tanya Angel yang penasaran.


"Ahh, bukan Nona, saya hanya dipercaya untuk mengelola saja," jawab Hendrik.


"Jadi seperti itu, aku kira pemiliknya kamu sendiri," ucap Angel.


"Tentu saja bukan Nona, mana mungkin saya mampu memiliki hotel semewah ini," ucapan Hendrik berhenti sebelum menghela nafas "hotel mewah ini sekarang telah di ambil alih oleh keluarga Randika, itu sebabnya saya yang di beri perintah dan kepercayaan untuk mengelolanya, tentu saja ini semua juga berkat Tuan Patrik Jonson, Nona," jelas Hendrik.


"Oh jadi seperti itu ternyata," balas Angel dengan anggukan.


"Iya Nona," ucap Hendrik.


"Apa maksut mereka Kak,? aku sama sekali tak mengerti dengan yang mereka bicarakan," tanya Jhosua pada Jesica, karena merasa penasaran.


"Aku sendiri kurang paham, tapi yang jelas ada seseorang yang baru saja membeli hotel ini, dan Hendrik di percaya untuk mengelola hotel ini di bawah keluarga Angelica Jonson," jelas Jesica.


"Apa aksut kakak, bahwa masih ada orang yang lebih k


aya dari Angelica,?" tanya Jhosua semakin penasaran.


"Tentu saja ada, kamu tentu mengetahui perombakan besar di Temanggung kan,?"


Jhosua hanya mengangguk, mencoba memahami.


"Yang melakukan perombakan besar di Temanggung adalah keluarga Angelica, dan tentu saja yang membiayai adalah orang yang sering kita dengar dengan nama Tuan Randika, dari keluarga Randika," jelas Jesica.


"Siapa, Tuan Randika dari keluarga Randika ini, kak,?" tanya Jhosua semakin penasaran.


"Aku juga tidak tahu, karena nama besarnya masih di rahasiakan publik," jawab Jesica bohong, padahal dia sudah mengetahuinya. Jesica mengetahui juga bahwa Raka adalah Tuan Muda Randika itu sendiri, setelah banyak yang membicarakanya di sekolah. Tapi dirinya juga tidak berani mengungkapkan kebenaran tentang Raka, karena takut akan konsekuensinya juga.

__ADS_1


"Ahhh, ku kira kakak mengetahuinya," ucap Jhosua dengan nada kecewa. Dirinya juga berniat ingin mengenal Tuan Randika dari keluarga Randika ini. Dan mungkin juga bisa berteman denganya, seseorang pasti akan beruntung jika bisa mengenal ataupun berteman dengan orang sekaya Tuan Randika.


Saat ini semua pesanan sudah di sajikan, semua orang merasa sangat senang, karena pelayanan saat ini benar-benar memuaskan.


"Ternyata kopinya benar-benar kental dan enak," ucap Angelica setelah menyerutup sedikit kopi yang di sajikan.


"Terimakasih pujianyan Nona," jawab Hendrik puas.


"Kami juga akan menyiapkan makanan untuk kalian semua," lanjut Hendrik.


"Anda terlalu baik hati Tuan," sahut Deni memotong pembicaraan Angel dan Hendrik.


"Terimakasih pujianya, dan mohon maafkan saya karena tadi anak buah saya telah dengan sengaja menyinggung anda juga," balas Hendrik seraya menatap ke arah Deni.


"Tidak apa Tuan, saya sendiri mengerti, mungkin mereka takut akan ada penyusup masuk kedalam gedung ini," jawab Deni ramah.


"Seperti yang anda pikirkan, sebenarnya memang seperti itu yang berniat kami lakukan, untuk meminimalkan penyusup yang bisa masuk kedalam gedung ini," jelas Hendrik yang juga terlihat senang, karena Deni tidak menyalahkanya.


Dalam jeda singkat, makanan pun di sajikan diatas meja mereka.


"Silahkan di nikmati hidanganya, Nona!" tawar Hendrik.


"Baiklah, terimakasih atas keramahanmu," jawab Angel sebelum mulai menyuap makanan satu-satu, di ikuti oleh teman-temanya yang juga memakanya.


Hendrik merasa sangat senang karena mampu memuaskan Nona Jonson tentunya.


Setelah jeda singkat, akhirnya semua makanan telah habis dan tinggal tempat makanya saja.


"Ini sungguh enak sekali, aku belum pernah memakan makanan seperti ini," ucap Mela dengan senang, karena dirinya memang belum pernah makan, makanan seenak ini.


"Terimakasih pujianya Nona, anda bisa langsung kesini bila ingin menikmati makanan ini," jawab Hendrik dengan senyum puasnya.


Setelah selesai makan, rombongan ini langsung di antar oleh pelayan Hotel untuk menuju kekamar mewah mereka. Hendrik sendiri juga ikut mengawal mereka, terkhusus untuk Nona Jonson dan Deni tentunya.


"Silahkan beristirahat Nona, kami akan menyiapkan segala kebutuhan anda selama anda berada disini,!" ucap Hendrik dengan senyuman.


"Terimaasih atas keramahanya, maaf jika tadi sempat membuat keributan di luar," jawab Angel, karena merasa sedikit malu juga. Dia membuat kerusuhan di luar Hotel, tapi sekarang pihak hotel malah menjamu dan melayaninya dengan sangat baik.


"Tidak apa Nona, mereka memang pantas mendapatkanya, secara mereka berani dengan terang-terangan menyinggung anda," ucap Hendrik deraya menundukan kepala karena malu. Bawahanya samapi berani mengina Nona Jonson adalah tindakan yang menurutnya sangat memalukan.


"Ya sudah, aku masuk kamar dulu, sampai ketemu besok pagi," ucap Angel sebelum berlalu masuk kamarnya dan menutup pintu.

__ADS_1


Hendrikpun berlalu pergi dan bersiap menghukum seluruh bawahanya yang terlibat dengan berani menyinggung Nona Jonson.


Hendrik berjalan menelusuri lorong, menuju ke ruangan tempat semua bawahanya dibawa.


---


"Berani sekali kalian menyinggung Nona Jonson, bahkan sampai menghinanya, beriaplah untuk menerima hukuman dari Tuan Hendrik,!" ancam asisten hendrik. Yang bahkan teriakanya bisa sampai terdengar sampai keluar ruangan.


"Maafkan kami, kami sunggung tidak tahu kalau beliau adalah Nona Jonson, lagian temanya mengenakan pakaian yang sangat biasa, mana mungkin kami tidak curiga padanya," lirih bawahan dengan menundukan kepalanya.


Terdengar suara pintu ruangan perlahan terbuka, dan asisten tadi langsung menundukan kepala dengan hormat seraya menyapa.


"Salam Tuan Hendrik," sapa asisten tadi.


Hendrik hanya menanggapinya dengan anggukan kecil, sebelum menatap tajam pada semua bawahanya.


"Apakah kalian semua sudah bosan hidup,?" bentak Hendrik dengan lantang.


"Maafkan kami Tuan," jawab satu bawahan dengan gagab.


BUKK!!!


Hendrik langsung memukul kening orang yang berani menjawab pertanyaanya. Orang tersebut langsung jatuh kelantai, karena pukulan Hendrik memang sangat kuat.


Setelah nemukul orang tadi, Hendrik meminta asistenya membawa orang tadi keluar ruangan.


Semua orang yang melihat kejadian ini hanya bisa menundukan kepala karena takut akan mengalami hal yang sama juga.


"Siapa lagi!!" bentak Hendrik dengan suara dingin dan lantangnya, membuat semua orang begidik ketakutan.


Semua orang hanya diam dan merasa sangat takut, tak ada yang berani bicara sedikitpun bahkan sampa waktu berlalu setengah jam.


"Siapa lagi,!!" murka Hendrik dengan matanya yang merah


"Tuan," ucap asisten Hendrik sebelum membisikan sesuatu padanya. Mendengar ide pelayanga, Hendrik hanya mengangguk dan tersenyum jahat.


"Baiklah, ini keputussanku,. mulai sekarang dan selama setahun kedepan, gaji kalian akan terpotong separuh karena untuk membayat biaya kerusakan karena perbuatan kalian sendiri, jika ada yang merasa keberatan boleh ajukan keluhan, silahkan ajukan keluhan kalian sekarang, atau kalian akan membayar kerusakan dengan uang kalian juga boleh, jika tidak ingin menerima gaji dengan separuh saja,! jangan bilang aku tidak bermurah hati dengan kalian,"


ucap Hendrik menjelaskan, sebelum berjalan keseluruh bawahanya dan memukulinya sendiri.


BUKK!!! BUKK!!! BUKK!!! BUKK!!! BUKK!!! BUKK!!!

__ADS_1


Semua orang jatuh kelantai karena pulukan keras dari Hendrik.


"Ini semua hukuman untuku dari kalian, jangan bilang aku tidak bermurah hati pada kalian, karena seseorang yang berani menyinggung Nona Jonson, seharusnya menerima hukuman yang lebih berat. Contohnya adalah menghukum seluruh keluarganya, tapi karena kalian selama ini setia padaku, aku tidak akan melakukan hal seperti itu, yang terpenting mulai sekarang jangan melihat orang hanya dari luarnya saja,!" jelas Hendrik sebelum berlalu keluar ruangan, dan semua orang bernafas lega. Karena Hendrik sangat murah hati memaafkan semuanya.


__ADS_2