
Raka hanya menatap Liben dengan haru, ternyata semua orang disini sangat setia padanya.
"Terimakasih atas kesetiaan kalian padaku,." ucap Raka dengan senyuman.
Raka, Silvia dan Mizuka masuk kedalam ruang pertemuan di temani oleh Liben dan si kembar Al dan El bersaudara.
"Kita akan membantu anda Tuan Muda, bahkan paman Tiger telah mencabut hukuman anda, dan anda akan di nobatkan menjadi pangeran mahkota dalam keluarga Randika,." jelas Silvia setelah semuanya ada dalam ruangan.
"Apa,.??" ucap Raka seolah tak percaya "bagaimana kakek bisa mencabut hukumanku,.??" gumam Raka seraya memikirkan sesuatu.
"Mungkin beliau tidak ingin melihat cucu kesayanganya menderita, Tuan," sahut Alfaro memecahkan lamunan Raka.
"Ah, apakah begitu,.??" tanya Raka.
"Mungkin saja Tuan, yang terpeting kami kesini di perintahkan untuk membantu anda dan melaporkan hal ini kepada anda,." jelas Silvia tegas.
"Ah baiklah, aku sangat senang mendengarnya, jadi kita mulai darimana,.??" tanya Raka yang terlihat sudah bahagia mendengar kakek mencabut hukumanya.
"Mela, orang suruhan anda telah bercerita segalanya pada kami, dan kami akan membantu mengurus segalanya tentang perkembangan di pulau ini, kami akan membangun jalan utama juga, agar memudahkan transportasi antar jemput barang dari sini,. keluarga sendiri yang akan memasarkan hasil karya dari semua orang disini, dan akan membangun berbagai tempat wisata di hutan ini, yang sepertinya masih sangat alami karena belum tersentuh manusia,." jelas Silvia.
"Memang rencananya seperti itu, sepertinya keluarga Randika memang memiliki pemikiran tajam pada setiap hal yang akan di kerjakan," ucap Raka sebelum berbali menatap Liben "apakah kalian bersedia jika keluargaku melakukan perombakan pada hutan ini, untuk memajukan kita semua,.??" tanya Raka pada Liben.
"Kami senang dan setuju dengan keputusan keluarga Anda, Tuan,." jawab Liben senang.
"Baguslah kalau begitu, semua bisa di kerjakan secepatnya, kami juga akan bernegosiasi dengan pemerintan, agar semuanya berjalan dengan mudah tanpa ada kendala di masa depan,." ucap Raka.
"Bagus itu, kami akan membuatkan jadwal supaya anda bisa bertemu langsung dengan Presiden dan pejabat pemerintah daerah sini,." sambung Silvia.
"Terimakasih atas bantuan anda, Tante," ucap Raka.
"Sama-sama, sebenarnya ini juga termasuk tugas untuk kita semua saling membantu dalam keluarga, agar keluarga Randika tidak runtuh Tuan,." jawab Silvia.
"Ternyata rahasia dalam sebuah keluarga kuat adalah saling bantu dan tidak iri dengan keberhasilan siapapun dalam keluarga tersebut, itu yang kupelajari hari ini,." sahut Mizuka yang di tanggapi dengan anggukan oleh Silvia.
Pertemuan berlangsung sekitar 2 jam di dalam ruang persembunyian bawah tanah. Selesai pertemuan, semua tamu di jamu dengan berbagai hidangan khas daerah tersebut, mulai dari sayuran, ikan, sampai berbagai daging yang di dapat dari hutan.
Setelah pertemuan selesai, Silvia dan Mizuka undur diri dengan separuh pengawal berpakaian hitam milik keluarga Randika. Separuh lainya akan tetap tinggal untuk membantu seluruh pembangunan bawah tanah tersebut.
__ADS_1
Mizuka memeluk Raka dengan sangat erat, karena harus berpisah kembali setelah pertemuan singkat mereka.
"Aku pasti akan sangat merindukanmu,." ucap Mizuka seraya meneteskan air matanya.
"Aku juga akan selalu merindukanmu," jawab raka seraya mengelus rambut Mizuka.
"Aku sangat senang mendengarnya,."
"Aku lebih senang mendengarnya,."
"Uchhhh," Mizuka mengerucutkan bibirnya.
"Jelek jadinya kalau begitu,." goda Raka sebelum terkekeh.
"Biarin,." ledek Mizuka seraya menjulurkan lidahnya.
Silvia hanya terkekeh melihat anaknya saling ledek dengan Raka.
"Aku kembali dulu ya,." ucap Mizuka dengan mata kembali berkaca.
"Iya, hati-hati... lagian kita pasti ketemu kok,. jangan terlalu memikirkan aku,." goda Raka, malah membuat Mizuka semakin gemas.
"Kenapa kok marah,.??" tanya Raka pura-pura bodoh.
"Dasar tak peka, yaudah aku balik dulu,." ucap Mizuka keras sebelum berbalik dan langsung masuk Helicopter.
Mizuka kembali berbalik menatap Raka untuk yang terkhir kalinya sebelum tersenyum sedikit dan manutup pintu Helicopter. Silvia sendiri telah masuk dan berada di dalam Helicopter tersebut.
"Salam Tuan Randika, kami kembali,." ucap seluruh pengawal dengan serempak sebelum berbalik dan masuk kedalam Helicopter semua.
Suara dengungan semakin keras, dan angin semakin kencang saat Helicopter mulai lepas landas ke atas langit.
Suara dan angin kencangpun mengecil seraya Helicopter terbang menjauh dan semakin mengecil sebelum tak terlihat.
Raka kembali ke bawah dan memimpin seluruh pengawalnya untuk beristirahat, karena besok mereka semua akan bekerja sangat keras untuk menyelesaikan pembangunan ruangan dalam, di bawah tanah.
---
__ADS_1
Ditempat lain, tepatnya di Kota Jayawijaya Papua, di sebuah Villan mewah keluarga Crisna Almero Exel, terlihat mondar-mandir dan khawatir juga.
"Kenapa mondar-mandir terus Pa,.??" tanya Yulia.
"Apa yang sedang Papa pikirkan,.??" tambah Yulia karena penasaran dengan tingkah suaminya.
"Ma, apakah Mama tidak mendengar kabar bahwa ada sekitar 100 Helicopter menuju gunung Jayawijaya,.??" tanya Almero.
"Tidak Pa, memangnya kenapa,.??" Yulia bertanya kembali.
"Tadi ada 100 Helicopter menuju Gunung Jayawijaya Ma, dan semuanya adalah Helicopter exclusif yang bahkan keluarga kita tidak mampu membelinya,." jelas Almero seraya menghela nafas panjang.
"Memangnya kenapa dengan Helicopter tersebut Pa,.?? yang penting kan kita tidak membuat masalah dengan mereka, kenapa Papa terlihat sangat khawatir,.??" tanya Yulia.
"Aku hanya khawatir Melany, anak kita terlibat dengan mereka Ma, soalnya Melany pernah bercerita bahwa dia di selamatkan seorang pemuda yang hidup di hutan tersebut sewaktu dia menghilang Ma, dan jelas bahwa lelaki itu hidup di hutan Jayawijaya, apakah Mama belum mengetahui maksut kekhawatiran Papa,.??" jelas Almero sebelum bertanya.
"Apa?? kenapa Papa baru bercerita sekarang,.??" tanya Yulia yang penasaran, dia juga semakin khawatir setelah memikirkanya, jika sampai pemuda itu membuat masalah dengan pasukan Helicopter dan Melany terlibat, maka semuanya patut di khawatirkan juga.
"Papa hanya belum merasa perlu bercerita, karena Papa kira semuanya mudah di tangani, tapi setelah tadi mendapat laporan bahwa 100 Helicopter exclusif datang ke tempat tersebut, Papa menjadi sangat khawatir Ma." jelas Almero.
"Papa mending hubungi Gio saja, sebenarnya apa yang terjadi, lagian saat ini Melany sedang liburan bersamanya kan,.?? agar kita juga mengetahui keadaan anak kita saat ini Pa,." saran Yulia.
"Ahhhh, benar juga, kenapa aku tidak memikirkan hal seperti itu,." jawab Almero merasa bodoh, karena memikirkan hal semudah itu saja tidak bisa. Malah memikirkan hal lain yang belum tentu terbukti.
Almero pun langsung mengambil ponsel dari sakunya, sebelum mencari nomor Gio dan memanggilnya.
Setelah ketemu, Almero langsung memencet timbol panggilan. Setelah menunggu sebentar, akhirnya Gio mengangkatnya.
< Iya Halo, Gio,."
< Apa,.?? jadi begitu,.?? apakah Melany baik-baik saja,.??
< oh iya, baiklah, saya mengerti, jadi semua ini termasuk dalam tugas kalian.
< baiklah Gio, terimakasih atas laporan dan bantuanya, tolong jaga terus Melany dari bahaya.,"
Setelah bicara dan mendapatkan laporan dari Gio, Almero akhirnya bisa bernafas lega.
__ADS_1
"Bagaimana Pa,.??" tanya Yulia yang penasaran.