
Semua orang di kejutkan dengan seorang oemuda yang baru saja selesai makan di warung makan tersebut.
"Hey nak, jangan ikut campur urusan kami!" titah pemimpin preman dengan nada dingin.
"Sebaiknya kamu segera pergi dari sini, jika tidak ingin menyesal!" tambah preman lainya.
"Aku tidak ingin ikut campur, hanya saja aku ingin membayar uang keamanan warung ini, apakah salah?" balas Raka dengan senyuman. Tentu saja anak muda yang tadi berbicara adalah Raka Randika.
"Baiklah, cepat bayar sebesar 500 ribu, jika kamu dan tempat ini akan aman!" ucap pemimpin preman tadi dengan dingin.
"Baiklah," jawab Raka sebelum merogoh saku celananya dan mengeluarkan uang seratus ribuan berjumlah lima lembar dan menyerahkanya pada preman tadi. Saat ini Raka sudah mempunyai banyak uang sejak Mizuka menemuinya dan meninggalkan sejumlah besar uang untuk Raka. Jadi Raka tentu saja mempunyai banyak uang bersamanya.
Hanya 500 ribu bukanlah apa-apa bagi Tuan Muda Randika tentunya.
"Baiklah nak, kita pergi..." ucap pemimpin preman setelan menerima uang dari Raka dan meninggalkan warung makan juga bersama seluruh anak buahnya.
"Ter-terimakasih Tuan, anda telah menolong saya," ucap pelayan tadi dengan haru, siapa sangka pemuda yang terlihat biasa saja ini mempunyai uang yang banyak dan sepertinya tidak ada rasa ragu sedikitpun saat memberikan uang itu.
"Tidak apa, sebenarnya kenapa semua orang sepertinya sangat takut dengan preman-preman itu? apakah benar-benar tidak ada yang berani melawan mereka, atau setidaknya melaporkan tindakan mereka kepada pihak berwajib?" tanya Raka yang penasaran.
"Tidak ada yang berani, Tuan, pernah dulu ada yang mencoba melawan, tapi juga dikalahkan dengan mudah oleh mereka, bahkan yang berani melawan langsung di siksa dengan sangat mengerikan, sebelum akhirnya meninggal," bisik pelayan dengan hati-hati, juga sambil melirik ke kanan dan kekiri, karena takut akan ada yang mendengarnya dan melaporkan kepada preman tadi, "juga pernah ada yang melaporkanya ke pihak berwajib / polisi, bukan menerima bantuan dari pihak berwenang, tapi malah mereka di siksa oleh preman-preman tadi, setelah ketahuan melapor pada polisi, bukan mau menjelekan kepolisian, hanya saja sepertinya pihak kepolisian bekerja sama dengan preman tadi, karena bukan menerima bantuan dari pihak kepolisian malah menjadi bulan-bulanan para preman, dan sepertinya preman tadi mengetahui bahwa ada yang melaporkan juga dari pihak kepolisian sendiri," tambah pelayan dengan suara yang lebih pelan.
Setelah mendengar penjelasan pelayan, Raka mulai berfikir bagaimana caranya memberantas premanisme di pulau ini, dari preman berseragam sampai preman yang tanpa seragam. Raka tahu bahwa polisi yang memanfaatkan situasi hanya sebagian saja, karena sebagian pasti ada yang jujur dan mengayomi masyarakat. Bukan malah memalak masyarakat.
"Baiklah, terimakasih informasinya, sekarang saya permisi dulu," jawab Raka ramah, sebelum berlalu pergi meninggalkan pelayan tadi.
"Siapa pemuda itu, sepertinya aku belum pernah melihatnya di daerah sini," gumam pelayan tadi seraya menatap punggung Raka yang berjalan pergi meninggalkanya.
"Apa yang telah kamu bicarakan dengan orang asing itu, Mila?" tanya orang yang sedari tadi bersembunyi karena takut dengan preman-preman tadi.
"Ti-tidak ada yang penting sama sekali," jawab pelayan tadi dengan terbata karena gugub, ya pelayan tadi bernama Mila.
"Jangan berbohong, Mila!" pekik orang tadi dengan dingin.
__ADS_1
"Memang tidak ada yang terlalu penting," jawab Mila mulai gugub "aku hanya berterimakasih padanya karena telah membantuku keluar dari masalah tadi," lanjut Mila.
"Baiklah, aku hanya mengingatkanmu agar tidak bicara tentang ini kepada orang asing, atau kau akan menyesalinya jika preman-preman itu datang kesini dan mengobrak-abrik warung kita!" jelas orang tadi dengan dingin.
"Iya, aku mengerti," jawab Mila dengan lembut.
---
Kembali ke Raka, setelah pergi dari rumah makan tadi, Raka diam-diam mengikuti semua preman tadi. Raka mengikuti sampai kedalam sebuah gedung yang di duga adalah tempat persembunyian semua preman tadi.
"Bos, apakah kita tidak akan rumah makan tadi lagi, aku sudah tidak sabar ingin menikmati tubuh wanita tadi, sepertinya tubuhnya sangat enak dinikmati," ucap preman kepada Bosnya.
"Lain kali kita pasti dapat menikmati tubuh gadis itu, untuk sekarang kita juga memerlukan uang untuk membayar pajak pada pihak kepolisian, jadi dengan alasan itulah aku menerima uang anak tadi, jika tidak.. tadi kita akan tetap menikmati tubuh gadis itu," jawab Bos preman.
"Tapi bukankah kita bisa saja memukuli anak tadi dan tetap meminta uangnya Bos?" tanya salah satu preman lagi.
"Tidak bisaaa," jawab Bos preman.
"Kenapa tidak bisa? dia hanya anak kecil," ucap salah satu preman dengan percaya diri.
"Tapiiii..."
"Sudah cukup dan jangan membantah, ku jelaskan sekali lagi untuk tidak bertindak gegabah dengan orang asing, bisa-bisa dia adalah mata-mata yang di kirim Negara, untuk mengawasi daerah sini, jika kita bertindak ceroboh, apakah kamu tahu konsekuensinya? bahkan pihak polisi yang sering membantu kita, juga tidak akan bisa berkutik jika yang mereka hadapi adalah orang yang lebih tinggi jabatanya," jelas Bos preman memotong ucapan anak buahnya.
"Baik Bos, tapi aku mau tanya, apakah kita akan tetap tunduk di bawah para polisi bangsat itu? sebenarnya sekarang terlihat kita yang di peras mereka, bukan kita yang memeras orang-orang di kota ini, aku sendiri sudah tidak tahan dengan perilaku semua pihak kepolisian disini," ucap salah satu preman mengungkapkan isi pikiranya.
"Semantara kita tetap akan mematuhi polisi, tapi suatu saat kitalah yang akan membuat mereka mematuhi kita, suatu saat aku akan membuat mereka bertekuk lutut padaku, percayalah padaku,!" jawab Bos preman dengan sangat yakin.
"Baiklah, kami akan percaya, tapi jangan terlalu lama membuat kita seperti budak mereka, aku sudah tidak tahan dan rasanya ingin segera membalas mereka," sahut preman yang lain lagi.
Raka hanya mengamati dari jauh, tapi karena pelatihan Raka sudah pada tingkat tinggi, dia dengan mudah mendengarkan pembicaraan semua orang ini.
"Jadi seperti itulah yang terjadi, jika memperbudak seseorang maka orang itu juga akan berbalik dan berusaha memperbudak diri kita, itulah yang di sebut dendam, dan akan terus berputar selama seseorang masih menyimpan dendam," gumam Raka pelan.
__ADS_1
Saat Raka tengah fokus mengintai preman tadi, dia merasakan kehadiran seseorang yang perlahan mendekat kearah preman tadi. Dua orang polisi datang mendekat ke arah mereka, dan semua preman yang tadi sedang bicara, semuanya terdiam. Mungkin merasa khawatir bahwa kedua polisi ini akan mendengar pembicaraanya tadi dan melaporkanya kepada komandan mereka.
"Selamat datang Ndan,!" sapa Bos preman dengan ramah setelah kedua polisi duduk berhadapan denganya, sedangkan seluruh anak buahnya hanya menyapa dengan anggukan.
"Ya selamat siang," jawab salah satu polisi.
"Apakah setoranya sudah siap? Komandan kami menginginkanya segera," ucap polisi yang lain.
"Tebtu saja ada Ndan," jawab Bos preman sebelum menoleh ke arah bawahanya "cepat ambilkan uangnya 10 juta!" titah Bos preman pada bawahanya.
Bawahan hanya bisa mengangguk dan mematuhi perintah Bosnya, padahal dia sangat enggan untuk di manfaatkan oleh pihak polisi disini.
"Tunggu sebentar!" tukas polisi tadi.
Preman yang bersiap mengambil uangnya pun berhenti di tempat dan tidak melanjutkan berjalan.
"Ada pergantian pajak, dan komandan kami meminta uang setoran di tambah menjadi 15 juta, kuharap tidak ada yang keberatan disini!" ucap polisi tadi dengan senyum kecutnya.
"Apa?? tapi Ndan, bukankah kesepakatanya hanya 10 juta, dan seperti biasanya kita membayar 10 juta sebulan," jelas Bos preman tadi yang merasa keberatan.
"Iya memang sebelumnya 10 juta, tapi bukankah tadi aku sudah bilang bahwa saat ini ada pergantian pajak,? atau kalian sudah mulai tidak mematuhi komandan kami?" bentak polisi dengan tatapan menghina.
Semua preman menjadi emosi dan bersiap menghajar polisi yang tidak tahu diri ini.
"Baik, saya akan membayar," ucap Bos preman dan membuat semua preman hanya saling pandang karena bingung dengan Bos mereka.
"Tapi apakah tidak terlalu berlebihan, bagaimana kalau di kurangi sedikit,! kita disini juga butuh makan Ndan," tawar Bos preman tadi.
"Aku tidak peduli dengan bagaimana cara kalian makan, yang jelas perintah dari atasan adalah mengambil uang 15 juta dari kalian, tidak kurang dan tidak lebih," jawab polisi dengan dingin.
"Baik," jawab Bos tadi dengan pasrah sebelum kembali menatap bawahanya ,"Ambilkan 15 juta!" titah Bos preman tegas.
"Tapi Bos....
__ADS_1
"Cepat ambilkan dan jangan membantah!" teriak Bos preman pada bawahanya.
Bawahanpun dengan pasrah hanya berlalu untuk mengambil uangnya dan tidak berani membantah. Bawahan yang lain sangat marah dengan tindakan kedua polisi tersebut yang bertindak seenaknya sendiri.