Terlihat Miskin Padahal Sultan

Terlihat Miskin Padahal Sultan
Bab 43


__ADS_3

"Makan dulu yang yang banyak seperti biasanya nak,." Ucap Mama Melany seraya mengambilkan berbagai makanan kesukaan putrinya, terlihat Melany sangat di manjakan.


"Mama tidak usah, Mela ambil sendiri ya Ma,.!!" Tolak Melani halus, tapi Semua makanan sudah ada di piringnya.


Papa dan Mama Melany hanya saling pandang, keduanya tidak pernah melihat anaknya selembut dan seramah ini sebelumnya. Karena terkejut, Mama Melany hanya menyentuh dahi putrinya.


"Kamu, apa yang teejadi padamu nak,.?? Sejak kapan kau menjadi seramah ini,.?? Biasanya manja dan bar-bar,." tanya Mama Melany penasaran.


"Sudah deh Ma, Mela tidak kenapa-kenapa kok,." Ucap Melani seraya melepaskan tangan Mamanya dari dahinya.


"Nah itu terlihat lagi suara bar-barnya anak kita Ma,." Ucap Papa melani sambil terkekeh kecil.


"Ah Papa, pasti mau ledekin Mela lagi, uh,." Jawab Melany ketus.


"Sudah-sudah nanti saja saling ledeknya, sekarang makan dulu ya, kalau sekarang saling ledeknya. Kapan makanya,.??" Ucap Mama Melani menyarankan.


Akhirnya semua berhenti bicara dan melanjutkan makan. Melany makan dengan lahapnya, seperti belum makan selama satu minggu penuh. Bahkan Melany menghabiskan lebih dari 3 piring makanan.


Papa dan Mamanya hanya menggelengkan kepala seraya  tersenyum, melihat kekonyolan anaknya lagi.


"Ahhhhh, kenyang sekali akuu...." ucapnya seperti biasa saat bersama Raka, Melany lupa bahwa saat ini dia ada di rumahnya. Setelah jeda singkat akhirnya dia ingat, dan merasa malu pada Papa dan Mama nya.


"Maaf Pa, Ma,." Ucapnya pelan seraya menundukan kepalanya.


"Iya di maafin tapi ada syaratnya,.!!" Ucap Papa Mela seraya sengedipkan satu mata.


"Ah Papa mulai deh,." ujar Mela manja.


"Ya, harus ada syarat dong,.!!" paksa Papa Mela sebalum tertawa kecil.


"Ah Papa kaya anak kecil aja sih,." Ucap Melany manja.


"Kan, anak Papa memang masih kecil,.." jawab Papa Melany.


"Iya kan Mela yang kecil, bukan Papa...." ucap Melany ketus dan mengerucutkan bibirnya.


"Hahaha, anak Papa masih sadar ya kalau masih kecil,." Kata Papa Mela seraya tertawa kecil.


"Iya memang, Mela akan selalu menjadi putri kecil kalian,.." jawab Mela manja.


Ketiganya terus bercanda, dan bergurau seraya bangkit dan pergi dari ruang makan, sampai di ruang tengah pun masih bercanda dengan Mela yang selalu bermanja pada orang tuanya, tak terasa malam pun tiba.


"Papa, Mela tidur dulu ya,.. ngantuk,.?? ucap Mela seraya menatap kedua orang tuanya.


"Baiklah, besok kamu kesekolah gak,.??" Tanya Mama Melany.


"Iya sekolah Ma,.. yaudah Mela masuk kamar dulu agar tidak kesiangan,.." ucap Mela seraya bangkit dan pergi ke kamarnya untuk istirahat.


Sampai di kamar, dia teringat kembali dengan Raka. Dia menyesali semua kata-kata yang keluar dari mulutnya.


'Raka pasti sangat kecewa padaku,.' batinya.


***


Raka sendiri saat ini sedang berendam menahan nafas didalam mata air di kaki gunung.


Sudah hampir 3 jam Raka tidak keluar, untuk manusia biasa yang tidak memiliki keturunan darah Randika akan sangat mustahil bisa melakukanya.


Waktu terus berjalan, dan Raka keluar dari pertapaanya di dalam air.


"Kurasa aku menjadi semakin kuat sekarang,." Gumamnya pelan, sebelum melompat keluar dari dalam air.


"TUAN RANDIKA!!!


"TUAN RANDIKA!!!


"TUAN RANDIKA!!!

__ADS_1


Terdengar teriakan beberapa orang saat Raka sedang duduk di atas batu besar di atas mata air yang masih sangat segar.


"Siapa mereka,.?? Apakah keluargaku mencariku,.??" Gumam Raka pelan, sebelum melompat keatas pohon untuk mengawasi.


Raka melihat kembali segerombolan orang yang pernah bertemu denganya di hutan. Mereka adalah orang-orang yang menjalani pelatihan militer di hutan.


'Kenapa mereka memanggil Tuan Randika, apakah ada orang dari keluargaku juga di hutan sini,.' batin Raka penasaran.


"Sepertinya orang itu bukan dari keturunan Tuan Randika, kenapa dia tidak mendengar teriakan kita yang sudah beberapa hari mencarinya,." Ucap bawahan ke pemimpin mereka.


"Jangan berfikir seperti itu, mana mungkin ada manusia biasa bisa sekuat itu,." jawab pemimpin tadi meyakinkan.


"Di tambah hutan ini sangat luas, bahkan tentara saja tidak dapat menemukan kita yang bergerombol, apalagi kita yang hanya mencari satu orang saja, kita tetap harus mencarinya dan menjadi pengikutnya, dia pasti mampu membantu kita menyelesaikan masalah kita,." Tambah pemimpin meyakinkan dan percaya diri.


Saat semua orang beristirahat, tiba-tiba datang sesosok orang yang berbadan kekar mendekat ke arah mereka.


Semua orang berbalik dan menatapnya dengan senang, siapa lagi kalau bukan Raka yang mendekati mereka.


"Siapa yang kalian cari,.?? Kenapa berteriak-teriak,.??" Tanya Raka dengan wajah datarnya.


"Ah, ya, maaf Tuan...." jawab pemimpin tergagap, dia sudah bisa mengetahui dari aura Raka sudah berbeda dengan saat terakhir kali mereka bertemu. Pemuda di depanya terlihat semakin kuat dan semakin mendominasi.


"Tolong jawab pertanyaanku,.!!" Ucap Raka tegas.


"Tuan, jangan salah paham,." Jawab pemimpin sudah sedikit ketakutan, pemimpin memang tidak takut bertarung, tapi dia lebih takut saat kesempatan yang sangat langka seperti ini bisa menghilang selamanya. "Kami mencari anda Tuan, bukankah jelas bahwa dalam perjanjian pertama sebelum kita memulai pertarungan, jika anda kalah, anda akan menjadi budak kami, dan jika kami yang kalah bukankah seharusnya sebaliknya,.?? Kami akan melayani anda Tuan,." Tambah pemimpin menjelaskan. Dia tidak tahu bahwa Raka sudah mendengar semuanya dan dapat mengerti bahwa mungkin semua orang ini akan memintanya melatih bela diri tingkat menengah ke atas setelah melihat kemampuanya.


"Oh jadi itu yang ingin kalian lakukan,. tapi kenapa kalian meneriakan nama Randika,.?? Aku bukan Randika,." Jawab Raka pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Oh maaf Tuan jika kami salah,."ucap pemimpin tadi dengan meneteskan keringat di dahinya.


"Aku ingin kalian jujur,." tanya Raka langsung dengan dingin, dia tidak perlu takut lagi mereka akan mencarinya atau membuat masalah denganya, karena saat ini dia benar-benar sendirian di dalam hutan. Tanpa ada gadis Melany itu yang membuat Raka stres juga.


Mendengar suara Raka yang dingin, membuat pemimpin dan bahkan semua bawahanya begidik. Mereka tidak pernah setakut ini sebelumnya. Bahkan saat bertarung melawan Tentara Negara ini, dan mempertaruhkan nyawanya.


Tapi di depan Raka, semuanya merasa terintimidasi.


"Maafkan kami Tuan,." Ucap pemimpin tadi dan di ikuti seluruh bawahanya sebelum membungkuk 90 derajat.


"Sayang sekali kalian salah, aku bukan Randika, dan aku hanya di sini karena tidak punya tempat tinggal lain,. Aku senang tinggal di hutan karena tidak ada batasan saat aku melakukan apapun, dan soal keahlianku mungkin karena aku selalu berlatih setiap hari,." Jawab Raka bohong.


"Jadi jangan mengangguku lagi, sekarang aku akan pergi,." tambah Raka sebelum berbalik dan bersiap pergi.


"Tunggu Tuan!!" Teriak pemimpin dengan suara tersengal, sebelum berlari dan terduduk di kaki Raka.


"Anda telah memenangkan pertarungan dengan adil, dan itu berarti kami semua akan menjadi pelayanmu, mulai sekarang dan seterusnya,." ucap pemimpin tadi saat memohon dan menyatukan kedua telapak tanganya.


"Bukankah kalian punya keinginan memerdekakan tanah kalian,.?? Seandainya kalian menjadi pelayanku, keinginan kalian akan sirna, karena aku tidak akan menjadi penghianat negara,." jawab Raka tegas.


'Ah bagaimana pemuda ini bisa mengetahuinya,' batin pemimpin merasa bingung.


"Jadi pikirkan dulu dengan matang yang akan kalian lakukan, jangan seenaknya bicara padaku, karena jika menjadi pelayanku, kalian tidak akan pernah di ijinkan berhianat, atau akan menerima hukuman yang lebih mengerikan dari kematian,." tambah Raka menakuti mereka.


"Rumahku berada di atas pohon terbesar di kaki gunung, dari sini sekitar 20 mil jauhnya, aku akan menunggu di sana saat kalian menemukan jawabanya, aku tidak memaksa kalian mencariku bila kalian merasa keberatan dengan syarat yang aku ajukan, kalian bisa melanjutkan misi kalian tanpa di wajibkan menemuiku lagi dan mati di tangan Tentara Indonesia,." tambah Raka mengingatkan mereka, bahwa melawan negara setara dengan misi bunuh diri.


Setelah Raka menjelaskan, pemimpin kelompok hanya diam dan meresapi peekataan Raka.


Jelas mereka menginginkan kemerdekaan, tapi juga mana mungkin mereka ingin mati konyol.


Saat semua orang berfikir, Raka langsung melompat berlalu pergi meninggalkan semua orang, bahkan tidak ada yang menyadari kepergianya karena terlalu cepat.


***


Pagi-pagi keesokan harinya kembali ke keluarga Melany, Melany bangun tidur dan berganti pakaian sekolah seperti tidak terjadi apapun. Dia sarapan dan pamit kepada orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah dengan mobil Nissan Gt-R50 yang harga mobil ini sekitar 14,2 milyar rupiah, atau setara 1 juta dolar.


Di kota Jayawijaya, keluarga Melany merupakan keluarga Kaya Raya dengan bisnis yang tak terhitung jumlahnya. Bahkan sekolah tempatnya belajar adalah millik keluarganya. Jadi apapun yang dilakukan Melany, entah dia berangkat ke sekolah ataupun tidak. Pihak sekolah tetap akan memberikan pelayanan terbaik dan akan menganggap Melany belajar dengan baik dan menaikanya ke kelas selanjutnya.


"Hey Mel, kamu kemana aja sih,.?? Sebulan gak ada kabar, aku kira kamu tinggal nama,." Ejek Siska sebelum terkekeh. Siska adalah teman Melany yang biasa numpang di rumah Melany, karena Melany tidak ada kabar, dia merasa malu tinggal di sana dan kembali ke kosanya.

__ADS_1


Saat ini Melany sudah sampai di sekolah dan bertemu dengan teman-temanya.


"Adaaa deh, pokoknya perjalanan panjang,." jawab Melany senyum, saat dia membayangkan tubuh kekar Raka dalam pelukanya, 'apakah kamu tidak merindukanku Raka,' batin Melany seraya melamun.


"Hey... hey..." ucap Siska seraya tanganya melambai ke depan mata Melany "kamu kesambet ya Mel,.??" tambah Siska cengengesan.


"A--ah tidak, aku hanya sedang.... gak jadi ah, mulutmu ember soalnya,." jawab Melany ketus.


"Ah dasar, ada juga kamu Mel yang mulutnya paling ember,." ledek Siska sebelum terkekeh kecil.


"Apa??? Yaudah aku gak akan traktir kalian lagi, karena ada yang berani ngatain aku gitu,." Ancam Mela main-main seraya melirik kepada semua sahabatnya.


"Sis kamu harus tanggung jawab,.!!" pinta temanya tak terima.


"Ah kamu gak asik Mel, masa gitu aja ngambek,." ucap Siska memelas.


"Salah sendiri,." ucap Mela seraya menjulurkan lidahnya.


"Ah Mela yang baik hati, jangan gitu ya,.!! Nanti kita pijitin deh kalau kamu traktir kita seperti biasanya.!!" Siska dan teman-teman lain mulai memijat Mela bagai tuan putri. Mela sudah biasa seperti ini jadi dia senang dengan perlakuan sahabatnya dan membiarkan mereka memijitnya.


Mereka selalu seperti ini untuk menjilat Mela karena mereka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berteman dengan konglomerat seperti Mela.


"Nah gitu seharusnya,." ucap Mela sebelum tertawa kecil dan di balas Siska dengan juluran lidahnya.


"Hey Mel darimana saja kok gak ada kabar,.??" saat asik bicara dan saling ledek dengan teman-temanya, ada suara yang sangat familiar menyapanya dan membuat Mela mengalihkan pandangan ke arah sumber suara.


"Hey Jon,. Gimana kabarnya,.??" bukan menjawab, Mela malah balik bertanya, ini membuat teman-temanya terkikik.


"Kalian semua diam atau ku makan hidup-hidup,." ancam Mela main-main ke teman-temanya.


"Kau aneh banget Mel, kesambet setan mana sih jadi sensitif banget,.??" Tanya Siska main-main seraya punggung tanganya menyentuh dahi Mela, ini membuat Mela merasa lucu dan mengerucutkan bibirnya dengan kekonyolan Siska, yang akhirnya terkekeh juga.


"Aku kesambet kamu,.. waaaaaw," jawab Mela seraya tanganya bersiap menerkam Siska yang konyol, sebelum memeluknya, sesaat bersama teman-temanya membuat Mela sedikit melupakan Raka.


"Ehem...ehemmm..." mendengar deheman Joni membuat Mela sadar kembali dan melepaskan pelukanya lada siska.


"Eh maaf Jon, hehe,." ucap Mela merasa malu karena mengabaikan Joni, Joni adalah anak dari teman bisnis ayah Mela, yang saat ini juga sedikit dekat dengan Mela.


"Tidak apa Mel,." Jawab Joni ramah, ini membuat semua teman Mela saling tatap.


"Nanti pulang sekolah ada acara gak Mel,.??" tambah Joni.


"Gak ada Jon, tapi kayaknya aku langsung pulang aja,." jawab Mela pelan. Saat berhadapan denga cowok seperti Joni, Mela terlihat lembut dan baik. Padahal biasanya dia paling cerewet dan bar-bar.


"Kenapa langsung pulang,.?? Nanti kita makan dulu ya di RM HOKKY ya, aku sudah minta ijin ke Om Almero, beliau mengijinkanya Mel,." ucap Joni ramah dan percaya diri. Almero Axel adalah ayah dari Melany.


"Apa?? Kenapa kamu lebih dulu ijin ke Papaku sebelum meminta ijin persetujuanku,.??" tanya Mela tak percaya.


"Ya, tidak apa kan Mel, Om Almer saja sudah ijinin, jadi sekarang tinggal ajak kmu aja gimana,.??" tambah Joni ramah. Ini membuat Siska menyiku melani pelan.


Melany melirik tajam ke Siska karena dia tak suka dengan Joni, lebih tepatnya Melany selalu menghargai Joni karena kedua orang tuanya adalah teman, dan tidak lebih dari itu.


Berbeda dengan gadis lainya, karena banyak gadis menatap iri dengan kebaikan Joni pada Mela. Joni adalah pria tampan juga dari keluarga papan atas, semua gadis selalu ingin bersama Pria seperti itu. Mungkin karena Mela juga dari keluarga papan atas makanya selalu menolak ajakan Joni untuk pergi bersamanya.


Padahal terlihat Mela tidak pernah memberikan respon kepada kebaikan Joni, tapi Joni selalu mencoba yang terbaik untuk mendapatkan Mela.


"Kamu juga boleh bawa teman-temanmu kok,." tambah Joni meyakinkan.


"Apa?? Serius Jon,.??" jawab Cantika, dia adalah sahabat Mela yang lain.


"Beneran Jon,.??" sahut Siska merasa senang.


"Ya tentu saja, aku traktir kalian makan sepuasnya,." jawab Joni percaya diri, bahkan belum sadar Mela sedang memelototi dan menyiku Siska dan Cantika.


"Coba nanti saya pikirkan Jon, tapi tidak janji,." jawab Mela pelan seraya menatap Joni sebentar, sebelum mengalihkan pandanganya.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2